***
Penampilan Joe malam itu yang tidak pernah disangka justru menjadi puncak kesuksesan acara fashion show Gwen. Pria itu berjalan dengan penuh percaya diri di atas catwalk dengan wajah serius, sebagaimana ekspresi model yang ahli. Akan tetapi saat ia menangkap sosok Gwen duduk di baris paling depan bangku penonton, ia tidak mampu menahan senyumnya. Dan akibatnya semua kaum hawa mulai bersorak heboh karena terpesona.
Lelang baju rancangan Gwen pun berjalan sukses. Tapi 4 stel tuxedo yang dipakai Joe berhasil mencapai angka jual yang fantastis. Bayangkan saja salah satu tuxedo berwarna navy yang merupakan rancangan termahal Gwen yang dipromosikan Joe tadi sampai mencapai harga 400 juta rupiah. Sungguh harga yang fantastis bukan? Gwen sendiri tidak menyangka harga hasil rancangannya akan melejit naik begitu Joe yang menjadi modelnya. Semuanya ini benar diluar ekspetasinya. Karirnya terselamatkan dan bukannya mendapat kerugian, ia justru bisa mendonasikan hasil dari acara ini untuk yang membutuhkan.
“Gimana, bu? Oke kan? Dia itu sebenarnya chef yang lagi urus pesta pernikahan di lantai atas. Tapi acaranya sudah berakhir, dan dia bertemu saya. Jadi saya tarik deh kesini.” Sofia menggerak-gerakkan alisnya menatap Gwen dengan bangga.
“Oke, Sof. Oke, banget. Kita nggak jadi rugi.” Jawab Gwen. Padahal dalam hatinya ia berkata lain, ‘Oke sih, oke. Orang dia dulu mantan playboy kelas kakap. Tapi kenapa mesti dia sih? Haduuhhh…’
“Saya akan tambahkan bonus buat kamu, Sof. Good Job!”
Mendengar itu, mata Sofia langsung berbinar. “Serius, Bu? Makasih banyak yaaaa!”
Gwen hanya menanggapi Sofia dengan anggukan. ia lalu teringat sesuatu dan bertanya pada Sofia. “Gimana soal bayaran model pengganti barusan? Kamu sudah kasih tau honornya berapa?”
“Sudah, bu. Honor yang saya janjikan sesuai budget kita.” Sofia menjawab mantap.
“Baiklah. Soal honor dia, kamu urus ya. Saya ketemu sponsor dulu.” Gwen menyerahkan urusan Joe pada Sofia. Ia tidak mau berurusan lagi dengan pria itu dalam hal apapun. Ia tidak ingin satu hal kecil yang yang berhubungan dengan Joe justru akan menjadi masalah besar di masa depan. Ia tidak ingin luluh lagi karena pria itu.
Namun belum lama Sofia pergi, gadis itu sudah kembali lagi mencari Gwen. “Maaf, Bu. Modelnya tidak mau terima honornya. Kata dia, hitung-hitung bantu teman lama. Ternyata kenalan ibu toh?” Sofia menyerahkan amplop berisi honor Joe pada Gwen.
Gwen menatap amplop uang di tangannya. Ia hapal dengan sifat Joe. Ia tidak akan menerima uang jika ia tahu itu adalah uang Gwen. Sementara Gwen sendiri tidak mau berhutang budi pada mantan kekasihnya itu. Ia kemudian menghampiri pria itu di ruang ganti. Ia memang tidak sudi bertemu dengannya, tapi ia lebih tidak sudi lagi berhutang budi.
***
Joe baru saja mengganti pakaiannya kembali ketika Gwen masuk ke dalam ruang ganti. Seragam chefnya ia sampirkan ke lengan kanannya tanpa berniat ia kenakan kembali. Wanita cantik bergaun merah marun itu berjalan menghampirinya, membuat senyum di wajah koki itu mengembang.
“Ternyata acara ini punya kamu, ya? Kamu benar-benar sudah sukses. Cita-citamu untuk jadi desainer enam tahun lalu sudah terwujud ya? Selamat buatmu!” Joe mengulurkan tangannya pada Gwen, namun wanita itu sama sekali tidak menggubrisnya. Justru sebaliknya, dengan wajah jutek, wanita itu justru meletakkan amplop uang tersebut di tangan Joe.
“Terima kasih atas bantuannya ya. Tolong terima honor dari kami. Anda sudah berusaha, Pak Jonathan.” Pinta Gwen. Ia buru-buru berbalik pergi. Tapi tidak disangka, Joe justru menahan tangannya.
“Saya sangat berterima kasih untuk honornya. Tapi anda tidak perlu melakukannya, saya hanya menolong teman lama. Jadi ambil kembali ya uang ini,” Joe tersenyum tulus. Ia menaruh amplop uang itu di tangan Gwen.
Gwen tampak tidak senang karenanya. Pria di hadapannya ini sekarang ingin bersikap sok baik padanya. Ia tidak akan pernah memberikannya celah untuk membalikkan keadaan. Tidak akan ada asap bila tidak ada api. Seseorang tidak akan bermurah hati jika tidak ada maunya.
“Saya tidak ingin berhutang budi. Terima saja uang ini, Jonathan.” Gwen masih keras kepala. Ia bergerak cepat berusaha memasukkan amplop tersebut pada saku Joe, tapi ia gagal. Joe bergerak dengan gesit menghindari Gwen. Alhasil Gwen bukannya berhasil menyerahkan uang itu, ia justru kehilangan keseimbangan dan terhuyung ke depan. Hampir saja ia jatuh menimpa Joe, akan tetapi Joe dengan sigap menangkap lengan Gwen. Tangan kanan pria itu melingkar di pinggang wanita itu.
Posisi mereka sekarang benar-benar cukup dekat. Wajah Joe hanya berada sekitar 10 cm dari wajah Gwen dan posisi ini benar-benar membuat Gwen tidak nyaman. Ia tidak bisa begini terus. Ia harus secepatnya menjauh dari Joe sebelum jantungnya berdebar. Ia berusaha berontak, akan tetapi Joe terlalu kuat baginya. Terlambat sudah, jantungnya mulai menghianatinya. Gwen mulai frustasi, takut jika pria itu bisa mendengar detak jantungnya. Bisa-bisa pria itu justru makin besar kepala karenanya.
Tiba-tiba seulas senyum miring tersungging di wajah Joe. Tanpa mengalihkan pandangannya dari Gwen, ia pun berkata, “Sepertinya anda ingin sekali membayar jasa saya, Bu Gwendy. Jika anda benar-benar tidak ingin berhutang budi, bagaimana jika anda bayar dengan cara lain?”
“Apa mau kamu?” Tanya Gwen ketus. Ia sudah tidak sabar untuk menyelesaikan urusannya dengan Joe lalu pergi dari sana.
Joe mengerlingkan matanya penuh arti. Tiba-tiba rasa ingin menjahili wanita yang sangat ia cintainya itu muncul kembali. “Bagaimana dengan satu ciuman? Anda kan nggak rugi kan?”
Mendengar itu, Gwen membelalak marah. Disikunya lengan Joe dengan kasar agar ia bisa terlepas dari pelukan Joe dan melangkah mundur beberapa langkah. “Heh, gila ya? Berani kurang ajar kamu? Saya panggil satpam kalau kamu macam-macam!” Gertak Gwen garang.
“Saya nggak kurang ajar loh, Bu Gwen. Saya itu cuma nolongin anda saja karena mau jatuh tadi. Kan ibu nanya mau saya apa? Saya menjawab pertanyaan ibu, memberikan penawaran. Kalau setuju yah syukur, nggak setuju ya sudah. Coba disebutkan dimana letak kekurang ajaran saya?” Joe balik bertanya dengan ekspresi polos berlagak tidak bersalah yang membuat amarah Gwen semakin tersulut.
“Kamu!!!” Gwen melotot pada Joe, hendak memberikan segudang sumpah serapah pada pria itu, tapi ia sadar semakin ia meladeni pria itu, persoalan mereka akan semakin panjang. Buru-buru dibatalkan niatnya untuk melabrak pria itu.
“Saya tidak mau berdebat dengan anda. Saya sibuk! Dan satu lagi saya tidak suka dengan gurauan anda barusan. Tidak etis berbicara seperti itu pada orang yang sudah punya calon suami.” Tegasnya.
Diletakkannya amplop uang itu di atas meja, dan berkata. “Jika anda masih menghargai saya sebagai teman lama, tolong terima niat baik saya. Saya permisi.”
Usai berkata demikian, Gwen meninggalkan Joe di dalam sana. Pria itu tidak melakukan apa-apa, hanya menatap punggung Gwen dengan senyum yang tak bisa diartikan.
***
“Sayang, selamat untuk fashion show perdananya.” George menyerahkan sebuket bunga mawar putih yang diterima Gwen dengan senang hati. “Maaf, aku baru bisa datang setelah acara selesai.”
George memang masih dinas ke luar kota sejak seminggu lalu, tapi hari ini Gwen mendapat kejutan George pulang dinas lebih awal demi mengunjunginya, padahal Gwen sudah mengatakan bahwa pria itu tidak perlu memaksakan diri, tapi melihat perjuangan George yang sungguh-sungguh itu, senyum manis Gwen mengembang.
“Makasih, sayang. Aku senang sekali kamu datang. Walaupun sebenarnya kamu nggak perlu memaksakan diri.” ucap Gwen.
“Aku tidak pernah memaksakan diri. Ini acara perdana kamu, aku akan mendukung kamu dan pastinya ada di sini untuk kamu,” balas George sambil memeluk pinggang Gwen.
Adegan mesra itu terlihat wajar saja di mata banyak orang. Kedua sejoli itu tersenyum dan tertawa mesra, tanpa menyadari sepasang mata tengah menatap mereka dengan tatapan terluka.
“Kalau dengan aku bersikap baik, tidak bisa membuatmu mengingatku, maka lebih baik aku membuatmu membenciku, Gwen. Dengan begitu, kamu bisa mengingatku seumur hidup.” Gumam Joe dari balik pilar. Ia tersenyum miris, dan berlalu.
***