17- TIDAK AKAN MENYERAH

1223 Words
*** “Apa ini, Sof?” Gwen yang sedang membuat design baju di ruang kerjanya, mendongak pada Sofia. Gadis itu meletakkan amplop di atas meja kerja Gwen. Ia mengenali amplop itu dalam sekali lihat. Jelas amplop itu adalah honor yang ia berikan pada Joe kemarin malam. Ia hanya ingin memastikan bahwa dugaannya salah. “Kemarin malam Chef Jonathan mengembalikan ini pada saya. Dia minta pada saya untuk mengembalikan ini pada ibu kalau sudah di kantor.” Sofia menjelaskan dengan hati-hati, takut jika ia salah bicara lalu menyinggung Gwen. Sejak acara kemarin selesai, entah mengapa wajah atasannya itu terlihat kusut. Sofia sampai bingung sendiri. Bukankah acara kemarin sukses besar. Keuntungan dari acara kemarin pun lebih dari cukup untuk disumbangkan pada dinas sosial. Lalu apalagi yang membuat atasannya itu terganggu? “Heran deh. Honor nggak seberapa saja pake acara nggak mau terima,” dumel Gwen kesal. Tanpa sadar ia melupakan keberadaan Sofia yang masih berada di sana. “Ya sudah. Uang ini kamu taruh di sini, kembali bekerja saja, Sof. Kita ada pameran di Mal minggu ini. Siapkan semuanya, pastikan jangan ada yang tertinggal ya..” Sofia mengangguk dengan patuh. Ia tidak mau banyak bertanya mengenai masalah atasannya dengan chef kemarin yang ia duga sebagai sumber mood jelek atasannya. Ia kemudian pamit dan membiarkan Gwen kembali berkutat dengan pekerjaannya. “Mau dia apa sih?” Gwen bertanya pada dirinya sendiri. “Dia pasti sengaja membuat aku berhutang budi. Dasar playboy gila!” Diambilnya amplop uang itu dan mengecek isinya. Ia ragu kalau Joe sama sekali tidak menerima uang itu. Siapa tahu ia hanya sok-sok menolak tapi uang di dalam amplop justru hilang beberapa lembar. Uang yang berada di amplop jumlahnya pas, hanya saja sesuatu yang asing terjatuh dari dalam amplop. Gwen mengerutkan dahi melihatnya. Seingatnya ia tidak menaruh notes tempel di dalam amplop. Siapa yang menyelipkan itu? Apakah Sofia? Atau mungkin si b******k Joe? Kalau kamu sangat tidak ingin berhutang budi, bagaimana kalau bayar jasaku dengan traktir makan? Hubungi aku jika setuju. XD Tertanda, Jonathan. Gwen menggeratakkan giginya kesal. Dasar gila. Aku tidak sudi bertemu dengannya, dia malah cari alasan untuk bertemu. Asal tahu saja, Jonathan. Aku tidak akan mau berurusan denganmu lagi! Dikeluarkannya ponselnya dengan segera lalu membuka aplikasi mobile banking dan mengirim sejumlah uang pada rekening Jonathan Gonawi. Nomor rekening pria itu masih melekat pada daftar transaksi mobile banking miliknya. Segera ia mengetik berita : “Tidak ada lagi hutang budi” , memasukkan password, lalu menekan tombol send. usai ia mentransfer honor model pada Joe, Gwen mengambil pesan dari Joe tersebut, meremasnya hingga remuk, lalu melemparnya ke dalam tempat sampah yang berada di pojok ruangan dan Plung! Bola kertas itu masuk dengan sempurna di tempatnya. Sama seperti orang yang menulis pesan tersebut. Pantasnya memang di tempat sampah. Dengan ini, semuanya selesai. Gwen tidak akan berhubungan lagi dengan pria itu. Tapi benarkah itu? Atau mungkin tidak…. *** Wedding Fair termegah di bulan September diselenggarakan di Mal ternama di pusat kota. Stand butik Gwen mendapat posisi yang strategis, tepat di tengah-tengah pintu masuk. Selain itu, rancangan gaunnya juga sangat unik berbeda dengan stand butik lain yang ada di sana. Itulah mengapa stand milik Gwen menjadi stand yang paling ramai di sana. Setelah lebih dari setengah hari Gwen, Sofia, dan para staff melayani pasangan muda calon pelanggan mereka, akhirnya tiba juga waktunya untuk meluruskan pinggang. Seharian duduk terus begini membuatnya lelah. Tapi melihat para staffnya yang belum sempat makan malam, Gwen kasihan juga. Ia pun meminta mereka untuk pergi makan malam terlebih dahulu, sementara ia yang akan menjaga Stand. Sofia berterima kasih padanya dan mengatakan akan membelikan titipan makan malam bosnya. Baru saja Gwen hendak meluruskan kakinya, hendak bersantai sejenak, tiba-tiba ia mendapati sepasang kaki berdiri tepat di hadapannya. Ada customer lagi! Batinnya. Buru-buru ia memasang senyum manisnya dan mendongak menatap sang pemilik kaki. Namun begitu ia melihat wajah orang di hadapannya, senyum di wajahnya pun meredup. “Hai!” pria yang tidak ia harapkan kehadirannya itu melambai padanya dengan ramah. Dia lagi, dia lagi! Gerutu Gwen dalam hati. “Jika tidak ada yang penting, silahkan anda pergi. Saya sedang istirahat,” Usir Gwen halus. Tapi Joe di hadapannya seolah memiliki kulit setebal badak. Bukannya pergi, ia justru makin betah di sana menggoda Gwen. “Tidak baik loh mengusir pelanggan,” ucapnya. “Kamu itu sama sekali bukan pelanggan, tapi pengganggu.” Gwen melayangkan tatapan menghujam, berharap pria itu cepat tahu diri dan angkat kaki dari hadapannya sekarang juga. “Eits, jangan salah! Aku juga membuka stand di sini. Aku mengunjungi kamu karena sepertinya kita akan sering bertemu selama sebulan sampai event ini selesai.” Joe terkekeh. Sebelah alis Gwen terangkat. “Kamu juga buka stand di sini?” Tanya Gwen kaget. Ia terlalu sibuk di hari pertama sampai tidak menyadari kehadiran pria pembawa sial itu di sana. Ditambah lagi Joe yang tidak memakai seragam chef, membuatnya sempat kegeeran untuk berpikir bahwa pria itu memata-matainya. Joe mengangguk. “Tuh di sana.” Joe menunjuk arah jam tiga Gwen. Gwen mengikuti arah telunjuk itu mengarah. Matanya memicing agar bisa melihat papan nama yang tergantung di atas stand dengan lebih jelas. JG RESTO. Ya ampun kemana saja Gwen selama ini? Sampai ia tidak sadar bahwa ia satu event dengan mantan pacarnya sendiri? “Oh ya, kamu benar-benar keras kepala ya. Ngotot sekali mau aku menerima uangmu sampai transfer segala. ” Tambah Joe. “Sudah kubilang aku nggak mau berhutang budi. Lagian ya, Kalau tahu kamu ada di sini, aku akan mengutus Sofia yang stand by di sini.” Komentar Gwen. “Jangan begitu lah, Gwen. Kamu nggak sadar ya kamu kejam sekali. Memang apa salahnya jika bertemu denganku? Dunia ini sempit, see? Kita bisa bertemu tanpa sengaja ini tanda kita berjodoh.” Joe terkekeh. “Aku tidak punya waktu untuk meladenimu. Pergi sana.” Kali ini Gwen mengusirnya terang-terangan. “Kamu tidak boleh mengusir pelanggan.” “Siapa yang pelanggan? Kamu?” Tanya Gwen sinis. Diluar dugaan, Joe menjawab lantang. “Aku!” “Kamu?” Mata Gwen melebar. Si playboy cap kapak ini bisa nikah? Sama siapa? Sama si vera? Tapi bukannya mereka sudah putus? Kok bisa??? Mendadak pertanyaan demi pertanyaan keluar begitu saja dalam benak Gwen. Entah mengapa ia merasa sedikit kecewa. “Kenapa? Aneh?” Tanya Joe kurang senang. “Sulit dipercaya saja kamu bisa nikah. Pasti ada apa-apanya kalau kamu tiba-tiba mau nikah. Pacarmu hamil ya? Minta tanggung jawab sampai kamu tidak punya pilihan lain?” Sinis Gwen. “Aku tahu kamu meragukan aku. Tapi kupastikan alasannya bukan yang itu,” Joe tersenyum lebar, tidak merasa tersinggung sedikitpun. Ia justru merasa senang dengan Gwen yang semakin sewot padanya. Semakin marah wanita itu, semakin bagus bagi Joe. Dengan begitu wanita itu akan semakin mengingatnya. “Apapun itu, aku tidak peduli. Selamat ya, akhirnya baikan sama wanita tukang labrak itu. Bilang padanya ya, kalau lain kali kamu selingkuh, jangan salahkan aku lagi. Oh ya, kalau mau tanya-tanya soal paket pengantin, bisa tanya stand lain ya. Stand aku ini anti fakboy nih.” Tegas Gwen. Joe tertawa mendengarnya. “Aku bukan nikah sama Vera kok.” “Terus?” Tanpa sadar, Gwen penasaran juga. Joe mencondongkan badannya mendekati Gwen. Langkahnya terhenti karena terhalang oleh meja stand. Gwen yang duduk di balik meja sampai memundurkan tubuhnya melihat Joe mendadak mendekatinya. “Sama kamu.” Ucapnya sembari menyunggingkan senyum maut yang membuat Gwen terpaku di tempatnya selama beberapa waktu. Joe sudah membulatkan tekadnya. Jika dengan bersikap baik, ia justru diabaikan Gwen, maka lebih baik ia menggunakan cara lain agar wanita itu membencinya. Sudah ia putuskan, ia tidak akan menyerah. Selama janur kuning belum melengkung, ia tidak akan berhenti mengejar Gwen, sampai wanita itu bersedia berhenti melangkah dan berpaling padanya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD