18- TAWARAN GILA

1434 Words
*** “Aku bukan nikah sama Vera kok.” “Terus?” Joe mencondongkan badannya mendekati Gwen. Langkahnya terhenti karena terhalang oleh meja stand. Gwen yang duduk di balik meja sampai memundurkan tubuhnya melihat Joe mendadak mendekatinya. “Sama kamu.” Ucapnya sembari menyunggingkan senyum maut yang membuat Gwen terpaku di tempatnya selama beberapa waktu. Gwen mematung di tempatnya tanpa berkedip, seolah mencoba mencerna maksud Joe barusan. Dan beberapa detik setelahnya ia meledak. “Heh, Gila ya!” Suaranya meninggi satu oktaf dari biasanya. Beberapa orang yang berdiri tak jauh dari mereka berdua sampai meliriknya heran. Sadar bahwa makiannya barusan mengundang perhatian orang, Gwen memelankan suaranya dan berkata pada Joe. “Jangan membuatku berkata dua kali, Jonathan. Berhenti menggangguku! Bercandamu barusan tidak lucu!” “Kata siapa aku bercanda?” Joe balik bertanya, seolah menantang Gwen. “Aku serius. Aku sudah putus dari Vera. Aku sekarang bukan lagi ngajak kamu balikan, tapi ngajak nikah. Aku serius.” Joe menatap mata Gwen dalam-dalam. Gwen tertawa sinis. “Aku sudah tunangan sama orang. Nih lihat!” Gwen memperlihatkan cincin di jari manisnya. “Kalaupun aku nggak tunangan sama orang, aku juga nggak sudi sama kamu.” “Terus apa salahnya?” Joe balik bertanya seolah cincin di jari Gwen bukan masalah baginya. “Aku memang bersalah padamu, kan? Bagaimana jika aku beri penawaran menarik, Gwen?” Joe menyeringai penuh arti. Gwen seolah memiliki firasat buruk melihat seringainya. “Balas saja perbuatanku padamu sekarang. Dulu aku membuat orang lain jadi selingkuhan. Sekarang kamu jadikan saja aku selingkuhan. Gimana? Adil kan?” Joe tersenyum lebar, sementara Gwen menatapnya geli. “Aku akan anggap tidak pernah mendengar hal ini, Jonathan.” Gwen mengeraskan ekspresinya. Ia merasa selama ini ia kurang tegas pada Joe sampai pria itu bisa menawarkan solusi gila, egois, dan tidak berperasaan seperti itu. “Jangan samakan aku dengan kamu. Aku memiliki orang yang sangat baik di sisiku, dan aku tidak akan membiarkan hal yang dulu terjadi padaku akan terjadi padanya. Berhenti bicara, berhenti menemuiku, dan berhenti mengusikku. Atau aku akan membencimu seumur hidup!” Tegasnya dengan tatapan menghujam, tanda ia benar-benar serius “Oke, bencilah semuamu.” Joe tersenyum penuh arti. “Aku juga akan melakukan sesukaku.” “Kamu…” Geram Gwen. “Ah, aku pergi dulu. Kamu tidak ingin aku terus-terusan di sini kan? Pikirkan tawaranku tadi, Gwen. Jika kamu berminat kamu hubungi aku. Jika kangen, juga boleh cari aku.” Joe mengedipkan sebelah matanya. Ia kemudian melanjutkan, “Oh ya, jangan lupa kamu berhutang menaktirku makan. Uangmu sudah kukembalikan ke rekeningmu hari ini. Kalau kamu mengembalikannya lagi, apa aku mesti kembalikan ke tunanganmu?” “Jonathan Gonawi, jangan main-main denganku!” Gwen mengepalkan tangannya, menatap Joe geram. “Kamulah yang bermain-main denganku, Gwen.” Joe tersenyum penuh kemenangan. “Kamu berhutang menaktirku makan. Aku akan menagihnya kapanpun aku mau. Bersiaplah.” Joe berbalik pergi meninggalkan Gwen. Ia sudah menerobos jona nyaman antara mereka dan sekarang ia sudah tidak bisa kembali lagi. Apapun yang terjadi, ia tidak akan melepaskan Gwen lagi apapun yang terjadi, meski harus menghalalkan cara kotor sekalipun. *** Akhir-akhir ini entah mengapa Gwen semakin sering bertemu Joe. Padahal ia sudah mengutus Sofia yang menangani event di mal selama sebulan, tapi siapa yang menyangka bahwa dedemit bernama Jonathan Gonawi justru muncul di butiknya. Hari pertama sampai hari ketiga kehadiran Joe di kantornya membuat Gwen benar-benar merasa terganggu. Joe menunggu seharian sampai Gwen pulang di ruang tunggu dan mengikuti Gwen kemanapun. Saat Gwen hendak naik ke mobil, dengan percaya diri, ia ingin ikut masuk ke dalam, tapi Gwen menghadiahkannya pelototan super seolah matanya bisa mengeluarkan laser. Lalu menutup pinto mobil dan langsung tancap gas sebelum Joe bisa mengikutinya. Dan di hari keempat ini, seperti biasa Joe datang pada jam yang sama seperti sebelumnya. Gwen sudah menyusun siasat yang sempurna hari ini. Ia meminta resepsionisnya membohongi Joe dengan mengatakan bahwa dirinya tidak ada di ruangan. Gwen sampai repot-repot memarkir mobilnya di ujung jalan sana, jauh dari butik, hanya untuk membuat Joe menyerah dan pulang saja. Tapi lagi-lagi reaksi Joe justru diluar ekspetasinya. Joe masih bersikeras akan menunggu wanita itu sampai kembali sambil membaca majalah di ruang tunggu. Gwen yang mengawasi Joe dari CCTV di ruangannya pun berdecak kesal. “Gila ya ini orang. Sudah setengah hari di sini nggak pergi juga. Pengangguran kali ya dia!” Gwen kembali berpikir keras, memikirkan apa yang harus ia lakukan untuk keluar makan siang nanti. Tapi setelah berpikir lama dan tidak mendapat solusi, ia pun bingung sendiri. “Eh, kenapa aku malah harus sembunyi sih? Ini tempat kerjaku, aku bebas kemanapun yang aku mau. Buat apa aku menahan lapar di sini hanya untuk menghindari si bodoh itu?” Merasa menghindari Joe tidak ada gunanya, pada saat makan siang Gwen pun terang-terangan keluar dari ruangannya dan beringsut keluar dari butik. Ruang tunggu berada tepat di hadapan resepsionis dan di samping pintu keluar. Begitu Gwen muncul di sana, Joe langsung bangkit dan mengekorinya seperti biasa sampai keluar dari butik. “Kamu niat sekali, demi membohongiku sampai menyuruh resepsionis berbohong padaku. Kamu bahkan sengaja memarkir mobil jauh dari sini. Sebenarnya dimana kamu memarkir mobilmu? Nggak capek jalan pakai hak tinggi begitu?” Joe berceloteh panjang kali lebar di belakangnya. Gwen sampai berkali kali menghela nafas dan mengusap dadanya, mengisyaratkan pada dirinya sendiri untuk bersabar. Sabar, sabar, jangan ngamuk di sini, Gwen! “Kamu kan hutang makan siang bersamaku. Bagaimana sekarang saja? Mobilmu terparkir cukup jauh, bagaimana jika naik mobilku saja?” Lagi-lagi Joe menyerocos seperti bebek. Rasanya berisik sekali. Gwen tidak tahan lagi ingin memakinya sepuasnya. Tapi lagi-lagi sisi malaikat dalam hatinya membujuknya untuk bersabar. Anggap saja makhluk usil di belakangmu adalah ilusi Gwen. Dia adalah ilusi, dia adalah ilusi, ilusi, dan ilusi. Gwen komat kamit menggumamkan seuntai kalimat itu untuk menenangkan diri, tapi kesabarannya habis, ketika Joe dengan sengaja menginjak ujung sepatu Gwen dengan sepatunya hingga sepatu berhak tinggi sebelah kanan Gwen terlepas dari kaki Gwen dan sukses menginjak trotoar dengan bertelanjang kaki. “Heh!!! Kamu benar-benar gila ya??? Kembalikan sepatuku!!!” Gwen berkacak pinggang memelototi Joe yang sekarang sedang memamerkan sepatu Gwen digenggamannya. “Siapa suruh men-pehape-ku selama empat hari ini?” Joe tersenyum licik. “Aku tidak akan mengembalikan ini sebelum kamu traktir aku makan. Sepatu ini sandera sampai kamu lunasi dulu hutangmu untuk traktir aku makan.” “Heh, masih untung aku nggak lapor polisi kamu nguntit aku empat hari ini ya! Balikin Nggak???” Gwen mencoba meraih sepatunya yang berada di tangan Joe, tetapi Joe justru bergerak mundur dan menunjukkan ekspresi seolah mencemooh Gwen. “Sudah kubilang, pergi makan denganku baru kukembalikan.” ucap Joe. “Kenapa? Nggak mau? Atau nggak berani? Jangan-jangan kamu masih nggak bisa move on dari aku ya? Makanya kamu bela-belain menghindar dari aku seperti ini. Benar kan???” Goda Joe. Kesabaran Gwen seolah putus di detik itu. Meskipun tebakan Joe tepat sasaran, masih ada sebagian dari hatinya yang masih mengingat pria itu, bagi Gwen harga dirinya begitu tinggi dan dia tidak ingin pria itu menertawakannya. Dengan kesal, dilepaskannya sepatu yang tersisa sebelah dan melemparkannya ke arah wajah Joe. Tapi alih-alih sepatu bertumit tinggi itu menghantam wajah Joe, sepatu itu justru mendarat di tangan Joe dengan sempurna. “Sudahlah, menyerah saja Gwen. Sekarang sepasang sandera ada di tanganku. Masa ibu bos mau berjalan keliling kota sambil bertelanjang kaki? Mendingan kamu traktir aku makan, setelah makan aku akan pulang dengan damai. Gampang kan?” Joe memamerkan sepasang sepatu mahal Gwen ditangannya dengan senyum penuh kemenangan. “Sori ya, aku nggak sudi. Makan sama kamu, makanan bukannya masuk ke perut, malah bisa muntah aku lihat mukamu.” Gwen bersedekap dan membuang muka. Joe menghela nafas. “Kalau kamu masih keras kepala, aku gendong kamu dan kupaksa makan bersama. Mau?” “Kamu nggak akan berani. Berani kamu sentuh aku seujung rambut saja, aku akan teri---ak! Hey!!!” Belum selesai Gwen berbicara, Tangan Joe sudah bergerak secepat kilat memeluk kedua kakinya dan menggendong Gwen dengan gaya memanggul beras. Seketika saja Gwen menjerit sehingga menarik perhatian orang banyak. Kepalanya yang menghadap ke bawah membuatnya pusing. Ia memukul punggung Joe dengan kedua tangannya sekeras yang ia bisa, akan tetapi Joe terlalu kuat dan sama sekali tidak berniat melepasnya. Seorang bapak-bapak pejalan kaki mendekati Joe menanyakan masalah mereka berdua, tapi Joe justru menjawabnya dengan ekspresi memelas yang membuat orang-orang yang mengerumuni mereka jadi berpihak sepenuhnya pada Joe. “Istri saya tega sekali meninggalkan saya. Dompet, uang bulanan semua sudah saya berikan, tapi saya dikurung di rumah sendirian, tidak dikasih makan pula. Saya berhasil keluar lewat jendela dan bertemu dia di sini, tapi dia tidak mau ikut saya pulang, terpaksa saya gendong paksa.” Joe berkata dengan sedih yang dibuat-buat. Gwen yang masih digendong terbalik pun ternganga mendengarnya. “Dia bohong! Semua itu tidak benar!!!” Akan tetapi orang-orang yang mengerumuni mereka lebih percaya pada Joe. Mereka bahkan menasehati Gwen agar patuh pada suami jika tidak mau terkena azab. Joe mati-matian menahan tawa, dan membawa Gwen pergi dari sana dengan penuh kemenangan. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD