***
“Sekali lagi kamu begitu lagi padaku, aku akan membunuhmu!” Gwen berkata dengan sungguh-sungguh, sambil melotot, ia menghentakkan garpu ke atas meja. Ia tidak suka Joe berlagak sebagai korban di depan orang banyak, terlebih lagi digendong bak memanggul beras. Kepalanya terayun-ayun menghadap bawah, membuat darah berkumpul di ubun-ubun dan rasanya luar biasa pusing sampai sekarang.
“Oh ya? Ayo coba! Mau dibunuh dengan cara apa?” Joe menantang dengan ekspresi mengolok-olok. Ia mencondongkan kepalanya ke depan, menantang Gwen untuk mencekiknya karena ia tahu Gwen tidak akan berani. “Kalau kamu yang bunuh, aku rela deh. Aku cuma nggak nyangka saja kalau kamu berbakat psikopat.”
Gwen melotot garang. Tapi di mata Joe, ekspresi marahnya itu terlihat lucu. Wanita dua puluh empat tahun itu lebih terlihat seperti anak kecil yang sedang merajuk karena tidak diberi makan. Tangan kiri wanita itu memegang pisau makan dan tangan kanan memegang garpu yang mengacung ke atas. Terkadang jika ucapan Joe dirasanya tidak enak di dengar, wanita itu akan menghentakkan garpu dan pisau itu agar Joe bisa terpengaruh gertakannya. Tapi mana mungkin seorang Jonathan Gonawi yang penuh dengan akal bulus nan licik itu bisa digertak oleh wanita lemah lembut bak merpati yang tengah berpura-pura bertingkah seperti seekor singa?
“Aku malas berdebat denganmu!” Gwen meletakkan alat mengancam Joe tersebut di atas meja, melipat tangan di depan d**a dan memalingkan muka.
“Sesuai perjanjian, kamu traktir aku. Kita kan sudah di restoran, jadi lebih baik kita langsung pesan makan saja. Apa kamu mau merajuk, ngomel, dan ngancam aku terus? Biar bisa bersama aku lebih lama?” Joe menyeringai penuh arti.
Mendengar itu, Gwen segera sadar bahwa apapun yang ia katakan sekarang Joe tidak akan mendengarkannya. Dengan begini ia justru seperti sedang mengulur-ulur waktu. Joe bisa semakin besar kepala nanti. Sekarang ia dan Joe sedang berada di restoran mewah yang dulu belum sempat dikunjungi Gwen dan Joe karena pada jaman itu menurut mereka makan di restoran itu terlalu mewah. Tapi sekarang melihat kondisi mereka yang sudah bisa dibilang mapan, dan makan di sini bukan hal besar.
“Sepulang dari sini, belilah deterjen di swalayan. Kamu sepertinya butuh itu untuk mencuci otakmu agar tidak kelewat percaya diri.” komentar Gwen.
“Jangan terlalu jutek,” komentar Joe. “ Nanti makin kangen loh!” Joe mengedipkan sebelah matanya yang dibalas Gwen dengan ekspresi jijik.
“Cepat pesan makananmu! Jangan buang-buang waktuku. Aku sibuk!” Gwen menunjuk buku menu dengan dagu.
“Kamu tidak pesan?”Tanya Joe.
“Sudah kubilang aku tidak sudi makan denganmu. Karena sudah terlanjur di sini, cepat pesan , agar aku bisa cepat pulang.” titah Gwen.
Joe tersenyum miring. “Yakin ya, tidak mau pesan? Jangan sampai menyesal. Ini restoran yang ingin kamu kunjungi waktu muda dulu.”
“Jangan banyak omong deh. Cepat pesan, nggak?” Gwen melotot.
“Oke, oke. Aku akan pesan. Dan berhubung kamu yang traktir, aku akan pesan sepuasku, jangan ngomel ya.”
Dan Joe benar-benar memesan makanan sepuas dan sesukanya. Entah berapa macam menu yang ia sebutkan pada pelayan tadi. Sepertinya ia memesan lima menu utama, dua menu pendamping, dan segelas minuman. Sementara Gwen hanya memesan segelas minuman saja.
Sepertinya dia benar-benar ingin membuatku bangkrut, batin Gwen. Tapi biarlah. Biar urusan hutang budi ini cepat berakhir dan aku tidak perlu berurusan dengannya lagi.
Akan tetapi begitu makanan tiba di hadapan Gwen, entah mengapa nafsu makannya tergugah. Ia sampai menelan ludah melihat Joe sengaja menggodanya dengan sepiring ravioli.
“Yakin nggak mau?” Joe menyeringai. “Ini enak loh. Walaupun masih enakan buatanku.” ucap Joe membanggakan diri.
“Aku nggak lapar. Makan sambil lihat mukamu, makanan pun tidak bisa tertelan.” Ketus Gwen. Namun tanpa diduga, suara perut Gwen tiba-tiba berbunyi kencang, membuat Joe yang sedang mengunyah sampai terbengong-bengong dan Gwen sendiri salah tingkah.
Sedetik, dua detik, hening.
Didetik ketiga, tawa Joe sukses berderai. Gwen hanya meringis risih karena malu.
“Yaelah, Gwen. Buat apa kamu jaga image. Kalau lapar ya makan. Kamu benci padaku apa ada hubungannya dengan makanan enak tak bersalah ini?” Joe menyodorkan ravioli yang belum ia sentuh ke hadapan Gwen. “Makanlah.”
Baru saja Gwen hampir terharu dibuatnya. Joe berdeham dan berkata, “Toh kamu yang bayar ini.”
Oke, Gwen kesal sekarang. Sekarang ia menyesal sempat terharu pada iblis berwujud tampan ini. Meski begitu, Gwen sudah tidak jaga image seperti tadi lagi. Ia mengangkat alat makan di hadapannya dan mulai makan. Rasanya benar-benar enak. Tidak heran restoran ini adalah restoran termewah dan terenak di pusat kota.
Gwen terlalu asik dengan makanan di hadapannya sampai tidak menyadari Joe sedang mengamatinya sambil makan. Pria itu mengamati gerak-gerik Gwen dan tersenyum sambil mengakui dalam hati bahwa wanita itu hanya penampilannya yang berubah, sisi dalamnya masih Gwen yang dulu yang kadang ceroboh, dan suka berantakan saat makan. Terbukti saat wanita itu terlalu sibuk dengan makanan dihadapannya sampai tidak tahu ada krim yang menempel disudut bibir.
Tangan Joe terulur menyentuh ujung bibir Gwen, membuat wanita itu terkejut. Namun belum sempat ia menepis tangan itu ataupun memarahi Joe, tangan pria itu sudah berhasil menyentuh sudut bibir Gwen. Tatapan keduanya tiba-tiba bertemu di detik itu. Sentuhan jari Joe di wajah Gwen hanya berlangsung per sekian detik saja, namun entah mengapa sentuhan ringan itu sedikit menghangatkan hati Gwen yang sudah membeku. Mata pria itu barusan terlihat seperti ia tidak berniat jahat, seperti ia benar-benar menyesali semuanya.
“Ada yang menempel,” Joe buru-buru menurunkan tangannya setelah mengusap krim yang menempel di wajah Gwen. Entah mengapa ia merasa canggung setelah melakukan hal tadi. Empat tahun tidak melihat wanita itu membuat Joe merasa asing. Rasa bersalahnya pada Gwen mendadak mengingatkannya, hingga ia merasa canggung karena mengusap sudut bibir Gwen.
Hal yang sama juga berlaku pada Gwen. Alih-alih marah, ia justru mengelap bibirnya dengan tisu dengan salah tingkah. Dalam hati Gwen merutuk dirinya yang hampir saja luluh dengan sikap Joe. Inilah yang paling Gwen takutkan. Ia takut semakin sering ia melihat Joe, perasaan yang sudah ia kubur dalam-dalam akan bangkit kembali.
Keduanya akhirnya makan dalam diam. Joe mendadak menjadi pendiam padahal sebelumnya ia sangat berisik sampai Gwen merasa harus memakai penyumbat telinga. Jika tahu pada akhirnya pria itu akan sekalem ini, sejak awal Gwen bisa menyimpan tenaga marah-marah untuk hal yang lebih berfaedah.
Usai makan ketika Gwen hendak membayar, kasir restoran itu mengatakan bahwa bill sudah dilunasi oleh pria yang bersama Gwen. Joe sudah membayar ketika ia bilang ingin ke toilet.
Segera saja Gwen berpaling, menyusul Joe yang baru saja keluar dari restoran. Gwen memang sudah mengatakan bahwa ia tidak akan kembali ke butik bersama Joe, ia lebih memilih naik taksi daripada harus berdua bersama pria itu lagi.
“Katanya minta aku traktir. Kenapa kamu yang bayar?” Tanya Gwen.
Joe yang hendak berjalan ke parkiran mobil pun menghentikan langkahnya. Ia berpaling dan tersenyum tipis. Entah mengapa wajahnya terlihat sedih. Tidak seperti wajah konyol dan menyebalkan seperti sebelumnya.
“Yang penting kan kamu makan bersamaku.” Katanya. “Harga diriku hancur jika aku dibayari wanita.” Tambahnya. Usai berkata demikian, Joe melambai sekenanya dan berjalan pergi.
Sementara Gwen masih berdiri di tempatnya, menatap punggung Joe yang menjauh dengan tatapan yang sulit diartikan.
Seharusnya aku memang tidak bersamamu, walau hanya sebentar, Joe. Batinnya sedih.
Benar dugaan Gwen. Joe hanya mencari alasan untuk menghabiskan waktu bersama meski hanya sebentar. Dan kebersamaan yang hanya sebentar itu berhasil menyusup ke dalam celah hati Gwen meskipun tidak banyak.
Gwen berpaling dan mendekati taksi online pesanannya yang sudah tiba di depan restoran. Sebelum ia masuk ke dalam taksi, ia masih menyempatkan diri untuk menatap punggung Joe yang menjauh sebelum akhirnya masuk kedalam taksi.
Setelah ini, entah apa yang harus dilakukan Gwen untuk menutup perasaannya kembali. Dulu ia butuh empat tahun untuk menutup sebuah hati. Sekarang hati yang tertutup rapat itu perlahan terbuka hanya dalam hitungan jam.
***