10- MANTAN BERTEMU MANTAN

1234 Words
*** Vera membanting pintu apartemennya dengan kasar. Ia kemudian berjalan cepat memasuki kamar dan melakukan hal yang sama pada pintu kamar. Tangisnya langsung pecah setibanya ia di dalam kamar. Dihempaskannya tubuhnya di atas tempat tidur sambil terisak. Tadinya ia mencoba menahan tangis, namun semakin ia tahan, rasanya ia kian tersiksa. Maka pada akhirnya, ia pun membiarkan hatinya meluapkan emosi sepuasnya. Sebenarnya apa yang ada di pikiran Joe sampai setega ini padanya? Dalam hati Vera mempertanyakan apa bagusnya Gwen dibanding dirinya? Apa dia sangat cantik? Vera rasa, dirinya pasti tidak kalah cantik. Banyak hal yang ia lakukan selama empat tahun ini demi menjaga agar Joe tidak berpaling darinya. Vera tahu kalau Joe suka wanita seksi, ia pun rajin jogging keliling komplek sehari dua kali dan rajin berenang setiap minggu. Vera tahu Joe suka lupa makan, maka ia selalu mengingatkan Joe untuk makan atau kadang membawakannya makan malam sepulang Vera dari kerja. Joe bilang kulitnya terlalu putih (putih pucat), hampir sama seperti penderita albino. Vera  sampai rela mencoklatkan diri. Efek sinar matahari di pantai kuta benar-benar ampuh. Kulit putih mulus Vera langsung berubah gelap setelah seminggu penuh berjemur. Dari semua hal yang Vera lakukan, tidakkah ada sedikit saja yang menyentuh hatinya? Lalu apa arti Vera baginya? Di saat Vera semakin tenggelam dengan pertanyaan dan alasan Joe mengakhiri hubungan dengannya. Tiba-tiba sesuatu terlintas di dalam benaknya. Buru-buru ia bangkit dari tempat tidur dan menyambar ponsel yang terletak di atas nakas. Setelah menemukan nama yang ia cari, ia pun menekan tombol berwarna hijau dan menempelkan ponsel di telinga. Aku tidak akan membiarkan ini berakhir. Jika aku tidak dapat memiliki Joe, begitu juga dengan wanita itu. Ketika suara nada tunggu berganti menjadi suara seorang wanita di seberang sana, Vera  bergegas buka suara, "Halo? Dengan Gwen? Bisa kita bicara? Aku Vera, pacar Joe." *** Sejak setengah jam yang lalu, Vera sudah duduk manis menanti di dalam kafe diujung jalan tak jauh dari restoran Joe. Hari ini dia ada janji bertemu dengan Gwen, wanita dari masa lalu Joe. Vera memang datang setengah jam lebih cepat dari waktu yang di janjikan. Rasa penasaran untuk mengetahui seperti apa rupa wanita itu, membuatnya datang lebih cepat. Vera menelepon Gwen dengan nomor yang dia salin secara diam-diam saat Joe sedang sakit. "Halo? Dengan Gwen?" "Ya, ini siapa?", suara diseberang terdengar penasaran. " Bisa kita bicara? Aku Vera, pacar Joe." Awalnya suara seberang sana tiba-tiba sunyi. Namun setelahnya, suara wanita itu kembali terdengar. "Katakan saja apa maumu.” "Tidak disini, kita harus bertemu." Vera bersikukuh. Wanita itu terdengar menghela nafas, sebelum akhirnya menjawab, "Baiklah. Aku tak punya banyak waktu. Waktu dan tempat kamu saja yang tentukan." "Jam makan siang di kafe Rovsky di ujung jalan sebelum restoran Joe," tukas Vera sebelum akhirnya mengakhiri panggilan. Banyak hal yang menjadi pertimbangan Vera untuk menghubungi Gwen selain alasan karena dia penasaran sekali seperti apa rupa wanita yang sanggup membuat Joe tergila - gila. Alasan lainnya adalah ia ingin mempertahankan hubungannya dengan Joe. Jika Joe memutuskannya karena Gwen, Vera tidak akan melepaskannya, mengingat dalam hal ini kesalahan ada pada Gwen. Gwen-lah yang terlebih dahulu memilih meninggalkan Joe. Vera tidak pernah bertemu dengan Gwen sebelumnya. Untuk itulah sejak tadi dia terus memperhatikan pintu masuk kafe sambil mengaduk orange juice pesanannya, sementara pikirannya tak putus-putus menebak bagaimana rupa seorang Gwen. Sampai akhirnya seorang wanita cantik dengan balutan dress putih bermotif brukat dan sepatu dan tas berwarna senada, melangkah masuk ke dalam kafe. Setelah menengok beberapa kali dan menemukan sosok yang dicarinya, wanita itu pun mendekat pada Vera. Vera menatap wanita dihadapannya dengan tatapan menilai. "Kamu pasti Vera. Aku Gwendy", ucap wanita itu. Wanita itu benar - benar cantik dan anggun. Penampilannya benar-benar sangat modis bak sosialita di ibu kota. Vera yang berpenampilan kasual sampai merasa sedikit ‘kalah banting’. Dia jauh lebih cantik dari yang aku bayangkan, Vera mengakuinya dalam hati. Eits, tapi tunggu dulu, penampilan bukanlah jaminan akan karakter seseorang. Vera tidak mau memuji wanita itu terlalu banyak meskipun hanya berupa pujian dalam hati. Tanpa dipersilahkan terlebih dahulu, Gwen langsung duduk di depan Vera dengan cueknya. "Bagaimana kamu bisa tahu kalau aku adalah Vera?", tanya Vera penasaran. Sangat tidak masuk akal, Gwen belum pernah bertemu dengannya tapi dengan mudah wanita itu dapat mengetahuinya. Gwen tersenyum tipis dengan mata menatap Vera lekat. "Itu sangat mudah, Veranica Jeffaline. Tidak penting aku tahu dari mana," ucapnya. Perkataan Gwen terdengar angkuh ditelinga Vera. Bagaimana mungkin Gwen tidak mengenali wajah wanita yang merebut mantan kekasihnya dulu? Vera mungkin tidak pernah melihat Gwen, tapi Gwen pernah melihatnya, dan selamanya ia tidak akan melupakan bagaimana wujud dan bentuk wajah wanita yang menghancurkan hidupnya itu. Dia bahkan tahu nama lengkapku. Wanita macam apa dia? geram Vera dalam hati. Gwen bersedekap, menatap Vera tajam. "Aku bukan tipe orang yang suka berbasa-basi. Katakan apa maksudmu, waktuku tidak banyak." Tegasnya. Vera balas menatap Gwen tajam, seolah ia ingin menyalahkan Gwen atas putusnya ia dengan Joe. "Aku dan Joe sudah putus kemarin.” Mata Gwen membulat mendengarnya. Ia tahu kejadian hari ini akan tiba, tapi ia tidak menyangka semuanya akan berjalan secepat ini. Joe bisa putus dengan pacarnya bukanlah kabar yang mengejutkan, Joe adalah seorang playboy. Yang namanya playboy yang suka mempermainkan wanita, tidak akan pernah berubah sampai kapanpun. "Lalu apa maksudmu mengatakan ini padaku?" Tanya Gwen dingin. Firasatnya mengatakan, wanita dihadapannya ini sedang melabraknya karena menjadi penyebab putusnya mereka. Tapi ayolah! Gwen bahkan tidak tahu apa-apa soal itu. Ia baru tahu barusan. Itupun dari mulut Vera sendiri. Dan mulai detik ini, Gwen mulai bersikap waspada. Ia menegakkan tubuhnya, berjaga-jaga jika minuman di hadapan Vera akan melayang ke arahnya. Jika sampai wanita itu mengajak perang, Gwen akan membalasnya dua kali lipat lebih kejam. Kalau Gwen disiram Vera, kira-kira apa yang harus dia balas pada wanita itu? Perlu dijambak kah? Atau mungkin dicakar wajahnya? Oh, jangan! Yang seperti itu akan menimbulkan bukti. Gwen tidak mau mengotori tangannya untuk orang yang tidak pantas. "Kamu menghilang selama empat tahun lalu kembali lagi dan menemui Joe. Beberapa waktu setelah kamu menemuinya, dia langsung memutuskan hubungan denganku. Kamu perlu menjelaskan ini.” Vera menatap Gwen tajam dengan ekspresi menagih jawaban. Gwen ternganga, setelah itu ia tergelak seolah Vera barusan mengatakan sesuatu yang lucu. Wanita ini tertawa? Dia pasti sudah gila, batin Vera. "Kamu tahu sejak pertemuanmu kembali dengan Joe, secara tidak langsung kau sudah merusak hubungan kami?" Tawa Gwen langsung meredup. Dicondongkannya tubuhnya ke arah Vera.“Kamu menyalahkan aku atas kandasnya hubungan kalian karena gagal menjaga pacarmu ya?” Tanya Gwen dengan wajah kasihan yang dibuat-buat. “Kasihan sekali…” “Kamu…” Vera menggeram menahan emosi. Ingin rasanya ia menyiram wajah Gwen dengan minuman di hadapannya, tapi ia sudah bertekad hanya datang untuk bicara baik-baik dan meminta Gwen menyerah atas Joe, bukan untuk bertengkar. "Seharusnya kamu berpikir dulu sebelum menuduhku. Daripada menyalahkan aku, kenapa kamu tidak menyalahkan Joe saja? Siapa tahu matanya jelalatan dan mencari kesempatan dalam kesempitan? Gimana ya? Tabiat buruknya sudah mendarah daging sih, sama seperti kamu yang suka merebut sesuatu yang bukan miliknya.” Gwen tersenyum sinis. “Kenapa kamu justru menghinaku? Aku tidak pernah merebut milik orang lain! Justru kamu yang merebut Joe, tapi tidak mau mengaku. Padahal kudengar kamu sudah punya tunangan, tapi bisa-bisanya masih mencoba menggoda Joe.” Sesungguhnya Gwen sudah kesal setengah mati. Ingin sekali ia belikan kaca dan menyuruh pelakor ini berkaca sampai kacanya pecah. Tapi akal sehatnya menjerit memintanya untuk mengendalikan diri. Akhirnya ia pun tersenyum kembali, dan melontarkan kalimat menusuk dibalik suaranya yang lemah lembut. “Biasanya orang yang tidak tahu diri, selalu menyalahkan orang lain atas kesalahannya sendiri. Kamu tidak bisa menjaga pacarmu untuk tetap memandangmu seorang, itu kelalaianmu. Aku tidak tahu hatimu terbuat dari apa sampai bisa bertahan sejauh ini. Jika aku jadi kamu yang sudah dicampakkan, aku akan merayakan kegembiraanku berpisah dari orang seperti dia, dibanding mengemis cinta.” Senyum Gwen mengembang penuh kemenangan, sementara Vera mengepalkan tangannya kuat-kuat, menatap punggung Gwen yang menjauh setelah menghinanya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD