11- SUGESTI

995 Words
*** Hari ini genap sudah dua minggu Gwen berada di Bali. Empat tahun di negara orang ternyata membuatnya sangat merindukan tanah air, tapi siapa yang menyangka tempat yang pertama kali ia kunjungi justru adalah pulau dewata yang memberinya kenangan pahit. Selama dua minggu ini, ia tinggal di rumah keluarga Tanuwidjaja. Keluarga George menyambut Gwen dengan ramah dan memperlakukannya dengan sangat baik. Selama dua minggu ini, Gwen lebih banyak menghabiskan waktunya bersama Bella, adik George. Mereka berdua menghabiskan waktu berkeliling Bali, dan memilih gaun pengantin yang tidak bisa ia lakukan bersama George karena pria itu sedang sibuk dengan pembukaan kantor cabang di Bali. Kebersamaan Gwen bersama George dan keluarganya membuatnya melupakan pertemuannya dengan Joe dua minggu lalu. Ia sudah bertekad bahwa jika ia tidak punya pilihan lain untuk bertemu dengan pria itu, ia akan menghadapinya dan tidak akan bersembunyi lagi seperti dulu. Ia harus membiasakan diri dengan kehidupan barunya dan mengubur dalam-dalam masa lalu di dasar hati. Toh besok ia akan kembali ke Jakarta karena pertunangan mereka akan diadakan di kediaman keluarga Gwen. Tapi hari terakhir Gwen di Bali ternyata tidak bisa ia lalui dengan damai. Ketenangannya diusik oleh serangga kecil yang entah dari mana bisa mendapatkan nomor ponselnya. Vera mengajaknya bertemu dan bahkan menyalahkan Gwen atas putusnya hubungannya dengan Joe. Meski Gwen sudah membungkam wanita itu dengan caranya sendiri, muncul sebuah rasa ketidak puasan di dalam hati. Ia tidak terima menjadi kambing hitam dan dikutuk akan kesalahan yang tidak pernah ia perbuat. Ia tidak pernah berinisiatif menemui Joe, tapi ia dituduh menggoda Joe? Cih, Gwen benar-benar tidak sudi. Dikeluarkannya ponsel dari tas tangannya kala memastikan pintu ruang kerja George masih tertutup, tanda tunangannya itu masih terlibat pembicaraan serius dengan kliennya. Gwen berjalan menjauhi lobi kantor George dan memilih memojokkan diri di pojok ruangan. Sepulangnya ia dari kafe Rovsky, ia langsung kembali ke kantor George yang mengajaknya untuk makan malam bersama nanti. Jemarinya bergerak lincah menekan sederet nomor Joe yang meskipun sudah ia hapus dari kontak ponsel, namun masih ia hapal dengan jelas. Tidak butuh waktu lama ternyata nada dering berganti menjadi suara bass seorang pria yang langsung bisa memanggil namanya. “Gwen?” Suara di seberang sana terdengar seperti tidak percaya, nomor yang selama ini tidak dapat ia hubungi ternyata hari ini menghubunginya kembali. “Hei, Jonathan.” Suara Gwen terdengar dingin. Ia benar-benar sangat marah sekarang. “Sekedar saran untukmu. Jika ingin mencampakkan anak orang, jangan sekali-kali menyeretku dalam masalahmu.” “Apa maksudmu Gwen?” Joe di seberang sana tampak tidak mengerti dengan apa yang Gwen bicarakan. “Tanyakan saja pada pacarmu untuk apa dia mencariku hari ini. Ah, salah.  Maksudku mantanmu.” “Vera datang mencarimu?” Joe terdengar terkejut. Gwen enggan menjawab pertanyaan Joe yang jelas hanya basa-basi tersebut. Biarlah pria itu memutar otaknya. Gwen sekarang hanya ingin menegaskan dengan jelas bahwa mereka sudah tidak ada hubungan apa-apa. Ia lelah jika harus berurusan dan disalahkan atas kelakuan Joe yang seperti sampah. “Dengar, Jonathan. Aku tidak mempunyai masalah lagi denganmu. Jadi bisakah kamu enyah dari hidupku?  Biarkan aku menjalani hidup di tanah air dengan tenang.” “Gwen, aku sama sekali tidak tahu kalau Vera akan menemuimu. Aku akui hingga saat ini aku tidak bisa melupakanmu, tapi tidak bisakah kita tetap berhubungan baik?” Suara Joe terdengar sendu di seberang sana, namun Gwen sudah mengeraskan hatinya. Tetap berhubungan dengan Joe sama saja cari mati, bisa jadi rasa yang telah mati akan tumbuh kembali. “Aku harap kita tidak akan pernah bertemu kembali,” Tegas Gwen pada akhirnya dan mematikan telepon secara sepihak. Tak lama setelah Gwen mematikan teleponnya, George yang baru saja mengantar klien sampai ke depan lobi. Ia mencari Gwen kesana kemari dan akhirnya menemukan gadis itu tengah memungunginya dan berdiri di sudut ruangan lobi kantor. “Sayang, kamu di sini rupanya?” Suara George yang lembut membuat Gwen menoleh padanya. “Sudah lapar belum? Ayo kita makan malam sekarang. Kamu mau makan di mana?” Tanya pria itu perhatian. Gwen tersenyum dan mengangguk. Diamitnya lengan George dan mengikuti pria itu pergi dari sana. Dalam hati ia terus mensugesti hatinya bahwa ia telah memilih jalan yang benar, dan George benar-benar pilihan yang tepat, meski ada sisi terpendam di dasar hatinya yang terus mengatakan bahwa ia hanya membohongi dirinya sendiri. *** Joe tahu bahwa Gwen membencinya. Ia memang layak dibenci. Ia juga berusaha menerima kenyataan bahwa Gwen bukan lagi miliknya, tapi siapa yang menyangka wanita itu bahkan tidak sudi lagi bertemu dengannya. Hati Joe terluka mendengar perkataan tersebut, akan tetapi ia bisa menahannya. Ia sudah terbiasa. Tapi ia sendiri kurang yakin Vera bisa mengetahui tentang Gwen. Sebenarnya Vera tahu tentang Gwen dari mana? Bagaimana bisa ia menyalahkan retaknya hubungan mereka karena Gwen? Joe bahkan memilih berpisah bukan karena Gwen, tapi karena ia tidak bisa membawa hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius. Selama ini ia berada di sisi Vera hanya untuk formalitas, hati dan pikirannya hanya ia berikan pada Gwen seorang. Sudahlah, batin Joe. Ia tidak tahu darimana Vera tahu tentang Gwen, tapi sekarang adalah waktunya ia mengatakan yang sejujurnya pada Vera. Dan disinilah ia berada sekarang. Ia berdiri tepat di depan pintu apartemen Vera dan masuk dengan kunci duplikat yang memang diberikan Vera padanya. Vera ternyata tidak ada di rumah. Joe mengalihkan pandangan pada jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Pukul 19.30. Jam segini jika Vera tidak ada di rumah, mungkin ia sedang turun membeli bahan makan di supermarket atau mungkin membeli makanan karena malas memasak. Dan dugaan Joe benar, tak lama setelahnya, pintu apartemen Vera terbuka. Pemilik rumah telah pulang dan menemukan Joe duduk di atas sofa sambil menonton televisi. Vera terkesiap dengan kehadiran Joe yang sama sekali tidak ia duga. Diletakkannya kantong plastik berisi bahan-bahan makanan yang ia beli di supermarket di meja dapur, lalu menoleh pada Joe yang masih menatapnya lekat. “Pas sekali kamu datang,” Vera bersikap seolah tidak ada apa-apa yang terjadi diantara mereka. Ia berharap dengan hadirnya Joe di sini adalah petanda baik baginya. Joe pasti menyesal mengambil keputusan yang gegabah dan mereka akan berbaikan kembali, menjalani hari-hari yang indah seperti dulu. "Kamu mau makan? Mau kubuatkan apa?" Tanyanya perhatian. Namun yang diajak bicara hanya menggeleng. Joe segera mematikan televisi, dan kembali menatap Vera. "Ada yang ingin kubicarakan denganmu. Duduklah." Joe menepuk sofa di sampingnya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD