"Ay kamu harus bertahan." Tubuh Ayla yang terbaring lemah tidak sadarkan diri di dorong menggunakan bangsal oleh dokter dan suster, tak lupa Alan juga terus mengikutinya. Alan terus memegang tangan Ayla, dia juga tak henti-hentinya menyemangati Ayla agar bisa terus bertahan. Sesampainya di ruang UGD seorang dokter menahan tubuh Alan, "Anda silahkan tunggu di luar." "Tapi saya mau lihat keadaan dia Dok." "Saya akan menangani dia dengan baik pak." Kemudian dokter itu masuk ke dalam. Alan mengacak rambutnya frustasi, "Sial! Kenapa gue harus telat hah! b******k!" Alan mengumpat. Dia duduk di kursi besi dekat ruang UGD. Pikirannya terus di penuhi bagaimana keadaan Ayla sekarang. Alan mengusap wajahnya kasar. Kalo saja dia tidak terlambat, Ayla pasti tidak akan seperti ini. Ini semua s

