"Ambil hatiku, kuserahkan seutuhnya padamu." Freya bisa merasakan degup jantung Axel yang berdetak cepat di balik telapak tangannya. Pada satu waktu, ia membiarkan tangan Axel menutupi punggung tangannya, memberikan rasa hangat yang asing. Sesuatu yang sepanjang umurnya belum pernah ia rasakan. Lalu, mata kelabunya menyusuri garis wajah Axel. Orang itu tersenyum, manis sekali. Seperti langit malam yang penuh bintang, begitu ia melihat bola mata Axel. "Aku mencarimu selama ini kau tahu," ucap Axel, ia menekan telapak tangan Freya di dadanya. "Jangan marah lagi, Frey. Aku cukup tersiksa tidak bisa melihatmu selama lima tahun ini. Jangan membenciku. Aku minta maaf." Semburat merah menyebar di pipi Freya yang pucat. Melihat itu, Axel tersenyum malu-malu. "Mengganggumu membuatku merasa terh

