Gerimis.
Freya menjulurkan tangannya untuk menyentuh rintik-rintik hujan. Ia berdiri tepat di ujung teras, tersenyum, membiarkan air hujan membasahi telapak tangannya. Kakinya ikut basah terkena cipratan hujan yang berbenturan dengan lantai. Ia menikmatinya dalam diam.
Rinai hujan semakin lebat. Harusnya, ia ada di rumah sekarang. Duduk di depan jendela sambil menatap hujan, memungut inspirasi yang jatuh bersamanya. Dan ia akan menulis ditemani suara tik tik-nya yang berarti. Yah, Freya sangat menyukai hujan. Selain membuatnya tidur nyenyak seharian, hujan mampu membuat suasana di sekitarnya menjadi romantis. Saat-saat seperti itu juga, ia akan merasa dunia lebih indah dari biasanya.
Entahlah, ia tidak punya alasan kuat mengapa ia menganggap demikian, hanya saja ... itu terasa benar. Dunia lebih indah ketika hujan turun.
"Kau masih menyukai hujan?" seru Axel yang baru saja keluar dari gedung dan langsung berdiri di sebelahnya.
Freya mengangguk kecil. Sekarang rintik hujan itu sudah membuat poni dan sebagian rambutnya basah. Titik-titik air itu tampak seperti kristal di tiap helai rambutnya yang hitam. Axel tahu, ia sudah terpesona dengan senyum bulan sabit yang terbit di wajah Freya. Itu sebabnya, ia diam-diam mengamati Freya dari ekor matanya.
"Frey?"
"Hem?" sahut Freya tanpa menoleh.
"Ayo!" Axel menarik tangan Freya, membawanya menuju mobilnya. Freya diam, tanpa sadar membiarkan tangan dingin Axel melingkar di pergelangan tangannya, membuatnya hangat pada satu waktu. Axel membuka pintu, mendorong pelan bahu Freya untuk segera masuk ke mobil. Dan Freya, entah mengapa menurut begitu saja.
"Aku akan mengantarmu pulang," ucap Axel setelah duduk di bangku kemudi. Ia mengacak rambutnya yang basah lalu menoleh menatap Freya. "Boleh?"
Freya merasa ada aliran panas yang mengguyur sekujur tubuhnya ketika matanya dan mata Axel bertemu pandang. Otaknya tidak bisa bekerja cepat dari biasanya untuk merespon pertanyaan Axel. Ah, ada apa dengannya?
"Baiklah, kita pulang," seru Axel lalu menghidupkan mesin mobilnya. Sebelum mulai mengemudi, Axel menyentuh layar tape mobilnya. Tak berapa lama kemudian, terdengar suara Adele menyanyikan lagu Make You Feel My Love.
"Kau tahu, Frey, ini lagu kesukaanku. Dengarkan liriknya baik-baik," kata Axel seraya mengedipkan satu matanya.
Freya mengerjap. "Oh," komentarnya singkat. Ia memalingkan wajah melihat ke luar jendela, ke mana saja, asal tidak menatap Axel.
Mobil mulai melaju, butir-butir air hujan membasahi kaca mobil. Di sela bunyi rintik-rintiknya, lagu yang mengalun lembut itu membuat Freya tertegun lama sekali. Bahkan, ia tidak sadar kalau selama perjalanan, Axel diam-diam memperhatikannya sambil tersenyum.
When the rain is blowing in your face,
And the whole world is on your case,
I could offer you a warm embrace
To make you feel my love.
When the evening shadows and the stars appear,
And there is no one there to dry your tears,
I could hold you for a million years
To make you feel my love.
***
"Apa? Kenapa? Aku tadi kenapa? Kau pasti sudah gila, kan, Frey? Haha!" Freya berbicara pada pantulan dirinya di cermin. Satu detik kemudian ia cemberut lalu mengacak rambutnya frutasi. "Apa yang dilakukan si bodoh itu padaku? Kenapa aku terus memikirkannya... senyumnya, bibirnya, matanya ... Aaaaaaarrhg! Aku pasti sudah gila!"
Pletak!
"Aw!" Freya menoleh ke belakang, mencari tahu siapa pelaku yang baru saja melempar kepalanya dengan sandal jepit yang biasa dipakai untuk ke kamar mandi. "Ibu?!" serunya, "kenapa Ibu melemparku?"
Ibunya mendengus. "Kau pikir ini jam berapa, he? Kenapa kau teriak-teriak seperti itu?" tanya Ibunya sambil meletakkan kedua tangannya di pinggang.
"Oh," Freya meringis. "Yah, aku ... tidak ada apa-apa. Baiklah, aku tidak akan teriak lagi," katanya, berusaha tersenyum polos.
Ibunya menatap curiga. "Kau baik-baik saja, kan?"
"Ya, tentu. Memangnya aku kenapa?"
"Ya sudah kalau begitu. Jangan berisik lagi, ini masih jam dua pagi," ujar Ibunya lalu beranjak keluar dari kamar.
Freya mendesah panjang. "Ha-ha, kau pikir kau siapa berani mengganggu pikiranku seperti ini?" serunya lagi pada cermin. "Hais, aku tahu tadi itu romantis, tapi ... Aaaaaaaarrgh! Aku pasti sudah gilaaaaa!"
Pletak! Pletak!
"IBU?!"
"DIAM KATAKU!"
***
"Kau kenapa?" tanya Anna sambil memiringkan kepalanya. "Kenapa wajahmu kusut sekali."
Freya menggeleng lemah. "Anna, menurutmu, jatuh cinta itu seperti apa?"
Mata bulat Anna melebar. "Apa? Bisa kau ulangi?"
"Aku tahu kau mendengarnya dengan sangat jelas," cibir Freya.
"Huh? Hahahaha! Apa kau sedang jatuh cinta, Frey?"
Freya tidak langsung menjawab, ia mengaduk-aduk kopinya dengan gusar. Entah kenapa, sejak melihat Axel sore ini, saat rintik-rintik hujan membuat rambutnya basah, saat mata bayi Axel menatapnya dengan cara yang tidak biasa, dan saat lirik lagu itu menyentuh hatinya, semua hal itu mengusik pikiran Freya semalaman.
"Aku tidak tahu."
"Kau kan suka menulis cerita, Freya, kau pasti sering membuat dua tokohmu saling jatuh cinta, kau sendiri yang menciptakan perasaan itu pada tokoh-tokohmu, kau pasti tahu seperti apa itu jatuh cinta," jelas Anna seraya tersenyum.
"Aku hanya meniru, dan melihat," ucap Freya tanpa menoleh. Pandangannya tertuju pada rak-rak buku yang dipenuhi buku tebal berwarna cokelat tua. "Aku membaca, aku mendengar, tapi aku tidak pernah merasakannya. Kau tahu, Anna, kadang-kadang aku tidak mengerti diriku. Aku tidak pernah jatuh cinta, tapi aku bisa membuat kisah cinta," Freya memalingkan wajahnya, kembali menatap kopi, mengaduknya dengan malas. "Jadi, perasaan jatuh cinta pada tokoh-tokohku, aku tulis berdasarkan apa yang k****a, kulihat, dan kudengar."
Anna tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa. Dari semua hari yang mereka lewati, baru hari ini Freya terlihat sangat serius dalam mengungkapkan isi hati dan pikirannya.
"Tutup mulutmu," cibir Freya.
"Haha, kau serius sekali, Frey. Siapa orang itu? Sepertinya dia sangat mengganggu kejiwaanmu, ya? Haha!"
"Hais, kau ini!"
"Hihihi, sepertinya kau sedang belajar, ya?"
"Apa?"
Anna mengulum senyum penuh arti. "Belajar mengenal apa itu cinta."
"Ha-ha, omong kosong," gumam Freya. Tiba-tiba saja ia teringat dengan ucapan Axel kemarin. "Aku pergi dulu. Sampai jumpa nanti," pamitnya kemudian dan bangkit dari kursi.
"Ya, hati-hati. Oh, ya, Frey ...?" seru Anna sebelum Freya benar-benar menarik knop pintu.
"Ya?"
"Apa Harry sudah menelponmu?"
"Belum. Memangnya kenapa?"
Anna menggeleng sambil merapikan buku-buku di atas meja yang tadi dibaca Freya. "Frey, mau kuberi tahu satu rahasia?"
"Huh?"
***
Harry menyukaimu, Frey. Sejak dia mengenalmu.
Freya menatap ponselnya dengan gusar. Ada panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenalnya. Siapa? Harry-kah? Tapi, kenapa tangannya jadi gemetar begini? Sejak Anna mengatakan kalau Harry menyukainya, jujur saja itu membuat perasaan Freya agak sedikit aneh. Entahlah, ia tidak tahu kata-kata apa yang tepat untuk menjabarkannya. Rasanya tidak tepat, mungkin seperti itu.
"Ya?" sahut Freya setelah menempelkan ponselnya ke telinga.
"Kau di mana?"
"Siapa ini?" tanya Freya, ia berhenti di depan lift sambil memandang sekeliling. Dilihatnya Axel berdiri tak jauh darinya sambil menurunkan ponselnya.
"Kenapa kau terlambat?" kata Axel setelah berdiri di hadapan Freya.
"Apa itu tadi kau?"
Axel tersenyum. "Ya, apa kau berharap Harry yang menelponmu?" tanyanya.
Senyum itu. Freya cepat-cepat memalingkan wajahnya dan menekan tombol panah di samping pintu lift. "Aku mampir ke suatu tempat tadi," jawab Freya.
Pintu lift terbuka. Mereka sama-sama melangkah masuk ke dalam lift. Tepat lima detik pintu itu mau tertutup, seseorang masuk dengan memiringkan sedikit tubuhnya.
"Hai, selamat pagi?" sapa orang itu yang ternyata adalah Dai Akira.
Axel menggigit bibir dengan muka masam. Ditariknya lengan Freya agar tidak begitu dekat dengan Dai.
"Frey, kau masih ingat aku, kan?" seru Dai pada Freya yang tampak canggung. Dai menyenggol ujung sepatu Freya dengan cara yang menurut Axel menggelikan.
"Ya," sahut Freya sekenanya.
"Apa tadi malam kau bisa tidur dengan nyenyak, Frey? Kau tidak memikirkanku kan, sampai-sampai matamu bengkak begitu?"
"Kau pikir kau siapa sampai dia harus memikirkanmu?!" tanya Axel dengan nada tinggi, membuat Freya dan Dai tersentak.
"Kau ... kenapa?" tanya Dai, berusaha menahan tawa.
"Shh," Axel mendesis sambil menatap tajam Dai yang cengar-cengir. "Ayo," ucapnya pada Freya ketika pintu lift terbuka.
"Dah, Frey. Sampai jumpa nanti, Manis?" kata Dai tanpa menghiraukan tatapan sinis dan cibiran Axel.
"Jangan dekat-dekat dengannya," seru Axel setelah mereka keluar dari lift.
"Memangnya kenapa? Kau pikir kau siapa seenaknya saja mengaturku?" balas Freya dengan bibir mencebik dalam.
"Aku tidak suka. Dengarkan saja apa kataku."
"Kalau aku tidak mau, kau mau apa?" tantang Freya.
"Kalau begitu dengarkan saja kata hatiku," ujar Axel sambil membuka pintu merah muda di depannya.
"Apa?"
"Frey, kau itu bodoh atau apa? Ini...," Axel menarik tangan Freya dan meletakkannya tepat di dadanya. "Ambil hatiku, kuserahkan seutuhnya padamu."
***