"Membutuhkanmu."
Freya mendengus keras, membuat Axel menoleh.
"Jangan besar kepala, aku membutuhkanmu sebagai sekretarisku, untuk mengatur semua jadwal meeting-ku, membuatkanku kopi, pokoknya untuk mengerjakan hal-hal yang tidak sempat kulakukan!"
Dengan mata yang disipitkan, Freya mengambil bolpoinnya di atas meja lalu melemparnya ke arah Axel. "Apa katamu saja!" katanya lalu pergi.
Axel memandang bolpoin tersebut yang jatuh tepat di bawah meja. Ia mengambilnya lalu menatapnya sambil tersenyum. "Dasar bodoh. Kau itu seperti oksigen, aku membutuhkannya setiap saat."
***
Freya melangkah cepat menuju lift. Tepat dua detik pintu itu mau tertutup, ia mengangkat sebelah kakinya dan membiarkan pintu lift itu menjepit sepatu hak tingginya hingga pintu itu terbuka lagi, Freya melangkah masuk tanpa memedulikan tatapan seorang pria, satu-satunya orang yang berada di dalam lift tersebut.
Dai Akira menurunkan kacamata hitamnya melihat cara Freya masuk ke dalam lift tadi. Ia masih bersandar dengan tangan bersedekap ketika Freya berdiri di sebelahnya sambil bersungut-sungut.
Sadar kalau ia diperhatikan, Freya menoleh menatap Dai yang sudah menurunkan kacamata hitamnya. Sejenak, mereka saling tatap. Bunyi berdenting tanda pintu lift terbuka membuat Freya lebih dulu memalingkan wajah.
Dai kembali memakai kacamata lalu melangkah keluar dari lift. Sebenarnya, Dai tidak begitu peduli dengan gadis-gadis yang selama ini sering bersamanya di dalam lift. Hanya saja, wajah asing Freya, yang tidak pernah dilihatnya sebelumnya, membuatnya sedikit penasaran. Kebanyakan gadis-gadis yang ia temui adalah warga asli Jepang. Tepat ketika ia melewati meja resepsionis, langkahnya terhenti otomatis.
"Hai, Frey? Kau kelihatannya sedang kesal, ada apa?" tanya Hayashi setelah Freya tiba di hadapannya.
Freya mendecakkan lidah, ia menaruh kedua sikunya di meja lalu menopang dagu. "Ya, begitulah. Aku mengganggu tidak?"
Kening Dai berkerut samar, ia menghampiri meja resepsionis setelah melepas kacamatanya. Melihat kedatangan Dai, Hayashi langsung membungkukkan tubuhnya sambil mengucapkan salam. Freya otomatis menoleh ke belakang, Dai langsung menunjukkan seulas senyum tipis yang diyakininya bisa membuat gadis mana pun bertekuk lutut.
"Kau ... Freya?" tanya Dai sembari bersandar di meja resepsionis.
Freya menarik tangannya dari meja lalu berdiri menghadap Dai. "Ya?" tanyanya dengan kening berkerut, tanpa senyum sedikit pun.
"Kau cantik!" seru Dai dengan mata berbinar-binar. "Pipimu mengingatkanku dengan bakpao buatan ibuku," Dai mencubit kedua pipi Freya dengan gemas. "Hei, matamu ... lihat! Mata kita sama, abu-abu!" kata Dai sambil mengarahkan wajah Freya untuk menatap lurus ke matanya dengan cara memegang pipinya.
Entah kenapa, Freya menurut saja diperlakukan begitu oleh Dai. Ia memiringkan wajah sedikit, mengamati wajah Dai. Memang benar, mereka punya warna bola mata yang sama.
"Rambutmu," Dai mengambil sejumput rambut Freya dan menciumnya. "Wangi sekali."
Dug. Freya seakan tersadar dari hipnotis lalu menginjak kaki Dai sekuat tenaga.
"Apa yang kau lakukan?! Hais, berani sekali kau menyentuhku!" seru Freya seraya merapikan rambutnya.
Dai Akira meringis, mengumpat dalam hati sambil mengangkat kaki kanannya yang sakit. "Aku, astaga kakiku!" kata Dai sambil berjingkat-jingkat.
"Frey, ap-apa yang—kau tahu kalau dia sebenarnya—"
"Orang gila," ucap Freya, sama sekali tidak menghiraukan Hayashi yang berusaha menjelaskan siapa Dai Akira sebenarnya. Freya kemudian mendengus keras, berbalik dan melangkah cepat menuju lift.
"He-hei! Tunggu!" Dai mengikutinya setengah berlari.
Freya menoleh ke belakang, ia semakin mempercepat langkahnya melihat Dai Akira berlari kecil mengejarnya. Mau apa dia? batin Freya mulai dilanda rasa takut. Bagaimana pun ini pertemuan pertamanya dengan orang itu, berani sekali ia menyentuh Freya seperti tadi. Dan, dari siapa pria itu tahu namanya?
"Ops!" Dai menyelipkan kakinya di antara pintu lift, persis seperti yang tadi dilakukan Freya. Pintu terbuka lagi, Dai melangkah masuk sambil tersenyum lebar. "Kenapa tadi kau menginjak kakiku?" tanya Dai.
Freya pura-pura tersenyum. "Oh, apa aku melakukannya?"
"Haha, ya Tuhan! Baru kali ini aku menemukan gadis sepertimu! Astaga, kurasa aku jatuh cinta pada pandangan pertama!" seru Dai setengah tertawa. Ia menyentuh pipinya dengan cara yang menurut Freya sangat berlebihan.
"Kau siapa?" tanya Freya, akhirnya.
Dai berhenti tertawa. Ia berdiri tegap, bersandar di dinding lift dengan kedua tangan di dalam saku. "Masa sih kau tidak kenal aku?"
"Kau artis? Model? Anak Perdana Menteri?" tanya Freya tidak begitu minat.
"Aku Dai Akira. CEO Lux Funny Mommy selain Axel Kennedy," sahut Dai dengan bangganya.
Freya terkesiap. Bodoh, umpatnya pada dirinya sendiri.
"Tidak, tidak perlu minta maaf. Aku baik-baik saja, Manis! Kau tidak perlu merasa menyesal begitu," kata Dai lagi.
Tak berapa lama kemudian, terdengar bunyi berdenting, Freya melirik Dai yang senyum-senyum menatapnya.
"Maaf," ucap Freya sambil sedikit membungkukkan badan. Setelahnya, ia melangkah keluar dan menahan diri untuk tidak menoleh ke belakang. "Astaga, dia CEO selain Axel? Apa yang sudah kulakukan padanya? Eh, tapi dia berhak menerimanya. Berani sekali dia menyentuhku, kenal saja tidak!" gumam Freya selama menuju kantor Axel.
"Aha! Kau masih memikirkanku rupanya!" seruan itu membuat Freya terlonjak kaget.
Ketika ia menoleh, Dai tengah cengar-cengir dengan tangan menyilang di d**a. "Hai?"
Freya mendesah. "Maaf, aku harus kembali ke kantor," ucap Freya lalu berjalan cepat menuju ruangan Axel yang sudah di depan mata.
"Kau pasti sekretaris Axel, kan? Kebetulan sekali, aku juga mau bertemu dengannya!" kata Dai masih sambil tersenyum. Freya sempat termangu sejenak, apa Dai memang suka tersenyum?
"Halo?" Dai mengibaskan tangannya di depan Freya hingga Freya terkesiap. "Aku tahu kalau aku ini tampan, tapi kau tidak perlu menatapku seperti itu."
Freya memaksakan diri untuk tertawa. "Maaf."
"Kau sudah tiga kali mengatakan maaf."
"Oh," Freya tidak tahu harus berkata apa. Ia paling canggung bicara banyak dengan orang yang baru dikenalnya, apalagi kalau orang itu laki-laki. Freya seperti kehabisan kata-kata dan kalau begitu, ia akan diam dan hanya akan menyahut jika ditanya.
Freya mendongak ketika mendengar suara bisik-bisik terdengar dari bilik-bilik yang mereka lewati. Kepala-kepala melongok ke luar untuk melihatnya. Entah sudah berapa kali ia menjadi pusat perhatian seharian ini.
"Siapa pun yang berjalan bersamaku, akan menjadi sorotan," kata Dai sambil menyikut siku Freya.
"Haha, begitu, ya," ucap Freya, lagi-lagi berusaha untuk tertawa.
"Tentu saja. Kau beruntung, Freya!" seru Dai. Freya meringis, sepertinya Dai orang yang sangat energik. Baru pertama kali Freya bertemu dengan makhluk seperti ini.
Freya menekan knop pintu ke bawah lalu mendorongnya. Ia melangkah masuk diikuti Dai.
"Dari mana saja ... kau?" Axel memiringkan kepalanya ketika melihat Dai berdiri di belakang Freya sambil tersenyum. "Kau?"
"Halo, calon kakak ipar!" sapa Dai, membuat Freya menoleh menatap Axel.
"Calon kakak ipar?" seru Freya tanpa sadar.
Axel mengepalkan tangan tanpa mau melepaskan pandangannya dari Dai yang masih tersenyum penuh arti. "Pergi," lirih Axel.
"Aku baru saja sampai, kenapa kau menyuruhku pergi ... calon kakak ipar?"
Axel mendesis. "Pergi dari sini," katanya dengan tatapan dingin menusuk.
Kening Freya berkerut melihat cara Axel menatap dan berbicara pada Dai. Sepertinya ada sesuatu di antara mereka. "Aku bisa membuatkan kalian kopi, kalau kalian mau."
"Tidak."
"Aku mau!"
Freya mengerjapkan matanya bingung, bergantian ia menatap Dai dan Axel yang masih saling pandang.
"Frey, kau kenal Miki tidak?" tanya Dai kemudian, ia berjalan menuju sofa tanpa menghiraukan tatapan Axel yang semakin menajam.
"Miki? I-ya ...," jawab Freya ragu-ragu.
"Dia sepupuku, dan Bos-mu ini adalah calon—"
Krrrring. Bunyi telepon di meja Freya membuat Axel menarik napas lega.
"Pergilah, masih banyak yang harus kami kerjakan," kata Axel pada Dai.
Dai menoleh menatap Freya yang baru saja mengangkat telepon. "Baiklah, sepertinya ini bukan waktu yang tepat."
Axel menyipitkan matanya. Andai saja tatapan bisa membunuh, Dai pasti sudah dihancurkannya seperti debu. "Aku tidak tahu apa yang sekarang ada dalam pikiranmu, tapi jangan ganggu Freya."
"Yah, aku tahu. Kurasa apa yang Miki katakan benar. Tadinya aku tidak percaya."
"Apa? Dia bilang apa?"
Dai tersenyum. "Sepertinya ... aku tertarik pada Freya. Sampaikan salamku padanya, oke?" kata Dai lalu pergi dengan seringain penuh kemenangan.
Axel mendecih. Diliriknya Freya yang baru saja meletakkan gagang telepon. "Kenapa dia bisa datang bersamamu?" tanya Axel.
"Hmmm, terjadi begitu saja," jawab Freya, dia sendiri bahkan masih bingung kenapa Dai bisa mengenalnya. Dan, oh, dia bilang dia sepupu Miki?
Freya melipat tangannya di d**a lalu bertanya dengan nada ragu, "Kenapa dia memanggilmu calon kakak ipar?"
Axel membeku. Apa harus ia mengatakan yang sebenarnya tentang seperti apa hubungannya dengan Miki? Tapi, bagaimana kalau Freya tahu, apa ia akan semakin menjauhkan diri? Ya, meskipun Axel tidak tahu apa yang akan menyebabkan Freya menjauh darinya nanti, tetapi ... membayangkannya saja, ia sudah merasakan kehilangan.
Kalau begitu tidak. Freya tidak boleh tahu. Lagipula, pertunangan itu sudah ia tolak mentah-mentah. Lima tahun ia mencari keberadaan Freya, ia tidak akan mau melepaskan Freya begitu saja.
"Jangan dengarkan dia," kata Axel setelah diam cukup lama.
"Apa?"
"Aku bilang jangan dengarkan dia," ulang Axel lalu mendesah. "Frey?"
"Huh?"
Axel memiringkan kepalanya dengan mata mengerjap-ngerjap. "Kau normal tidak sih?"
"Ap-apa maksudmu?"
"Apa kau pernah jatuh cinta?"
Freya tertegun. Jatuh cinta katanya?
"Memangnya kenapa kalau aku tidak pernah jatuh cinta?" tanya Freya tanpa sadar. Sebenarnya pertanyaan itu ia tujukan untuk dirinya sendiri.
Axel tersenyum penuh arti. "Aku akan mengajarimu seperti apa itu jatuh cinta."
***