7

1547 Words
"Kalian ... saling kenal?" Harry tidak menghiraukan pertanyaan Anna karena masih terkejut dengan kehadiran Freya yang tiba-tiba. Ketika melihat Freya berlari ke arahnya, segera ia merentangkan tangan dan memeluk gadis itu dengan erat. "Kau baik, Frey?" tanya Harry tanpa mau melerai pelukan mereka. Wangi rambut Freya masih sama seperti dulu. "Seperti yang kau lihat! Aku baik-baik saja," Freya menarik tubuhnya dan menaruh kedua tangannya di pinggang. "Oh, jadi kau chef yang dimaksud Anna? Astaga, dunia benar-benar sempit, ya!" seru Freya, benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya bertemu Harry setelah lima tahun mereka tidak berkomunikasi. "Hais, apa-apaan itu? Aku diabaikan," cibir Axel dengan mata disipitkan. Ia melangkah menghampiri Freya. "Aku juga tidak-" Harry tidak melanjutkan ucapannya saat melihat Axel berdiri di belakang Freya dengan tangan bersedekap. Sejenak, mereka saling tatap. "Axel ...?" lirih Harry, otomatis membuat Freya menoleh ke belakang. "Ya, ini aku," kata Axel singkat. Harry menunjukkan seulas senyum, sementara Axel membuang muka. Freya mencibir melihat cara Axel menjawab pertanyaan Harry. Sisi angkuhnya yang dulu muncul lagi. Anna menggaruk rambutnya sambil memandang tiga orang di depannya dengan sorot bingung. Sepertinya ada yang tidak beres di sini. Jadi, ia berdeham keras, membuat ketiga orang itu menoleh padanya. "Hai, bagaimana kalau kita duduk saja?" sarannya. "Kenapa tidak dari tadi," cibir Axel sambil lalu. Ia masuk ke restoran bernuansa klasik itu dengan bibir mencebik. Anna melihatnya dengan malas. "Sombong sekali dia," ucapnya pelan ketika Axel melewatinya. "Kau bilang apa?" tanya Axel mundur selangkah. "Ah? Oh, eh, tidak ada," jawab Anna gugup lalu mengikuti Axel masuk ke restoran itu. Axel menarik kursi kayu lalu duduk. Ia memandang sekeliling. Restoran ini tidak begitu luas namun sangat berkelas dan romantis. Ada lukisan hujan di malam hari yang memenuhi seluruh dinding bagian kanan. Lukisan yang membuat siapa saja merasa terhipnotis dan merindukan hujan. Lampu-lampu jalan yang basah karena hujan, jalanan yang berbaur dengan daun-daun kering, membuat lukisan itu meninggalkan kesan yang dalam bagi siapa yang melihatnya. Tak terkecuali, Axel. "Kau tidak berubah, Harry!" seru Freya, menyentak lamunan Harry tentang Axel yang ikut bersama Freya. Ia kemudian tersenyum pada Freya yang cengar-cengir di depannya. "Kau juga tidak berubah, Frey. Hem, kalau aku boleh tahu, kenapa kau dan Axel bisa bersama, maksudku ... kau dan dia sudah bertemu sejak kapan?" Freya mendengus keras sambil melirik Axel yang duduk di hadapan Anna. "Ceritanya panjang." "Kau harus cerita," kata Harry dengan nada bercanda, dalam hati ia berharap Freya akan menceritakannya nanti, kalau bisa sekarang juga. "Ya, baiklah. Kau juga harus cerita apa saja yang terjadi padamu selama tidak bersamaku. Bagaimana?" "Tidak masalah. Memang itu yang ingin aku lakukan kalau bertemu lagi denganmu," kata Harry. Ia kemudian menarik Freya masuk ke restorannya. "Ayo, makanlah yang banyak. Anna bilang kau akan makan banyak di sini." "Oh, aku hanya bercanda. Hais, anak itu benar-benar...," "Haha, tapi kurasa Anna benar. Makanmu kan memang banyak, Frey!" "Heh, enak saja!" ucap Freya pura-pura tersinggung. "Kau siapa?" tanya Axel pada Anna yang dari tadi diam sambil mengetuk-ngetuk jarinya ke meja bundar. "Apa? Aku? Oh, aku Anna, teman Freya," jawab Anna. Ia kembali mencibir dalam hati sambil mengamati Axel yang tampak gelisah. Orang yang aneh, benar-benar tidak bersahabat! Pantas saja Freya benci dengannya. Cara bicaranya benar-benar menyebalkan. "Kenapa melihatku seperti itu?" ucap Axel mengangetkan Anna. "Tidak," Anna menggelengkan kepalanya panik. Astaga, Axel terlihat mengerikan dengan sorot mata tajamnya itu. Axel melirik Harry menggandeng tangan Freya masuk ke ruangan dan baru melepasnya setelah mereka duduk. Freya sepertinya bahagia sekali bertemu Harry. Tidak seperti waktu mereka bertemu, Freya terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya. Andai saja Freya tahu sikapnya itu membuatnya sedih. "Aku tidak tahu kalau kalian pernah bertemu sebelumnya," kata Anna memulai pembicaraan. "Kami sangat dekat waktu SMA, Anna. Kau pasti tidak percaya kalau Harry selalu menjagaku dari godaan setan!" kata Freya, sekilas ia melihat Axel yang duduk diam tanpa ekspresi. "Ah, setan yang sering mengganggumu di sekolah itu? Pasti dia sangat menyebalkan, ya!" ucap Anna setengah tertawa. "Hem," Axel sengaja berdeham, membuat tawa renyah Anna berganti dengan senyuman. "Kau juga tidak pernah cerita padaku kalau kau punya teman bernama Freya," Harry menoleh menatap Anna. "Kau juga tidak pernah cerita padaku kalau kau punya teman bernama Freya! Nah, kau juga, Frey, kenapa kau tidak pernah bilang kalau kau mengenal Harry!" balas Anna tidak mau kalah. Freya terkekeh. "Maaf, Anna," katanya menyesal. "Aku bahkan tidak tahu kalau kita punya teman yang sama, hehe." "Aku lapar," ucap Axel tiba-tiba sambil menepuk-nepuk perutnya. "Hai, Axel, kudengar waktu itu bukannya kau mau ke Korea. Kenapa kau bisa ada di Jepang?" tanya Harry. Nada suaranya terdengar bersahabat. "Oh, ya, ceritanya panjang. Kau sendiri, kenapa bisa ada di sini?" "Ceritanya juga panjang. Senang bertemu denganmu lagi." Axel hanya membalas dengan seulas senyum sinis. Melihat itu, senyum Anna mengembang. Memang, ada yang tidak beres di sini. Ia kemudian melirik Harry yang matanya tertuju pada Freya. Yah, benar-benar ada yang tidak beres. Ia mendengus melihat Freya yang tampak biasa-biasa aja. Freya, kau itu bodoh atau apa? cibirnya dalam hati. *** "Freya, boleh aku minta nomormu?" tanya Harry saat Freya pamit untuk kembali ke kantor. "Tentu," sahut Freya lalu mendikte nomor teleponnya. Axel diam-diam mendengar dan menghapalnya. "Sampai jumpa, Harry." "Aku akan menelponmu nanti," kata Harry setengah tidak ikhlas melihat Freya mulai menghampiri Axel. "Kutunggu," sahut Freya lalu mengikuti Axel yang sudah berjalan lebih dulu. Harry menghela napas melihat punggung Freya yang menjauh lalu masuk ke dalam lift. Masih banyak cerita yang mau ia dengar dan masih banyak pertanyaan yang ingin ditanyakannya pada Freya perihal pertemuannya dengan Axel. Apa yang terjadi? Kenapa mereka bisa bertemu? Maksudnya, kenapa takdir lagi-lagi mempertemukan mereka? "Katakan kalau aku benar," Anna berseru setelah berdiri di sebelahnya. "Huh? Apa?" tanyanya menoleh manatap Anna yang tersenyum penuh arti. "Kau menyukai Freya!" sahut Anna. "Kau ini bicara apa?" kilah Harry seraya memutar balik badannya, kembali duduk di kursi dan menyesap kopinya yang tidak lagi hangat. "Aku mengenalmu dengan sangat baik, Harry! Dari caramu menatap Freya, aku bisa lihat ada cinta di sana." "Lucu, orang lain bahkan menyadarinya lebih dulu," kata Harry, ia tersenyum kecut. Anna menangkup cangkir dengan kedua tangannya. "Selama yang aku tahu, Freya sepertinya tidak pernah jatuh cinta. Menurutmu?" Harry tidak langsung menjawab. Selama ia mengenal Freya, gadis itu memang tidak pernah jatuh cinta. Di sekolah, Freya selalu sibuk dengan dunianya sendiri, membaca, menulis, dan begitu seterusnya. Di rumah juga begitu, Freya lebih memilih menghabiskan waktunya di kamar. "Menurutku juga begitu. Entahlah, anak itu tidak berubah sama sekali," ucap Harry seraya mengedikkan bahunya. "Harry?" "Huh?" "Berjuanglah," seru Anna sambil menepuk pundaknya. "Katakan padaku kalau kau butuh bantuan." Harry termangu, ditatapnya dua bola mata biru milik Anna. Ada garis senyum di matanya. Harry mengangguk. "Kau memang temanku yang paling baik, Anna." "Selalu," kata Anna sambil mendecakkan lidah. "Haha. O, ya, omong-omong, katamu kau mau bilang sesuatu padaku. Apa?" Anna mengatup bibirnya rapat-rapat. Ia memalingkan wajah, berusaha untuk tidak menatap mata Harry yang penuh selidik. Ia tidak mungkin mengatakannya. Tepat ketika ia menyadari ada yang aneh dari cara Harry memandang Freya, ia sudah menelan kata-kata itu. Ia tidak akan mengatakannya. Tidak akan pernah. "Tidak ada. Eh, apa Freya sudah cerita kalau dia bekerja di Lux Funny Mommy? Maaf tadi ada pelanggan buku yang meneleponku, pasti aku melewatkan banyak obrolan kalian." "Tidak apa, Anna," kata Harry maklum. Ia diam sebentar, lalu kemudian bertanya dengan ragu-ragu,"Err... Kau tahu kenapa Freya bisa datang bersama Axel? Tadinya aku mau bertanya, tapi melihat cara Axel menatapku, kupikir waktunya tidak tepat." Anna terkekeh. Ia mengangguk-anggukkan kepala lalu mulai bercerita dari awal bagaimana Freya bisa bekerja di Perusahaan itu. Harry sepertinya terlihat tidak rela tapi ia berusaha tetap tenang mendengarnya, meskipun Anna sudah tertawa melihat ekspresinya. "Seratus juta? Yang benar saja. Dari mana Freya bisa dapat uang sebanyak itu." "Biarkan saja. Freya butuh pekerjaan, Harry. Kau tahu sendiri kan bagaimana kehidupan mereka," kata Anna berusaha mereda emosi Harry. Harry mendengus. Ia melepas kacamatanya dengan gusar lalu bersedekap. "Kurasa aku bisa membantunya." "Memangnya apa yang mau kau la-jangan bilang kalau kau mau?" Anna meringis, tidak percaya kalau Harry rela mengorbankan apa pun untuk Freya. Kali ini, ia memang harus mundur. Tidak ada harapan. Perasaannya pada Harry mungkin hanya sebatas kagum semata. "Terima kasih ya, Gendut. Kau sudah mempertemukan aku dengan Freya," kata Harry tulus pada Anna yang masih tidak habis pikir. "Seratus juta itu banyak kau tahu?" "Axel menyukai Freya. Dulu aku melepaskan Freya begitu saja. Tidak kali ini." Dan Anna tidak membantah lagi. *** "Kau pasti senang sekali bertemu dengan mantan pacarmu," kata Axel setelah mereka tiba di kantor. "Apa? Siapa maksudmu? Harry? Mantan pacar? Apa yang kau bicarakan?" Axel menghempaskan tubuhnya di sofa lalu memeluk bantal. "Bukannya waktu SMA kalian pernah pacaran," katanya dengan wajah masam. "Haha," Freya tertawa palsu. "Tidak pernah. Aku, Harry dan Miki, berteman baik. Kau pasti tahu itu." Miki. Mendengar nama itu disebut Axel langsung teringat pada kakeknya. Perjodohan itu. Keluarganya. Semuanya. "Frey?" "Apa?" Axel mendengus. "Kau menyebalkan." "Apa? Apa katamu?" tanya Freya tidak percaya. Apa tadi Axel mengatakan kalau ia menyebalkan? "Kau itu menyebalkan sekali!" ulang Axel, kali ini dengan nada tinggi. Ia merebahkan tubuhnya, masih sambil memeluk bantal. "Hais, orang aneh," gumam Freya seraya bangkit dari duduk. Baru saja ia mau menarik knop pintu, suara Axel terdengar lagi. "Frey?" "Apa lagi?" tanya Freya sambil membalikkan badan. "Tetaplah bekerja di sini. Apa pun yang akan terjadi, tetaplah di sini. Aku ..." Freya mengangkat kedua alisnya, menunggu. "Membutuhkanmu." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD