"Frey, kau di mana?" Suara Anna terdengar riang di seberang sana, entah di mana. Freya bisa menebak kalau sahabatnya itu pasti sedang berseri-seri sekarang. Ia mengenal Anna dengan sangat baik, ia bisa tahu apa yang dirasakan Anna hanya dengan mendengar suaranya saja. Hebat, bukan?
"Aku sedang di kantor, Gendut. Ada apa?" tanya Freya, ia menoleh menatap Axel yang sedang tiduran di sofa panjang. Bos macam apa dia itu? Hais.
"Aah, sayang sekali! Padahal hari ini acara pembukaan restoran temanku yang dari Sydney itu," sahut Anna terdengar kecewa.
"Hmm, memangnya dia mengundangku?"
"Ya, dia memintaku untuk mengajak semua teman-temanku! Aku kan cuma punya kau, Frey. Kumohon datanglah ...,"
Freya meringis. Bisa dibayangkannya wajah Anna pasti sedang murung di sana.
"Jam berapa?"
"Satu jam lagi, Frey. Kau datang, ya? Kumohon!"
"Kau tahu kan, Anna, ini hari pertamaku bekerja di sini. Aku tidak bisa pergi begitu saja ...," lirih Freya.
Untuk beberapa detik, tidak ada jawaban dari Anna. Pasti temannya itu merajuk. Freya memutar bola matanya. "Ya baiklah, akan aku usahakan," katanya mengalah.
"Yeeey! Aku tahu kau pasti datang!"
"Hais, kau ini! Kalau aku dipecat kau yang harus tanggung jawab!"
"Itu lebih baik, bukan?"
Freya diam sebentar. "Ah, kau benar!" seru Freya sambil memukul meja. "Baiklah! Aku akan datang. Katakan pada temanmu itu kalau makanku banyak jadi jangan sampai dia terkejut nanti!"
"Haha, baiklah! Sampai jumpa nanti!"
Freya mengulum senyum penuh arti, sama sekali tidak menyadari kalau Axel sudah bangun dan sedang memandangnya bingung.
"Hei, kau sudah gila, ya? Senyum-senyum sendiri," kata Axel.
Freya tersentak dan langsung memasang wajah masam. "Siang ini aku ada urusan. Aku boleh pergi, kan?"
Axel melipat tangan di d**a, memiringkan kepalanya sedikit. "Mau ke mana?"
"Temanku memintaku datang ke acara pembukaan restoran temannya. Aku janji tidak akan lama," ucap Freya. Ya Tuhan, baru kali ia ia memohon seperti ini pada Axel. Pasti orang itu senang sekarang.
"Hemmm, bagaimana, ya?" ucap Axel menimbang-nimbang.
"Aku tetap akan pergi," Freya beranjak, mengambil tasnya dan berjalan menuju pintu.
"He-hei! Tunggu, Frey! Aku ikut!" Axel berdiri, mengambil kemejanya dan menenteng sepatunya. Freya menatap Axel dengan mulut terbuka lebar.
"Aku tidak mengajakmu tahu!" seru Freya mulai hilang kesabaran.
"Aku lapar. Lagi pula ini kan sudah mau jam makan siang. Kebetulan temannya temanmu itu baru buka restoran, bukan? Pasti gratis! Ayo, kita ke sana sekarang!"
Bahu Freya terkulai lemas. "Kau itu bos bukan, sih? Ke mana duitmu yang banyak itu?"
"Hmmm," Axel memberengut. Matanya sayu.
Hais, dia pintar merajuk.
"Jadi, kau tidak mau mengajakku? Aku tidak malu-maluin kok untuk kau akui jadi pacarmu!"
Yak! Apa-apan itu? Freya mengembuskan nafas panjang lalu akhirnya mengangguk.
"Baiklah, terserah."
Axel cekikikan lalu memakai sepatu dan kemejanya. "Bagaimana, aku tampan kan?"
"Terlihat lebih baik," ucap Freya sekenanya.
Axel tersenyum lebar lalu menggamit lengan Freya. "Ayo."
"Lepaskan," bisik Freya geram karena ketika mereka tiba di luar, orang-orang melihat mereka dengan mata terbelalak.
"Biarkan saja mereka. Aku tidak pernah begini sebelumnya."
Mendengar itu, entah kenapa Freya mengatup bibir rapat-rapat dan membiarkan tangan Axel melingkar di lengannya. Mungkin, karena ucapan Axel itu. Apa benar kalau dia tidak pernah begini sebelumnya? Apa Freya harus berbangga hati? Eh, gagasan macam apa itu?
Hais, kurasa aku sudah mulai gila.
***
Miki mengetuk-ngetuk ujung bolpoin ke meja bundar yang dilapisi kaca di hadapannya dengan gusar. "Kak Dai, ayolah kumohon!" serunya sekali lagi. Tidak, bahkan sudah berkali-kali. Tapi, laki-laki yang diajaknya bicara itu tetap asyik sendiri dengan ponselnya. Bermain game entah apa.
"Kak Dai!!!" teriak Miki tidak sabar.
"Hhhh," Dai menoleh menatapnya sambil mencibir kesal. "Astaga, kau ini datang-datang mengganggu saja."
"Hmm," Miki mencebikkan bibir. "Temanku itu orang yang baik, cantik, pintar. Kau tidak akan menyesal, percaya padaku."
Dai Akira menaruh ponsel-nya ke meja lalu berdiri. "Kau memintaku untuk mendekati temanmu itu karena khawatir Axel akan jatuh cinta padanya lagi? Begitu?"
Miki mengangguk semangat. "Ternyata dari tadi kau mendengarkanku, ya!"
"Hais, kau pikir kau siapa berani mengaturku?"
"Cara bicaramu itu lama-lama mirip Axel!"
"Jangan samakan aku dengan calon tunanganmu yang berantakan itu!" seru Dai sambil mengacak rambut Miki.
"Ya, ya, baiklah! Tapi, tolong bantu aku, ya? Sekali ini saja!" ucap Miki dengan wajah memelas.
Dai melihat wajah sepupunya itu dengan kening berkerut samar. Sebenarnya, kalau boleh jujur, ia malas ikut campur dengan apa pun yang berhubungan dengan Axel. Masalahnya, bersaing dengan Axel di Perusahaan ini saja sangat susah, apalagi bersaing dalam hal 'cinta'.
Kecuali kalau gadis yang dibilang Miki itu penggila uang, ia pasti akan akan dengan mudah mendapatkannya. Tapi, bagaimana kalau tidak? Belum lagi kata Miki kalau Axel sudah lama menyukai Freya—akhirnya ia ingat namanya—tapi Freya sama sekali tidak menyadarinya. Bahkan ia tidak pernah mengakui kalau Axel itu tampan. Dia buta atau apa?
Hampir semua model Perusahaan tertarik dengannya. Padahal, penampilan Axel selalu berantakan. Ia juga cuek dan gampang sekali marah.
Dai Akira sebenarnya tidak begitu peduli dengan wanita. Baginya wanita bisa ia dapatkan dengan mudah. Penampilannya juga sangat menarik. Dai memiliki iris mata kelabu dan rambut hitam yang lebat. Rahangnya kokoh dan bibir bagian bawahnya agak tebal. Ada lesung pipi di bagian kirinya ketika ia tersenyum. Kulitnya putih seperti orang Jepang pada umumnya.
Hanya saja, Dai begitu terobsesi menjadi satu-satunya CEO di Lux Funny Mommy. Ya, sampai sekarang, Perusahaan ini memiliki dua pimpinan sekaligus. Masalahnya adalah, produk yang dihasilkannya selalu berada nomor dua di bawah Axel. Kalau sampai begitu terus, ia harus merelakan 20 % sahamnya jatuh ke tangan Axel.
Hei, dia tidak mau itu terjadi. Mau ditaruh di mana mukanya yang tampan ini?
"Baiklah!" serunya kemudian.
"Baiklah? Kau setuju?!" ucap Miki setengah teriak.
"Hem, aku melakukan itu juga untuk ingin bersenang-senang."
"Hei! Jangan berani-berani menyakiti hati temanku, ya! Freya gadis yang baik!" kata Miki dengan mikik serius.
Dai berdeham panjang, mengangkat bahu acuh tak acuh. "Kita lihat saja nanti."
Miki tidak membantah. Lagi pula, yang terpenting sekarang adalah, tidak ada yang boleh menghalangi pertunangannya dan Axel yang akan diadakan dua bulan lagi, siapa pun itu. Bahkan Axel sendiri tidak akan bisa menghindarinya meskipun ia menolak mentah-mentah.
***
"Kau tahu tempatnya tidak, sih?" seru Axel gemas.
Sudah lebih setengah jam mereka berputar-putar di jalanan tapi Freya tidak mengatakan apa pun. Maksudnya, Freya tidak mengatakan di mana restoran yang dimaksud temannya itu padanya. Sejak tadi ia hanya berbicara sendiri sambil berkali-kali menoleh ke kanan dan ke kiri.
"Frey?"
"Hem," Freya menyahut tapi kepalanya masih merunduk ke depan seperti mencari-cari.
"Jangan bilang kau tidak tahu tempatnya!"
"Memang iya."
"Iya apa? Apa? Kau tidak tahu? Heh, kau ini benar-benar—"
"Sudah diam. Aku mau menelpon temanku dulu!"
"Astaga. Kenapa tidak dari tadi?"
Freya mengangkat satu alisnya. Entahlah, melihat Axel kesal seperti itu membuat dirinya merasa terhibur walaupun sedikit.
"Kalau kau mau, kau bisa pulang sekarang. Turunkan saja aku di sini," kata Freya senang hati.
"Enak saja. Aku tidak mau. Aku kan sudah bilang kalau aku mau makan gratis," ucap Axel meskipun tidak sepenuhnya bohong. Ya, kalau boleh jujur, ia ingin tahu siapa teman Freya selama ini di Jepang. Lagipula, ia mengenal Freya dengan sangat baik. Selama ini, yang ia tahu Freya tidak punya teman lebih dari dua. Entah apa yang didapatkan Freya dengan jumlah teman sebanyak itu. Jadi, tidak ada salahnya ia penasaran siapa orang yang selama ini Freya susahkan.
"Hei, Anna, aku sudah di jalan. Hemmm, ya ... tadi aku ada urusan sebentar. Omong-omong, di mana tadi tempatnya? Aku lupa," kata Freya santai sekaligus berusaha mengabaikan tatapan kesal Axel yang dilempar ke arahnya.
"Lupa, bilang saja kalau tidak tahu," cibir Axel.
"Sunshine City lantai 59," ucap Freya menoleh menatap Axel sambil menurunkan ponselnya dari telinga.
"Ya Tuhan, ini yang kelima kalinya kita kembali ke sana!" seru Axel geram.
Freya tersenyum dengan cara yang menyebalkan. "Maaf. Aku kan tidak tahu," jawabnya ringan sambil mengangkat bahu.
Axel terkekeh, merasa ini konyol. Padahal tempat itu sudah mereka lewati dari tadi. Dasar kepala udang. Axel cemberut tapi tetap melajukan mobilnya kembali ke tempat itu.
***
Freya memandang sekeliling. Saat ini mereka berada di gedung Sunshine 60 lantai 59. Salah satu gedung tertinggi di Ikebukuro. Gedung itu juga pernah menjadi yang tertinggi di Tokyo dan Jepang pada masanya. Selama lima bulan di Jepang, baru kali ini Freya menginjakkan kakinya ke tempat ini. Maklumlah, ia lebih suka menghabiskan waktunya di kamar dengan novel-novelnya daripada harus berkeliaran di kota. Lagipula, ia tidak begitu hapal jalan-jalannya.
Sementara itu, di belakangnya Axel mencebikkan bibir karena sejak turun dari mobil gadis itu sama sekali tidak mengubris apa pun yang dikatakannya. Entah Freya sengaja atau tidak yang pasti Axel ingin memeluknya sambil mengatakan kalau dia sangat menyebalkan. Ya, memeluknya sebagai hukuman tidak masalah, bukan?
Membayangkannya seulas senyum muncul di wajah Axel.
"Freya! Hei, di sini!" seruan seorang gadis berambut cokelat pirang membuat mereka menoleh bersama.
"Anna!" sahut Freya lalu berlari kecil menghampiri Anna yang sedang berdiri di sebelah seorang pria berkacamata. Freya memelankan langkah kakinya, memiringkan kepala, memperhatikan pria itu dengan seksama.
Axel mengikutinya di belakang dengan langkah malas. Karena melihat Freya berhenti, ia ikut berhenti dan mengikuti ke mana arah pandang Freya tertuju.
Pria berkemeja hitam dengan rambut hitam lurus yang rapi dan berkacamata. Wajah itu familier. Sangat tidak asing. Orang itu ...
"HARRY?!"
Dan panggilan Freya pada orang itu memperjelas dugaannya. Pria itu pastilah Harry. Orang yang selalu bersama Freya waktu SMA. Orang yang menyukai Freya dan mengatakan akan selalu berada di sisi Freya.
Anna menoleh menatap Harry yang tampak terkejut saat Freya memanggilnya. Ia bahkan tidak menghiraukan orang yang mengajaknya bicara.
Harry mengerjap memandang Freya yang berdiri sepuluh meter di depannya. Perlu beberapa detik baginya untuk menyadari kalau sosok itu benar-benar nyata. "Freya?" serunya kaget, namun juga bercampur senang.
"Kalian ... saling kenal?" tanya Anna, melihat Freya dan Harry bergantian.
***