5

1532 Words
Hari perpisahan itu.... "Freya, kembalikan!" teriak Miki masih sambil berlari mengejar Freya yang mengacungkan amplop berwarna cokelat di tangannya tinggi-tinggi. Itu surat cintanya! Bagaimana bisa surat itu sekarang ada di tangan Freya? Bisa mati dia kalau sampai Freya membaca isinya. "Ha-ha, ayo, ceritakan padaku! Surat ini mau kau berikan untuk siapa?" tanya Freya setelah berhenti. Kini, orang-orang yang ada di sepanjang koridor kelas tengah memperhatikan mereka. "Freya! Kumohon, kembalikan surat itu padaku sekarang! Atau kalau tidak—" "Hmmm, biar kutebak! Ini untuk Sammy, bukan?" Freya mundur selangkah ketika melihat gerak-gerik Miki mau melompat ke arahnya. "Ayolah, Frey! Itu rahasia! Kembalikan surat itu padaku sekarang!" Miki maju selangkah sambil mengulurkan tangan kanannya. "Frey, kumohon!" ucapnya dengan wajah memelas. Freya tersenyum simpul. Sepertinya surat itu memang sangat rahasia. Ia jadi tidak tega untuk membacanya. Lagi pula, sejak kapan Miki pintar merayu seperti itu.  "Huh, baiklah, kalau kau tidak mau cerita. Ini kukembalikan—" "Hap! Apa ini?!" Tiba-tiba saja Axel sudah berdiri di belakang Freya dan langsung merebut surat itu dari tangannya yang sempat terulur ke arah Miki. Padahal dua detik lagi surat itu ada di tangan Miki. Wajah Miki menegang ketika melihat Axel merobek kepala amplop, menarik isinya, dan membacanya. Dunianya seakan gelap saat Axel menatapnya tajam setelah membaca surat itu. Tatapan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. "Hei, kembalikan!" Freya merebut surat itu tapi Axel sudah lebih dulu merobeknya menjadi potongan kecil-kecil, lalu menghamburkannya begitu saja tepat di hadapan Miki dan Freya. "A-apa yang kau lakukan?!" pekik Freya tidak percaya. Ia melotot pada Axel yang tampak tenang-tenang saja. "Aku tidak sengaja," ucap Axel dengan dagu terangkat tinggi. "Hanya orang buta yang mempercayainya!" kata Freya geram. Ia menghampiri Miki yang diam sambil memandang serpihan kertas di lantai yang kemudian terbang tertiup angin. "Miki, maafkan aku. Ini salahku. Ah, ya Tuhan, apa yang sudah kulakukan! Maafkan aku!" Freya mengatakannya dengan setulus hati. Sungguh, ia benar-benar merasa bersalah. "Tidak apa-apa, Frey. Ayo, pergi!" ucap Miki sambil menatap Axel lekat-lekat. Axel mengabaikan tatapan Miki yang dilemparkan ke arahnya. Tatapan yang sarat akan kecewa, marah, dan menyesal. "Tidak apa-apa bagaimana? Kau pasti membuat surat itu dengan susah payah, kan? Ya Tuhan, Miki! Aku sungguh merasa bersalah!" "Sudahlah, Frey!" bentak Miki tidak sabar. "Aku tidak apa-apa. Mungkin lain kali aku harus mengatakannya secara langsung. Ayo, pergi," Miki menarik tangan Freya. "Keterlaluan," ucap Freya pada Axel sebelum ia benar-benar pergi. Axel mendecih. "Apanya yang keterlaluan? Kalau itu darimu aku tidak akan melakukannya, bodoh," cibir Axel pelan, berharap tidak ada yang mendengar ucapannya. "Miki, maafkan aku, ya? Aduh, Axel itu kenapa menyebalkan, sih? Kalau itu suratku, tidak masalah. Tapi, itu punyamu! Ini pasti gara-gara kau berteman denganku!" kata Freya setelah mereka tiba di kelas. "Entahlah, Frey. Omong-omong, hari ini kau jadi pergi?" tanya Miki mengalihkan pembicaraan. "Apa? Oh, ya, tentu! Kau dan Harry harus mengantarku!" "Bagaimana kalau kau dan Axel bertemu kembali?" "Astaga! Aku tidak ingin membayangkannya. Kuharap itu tidak terjadi." "Kau kan tahu, takdir selalu mempertemukan kalian." "Itu hanya kebetulan." "Mana ada kebetulan yang terjadi berkali-kali, bodoh!" Freya mengatup bibirnya rapat-rapat. "Kau sendiri, besok akan ke Perancis, bukan?" Giliran Freya yang mengalihkan pembicaraan. "Yah, kuharap suatu hari nanti kita bertemu lagi, Frey," kata Miki lalu memeluk Freya. "Kau sahabat terbaikku sampai kapan pun." "Kuharap juga begitu. Baik-baiklah di sana. Sering-seringlah mengabariku lewat e-mail," balas Freya. "Kau juga." "Hem." "Freya akan pergi siang ini," kata Miki pada Axel yang sedang malamun di bangkunya. Axel tersentak dan mendongak menatap Miki dengan satu alis terangkat. "Apa?" "Freya akan pergi ke New York. Kau tidak ingin mengatakan sesuatu?" tanya Miki dengan penuh penekanan pada bagian akhir ucapannya. Axel terkekeh. "Memangnya apa peduliku?" "Dasar kepala batu! Aku tahu kau sudah lama menyukai temanku itu!" "Ap-apa?" Miki tertawa ringan. "Tapi, caramu mencari perhatiannya itu salah. Hais, aku tidak percaya cowok sepertimu takut untuk menyatakan cinta!" "Apa katamu?" Axel tahu wajahnya pasti merah sekarang. Tapi, ia berusaha tetap bersikap biasa-biasa saja. "Katakan padanya, kalau kau menyukainya. Bukannya kau akan ke Korea?" "Kau pikir kau siapa berani mengaturku?" seru Axel antara malu dan kesal. "Aku menyukaimu," Miki mengatakannya dengan lantang. "Surat itu adalah hatiku yang kuberikan padamu. Tapi, kau mengoyak dan membuangnya. Tidak apa-apa. Setidaknya kau tahu, itu sudah cukup bagiku!" jelas Miki lalu pergi, meninggalkan Axel yang menatap kepergiannya dengan mulut terbuka lebar. *** "Dah, Frey!" Miki melambaikan tangannya pada Freya yang balas melambai di kejauhan. Bandara terlihat sangat padat hari itu. Tapi, di tengah keramaian itu, Miki masih bisa mengenali sosok Axel yang seperti mencari-cari sesuatu. Entah apa, entah siapa. "Kau tidak mau bilang juga?" tanyanya pada Harry yang tampak sedih. Ia tahu kalau Harry sudah lama menyukai Freya. Kadang-kadang ia tidak mengerti, mengapa Freya tidak sadar kalau selama ini Harry selalu memperhatikannya. Harry selalu ada di dekatnya, membantunya, menjaganya. Tapi, sosok Harry seperti dihalangi tembok berlapis-lapis yang membuat Freya tidak dapat melihatnya. Ia tidak terlihat bahkan ketika mereka berdekatan. "Apa?" "Masih tidak mau bilang kalau kau menyukainya?" tanya Miki lagi. "Aku akan mengatakannya nanti, kalau kami bertemu lagi," sahut Harry ragu-ragu. "Memangnya kau tahu dia tinggal di mana? Kau juga tidak pernah menyimpan nomor teleponnya, bukan? Kau juga tidak pernah meminta alamat e-mailnya. Kau akan ke Sydney juga besok." Harry menunjukkan seulas senyum. "Aku tidak akan mencarinya. Aku ingin Tuhan campur tangan pada pertemuan kami." "Maksudmu?" Miki memiringkan wajahnya, tidak mengerti. "Takdir. Aku tidak akan mencarinya, aku hanya perlu menunggu takdir mempertemukan kami lagi." "Seperti takdir yang selalu mempertemukan dia dan Axel?" "Hem, begitulah." Suara mesin pesawat membuat mereka diam sejenak. Pesawat yang Freya tumpangi mulai lepas landas. " Aku tidak suka istilah itu," ujar Harry tiba-tiba. "Istilah apa?" tanya Miki bingung. "Seperti takdir yang selalu mempertemukan dia dan Axel." Miki tertawa geli. "Tenang, kau akan memilikinya, asal kau bergerak cepat." Aku juga tidak suka dengan istilah itu, Harry, batinnya sambil memandang sekeliling, berharap menemukan sosok Axel. Dapat. Ia melihat Axel berdiri di balik kaca besar sambil mendongak menatap langit biru. Axel terlihat tidak baik. Kau terlambat, Axel. =============** "Jadi, ceritakan padaku, kenapa kau bisa ada di Jepang? Bukannya waktu itu kau bilang kau mau ke Perancis?" tanya Freya setelah mereka tiba di mini cafe yang ada di lantai bawah. Biasanya cafe itu digunakan setiap jam istirahat saja. Tempatnya bukan seperti cafe pada umumnya. Ruangan itu tidak begitu lebar, hanya terdiri dari sepuluh meja dengan masing-masing empat kursi berbahan kayu. Dindingnya berwarna cokelat muda. Ketika mereka menginjakkan kaki ke ruangan itu, tercium aroma kopi yang lezat. "Ceritanya panjang, Frey. Kau sendiri, kenapa bisa ada di Jepang? Kau bekerja di sini, ya?" Ekspresi wajah Miki berubah ketika bertanya hal itu. Sepertinya Freya tidak menyadari itu, jadi ia diam-diam merasa bersyukur. "Ceritanya juga panjang. Aku juga tidak yakin kau mau dengar apa tidak," kata Freya sambil tersenyum simpul. Tidak lama kemudian pelayan datang mengantar kopi pesanan mereka. "Astaga, kopiku tadi bagaimana nasibnya, ya," gumam Freya, teringat pada kopi yang dibuatnya di dapur tadi. "Apa?" "Tidak. Omong-omong," Freya mengamati penampilan Miki dengan seksama, "kau berubah, Miki. Kau terlihat... berbeda. Kau pasti sudah sukses menjadi perancang busana, ya?" Miki tersenyum bangga. "Ah, Frey. Banyak yang terjadi selama lima tahun ini. Kau tidak akan percaya kalau namaku ada dalam urutan ketiga designer paling terkenal di Paris." "Hah?" Freya nyaris menumpahkan kopi yang baru saja masuk ke mulutnya. "Kau bercanda?" "Hemmm," Miki tersenyum misterius. "Omong-omong, kau sudah bertemu Harry belum?" "Harry?" Freya melotot saat mendengar nama itu. "Apa dia di sini sekarang?" "Oh, kau belum bertemu dengannya, ya? Dan kau pasti sudah bertemu dengan Axel, kan? Haha, Harry selalu terlambat." Untuk sejenak Freya tidak merespon karena benar-benar tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan temannya itu. "Kau bicara apa?" "Kau pasti sudah bertemu Axel, kan?" tanya Miki lagi. "Ah, y-ya ... begitulah. Ya Tuhan, bisa-bisanya aku bertemu dengannya lagi dan sekarang aku harus bekerja satu ruangan dengannya selama enam bulan!" Miki berhenti mengaduk kopinya. Ia menatap Freya lekat-lekat. "Masih ingat apa kataku dulu?" "Ini bukan masalah takdir. Ini hanya kebetulan. Oke?" "Ah, kurasa tidak juga, Frey—" "Di sini kau rupanya!" seru Axel dari ambang pintu cafe. Freya mencibir sambil memutar bola matanya saat tahu suara itu milik siapa. "Maaf," katanya acuh tak acuh. Axel menatap Miki yang tersenyum penuh arti padanya. "Kau, sedang apa di sini?" tanya Axel kemudian. Kepala Freya berputar menghadap Miki. "Apa kalian, maksudku ... kau dan dia sudah sering bertemu?" "Aku ke sini untuk menemui kakak sepupuku. Frey, aku pergi dulu. Sampai jumpa nanti," Miki beranjak. Ia memakai kacamatanya lalu berjalan menuju pintu. Sebelum benar-benar pergi, ia berbisik pelan pada Axel. "Pertunangan kita dua bulan lagi. Kau tidak akan mengecewakan kakekmu, kan?" Axel mendecih. "Aku tidak peduli." Miki menghela napas panjang lalu menoleh ke belakang, pura-pura tersenyum pada Freya. "Dah, Frey." "Sampai ketemu nanti!" seru Freya yang hanya ditanggapi anggukan kecil oleh Miki. Lalu, temannya itu menghilang di balik pintu. "Mana kopi untukku?" tanya Axel dengan bibir cemberut. "Hais, ini ambil punyaku!" sahut Freya sambil menyodorkan cangkirnya dengan gerakan tidak sabar. "Apa? Ini pasti ada air liurmu!" Freya menatap Axel dengan ekspresi tak suka. "Ya sudah kalau tidak mau!" "Ya sudah, baiklah!" Axel duduk lalu menyesap kopi itu. Pffffft! Ia menyemburkan kopi yang baru saja masuk ke mulutnya."Panas! Kenapa kau tidak bilang kalau ini masih panas?!" serunya dengan wajah merah. "Dasar bodoh!" gumam Freya tidak habis pikir.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD