13

2019 Words

Freya merasakan jemari tangannya digenggam erat oleh Axel. Dengan kaku, ia menunduk sedikit, melihat kelima jari Axel yang mengisi ruang di celah jarinya. Anehnya, Freya hanya bergeming. Bagaimana bisa jari-jari itu terasa pas di tangannya? "Kita perlu bicara," Laki-laki tua yang baru saja ia kenal sebagai kakek Axel angkat bicara. Tahu diri, Freya menarik tangannya lalu beranjak. "Bahkan dia tidak menegurku," ucap laki-laki itu saat Freya melewatinya. "Apa dia tidak pernah diajarkan sopan santun pada orang yang lebih tua?" Freya menggigit bibir bawahnya dengan gusar. Ia menoleh menatap Axel yang tersenyum ke arahnya. "Frey, Kakek memang sangat sensitif. Kau akan terbiasa dengan sikapnya nanti. Jangan takut, aku selalu bersamamu." Mendengar itu, ibu dan nenek Axel saling pandang. Mere

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD