05. Sulitnya menjadi jahat

978 Words
Gisel menatap semangkuk sop yang masih mengepul. Kemudian ditatapnya Aldo yang duduk di hadapannya. "Buat kak Aldo mana?" "Itu." Aldo menunjuk mangkuk sop dengan dagunya. "Aku?" "Ya itu." "Jadi ini buat kita berdua?" "Iya, udah makan. Kata mama biar kamu gak mual terus." Ucap Aldo, dia mulai menyuapkan sendok ke arah Gisel. "Kata mama, kalau kita sering makan sepiring berdua gini nanti kamu gak akan mual lagi, ya paling enggak mual kamu berkurang." Gisel mengangguk saja mendengar ucapan Aldo, entah itu adalah kenyataan atau hanya sekedar mitos belaka. "Masih mual?" Gisel menggeleng. "Bener juga berarti, padahal cuma boong." Gumam Aldo. "Kak Aldo bilang apa? Aku gak denger." "Gak bilang apa-apa, udah makan lagi, aa."  *** Gisel melirik Aldo yang sedang sibuk dengan laptopnya ragu-ragu, setelah selesai makan tadi hubungan keduanya kambali dingin. Ting.. From : +6281568xxxxx Lo ganti nomer gak kasih tau gue To : +6281568xxxxx Siapa ya? From : +6281568xxxxx Azka ganteng anaknya mama dewi Gisel tersenyum membaca balasan chat dari Azka. To : Azka Kepedeannya gk brubah From : Azka Fakta itu Eh, gimana keadaannya? Tangannya udh dioabati? To : Azka Gpp kok From : Azka Bsk jalan? Gue jemput deh "Asik banget main hp nya." Aldo berjalan mendekati Gisel. "Ck, pantesan gak denger udah dipanggil dari tadi, ternyata lagi asik chatting sama pacar." "Eh?" "Kira-kira kalau pacar kamu tau alasan kita nikah, rekasi dia gimana ya?" "Kak Aldo!" "Apa? Kamu gak suka kalau aku bahas hal itu lagi?" Tangan Aldo mengusap wajah Gisel dengan lembut, mulai dari mata, hidung dan berhenti pada bibir ranum milik Gisel. "Bibir ini, pernah mendesah karena kuasaku." Aldo menatap Gisel dengan tatapan menggoda, sedangkan Gisel, dia sudah was-was dengan tindakan yang akan Aldo lakukan. "Kak Aldo mau apa?" "Dulu, kamu dengan suka rela menyerahkan tubuhmu kepadaku kan? Lalu kenapa sekarang kamu terlihat ketakutan?" Ejek Aldo, dia semakin mendekatkan wajahnya. Kedua pasang mata itu saling beradu, deru nafas mereka sangat terdengar dalam keheningan. Detik berikutnya, Aldo mencium bibir ranum istrinya, mencecap rasanya seolah tanpa bosan. Aldo melepaskan ciumannya dan kembali menatap Gisel dengan mata elangnya, jari-jarinya menusap bibir Gisel yang sedikit membengkak karena ulahnya. "Kenapa kak Aldo cium aku, bukannya kak Aldo benci sama aku?" Perkataan Gisel membuat Aldo tersadar, dia segera menjauhkan tubuhnya. "Gak usah kepedean, a-aku pikir tadi kamu Kania." "Ohh, maaf." Aldo langsung keluar dari kamarnya, dia merasa sangat malu sekali. Bisa-bisanya dia kelepasan untuk mencium Gisel. "b**o, b**o, b**o!" Aldo memukul-mukul kepalanya dengan tangan sambil menuruni anak tangga. Kalau seperti ini terus, Aldo bisa gila karena Gisel. "Do." Vania memanggil putranya yang sibuk ngedumel tidak jelas. "Aldo." "Aldo kamu kenapa sih?" Tanya Vania dengan gemas. "Eh, kenapa mah?" "Kamu yang kenapa? Keluar kamar terus ngedumel gak jelas gitu, sambil pukul-pukul kepala lagi. Aneh." "Gak papa kok, banyak kerjaan aja di kantor. Pusing, dapet klient yang alot banget. Minta ini itu tapi maunya budget minimalis." "Biasa itu Do, pinter-pinternya kamu ngatur strategi aja itu." Ucap Yuda yang sedang asik menonton siaran berita di Tv. "Papa nimbrung aja." Cibir Aldo. Dia menyandarkan kepalanya di bahu Vania, tangannya memainkan jari-jari milik mamanya. "Aldo-aldo, udah nikah juga masih glendotan sama mama, gitu mau tinggal di rumah sendiri." Kali ini Yuda balas mencibir anak laki-lakinya yang manja. "Ck, bilang aja kalau papa cemburu." "Sori ya Do, papa lebih tau mama." "Gak usah sombong, Aldo juga udah tau rasanya. Gak perlu main solo lagi!" "Eh?" "Maksudnya kan sekarang ada Gisel, kalau Aldo gak perkasa, Gisel gak bakal hamil lho mah." Ucap Aldo dengan bangga. "Do." "Hemm." "Jangan kecewain mama lagi ya." Vania mengusap rambut Aldo yang kini berbaring di pangkuannya. "Mama malu sama keluarganya Gisel, jangan sakitin dia lagi ya?" "Hmm." "Mama tau kamu gak cinta sama Gisel, tapi kamu bisa belajar mencintai dia kan?" Tanya Vania sekali lagi. "Mah." "Mama bersyukur banget Do kamu menikah sama Gisel, ya walaupun cara kalian salah. Tapi mama bener-bener gak mau kamu nikah sama model itu." "Images model gak selalu buruk mah, Kania gak seperti apa yang mama pikirkan. Dia anak baik-baik, gak mungkin kalau dia jadi simpanan om-om hidung belang kayak apa yang mama bilang." "Tapi mama pernah liat dengan mata mama sendiri Do." Aldo bangun dari tidurnya. "Aldo ke kamar dulu ya mah, pah. Selamat malam." *** Aldo masuk ke dalam kamarnya, tatapannya tertuju pada Gisel yang tidur di sofa. "Dasar anak kecil." Aldo berjongkok di depan Gisel yang sudah terlelap. "Anak kecil penuh ambisi, harusnya bukan cara itu yang kamu lakukan Sel." "Enghh." "Ssttt... aku pindah ke kasur ya, kasihan anak kamu." Aldo langsung menggendong Gisel untuk pindak ke kasur, kemudian menyelimuti tubuhnya. Aldo mendesah pelan. "Mau jadi orang jahat susah banget, dikit-dikit kasian, dasar Aldo lemah." Gumam Aldo pada dirinya sendiri. Aldo berjongkok disamping ranjang, dia masih setia mengapati wajah Gisel yang tertidur pulas, wajah gadis itu begitu damai ketika tidur. "Kalau sebentar lagi aku nyakitin kamu, maaf ya Sel." Aldo menatap perut Gisel yang sedikit membuncit di balik baju tidur bermotif kartun doraemon itu, tangannya terulur untuk menyingkap baju itu. "Kok bisa sih kamu langsung jadi? Hebat juga ya aku, sekali masuk langsung bisa jadi kamu." Aldo terkekeh mendengar ucapannya sendiri. "Beruhung kamu udah tumbuh, yang kuat ya. kasihan tuh ibu kamu. Besok-besok kalau ibu kamu udah kerja di tempat, emm.." Aldo berhenti di ujung ucapannya, dia bingung sendiri ingin menyebut dirinya sebagai apa. "Ah pokoknya kalau ibu kamu udah mulai kerja, jangan bandel, jangan nyusahin. Kalau ibu kamu susah, aku juga repot tau!" "Gue kenapa jadi perhatian gini sih sama tu anak? Bodoamat lah." Aldo kembali membenarkan posisi baju Gisel, dan menyelimuti tubuhnya sampai batas d**a. "Semoga berhasil ya jadi orang jahat." Aldo memilih untuk tidur di sofa kamarnya, paling tidak untuk satu minggu kedepan. Pukul satu dini hari, Aldo terbangun dari tidurnya. Sayup-sayup dia mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Melihat ke sisi ranjang yang kosong, Aldo yakin jika yang berada di dalam adalah Gisel. Tanpa beranjang dari sofa, Aldo terus mengamati pintu kamar mandi yang tertutup rapat, dia bisa mendengar jika Gisel sedang muntah di dalam. Aldo terus memandang ke arah pintu, hingga akhirnya dia pura-pura memejamkan matanya saat terdengar knop pintu yang akan di buka. Dia merasakan Gisel menggenggam tangannya, kemudia menggerakkan naik turun untuk mengusap perut buncit itu. "Kamu pengen di usapin sama ayah ya? Tapi sebentar aja ya sayang, takut nanti ayah bangun terus marah-marah lagi." Hanya beberapa menit, Gisel telah berhenti dari aktifitasnya. Aldo mengintip dari sebelah matanya, melihat Gisel mengeluarkan selimut dari dalam lemari, kemudian kembali ke tempatnya. "Maaf ya kak Aldo."  to be continue...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD