06. Pindahan

817 Words
"Sebenernya mama masih belum ikhlas kalian mau pindah ke rumah sendiri." Vania terus saja merajuk kepada anak laki-lakinya, Aldo. Sedangkan Aldo hanya sesekali menanggapi. "Rumah Aldo masih di Jakarta mah, paling 15 menit juga sampai." "Ya tapi kan mama jadi gak bisa setiap hari liat kalian." "Kan enak, mama sama papa bisa berduaan." Vania memukul bahu Aldo pelan. "Aduh! Kok mukul-mukul sih mah?" "Mama lagi serius gini kamu malah ngajakin bercanda. Inget umur, udah mau jadi bapak juga!" "Lagian mama, anaknya mau mandiri tuh ya di dukung. Ini malah gak boleh." Vania beralih pada Gisel, dia memeluk menantunya dengan erat. "Bilangin Aldo dong Sel, gak usah pindah. Nanti yang jagain kamu siapa?" Gisel tersenyum tipis, sebenarnya dia juga enggan untuk pindah dari sini mengingat ucapan Aldo beberapa waktu lalu yang akan menjadikannya pembantu di rumah barunya. Tapi apa boleh buat, anggap saja ini adalah ajang penghapus dosa-dosanya kepada Aldo. "Gisel terserah kak Aldo aja mah, kak Aldo kan suaminya Gisel. Jadi Gisel harus nurut sama dia." "Yah kamu gak asik." "Nanti mama boleh kok main ke rumah, atau nanti biar Gisel yang sering-sering ke sini ya? Boleh kan kak?" "Hmm." "Jangan cuma ham hem aja Do!" Protes Vania. "Atau mama ikut kalian aja deh, gimana?" Lanjut Vania dengan raut wajah yang putus asa. "Eh eh, kalau gitu caranya papa gak kasih izin ya." Protes Yuda yang dari tadi hanya diam memperhatikan istri dan anaknya. "Makanya papa kasih tau Aldo biar gak usah pindah lah." "Aldo kan udah besar, udah punya keluarga sendiri. Wajar lah kalau dia mau punya rumah sendiri mah. Biarain lah mereka hidup mandiri." "Papa gak asik, awas aja nanti malem papa tidur di luar!" Ancam Vania. "Uh, tidur di luar pa. Gak ada anget-angetan, haha."Ledek Aldo. "Kamu udah di belain sama papa malah ngeledkin, udah sana pergi. Katanya mau pindah!" "Yuk sayang, kita pergi. Udah di usir sama papa." Aldo menarik tangan Gisel dari jangkauan sang mama. "Mah, pa. Kita pamit ya. nanti sering-sering main ke rumah ya?" Ucap Gisel setelah menjabat kedua tangan mertuanya. "Kalau Aldo jahat sama kamu, bilang ke mama biar nanti mama kasih dia pelajaran, oke?" Gisel tersenyum. "Iya ma." "Kita pergi dulu mah, pa." "Jagain istri sama anaknya, awas kamu kalau masih sering main di luar!" "Mamaku bawel." Dalam perjalanan keduanya hanya dia, hanya suara radio yang memenuhi mobil dan Aldo benci kondisi seperti ini. "Kenapa diem?" "Ha?" "Kenapa diem aja, gak kayak sebelum nikah. Ngoceh terus." Gisel tersenyum tipis. "Gak papa." "Oh iya, nanti aku udah mulai kerja?" Tanya Gisel. "Kerja apaan?" "Lho, kata kak Aldo aku harus jadi pembantu di rumahnya kak Aldo?" Aldo berdecak pelan, efek di didik dalam keluarga yang baik-baik, mau berbuat jahat aja rasanya berat banget. "Besok aja! Udah gak usah bahas itu dulu. Hari ini kamu bebas kerja." Gisel mengangguk, kemudian kembali mengamati jalanan yang ramai. ***  "Lho kak Aldo kok di sini? Udah selesai beres-beresnya?" Tanya Gisel saat melihat Aldo berdiri bersandar di pintu, dengan kedua tangan yang dilipat di depan d**a. "Laper, gak ada makanan." "Mau aku masakin?" "Gak usah, aku udah order pake ojek online. Ayo ke depan." Gisel menaikkan sebelas alisnya bingung, "Buat apa?" "Kamu gak mau makan? Ini udah lewat jam makan siang, kasian anak kamu. kalau ibunya gak ada asupan makan dia juga gak dapet gizi, kamu mau anak kamu kurang gizi?" Gisel menggeleng. "Tapi dia juga anaknya kak Aldo, aku gak suka kak Aldo bilang kayak gitu lagi." Aldo dan Gisel berjalan beriringan menuju rumah utama. "Bilang apa?" "Dia akan aku, padahal dia juga anaknya kak Aldo. Aku juga gak suka waktu kak Aldo sebut dia anak haram, rasanya sakit banget." Aldo menghentikan langkah mereka, "Maksud kamu apa?" "Lupain aja, ayo kita makan. Aku udah laper banget." Gisel menarik tangan Aldo menuju ruang makan. Di sana sudah tersedia beberapa menu makanan, matanya berbinar saat mendapati rujak di sana. "Makan nasi dulu, baru rujaknya." Ucap Aldo memperingati. "Makasih ya kak Aldo, padahal aku tadinya udah berpikir kalau kak Aldo gak akan beliin. Emangnya aku siapa?" Ucap Gisel dengan kekehan. Tanpa dia sadari, ucapannya tadi bagai pisau yang menusuk hati Aldo. 'Emangnya aku siapa?' Dia mendadak merasa sangat bersalah atas pernikahan ini. "Kak Aldo." Gisel menepuk bahu Aldo pelan, "Kok diem? Makan, katanya laper?" "Suapin." Gumam Aldo. "Eh, apa? Aduh kak Aldo ngomong apa tadi aku gak denger." "Gak! Udah makan sana." "Kenyang banget." "Sama." Aldo mengusap perutnya yang penuh oleh makanan. "Jadi ngantuk." "Yaudah, kak Aldo tidur aja dulu. Jangan lupa sholat tapi. Aku mau beres-beres, belum selesai soalnya." "Eh gak usah." "Kok gak usah? Kenapa?" Aldo menegakkan tubuhnya, "Setelah dipikir-pikir nanti bakalan ribet kalau pas mama dateng kamu ada di rumah belakang, mendingan kamu di kamar sebelah aja. Biar gampang pindahnya kalau mendadak ada yang dateng." "Sebelah kamar aku." Lanjut Aldo. "Tapi kan?" "Gak ada tapi. Udah yuk ambil barang kamu, bawa ke atas."  ***  "Ahh, selesai juga beres-beresnya." Aldo merebahkan tubuhnya ke kasur, merenggangkan seluruh otot tubuhnya yang terasa pegal. "Kak Aldo udah gede tapi masih kayak anak kecil ternyata." "Apa kamu bilang?" "Dulu kak Aldo keliatan dingin banget, dewasa." Gisel duduk di tepi ranjang, menatap Aldo yang terlentang. "Sekarang?" "Keliatan manjanya." "Terus nyesel udah nikah sama aku?" Gisel menggeleng cepat, "Aku gak pernah nyesel milih jalan ini. Ya walaupun aku tau, mungkin sekarang dosa aku udah banyak banget kali ya?" Aldo terdiam mendengar ucapan Gisel. "Aku ke kamar dulu ya kak, mau mandi, gerah banget." "Hemm." Aldo lemah benget jadi jahat :(
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD