07. Tetangga baru

896 Words
Pagi ini Gisel sudah di sibukkan oleh berbagai pekerjaan rumah, semuanya dia kerjakan seoarang diri, dari merapikan ruang tamu sampai memasak. "Kak Aldo." "Hmm." Gisel mengambil handuk yang tersampir di pundak Aldo, entah lupa atau memang disengaja, Aldo selalu membiarkan rambutnya yang basah seletah keramas. "Duduk sini, biar aku keringin rambutnya." Aldo menuruti permintaan Gisel, dia membiarkan Gisel mengeringkan rambutnya, mungkin ini akan menjadi hal favorit bagi Aldo sekarang? Ah lupakan saja. "Kamu masak apa?" "Cuma nasi goreng, aku belum sempet belanja jadi gak ada makanan di rumah." Aldo menerik sepiring nasi goreng ke hadapannya, kemudian menyantapnya dengan tenang. "Kamu gak masalah makan nasi goreng?" "Aku lagi gak nafsu makan." "Mau nafsu atau enggak, kamu harus tetep makan. Kasihan anak kamu. seharusnya mulai sekarang kamu gak boleh sekedar mikirin diri kamu sendiri, inget ada anak yang tumbuh di rahim kamu, kalau bukan kamu yang beri dia asupan, siapa lagi." Ucap Aldo dengan panjang lebar. Dia menghabiskan nasi goreng itu dengan cepat. "Kita cari bubur ayam di depan, kamu harus makan." "Tapi kak." "Apa susahnya sih nurutin apa kata aku!" Mendengar nada bicara Aldo yang sudah tidak biasa, Gisel lebih memilih diam dan menuruti kemauan Aldo. Mereka berjalan beriringan menuju warung bubur ayam, tidak terlalu jauh dari rumah mereka.hanya sekitar 50 meter. "Bubur ayamnya dua ya pak, sama teh angetnya." Ucap Aldo pada penjual bubur ayam. "Iya mas, eh tapi kok saya belum pernah liat mas sama mbaknya ya?" "Kami baru pindah kemarin pak." Aldo menggeser kursi. "Duduk." "Yang satu jangan pake kacang ya pak." Ucap Gisel. "Dua-duanya pak." "Siap mas, mbak." "Kamu mau muntah?" Tanya Aldo. Gisel menggeleng. "Nih minum dulu, kalau mau mual bilang aja." "Iya." "Ini mas, mbak buburnya. Wah ini mbaknya lagi hamil ya? Penganten baru toh." "Iya pak." "Tak kira tadi adek kakak lho, abis mbaknya masih keliatan muda banget." "Kita memang nikah muda pak, dari pada kelamaan pacaran nanti nambah dosa, mending saya halalin sekalian kan?" "Wah bener itu mas. Jaman sekarang, banyak anak muda pacaran udah kayak suami istri, amit-amit mas." Gisel tersenyum tipis mendengar ucapan Aldo. Aldo sangat pandai berakting dihadapan orang-orang. Namun setidaknya dia dan anaknya bisa merasakan kasih sayang Aldo, walaupun hanya dalam sebuah kepura-puraan. "Mau nambah lagi?" Tanya Aldo ketika melihat mangkuk bubur Gisel sudah kosong. "Enggak kak, aku udah kenyang." "Oke." Aldo mengeluarkan uang lima puluh ribuan dari dalam dompetnya. "Ini pak uangnya, kembaliannya ambil aja." "Wah ya jangan mas, ini kembaliannya." "Gak usah pak, buat bapak aja. Jarang-jarang ada pedagang yang ramah kayak bapak ini." "Waduh mas bisa aja, yaudah kalau gitu besok kesini lagi ya. saya kasih bubur geratis." "Iya pak." "Yuk." Aldo menggandeng tangan Gisel keluar dari warung bubur ayam tersebut. "Lucu banget." Gumam Gisel melihat seorang anak kecil sedang bermain sepeda dengan kedua orang tuanya di belakang. "Eh kok kenceng banget." Ucap Aldo. Brakkk "Hwaaa, mamaaaa papaaaa." Aldo menahan nyeri di kakinya karena tertabrak sepeda milik anak kecil yang sedang menangis itu. "Aduh sayang, makanya pelan-pelan dong main sepedanya." Ucap si ibu dari anak kecil. "Kak Aldo gak papa?" Tanya Gisel. "Mas mbak, maaf ya. anak sayang memang lagi seneng main sepeda, jadi kebablasan." Ucap di bapak. "Iya gak papa mas, untung gak kena istri saya." Gisel tersenyum. "Ayo, Kevin minta maaf sama om dan tantenya, kasihan tuh kaki omnya sampai berdarah." Gisel reflek melihat ke arah kaki Aldo yang sedikit berdarah dan mungkin sebentar lagi akan banyak warna biru di kakinya. "Maaf ya om, tante. Janji deh, gak lagi-lagi ngebut." "Iya, gak papa. Lain kali hati-hati ya?" "Oke om." "Oh iya, kalian orang baru ya di sini? Belum pernah liat soalnya." "Iya, kenalin. Aldo, dan ini istri saya, namanya Gisel." "Saya Raihan, dan ini istri saya, Rere." "Haloo Gisel, eh lagi hamil ya?" Gisel mengangguk. "Wah penganten baru nih?" Goda Rere. "Haha, baru beberapa bulan." Jawab Aldo sekenanya. "Rumahnya sebelah mana?" Tanya Raihan. "Itu, yang cat putih." Aldo menunjuk rumah yang berada 10 meter di depannya. "Wah, tetanggaan banget dong kita? Rumah kita yang kecil itu, depan rumah kalian." "Jangan merendah lah mbak, rumahnya gede kok." Ucap Gisel. "Gedean punya kalian tau, bagus banget!" Puji Rere tanpa sungkan. "Bisa aja." "Oh iya, sebagai tanda perkenalan, gimana kalau nanti malem kalian dateng ke rumah. Kita makan malem bareng." Tawar Rere. "Malah ngerepotin nanti, saya makannya banyak." Gurau Aldo. "Gak masalah, bentar lagi gajian." "Haha, bisa aja lo." "Yaudah nanti malam, jam 7. Kami tunggu kehadirannya di rumah." "Iya." "Kita lanjut dulu ya, nih si Kevin udah ngebet mau main sepeda lagi." "Oh iya-iya, hati-hati ya boy!" "Oke om, dadah tante." "Kak Aldo yakin mau dateng nanti malam?" "Yakin. Kita harus mengakrabkan diri sama tetangga Sel." Gisel mengangguk.  ***  "Iya mah." "..." "Ha? Oh enggak kok, Gisel baik-baik aja." "..." "Abang sok tau itu! Gisel oke-oke aja." "..." "Mama main dong ke sini." "..." "Janji ya?" "Sel, udah siap belum?" Tanya Aldo. "Oh iya, udah kok. Bentar ya kak." "Udah dulu ya mah, nanti aku telpon lagi." "..." "Iya, ada tetangga yang ngundang buat makan malam. Gak enak kalau nolak." "..." "Iya mah." Gisel meletakkan ponselnya di nakas, kemudian sedikit mengoleskan lipgloss pada bibirnya. "Yuk." Aldo memperhatikan penampilan Gisel dari atas ke bawah, malam ini Gisel mengenakan dress sebatas lutut. Perutnya yang mulai membuncit membuatnya terlihat semakin sexy di mata Aldo. "Kak Aldo, ayo." "Eh, iya-iya."  ***  "Mama, papa. Om sama tantenya udah dateng." Teriak Kevin ketika melihat Aldo dan Gisel memasuki pekarangan rumahnya. "Silahkan masuk." "Makasih ya mbak, jadi ngerepotin." "Enggak ya ampun, lagian masaknya dibantin sama bibi. Jadi gampang." Setelah menikmati makan malam, mereka semua berbincang-bincang di ruang tamu. Banyak hal yang Gisel pelajari untuk mempersiapkan diri menjadi seorang ibu dari Rere. "Makasih ya mbak info-infonya, bermanfaat banget." "Sama-sama, jangan sungkan buat tanya ya?" "Iya." "Next time, kalian yang harus makan di rumah ya." Ucap Aldo. "Wa tersanjung gue, diundang makan di rumah bos besar." "Apaan sih Rai." "Yaudah kita pulang sulu ya mbak, makasih sekali lagi buat makannya." "Sama-sama. Jangan kebanyakan makasih ah, jadi gak enak aku." "Pulang dulu Rai." "Hati-hati bos." "Jangan lupa bersih-bersih, ganti baju." Ucap Gisel ketika Aldo akan memasuki kamarnya. "Hemm."  Masih baik aja nih Aldo, ajarin jadi jahat lah!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD