“Bagaimana?” desak David. Kendati dia baru saja menawarkan renggang waktu, kenyataannya dia benar-benar menginginkan waktu privasi saat itu juga.
Lanya melirik Marissa, yang dengan penuh keraguan memberikan isyarat agar Lanya mengikuti keinginan David. Lanya tentu saja menyanggupi ini. Ia sudah tidak sabar membombardir David dengan berbagai pertanyaan akan perubahannya.
Ini menggelikan, kau tahu?
“Pergilah, Lanya,” kata Marissa akhirnya. “Akan kugosokkan sepatumu. Kau bawa saja tasmu.”
Lanya mengangguk sangsi. Sungguh, ia merasa perutnya mulas karena ketidaknyamanan ini. Maka Lanya pun beranjak dan mengambil tasnya kembali, kemudian mengekori David keluar hutan. Mereka berpindah ke belakang asrama para gadis, di dekat pintu masuk cadangan yang teramat sepi. Tak banyak gadis suka berkeliaran melalui pintu ini, karena menghadap ke arah hutan yang cukup mengerikan di malam hari, kendati tiang-tiang lampu kecil sudah dipasang untuk mengurangi intensitas kegelapan.
“Jujur saja—kau aneh sekali, David.” Lanya tak bisa menahan diri untuk tidak berkomentar. “Apakah aku sedang bermimpi? Sebab aku masih ingat betul ejekanmu sebelum aku pulang minggu lalu.”
David hanya tertawa; sebuah tawa yang cukup untuk memunculkan rona-rona manis di pipi Marissa, tetapi tidak mempan pada Lanya. Kalau boleh jujur, Lanya lebih kagum pada Brian. Sang abang jelas-jelas telah menunjukkan prestasinya karena menjadi murid Sekolah Perang pertama yang direkrut oleh Kamp Sektor. Brian juga lebih jangkung, berotot, dan gagah, kendati luka bakar mengerikan memenuhi sekujur punggungnya. Sementara David barangkali termasuk para penyintas yang sangat beruntung; hanya satu daun telinganya saja yang habis digerogoti oleh virus. Selebihnya, dia nampak begitu normal dan kulitnya bersih tanpa cacat. Kekhawatiran David hanya sebatas pada jerawat yang sesekali muncul di wajahnya, atau gigi gingsulnya yang seringkali menjadi bahan olokan Andre.
“Aku minta maaf soal itu,” kata David, dan tawanya kembali pecah saat Lanya melongo mendengarnya. “Aku serius, Anya! Maafkan segala hal yang sudah kuperbuat kepadamu, ya?”
“Apa kau sedang dijampi-jampi?”
“Kukira semua penyintas lebih repot menyelamatkan diri daripada mengurus orang lain?”
“Tidak—maksudku—sungguhan.” Lanya mengangkat tangannya dengan ngeri. Matanya menyipit dalam kecurigaan. “Semenjak Brian pergi, jujur saja, hubungan pertemanan kita seperti ini.” Lanya merentangkan kedua tangan. “Rumah kita boleh saja bersebelahan, tapi pertemanan kita seperti jarak Tanah Merah ke Rentang Timur!”
David tersenyum mafhum. Ia menggosok lehernya dengan kikuk. “Yah, aku tahu,” katanya. “Tapi seperti kata Ibu Kepala, kita bakal lebih sering mendapat hidayah Tuhan di saat-saat seperti ini.”
“Dan kau merasa mendapatkannya?”
“Aku mendapatkannya,” jawab David tegas. Kepercayaan diri yang terpancar di wajahnya membuat Lanya berkali-kali lipat menjadi skeptis. Mustahil. Dia tahu siapa David. Brian dan David adalah kakak beradik yang Lanya temui saat bersama-sama menyelamatkan diri ke perumahan elit dulu, sebelum berakhir diusir hingga ke kaki bukit. Berempat bersama Mama, mereka terkatung-katung mencari bangunan yang layak huni. Sementara Lanya dan Mama diasuh Tante, Brian dan David menempati rumah di samping. Selama itu pula mereka tak pernah absen makan bersama, membangun benteng pertahanan di sekeliling rumah, mengumpulkan tongkat-tongkat untuk dijadikan senjata, dan segala hal.
Itu, tentu saja, sebelum Brian pergi dan David menunjukkan kecemburuannya yang menurut Lanya teramat menggelikan. David jarang pulang, apalagi berkumpul dengan Lanya dan Mama setelah itu.
“Mm, baiklah.” Lanya mencoba untuk menerima berita baru ini. Aneh, tapi tak ada salahnya mengakui perubahan seorang kawan. Marissa benar. Orang pasti berubah. Lanya cukup melupakan perlahan berbagai upaya David untuk menjilat Ibu Kepala agar bisa menyusul Brian ke Kamp Sektor. “Selamat. Maksudku, semoga Tuhan ... menunjukkan jalan yang baik ... kepadamu.”
“Terima kasih, Anya. Kau tahu? Dukunganmu paling berarti bagiku.” Lanya refleks tersenyum geli saat mendengarnya. “Karena kita selalu berjuang bersama semenjak bertahun-tahun yang penuh dengan rintangan. Sesuatu memang terjadi selama beberapa bulan terakhir ini, dan aku berharap kita bisa melupakannya.”
“Yah ...”
“Sebab, kalau aku tak bisa mengubah diriku sendiri, bagaimana bisa aku akan membuat perubahan di lingkunganku?”
Lanya mengerjap. Ini dia. Rencana apalagi yang sedang digagas Si Penjilat? Lanya seketika melipat tangan di depan d**a. “Benar,” akunya. “Dan rencana apa yang sedang kaubuat sekarang?”
Semangat yang menari-nari di mata David membuatnya resah.
“Rencana yang dapat memperbaiki standar hidup Sekolah Perang, tentunya!” kata David bangga. Ia merentangkan tangan dengan bangga saat melanjutkan, “Aku mendapat ilham selama minggu liburan lalu, Anya. Ketika yang lain sedang berlibur dan melewati malam-malam dengan canda tawa, aku justru mengalami kegelisahan yang tidak biasa. Sungguh, itu terjadi padaku. Sampai akhirnya, pada hari ketiga liburan, aku mendapat sebuah ide baru.”
Cengkeraman jari Lanya pada lengannya mengerat. Apakah pemuda ini baru saja berani-beraninya menyindir aktivitas liburan? Dia membuat Minggu Libur terdengar seolah-olah sebuah kegiatan yang tak patut, yang hanya dilakukan para pemalas. Padahal tanpa waktu rehat, otak-otak ini takkan mampu berfungsi secara optimal.
Duh. David tetap saja tak ada perubahan. Seandainya Lanya adalah Ibu Kepala, beliau pasti akan mengagumi kerja keras David sebagai sebuah dedikasi yang patut dilirik Kamp Sektor. Ew.
“Oh, ya?” Lanya berusaha untuk tetap terdengar peduli. “Apa itu? Melegalkan rencana ilegal yang kausampaikan kepadaku beberapa minggu lalu?”
Tawa David pecah. “Duh, Anya! Bukankah aku tadi sudah bilang, kalau sebaiknya kita melupakan apa-apa yang pernah terjadi di antara kita? Itu, tentu saja, termasuk rencana-rencana yang ... kurang matang, yang kubuat karena merasa begitu tergesa-gesa.”
Tergesa-gesa untuk menyusul Brian, koreksi Lanya dalam hati. Tetapi tentu saja mulut David akan berkata bahwa dia tergesa-gesa untuk memperbaiki hidup para peserta Sekolah Perang.
“Jadi?”
“Aku mengakui bahwa rencana seperti membantai para zombi itu tidak manusiawi.” David mengerucutkan bibir. “Ya, maksudku, aku kepikiran semenjak kau bilang bahwa membantai para zombi itu sama saja seperti membantai tetanggamu sendiri ... dan aku lantas teringat akan para sepupu zombiku yang barangkali masih hidup di suatu tempat, dan aku tentu bakal terpukul kalau tahu mereka dikejar-kejar dan dibunuh oleh para penyintas lain! Kau benar, Anya. Aku begitu terbakar emosi saat menggagas rencana itu. Kalau kau tidak buru-buru menentangku, aku mungkin takkan terus-menerus memikirkannya.”
Lanya mengangkat alis. Jujur saja, ia agak takjub. “Aku lega kau akhirnya menyadari itu, David. Aku hanya ingin kau ingat bahwa para zombi itu masih punya kesadaran, sekecil apa pun. Mereka pernah hidup sebagai manusia waras, yang punya keluarga dan pekerjaan ... dan tidak sebaiknya kau memperlakukan mereka seburuk itu.”
“Aku tahu.”
“Dan rencana baru apa yang kau gagas?”
Alih-alih menjawab, David mengedarkan pandangan. Tingkahnya membuat Lanya yakin bahwa apa pun yang akan diucapkan David tidak boleh didengar orang lain. “Aku hanya mengatakan ini kepadamu,” kata David sembari mencondongkan tubuh. “Karena aku masih ingin memercayaimu, Anya. Kita bersama-sama sejak awal ...”
“Ya, ya. Apa itu?”
“Menyusup.” David tersenyum lebar. “Para peserta bakal berkelompok untuk menyusup ke base camp tentara terdekat. Sungguh. Brian pernah berkata kepadaku bahwa tenda mereka bahkan tidak dipersenjatai dengan begitu lengkap. Karena sekitar sini hanyalah wilayah hutan dan perumahan yang sudah hancur, dan mereka mengira kita tidak punya kemampuan yang memadai. Mereka barangkali lupa, kalau kakek moyang kita dulu bisa melawan pakai bambu saja.”
Lanya melotot. “Kau tidak bisa mengorbankan para peserta seperti itu.”
“Ini Sekolah Perang, Anya. Orang-orang memang dipersiapkan untuk berperang.”
“Bertahan hidup, David.” Tegas gadis itu tak percaya. “Bukan berperang. Maksudku, ya, tentu saja semua orang harus melindungi negeri ini, tapi bertahan hidup adalah prioritas saat ini. Apa kau tidak lihat kalau mayoritas peserta SP kita adalah orang-orang tua dan para gadis? Apa kau akan menggerakkan mereka untuk menyusup ke tenda para penjajah?”
David mengernyit. “Perjuangan tidak memandang fisik, kukira,” katanya. “Dan ini demi kebaikan semua. Aku sudah muak melihat kita selalu mendapat jatah sembako sisa dari berbagai Kamp. Kalau kita bisa melakukan ini, Anya, maka Kamp Sektor akan mengakui kita dan hidup menjadi lebih baik! Bayangkan stok sembako yang lebih banyak, memenuhi gudang, dan lebih layak!”
“Apa persediaan sembako sekarang tidak cukup? Dunia tidak sedang baik-baik saja, David. Hidup kita tidak seperti dulu lagi, tidak makmur, dan layak saja kalau persediaan makanannya terbatas! Kau kira pihak Kamp bakal setega itu untuk benar-benar memberikan kita bahan sisa? Bahkan yang menganggap pemberian sembako sebagai sisa itu adalah kau sendiri!”
“Apa kau tidak mau kehidupan kita menjadi lebih layak?” suara David meninggi.
“Tentu saja aku mau, tapi kalau semua rencanamu itu hanya membahayakan para orang tua dan gadis-gadis, maka itu cara yang salah!”
“Semua harus berkorban untuk kebaikan, Anya!”
“Tidak kalau hanya berujung pada kepentinganmu saja!” kata Lanya, dan sebelum David mampu merespon, sebuah tinju tiba-tiba melayang dengan keras ke wajahnya. David terjungkal kendati tubuhnya yang lebih tinggi daripada gadis itu, dan ia meraung kesal.
Lanya terkesiap. Ia sama sekali tidak menduga layangan tinjunya akan membuat pemuda sebesar David terjatuh. Maksudnya, yah, David memang tidak sebesar Brian yang berotot kencang dan mampu mengangkut Lanya ke pundaknya dalam sekali ayunan, tetapi David tetap saja lebih besar daripada Lanya. Ketika pemuda itu mengaduh dan mengumpat terus-terusan di tanah, Lanya spontan panik.
“David—ya Tuhan, apa kau tidak apa-apa?” Dan, Lanya sama sekali tidak mengira akan peduli pada pemuda yang baru saja membuat ubun-ubunnya memanas. David sendiri tidak menggubris pertanyaan Lanya, apalagi menyahut uluran tangan gadis itu. Ia meludah dengan jengkel ke samping. Seandainya ada bercak darah di ludahnya, barangkali David akan berbuat sejauh membalas perbuatannya kepada Lanya. Untungnya tidak. Ia hanya beranjak dengan sedikit susah payah, menepuk-nepuk celananya yang kotor, lantas menatap garang kepada gadis itu.
“Kau—” David mengangkat tangannya. Lanya spontan berjengit melindungi kepala. Namun, karena tidak terjadi apa pun, gadis itu mengintip dengan ngeri.
“Apa?” ia masih punya keberanian untuk menggertak balik. “Pukul aku kalau kau berani, sialan.”
David mendengus dongkol. Ia mengusap bekas tinjuan Lanya dengan penuh kehati-hatian. Sial. Pukulan tadi sudah pasti akan meninggalkan bekas membiru ungu yang membekas jelas. Bagaimana caranya dia menyampaikan kepada kawan-kawannya kalau ini bukan hasil pukulan seorang gadis seringan Lanya?
“Kau akan menyesali ini, Lanya.” Desisnya. “Aku sudah menawarkanmu segala hal dengan baik-baik. Aku sudah menyempatkan waktu untukmu, dan aku sengaja menunda-nunda karena berharap bisa menerima dukunganmu.”
“Teruslah bermimpi.”
“Benar.” David menatapnya dengan mata menyala-nyala marah. “Dan ketika itu terwujud, kau akan sangat menyesal.” Sebelum pemuda itu berbalik, ia menudingkan telunjuknya tepat di depan mata Lanya. Bisikannya penuh dengan kebencian menguar. “Tunggu pembalasanku, k*****t!”