Satu Minggu yang Terlewati

1712 Words
Lanya akhirnya tiba dengan selamat saat langit semburat merah. Sekolah Perang letaknya di sebuah lapangan terbuka, tersembunyi di antara padatnya jalinan pepohonan. Pohon-pohon tinggi bergerombol memenuhi beberapa sudut di lapangan, membentuk jalan berkelok-kelok yang berujung pada area berpagar duri di pusat lapangan. Di balik pagar itulah berdiri kompleks bangunan bekas pabrik yang ditinggalkan para pegawainya. Sekarang kompleks yang disebut Sekolah Perang itu digunakan para penyintas untuk belajar, menyusun strategi perang, merancang inovasi-inovasi baru demi keperluan pertahanan diri, dan segala macam yang dibutuhkan dalam menghadapi bahaya yang bisa datang kapan saja. Itu, tentu saja, adalah daftar misi yang tercatat di plakat ruang Ibu Kepala, namun kenyataan tidak bekerja persis seperti itu. Para murid Sekolah Perang selama satu tahun terakhir telah mengalami perubahan; semenjak terpilihnya Brian untuk bergabung ke Kamp Sektor yang lebih besar dan memadai, para murid Sekolah Perang seolah berlomba-lomba untuk menyusulnya dan meninggalkan lembaga menyedihkan ini. Bantuan lebih cepat datang untuk berbagai kamp, dan lembaga-lembaga kecil semacam Sekolah Perang seringkali menerima sisa-sisa saja ... atau begitu kata orang-orang yang sok tahu. Lanya pernah mendengar bahwa persiapan yang lebih matang dan hebat terjadi di Kamp-kamp besar, bukan di Sekolah Perang yang hanya memiliki puluhan peserta. Ia juga pernah mendengar bahwa para pemimpin pemberontakan yang keren rata-rata berasal dari kalangan peserta Kamp, dan murid Sekolah Perang hanya akan menjadi pion-pion yang dikorbankan untuk maju duluan dalam menghadapi penjajah. Daripada Sekolah Perang, Lanya merasa lembaga ini lebih tepat disebut sebagai Sekolah Pengawal. Lanya pun mengantri di gerbang untuk menunggu isi tasnya diperiksa. Keadaannya nyaris sama dengan para murid lain yang berbaris duluan; ikatan rambut yang sudah tidak serapi saat berangkat, bau tidak sedap dari keringat yang sudah tidak dibilas selama beberapa hari, dan poni yang menjuntai di sisi kanan menempel di perban yang menutup mata kanannya. Untungnya Lanya bukan satu-satunya, sehingga ketika ia datang untuk menambah paduan aroma busuk di antara barisan itu, para murid hanya mengeluh pada diri mereka sendiri. “Selamat datang, Lanya!” ketika giliran gadis itu tiba, seorang opsir menyapa dari balik pos pagar. Senyum terpatri di balik kumisnya yang lebat. Ada remah roti yang menyangkut di sana. “Selama sore, Om Andi.” “Terjadi sesuatu di perjalanan, Nak? Kau terlihat begitu ... kusam,” Opsir Andi mencoba memilih kata yang tepat saat berkomentar. Lanya tahu sang opsir sempat mengernyit saat mencium aroma Lanya yang teramat wangi. “Begitulah.” Lanya meringis. Ia mengangkat tombak besi yang sudah dibersihkan di sungai dan melanjutkan, “Aku menemukan zombi selama perjalananku kemari, Om. Di dekat rumahku.” “Astaga, sungguh? Apakah masih banyak yang berkeliaran di sana?” “Tentu saja banyak. Terutama di dalam area perumahan.” Lanya menggerutu. “Aku sempat kepikiran untuk menunda keberangkatanku karena rasanya rumah tidak aman untuk ditinggal.” “Aku mengerti,” kata Om Andi. Ia membuka tas ransel Lanya dan tanpa repot-repot memasukkan tangannya, ia hanya mengangguk-angguk melihat tumpukan pakaian yang penuh. “Akan kusampaikan kepada Ibu Kepala nanti. Kita memang perlu meningkatkan patroli di sekitar perumahan kaki bukit, kau tahu? Semakin banyak zombi yang berkeliaran, Nak. Semakin banyak yang terjangkit.” “Lebih cepat akan lebih baik! Jangan sampai kedahuluan oleh anjing-anjing liar di perkampungan sebelah. Om tahu? Anjing yang terkena virus jauh lebih mengerikan. Mereka berlari lebih cepat daripada para zombi itu.” “Tak ada yang tidak berbahaya, Lanya,” Om Andi mewanti-wanti. Kedua mata kecilnya menyala-nyala cemas saat menyerahkan tas Lanya kembali. “Jangan lengah! Apakah sistem keamanan rumahmu masih baik? Apakah aku perlu datang untuk membetulkan sesuatu?” “Terima kasih, tetapi tak ada situasi yang mendesak.” Lanya tersenyum, lantas memohon diri untuk bergegas masuk ke kompleks Sekolah Perang. Pabrik bekas tempat Sekolah Perang didirikan laiknya pabrik pada umumnya; bangunan-bangunan besar yang berisi mesin-mesin dengan pintu digembok, gudang-gudang panjang yang dialihkan sebagai asrama para peserta selama bermalam di situ, gudang-gudang yang lebih kecil dan spot bekas tempat parkir sebagai ruang kelas, gedung kantor kecil yang menjadi ruang-ruang kerja para guru, dan kantin—satu-satunya tempat yang fungsinya tidak berubah. Di sanalah para murid berseliweran dalam kelompok, terutama menyesuaikan kelas yang diikuti. Lanya tidak buru-buru menaruh tas. Ia menghampiri segerombolan muda-mudi di pekarangan depan asrama wanita, saling bercanda dan tertawa. Lanya mendapati Marissa, Sani, dan beberapa wajah yang tidak terlalu akrab dengannya, tengah mengobrol bersama Om Danu, salah satu opsir di Sekolah Perang. Saat Lanya mendekat, Marissa mencolek bahu Sani. Mereka seketika menyambut kedatangan gadis itu. Tapi, “Oh!” seru Sani saat Lanya nyaris saja merangkul mereka. “Baumu wangi sekali, eh!” Seisi perkumpulan terpingkal-pingkal. Lanya spontan meringis dan mengambil langkah mundur. “Aku belum mandi demi zombi,” kilahnya. “Kalau kau mau bersabar, aku akan mandi dulu.” “Memang sebaiknya begitu.” Marissa memutar bola mata. Ia memberikan isyarat kepada Lanya agar mengikutinya. Namun, belum sempat mereka melangkah pergi, Om Danu mengeraskan suaranya. “Jangan lupa sampaikan pada Lanya juga, Nak!” “Menyampaikan apa?” tanya Lanya penasaran saat mereka berjalan melintasi pekarangan. “Nanti,” kata Marissa, sedikit agak sok misterius. “Kau membutuhkan tubuh dan pikiran yang segar untuk menerima segala hal yang terjadi saat kau sedang berlibur.” “Bukannya kau juga berlibur?” Marissa nampak agak ragu-ragu saat menjawab. “Mm ... tidak juga,” katanya. “Aku dan Sani memang memutuskan untuk pulang ke rumahku di awal minggu liburan ... tetapi kami mengubah rencana dan berakhir tetap tinggal di sini.” Lanya mengernyit mendengar ucapannya. Kenapa Marissa terdengar ragu-ragu begitu? Namun Lanya tidak terburu-buru untuk mempermasalahkan. Marissa dan kawan-kawannya benar. Lanya sendiri juga sudah tidak betah dengan aroma tubuh dan bekas keringat lengket di sekujur tubuhnya, termasuk beban tas yang begitu berat. Mereka beriringan menuju sungai di dekat kompleks pabrik dengan berhati-hati. Sungainya jernih, karena pihak Sekolah mati-matian menjaga kebersihan satu-satunya sumber air bersih itu. Orang-orang tidak boleh mandi sesuka hati. Semua diperbolehkan mandi hanya dua hari sekali, dengan beberapa pengecualian situasi seperti setelah berlatih fisik atau menangani zombi. Ketika Lanya dan Marissa tiba di aliran sungai yang terhimpit barisan pepohonan, nampak beberapa orang yang tersebar di seberang sungai, sibuk berbasuh bergantian di balik bilik-bilik kain maupun sekadar mencuci sepatu. “Oh, lihat siapa itu.” Lanya mengedikkan dagu, mengisyaratkan pada sekumpulan muda-mudi yang tengah menggosok sepatunya di seberang sungai. Marissa hanya terkekeh pelan. Sekumpulan muda-mudi itu pun menyadari keberadaan mereka dan menyunggingkan senyum sapaan. Lanya membalasnya dengan setengah hati. “Andre, Sabrina ... heh, di mana orang itu?” Lanya mengabsen kumpulan yang baru saja menyapanya. Bahkan tanpa menyebut nama, Marissa sudah tahu siapa yang Lanya maksud, dan ini membuatnya sedikit cemas. Marissa hanya membasahi bibir. “Di mana David?” Lanya seolah tak mengerti ekspresi yang diberikan kawannya. Ia menarik Marissa untuk menepi di sebuah bilik kosong dan bergegas menaruh tas. Sementara Lanya memasuki bilik dan mulai berbasuh, Marissa menjawab sekenanya. “Entahlah ...,” gumam gadis itu. “Mungkin dia membantu Ibu Kepala atau ... entahlah. Dia melakukannya selama beberapa hari terakhir.” “Apa dia masih berusaha setengah mati untuk menjilat?” suara Lanya nyaris tenggelam oleh gaung arus sungai di antara pepohonan dan celotehan para murid Sekolah Perang di sekitar. Marissa memilih tak menjawab. Obrolan ini akan menjadi semakin sensitif. Ia yakin itu. Lanya keluar tak lama kemudian dengan sepasang pakaian baru, sementara pakaian lamanya telah diperas dan siap dijemur bersama barisan pakaian para murid di tepi hutan. Lanya sekarang mengambil posisi duduk di samping Marissa dan mulai menyikat sepatu. “Apa dia tinggal di Sekolah selama minggu liburan?” Marissa mengangguk. “Dia melakukan banyak sekali hal. Dia bahkan jarang tidur.” “Bocah ambisius.” “Dia hanya berusaha membantu.” Lanya seketika berhenti membersihkan sepatu dan menyipitkan mata kepada kawannya. “Apa kau terkena pesona penjilatnya, Mar? Sudah kubilang, David hanya rupawan di kulitnya saja. Kalau kau tahu lemak dan darahnya mengandung kelicikan dan sifat pengecut, kau bahkan takkan repot-repot mau mendambanya lagi.” Marissa hanya tersenyum kecut. “Orang bisa berubah, Lanya.” “Yah, dia berubah menjadi semakin parah semenjak ditinggal Brian.” “Bukan begitu. Maksudku ....” Ucapan Marissa terpotong ketika terdengar suara gemerisik rumput yang diinjak sepatu, lantas diikuti sebuah suara familiar. “Hei Anya, kau sudah datang!” Kedua gadis itu menoleh ke asal suara. Seorang pemuda, dengan rambut berpangkas pendek dan berwarna cokelat yang memudar, tengah mendekat dengan senyum lebar tersungging. Kedua mata kelamnya berbinar saat bertatapan dengan Lanya. Sebagaimana para penyintas kekejaman virus, David juga mengalami kecacatan di telinga, tetapi pemuda itu termasuk beruntung betul. Hanya daun telinganya saja yang lenyap, yang dengan mudahnya disembunyikan rambut, dan selebihnya baik-baik saja. Marissa menyapa dengan senyum terkulum. Rona merah samar menghias pipi berbintiknya. “Ah, David. Halo.” Lanya menyaksikan cara David mengangguk santun kepada Marissa seolah-olah dua pemimpin negara yang baru saja menandatangani sebuah kesepakatan gencatan senjata. Apa-apaan ini? Lanya hanya mengerling dengan senyum kaku di wajah. “Aku baru datang,” tukas Lanya canggung. Ia tidak menyukai suasana yang melingkupinya sekarang. David tahu-tahu berjongkok di sampingnya, mempertegas kengerian Lanya di benaknya. “Kau sehat-sehat saja? Bagaimana dengan kabar Tante Ran?” David bahkan tidak pernah peduli lagi dengan Mama semenjak Brian meninggalkannya. Lanya memaksakan senyum saat menjawab. “Tak ada perubahan signifikan,” katanya, lantas terdiam sejenak. “Tetapi Mama tetap ceria.” “Syukurlah,” respon David dengan tulus, mengirimkan gelenyar di sekujur tubuh Lanya. Ada apa ini? Apakah seseorang baru saja memukul David keras-keras di kepalanya, ataukah Tuhan telah memberinya ilham melalui mimpi? Inikah sebabnya Marissa mendadak membela David di obrolan mereka tadi? Jujur saja, ketika Marissa dulu berkata bahwa dia menyukai David dan pesonanya, Lanya merasa geli. Reaksinya itu berubah menjadi kegelisahan saat David mulai menunjukkan sifat aslinya yang penjilat dan berusaha menjadi penguasa Sekolah Perang semenjak abangnya, Brian, ditransfer ke Kamp Sektor karena prestasinya yang gemilang di sini. Mana mungkin Lanya akan membiarkan kawannya Marissa mendekati pemuda semacam itu? Marissa hanya akan dijadikan batu pijakan oleh David untuk mendapatkan hati Ibu Kepala. Bagaimana pun juga Marissa sesungguhnya adalah keponakan kepala sekolah ini. Lanya kembali menggosok sepatu sebagai upaya mengusir rasa canggung. “Kau tidak berkumpul bersama kawan-kawanmu?” “Apa maksudmu? Kalian juga kawanku.” Lanya nyaris muntah. “Omong-omong apa kau sibuk, Anya?” tanya David dengan lembut. “Kalau tidak, aku ingin mengobrol sejenak denganmu. Setidaknya sebelum waktu makan malam.” Ini dia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD