Dunia Hancur dan Sekolah Tetap Berjalan

1891 Words
Lanya dan Mama termasuk para penyintas yang beruntung. Bertahun-tahun lalu, ketika Lanya masih syok dan Mama berusaha tegar sekuat tenaga menghadapi kematian yang lain, mereka berpindah bersama para tetangga yang masih waras, merambah ke daerah perumahan elit di sebuah bukit, dan menempati ruang-ruang kosong yang telah ditinggalkan pemiliknya. Namun Lanya dan Mama tidak seberuntung itu; tubuh Mama terkena sedikit imbas dari penyebaran virus, dan kendati cukup sehat untuk mampu bertahan waras sementara kehilangan sebagian anggota tubuh, orang-orang tidak ingin menampung mereka lagi. Mereka terasingkan ke rumah-rumah yang lebih kecil dan kumuh di bawah bukit, merasa ketakutan tiap malam ketika lampu-lampu dipadamkan demi menghindari intaian para penjajah. Yah, setidaknya mereka tidak sendirian. Tante, yang sampai saat ini Lanya tidak ketahui namanya, adalah seorang ibu muda yang kehilangan seluruh anak dan suaminya, dan memilih untuk bertahan di rumah dua lantainya. Beliau sangat berbaik hati saat tiba-tiba menarik Mama—yang setelah pengusiran mengalami kejatuhan mental—untuk ikut bersamanya, diberi kamar dan kasur yang paling empuk, dan menyuruh Lanya untuk bebersih rumah setiap hari sejak saat itu. Lanya tidak keberatan saat Tante sama sekali tak pernah membantunya bersih-bersih rumah. Tante hanya beranjak dari kursi saat tiba waktunya untuk masak, atau ketika Mama membutuhkan bantuan menuju ke toilet, sementara Lanya harus pergi selama beberapa minggu untuk sekolah. Dunia sedang hancur, tetapi sekolah masih berjalan, tanyamu? O-ho. Jangan remehkan para penyintas. Lanya mengintip ke kamar Mama yang tak pernah ditutup sepenuhnya. Beliau sedang berbaring seperti biasa, dengan selimut tipis menutup hingga ke atas d**a. Jika kau menyibaknya, maka kau akan melihat separuh kaki Mama sudah hilang, tergerogoti oleh virus aktif yang membuat beliau merasa gatal dan perih. Tetapi Mama tidak berubah menjadi zombi sama sekali sejak bertahun-tahun lalu! Bukankah itu aneh? Tim paramedis yang rutin mengunjungi pun masih tidak menemukan jawabannya. Tapi itu tidak penting. Bagi Lanya, asal Mama masih sehat dan mampu memuji Tuhan setiap saatnya, maka itu sudah cukup. “Lanya?” suara kasur berderit memenuhi ruang. “Kau sudah selesai beberes, Nak?” Lanya mendekat dengan senyum tercerah. “Mama, sudah bangun?” tanyanya. “Mau ke toilet, atau Mama mau menyicip kue tepung buatan Tante?” Mama menatapnya curiga. Sudah pasti Lanya berusaha mengalihkan topik apa pun yang akan ditanyakan sang ibu. Gadis itu bahkan jarang sekali menawarkan kue-kue buatan Tante yang aneh. “Beberes, Nak.” Lanya memutar bola mata mendengar penegasan Mama. “Mama sepertinya sudah menyuruhmu menyiapkan segala perlengkapan sejak minggu lalu. Aku tidak mau kau tahu-tahu datang kemari lagi setelah beberapa hari, karena sekadar mengambil sisir rambut yang tertinggal.” Bibir Lanya membentuk seutas lengkungan yang jelek. “Duh,” komentarnya. “Toh tidak ada pelarangan untuk pulang sesekali, apa salahnya?” Mama mengabaikannya. “Aku tahu kau berusaha menghindari David sebisa mungkin. Tapi kau harus mengajaknya mengobrol, Nak, bukan menghindarinya. Ajak dia untuk kembali pulang.” Lanya akhirnya tak bisa menahan keinginan untuk mengerang sebal. Mama mengatakannya! Yo, kalau kau tidak tahu siapa David, maka kau akan tahu nanti. Sebentar lagi pukul tiga sore, waktunya Lanya untuk kembali ke Sekolah Perang dan— Tante mengetukkan tongkatnya tiga kali. Tiga kali. Beliau sangat gemar mengingatkan Lanya akan waktu-waktu penting. “Nah.” Mama pun menyunggingkan senyum jahil. “Sudah jam tiga sore, Nak. Belajarlah dengan rajin di SP. Mama tahu kau pintar, tapi kalau kau tidak belajar, itu tak ada gunanya. Dan Mama tahu kau punya banyak teman, tapi jangan sampai tetangga sendiri kau acuhkan.” “Uh? David yang memulainya.” “Kalau begitu jangan seperti David,” kata Mama sembari menepuk pinggang sang anak. “Sana, berpakaianlah dengan baik dan sisir rambutmu dengan benar. Mama akan menunggumu di dapur. Bisa kau panggilkan Tante?” Lanya dongkol. Tante barangkali menguping, karena saat Lanya membuka pintu, wanita itu sudah berdiri di ambang pintu dengan kursi roda bekas. Tante refleks memicing dan mengisyaratkan Lanya agar bergegas. Kalau beliau bisa berbicara, barangkali Tante bakal berteriak lebih lantang daripada Mama dulu: “Cepat bergegas, dasar gadis jorok!” Bagusnya, ia sudah selesai berkemas, sehingga Lanya hanya perlu merapikan penampilan saja demi menyenangkan hati sang ibu. Toh, perjalanan menuju Sekolah Perang memakan waktu sekitar dua jam dan melewati hutan, sudah pasti dia akan muncul ke Sekolah Perang dengan daun-daun menyangkut di rambut. Ia hanya perlu merapikan poni yang menjuntai di sebagian wajah... dan kalau tidak salah, ini seperti tren emo di tahun dua ribuan. Dia ingat pernah melihat foto Mama dengan poni menjuntai dan berlagak garang, tapi foto itu sudah lama tertimpa reruntuhan di rumahnya. Jemari Lanya meraih poni, namun alih-alih menyibaknya, dia tercenung sejenak. Poninya sudah kelewat panjang hingga mencapai dagu, sampai-sampai pantas disibak ke belakang dan menyatu dengan rambut lainnya. Tapi, kalau begitu, matanya yang berlubang dan mengerut-ngerut jijik akan tampak. Dia bahkan tidak mau mengangkat poninya lagi sekarang. Ejekan bodoh David terngiang-ngiang jelas di benaknya. Pemuda itu kehilangan sebelah telinga, tetapi itu tidak separah penampilan saat satu bola mata lenyap dari lubangnya. Kalau begitu Lanya takkan memotong poni. Bagaimana kalau... oh! Sebuah gagasan tiba-tiba terlintas di benaknya. Lanya pun bergegas menarik sebuah baju hitam dari tumpukan pakaian paling bawah dan mengguntingnya. Ia membeber kain hingga memanjang, lantas membebatnya melintang di bawah poni. Nah! Dia nampak seperti bajak laut keren sekarang! Lanya refleks berkacak pinggang di depan jendela dan menyeru puas di depan cermin. “Ho-ho-ho!” katanya berlagak. “Kenapa aku tidak memikirkan ini sejak dulu? Mama, lihat aku!” Lanya buru-buru keluar sembari menenteng tasnya yang super berat. Mama, yang sudah berada di dapur bersama Tante, seketika mengangkat alis. Senyum pun tersungging di bibir Mama. “Lucu,” puji beliau. “Kau seharusnya memasang itu sejak dulu.” Lucu? Lanya berharap dipuji keren, tapi begitulah Mama. Setidaknya itu cukup untuk membuat suasana hati Lanya sedikit membaik saat waktunya di rumah ini semakin memendek. Selepas mengenakan kaus kaki dan sepatu, Lanya mampir ke dapur untuk mengecup tangan dan pipi Mama, lantas berpamitan kepada Tante. Mama mengucapkan serentetan doa seperti biasa; doa-doa yang mengharapkan keselamatan, kesehatan, dan akhir dari segala kekacauan dunia. Lanya mengamini, kendati belakangan ini ia melakukannya sebagai kebiasaan saja. Ia agak skeptis dengan harapan-harapan ketika dunia tetap berjalan kacau seperti biasa. Omong-omong kiamat kapan sih? Kalau situasi separah ini belum juga disebut kiamat, Lanya tak mampu membayangkan seperti apa kehancuran dunia secara total. Dia berharap dia dan Mama sudah meninggal dengan damai sebelum itu. Seusai berpamitan, Lanya keluar melalui pintu belakang. Salah satu kelebihan rumah Tante yang tertutup adalah beliau memiliki taman belakang sempit yang bisa dijadikan gudang pribadi Lanya. Sebuah terpal dipasang di pojok taman berdinding tinggi, melindungi tumpukan balok-balok kayu panjang dan besi berkarat yang dikumpulkan selama liburan. Lanya mengambil masing-masing satu balok dan menggenggamnya di kedua tangan. Oke, Lanya memang tidak boleh membunuh zombi, tapi tidak ada larangan untuk memukul mereka, kan? Zombi-zombi itu ingin makan. Mereka akan memakan segala sesuatu yang membuat perut mereka keroncongan. Bagi mereka, manusia tak ada bedanya dengan binatang. Masing-masing terbuat dari daging yang bisa disantap. Lanya juga meraba kantong tas di sebelah kanan. Pistolnya tersimpan rapi di dalam. Dan, tenang, ia juga tidak pandai membidik. Dia hanya diajarkan untuk menembak kaki-kaki zombi untuk memperlambat gerak mereka, sehingga memukul dengan tongkat-tongkat panjang lebih disarankan. Lanya mengayunkan masing-masing balok dengan kuat, memastikan bahwa ini bakal cukup sebagai bekalnya mengarungi hutan, kemudian mengikat balok besi di tas. Ia pun bergegas memanjati tumpukan furnitur rusak dan melewati tembok. Ia menginjakkan kaki di tanah berumput berpadu serpihan batu bata. Udara beraroma telur busuk samar dan tanah basah menggelayut di hidung, menyertai bentangan hutan di sepanjang kaki bukit yang mengular jauh hingga berkilo-kilometer jauhnya. Letak Sekolah Perang berada di tengah-tengah hutan, pada sebuah pabrik bekas yang tersembunyi oleh pepohonan rapat. Butuh waktu hampir dua jam untuk mencapainya. Lanya menarik napas dalam-dalam. Semoga Tuhan melindunginya sejak dari sini, dan melindungi Mama serta Tante selama Lanya tinggal di Sekolah Perang untuk tiga minggu ke depan. Amin. Omong-omong apa kau sudah tahu kalau zombi juga mendiami hutan? Tepi hutan, tepatnya. Mereka tidak berani memasuki area dalam hutan yang pekat gelap tanpa cahaya, terutama saat malam hari. Kendati mereka bodoh, mereka cukup pintar untuk tidak membahayakan nyawa sejauh itu. Para zombi juga tidak seberuntung hewan-hewan malam, yang bisa berburu saat petang. Mereka mengandalkan sinar matahari untuk mengejar ayam dan kelinci liar yang berkeliaran di hutan. Karena itulah Lanya membawa dua balok sekaligus. Setibanya di hutan, Lanya refleks mengeratkan genggaman pada balok besi. Ia melepas sepatu dan mengikat kedua talinya di tas. Ia sudah melapisi kakinya dengan beberapa helai kain di dalam kaos kaki, sehingga langkahnya aman. Lanya berjalan mengendap-endap sembari mempertajam pandangan dan pendengaran. Hutan di sore hari lebih gelap daripada situasi luar lainnya. Lanya berjingkat ketika berpindah. Ketika ia memastikan bahwa suasana amat sepi, ia akan berlari dengan kaki berjinjit menyusuri jalan dan cepat-cepat menyingkir setelah melalui sekitar lima puluh atau seratus meter. Ia terus melakukannya dengan berhati-hati, merasa bahwa perjalanannya kali ini akan aman, ketika ia melihat ada sesuatu di tengah-tengah pelariannya. “Ya Tuhan.” Lanya refleks panik mencari sebuah pohon yang cukup besar. Ia menyembunyikan diri dan mengawasi seorang zombi berjalan linglung tanpa arah. Makhluk itu kemudian berlutut, mencabuti rumput dengan frustasi dan melahapnya. Lanya menelan ludah. Kendati zombi itu nampaknya sendirian, namun ketika manusia normal seperti Lanya menghampiri, zombi itu akan langsung berlari cepat mengejarnya. Percayalah. Lanya tak menemukan ayam dan kelinci selama perjalanan. Zombi itu pasti kelaparan. Lanya mencium bau tubuhnya. Apakah baunya sudah cukup... er, busuk? Ketahuilah bahwa Lanya sengaja tidak mandi selama beberapa hari demi menyamakan aromanya dengan para zombi itu. Mereka akan lebih cepat mencium keberadaanmu jika baumu berbeda dengan mereka. Semakin busuk baumu, akan semakin aman dirimu. Zombi itu merangkak agak menjauh. Lanya memanfaatkan kesempatan dengan berjingkat menghampirinya. Ia mengangkat tombaknya tinggi-tinggi, kemudian mempercepat langkah. Saat zombi itu menoleh, Lanya refleks memukul kepalanya keras-keras. Zombi itu jatuh terjerembap. “Maaf!” Lanya berjengit dan buru-buru berlari. Ia memanfaatkan kesempatan mumpung zombi itu mengerang tak berdaya. Ada alasan mengapa Lanya tidak pergi lebih cepat daripada repot-repot memukulnya. Percayalah, Lanya juga tak mau melakukan ini. Dia akan dengan senang hati menembak kaki-kaki zombi, dan memukul mereka dari jarak cukup dekat bukanlah kesenangannya. Namun Brian—kakak David yang sudah setahun tidak ditemuinya—mengajarkan bahwa cara ini efektif untuk menghambat kemungkinan dikejar oleh zombi yang kelaparan. Lanya mengenakan sepatunya lagi dan melanjutkan pelarian. Ia sudah membersihkan jalur kesehariannya, sehingga Lanya tak perlu mengeluarkan golok untuk memotong ranting-ranting yang mengganggu. Kurang lebih beberapa ratus meter kemudian, Lanya sudah tiba di bagian hutan yang jauh lebih gelap. Ia menghentikan langkah, mengatur napasnya yang terengah-engah, dan memasang senter kepala. Lanya menajamkan pendengaran. Sunyi. Hanya terdengar samar-samar suara burung yang jauh berada di puncak-puncak pohon, menghindari tangan-tangan zombi yang berusaha menggapainya jika berada terlalu rendah. Baiklah. Sepertinya tak ada zombi di sini. Maka Lanya bisa— Terdengar suara keletak ranting. Lanya sontak menoleh. Kewaspadaannya tumbuh berkali-kali lipat ketika matanya jelalatan ke sekeliling. Tunggu. Apakah ada zombi lain? Atau, lebih buruk lagi, hewan liar yang berbahaya? Jantung Lanya berpacu. Meski para zombi biasanya tidak mencapai hutan bagian ini, bukan berarti tidak ada satu atau dua zombi yang keras kepala. Namun, sekeras apa pun Lanya berusaha menajamkan pandangan, tak ada yang nampak di wawasan pandangnya. Ah, mungkin ia hanya parno. Bisa saja itu sekedar tupai, bukan? Lanya mengembuskan napas panjang dan beralih. Waktu terus berjalan. Hutan makin gelap. Ia tidak akan mengambil resiko berlama-lama di sini sementara Sekolah Perang masih nun jauh di dalam hutan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD