Lanya dan Tommy tak tahu harus berkomentar apa, selain menangkup tangan mereka bertiga dalam rasa syukur, saat sang Patron menunjukkan tasnya yang sudah sebagian terisi tabung-tabung penawar virus. San membangunkan kedua kawannya setelah dua jam berlalu sejak pencuriannya tadi. Gadis itu menatap dengan penuh harapan dan San menepuk-nepuk kepalanya dengan senang. Gara-gara itu, Lanya dan Tommy berinisiatif menambah jatah sarapan sang Patron dengan merelakan masing-masing satu roti, tetapi lelaki itu menolaknya. “Kita hanya bisa menyusup ketika tengah malam hingga dini hari,” San berbisik di sela-sela makan. Ruangan tetap senyap, karena waktu masih menunjukkan hampir pukul tiga pagi. “Selama itu, aku akan mengambilkan penawar virus sampai tas kita penuh.” “Bagaimana dengan kami?” Lanya me

