San tahu apa yang akan terjadi saat penjaga itu menelepon seorang profesor untuk datang bersama ilmuwan-ilmuwan yang lain. Ia yakin sekali, dan dugaannya terbukti jelas ketika ilmuwan senior itu melihatnya dengan mata membelalak. “N-01, anakku!” soraknya tak percaya. Ia menghampiri San dengan semangat menggelora yang menggantikan kantuk. Ia menyentuh perban San dan menarik dagunya. “Aku hapal mata ini, goresan di lehernya... astaga, ya, N-01, bukankah itu kau?” San tak menjawab selain menatapnya datar. “N-01, profesor?” ilmuwan wanita pemilik laboratorium itu mengerutkan dahi. “Apa kau mengenal ... makhluk ini?” “N-01!” ilmuwan bernama Roland itu tersenyum lebar. Tercium bau rokok yang menyengat dari napasnya. “Dia adalah anak tersayangku saat masih bekerja di laboratorium terkutuk itu

