"Makan ya, sayang, aaa...." Aksa tersenyum manis, menyodorkan sesendok cupcake penuh krim ke mulut Adara. Adara membuka mulutnya, lalu membalas senyum laki-laki didepannya dengan kaku. Mereka saat ini berada di kantin, duduk dimeja tengah menjadi pusat perhatian. Adara tidak mengerti apa tujuan Aksa menunjukkan secara terang-terangan hubungan mereka kepada semua orang. Terutama pada orang-orang yang tampak begitu membenci kehadiran Adara. Entah Aksa benar-benar ingin menunjukkan hubungan mereka atau laki-laki itu menginkan pembenci Adara semakin membenci dirinya. Adara merasa ketegangan dalam dirinya ketika harus berpura-pura tersenyum dan bahagia di depan banyak orang. Ia merasa tersiksa. Dalam waktu sekejap, rasa berdebar-debar jatuh Cinta yang ia rasakan dulu berganti dengan d

