19. Sebuah kegelapan

817 Words

"Udah baikkan dek?" Adara mengunyah nasi goreng buatannya, kali ini ia mengernyit. "Baikan? Emangnya aku kenapa?" kakak laki-lakinya, Rasha, duduk dikursi sebelah Adara. Ia tampak rapi dengan kemeja birunya. "Kemarin lo pingsan di kursi taman rumah sakit. Untung Aksa waktu itu juga disana, untung dia liat dan langsung ngantarin lo ke rumah. Astaga, jagain Aji boleh aja dek, tapi jangan lupa kesehatan sendiri." omel Rasha. Adara mengerjapkan matanya beberapa kali. Kursi taman rumah sakit? Ya. Rasanya itu memang tempat terakhirnya sebelum ia bermimpi. Dan mengenai Aksa, laki-laki itu tidak bisa ditemuinya beberapa hari ini dan tiba-tiba ada dirumah sakit? Mendadak Adara merinding, ia tidak tau kenapa membayangkan sosok Aksa, ia teringat mimpi buruk itu. Mimpi yang terasa begitu nyata,

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD