BR#7 Mencoba

1031 Words
Di kediaman Rose..                 Mentari mulai muncul dari tempatnya, meberikan penerangan untuk alam. Rose berjalan ke arah taman mawar mengambil bungan mawar yang masih menyisakan embun pagi di dedaunan. Malam tadi seolah menjadi tamparan bagi Rose untuk mencoba mengingat, tapi semakin dia mencoba mengingat semakin kabur bayang-bayangnya. “Selamat pagi nona..” suara bas terdengar dari arah belakang. Rose tersenyum simpul, “Pagi ken, bagaimana kabarmu?” “Baik, anda sendiri bagaimana?” Ken berjalan menghampiri Rose, memilih untuk bisa sejajar dengan Rose. “Hanya menikmati keindahan pagi sebelum melakukan aktivitas seperti biasa, kemana teman perempuanmu?” “Oh Nancy? Dia sedang ada tugas. Mungkin lusa baru bisa kembali.” “Ken bisa kamu panggilkan Joan, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengannya.” “Tentu saja..” Ken membungkuk dan berjalan ke dalam rumah tua.                 Rose mengambil beberapa tangkai bunga mawar untuk ia gunakan nanti, sebelum Joan datang ia harus bisa menyelesaikan kegiatannya ini. Tidak berseleng lama, Joan datang dengan membawa keranjang anyam. “Nona memanggil saya?” “Iya Joan..”                 Rose berjalan ke arah kursi kayu yang tidak jauh dari hamparan bunga mawar, mendudukan tubuhnya dan meletakan beberapa tangkai bunga di atas meja kayu. “Kamu bisa duduk di sebelahku, ada sesuatu yang harus aku pastikan tentang kamu dan teman-teman kamu.” Rose tersenyum tipis ke arah Joan dan menepuk salah satu tempat di sebelahnya. “Kamu berasa dari pack barat, lebih tepatnya pack vampire elgen?”                 Joan tersentak dan memilih memutuskan kontak mata diantara dia dan Rose, Joan tersenyum, mungkin sekarang waktunya. Tapi, masih banyak yang harus mereka siapkan, terutama mental Rose untuk menghadapi banyak permasalahan dari setiap pack yang ada. “Ya, aku dari pack vampire elgen? Kenapa?” Joan kembali menatap manik hitam legam Rose, sorot mata yang memiliki medan magnet tersendiri, menarik setiap pasang mata untuk terus menatap mata Rose. Sedangkan Rose hanya tersenyum penuh misteri. “Kenapa kamu bisa menjadi pelayan aku? Sedangkan kamu bisa menjadi pemimpin untuk pack kamu sendiri? Apa ini ada hubungannya dengan golden guide?” “Kenapa nonda bisa menyimpulkan seperti itu? Nona tentu tau, siapapun akan menyerahkan dirinya dengan sukarela jia harus ditarik menjadi anggota golden guide. Semua menginginkan posisi itu nona..” jawab Joan dengan suara yang selembut mungkin. “Hm.. tidak usah mengelak Joan.” Gumam Rose dengan lirih.                 Rose menatap kedua mata Joan yang merah, seperti darah, tapi bukan membuat takut tapi menenangkan. Jiwa Rose seolah mengiyakan jika apa yang ia lakukan sudah benar, bukan sesuatu yang selalu dilarang oleh Joe. Mungkin banyak hal yang disembunyikan dan keadaannya yang lupa ingatan membuat semua pergerakan Rose sulit untuk dilakukan, takut apa yang dilakukannya akan membahayakan banyak orang. “Bukannya Golden guide terdiri dari 10 orang, tapi ternyata ada satu orang yang menjadi pengkhianat. Joan.. jangan berpura-pura lagi, jangan membuat aku semakin bingung siapa sebenarnya aku ini? Jangan membiarkan aku hanya bisa mengira tanpa bisa melakukan apa-apa,” kesal Rose dengan raut wajah yang menahan kesal. “Rose, eh maksudku nona.. jangan berfikir seperti itu..” “Jangan sebut aku nona! Kamu bukan pelayan aku Joan! Aku juga bukan majikan kamu! Kamu Joan! Mana sikap kamu hah!” Rose menggeram, menarik kerah kemeja yang dikenakan oleh Joan membuat jarak diantara mereka menjadi tipis. Joan bisa merasakan hembusan nafas Rose yang menerpa wajahnya, harusnya ia bisa mengelak tapi sulit. “Rose... aku.. aku akan mencoba menjelaskannya.”                 Rose mulai mengendorkan cengkramannya di kerah kemeja Joan dan mendorong tubuh Joan dengan kesal, membuat Joan sedikit terhuyung. Sebenarnya, Rose sedikit bingung dengan reaksinya tadi, seolah itu yang biasa ia lakukan, menjadi dominan untuk orang-orang di sekitarnya. Joan menarik nafasnya dan menghembuskannya dengan pelan, “Aku memang dari pack vampire elgen, vampire yang ditunjuk untuk bisa menjadi anggota golden guide, tapi bukan semua yang bisa masuk, hanya orang yang terpilih yang bisa masuk, dan itu ternyata aku. Begitu pula dengan anggota golden guide yang lain Rose, hanya mereka yang terpilih yang bisa menjadi anggora dari kelompok yang selalu digung-agungkan oleh yang lain.” “Nancy? Ken? Marcela? Nich? Ana? Michel? Mahendra? Bagaimana mereka? Dimana mereka sekarang?” Rose langsung menyelak ucapan Joan dengan cepat. Joan terkekeh, masih sama seperti Rose yang dulu, tidak bisa menunggu sebentar saja, “Kita sekarang terpisah, kamu jangan memotong ucapan aku bisa? Banyak yang harus kamu tau sebelum tau kenapa kita sekarang tepisah.                 Rose mendengus namun hanya bisa mengiyakan, ini satu-satunya cara yang bisa ia lakukan, semalaman membaca setiap surat membuat Rose seolah menjadi orang d***u selama ini. “Kamu masih dalam masa pemulihan Rose, kamu baru sadar dari koma kamu 5 bulan yang lalu, wajar kalau kamu gak diizinkan untuk mengingat semuanya, ini demi kebaikan kamu juga, faham?” “Ya.. tapi kan aku ini ketua Joan! Aku kayak orang d***u hanya menerka semua yang ada, aku siapa aja baru bisa aku tau 1 bulan yang lalu, itu aja karena Lucy gak sengaja muncul disaat aku sadar, coba kalau dia gak muncul, mungkin sampai sekarang aku gak tau siapa aku sebenernya.”                 Rose tersenyum miris untuk keadaanya sekarang, seperti orang bodoh dan orang tidak berguna. Banyak nasib pack yang bergantung pada golden guide, terutama Rose, tapi sampai sekarang saja.. anggota golden guide masih menghilang, belum kembali bersatu. Joan mengangkat wajahnya, menatap iris mata yang sekarang menyirakan luka, “kita bisa kembali Rose.. aku percaya kita bisa membuat banyak perubahaan untuk pack yang ada.”                 Joan menarik tubuh Rose untuk masuk ke dalam pelukannya, memberikan pelukan semangat, pelukan yang sama dengan beberapa tahun yang lalu. Rose tersentak saat Joan menarik tubuhnya tanpa permisi, membuat wajahnya memanas menahan malu. “Kita pasti bisa Rose..” bisik Joan tepat di samping telinga Rose mmabuat bulu roma Rose langsung berdiri. Rose mendorong tubuh Joan, memberikan jarak yang nyata untuk mereka, dan menyilangkan kedua lengannya di depan d**a, menatap kesal ke arah Joan yang sudah seenak jidat menariknya. “Ais.. kamu.. bukan berarti kamu bisa seenak jidat menarik aku seperti tadi Joan!” geram Rose. “Itu yang biasa aku lakukan dengan golden guide, memberikan pelukan penyemangat? Memangnya salah?” tanya Joan dengan tenang tanpa rasa bersalah sama sekali. “Terserah, terserah.. aku mau istirahat! Bawakan bunga mawar itu ke ruangan seperti biasa!” Rose langsung berdiri dan melangkah menjauh dari Joan sembari menghentakan kaki kesal. “Bisa-bisanya dia melakukan itu tadi! Ais.. dasar menyebalkan! Sangat menyebalkan!” gerutu Rose sepanjang perjalanan.                 Joan tersenyum tipis, mengambil mawar yang sudah Rose kumpulkan, meletakannya dalam keranjang yang sengaja ia bawa. Kebiasaan Rose masih sama, memetik bunga mawar saat dalam kondisi membingungkan seperti tadi dan kemarin malam. “Rose... Rose.. kamu masih aja sama. Apa kamu juga masih mengingat perkataanku dulu? Semoga tidak.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD