“Sudah mendingan kok, kamu bagaimana? Pasti perjalanan melelahkan, berapa lama kamu kemari?”
“Lumayan melelahkan, dan yang memelahkan harus berusaha bertelepati ke ruangan yang sudah diberi mantra ini.” Nancy tersenyum ke arah Nich yang mengelus rambutnya yang terurai.
“Nancy gimana kalau kamu istirahat dulu dan ganti baju, nanti kita obrolin lagi.” Selak Marcela.
Nancy mengangguk ke arah Marcela dan mengikuti langkah Marcela ke arah pondok kayu. Merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang terbuat dari bulu-bulu hewan. Menatap ke arah atap-atap langit, 3 tahun lebih mereka terpisah, masih banyak anggota golden guide yang belum ditemukan.
“Kenapa belum tidur?” tiba-tiba Nich sudah ada di sampingnya membuat Nancy menggeser tubuhnya untuk memberikan ruang untuk Nich.
“Kita udah kepisah 3 tahun Nich, apa perasaan kamu berubah sama aku?” Nancy menatap mata biru Nich.
“Gak pernah sekalipun aku berubah perasaannya sama kamu, aku hanyut hampir 1 tahun lebih, terdampar berkali-kali di pulau, tapi yang aku tau hutan terlarang dan satu tempat yang aku gak tau sampai sekarang, tempat yang gak bisa di jamah sama kelompok pengkhianat itu.”
“Selama itu kamu sama Marcela kan?”
“Aku ketemu Marcela di sini, dia udah lebih dulu di sini, dan dia takut ketauan makanya masih sembunyi di sini. Aku di sini baru 4 kali bulan purnama, dan itu pun aku habiskan untuk membersihkan luka dan memulihkan kondisi. Selama 2 taun lebih aku harus terdampar di pulau dan pack yang sekarang mungkin sedang mengalami kondisi buruk.”
“Istirahat sekarang Nancy..” Nich membelai wajah Nancy dengan pelan sembari menarik tubuhnya mendekar ke arahnya.
Di lain tempat Marcela melangkah menjauh dari tempat Nich dan Nancy tempati, memilih menuju sumber air yang dekat dengan rumah kayu. Mengambil beberapa buah-buahan yang ada di sana, dan mencelupkan kakinya ke dalam aliran air.
“Kenapa sakit ya?” gumamnya yang menatap bayangan tubuhnya sendiri.
“Huft.. apa sih yang aku fikirkan, Nancy memang sama Nich!”
4 bulan yang lalu saat Marcela berjalan ke arah tepi sungai pembatas hutan terlarang, dia menemukan tubuh Nich terdampar dengan mengenaskan. Tanpa fikir panjang, Marcela langsung membopong tubuh Nich ke rumah kayu buatannya. Selama ini dia bersembunyi dari yang lain, takut jika dia keluar kelompok pengkhianat itu akan menemukan keberadaannya, karena satu-satunya tempat yang aman adalah ini.
Mentari mulai menunjukan dirinya dari arah timur, membuat pepohonan terkena sinar mentarinya. Marcela perempuan dengan rambut putih berjalan menyusuri jalan setapak ke arah tepi pantai, sekedar mengenyahkan rasa bosannya.
“Kapan aku bisa bebas dari sini ya? Tapi aku takut...” gumam Marcela.
Marcela, perempuan terpilih dari suku Nymph, suku yang memiliki kelebihan untuk membaur, menyiptakan ilusi tapi mereka tidak bisa melakukannya seorang diri harus ada yang membantu mereka setidaknya 3-5 orang, dan buku yang berada di tetua suku Nymph menjadi incara dari pasukan pengkhanat. Marcela sendiri adalah sosok yang pemalu dan penakut, tetapi anehnya dia terpilih untuk masuk di kelompok golden guide, kelompok yang berjuang untuk membuat keadilan untuk setiap pack yang ada.
“Ais.. kenapa aku bisa terpilih coba? Kayaknya tetua salah memilih orang, aku ini penakut dan juga pemalu, berbanding terbalik dengan anggota golden guide yang lain huft..”
Langkah Marcela terhenti di sebuah pohon yang terdapat seseorang yang tergeletak dengan baju yang masih basah kuyup. Sebenarnya dia takut jika itu bagian dari orang yang menyelundup, tapi jika itu orang dari pack yang harus ia lindungi bagaimana?
“Berani Marcela.... berani..” ucap Marcela seperi sebuah mantra untuk dirinya.
Marcela mengambil sepotong kayu yang tidka jauh dari dirinya dan orang yang tergeletak membelakanginya, menusuk-nusuk kayu tersebut ke badan orang tersebut sampai orang tersebut membalikan badannya.
“Nich.. oh ya ampun..”
Marcela langsung buru-buru mengangkat tubuh Nich ke arah rumah kayu yang berada di tengah hutan terlarang, meskipun Nich adalah lelaki tapi suku Nymph mampu untuk mengangkat beban yang lebih berat 2 kali lipat dari badannya.
“Ya ampun Nich, kenapa kamu bisa sampai di sini?”
Marcela meletakan tubuh Nich di atas kayu di rumah kayunya, mengambil beberapa helai kain untuk membungkus tubuh jelemaan burung Pionix. Harusnya Nich sudah mati, karena bagaimana pun tubuh burung pionix sulit untuk bisa menerima air dengan kadar yang berlebih, apalagi ini, tubuh Nich sudah basah kuyup.
“Engh..” mata Nich perlahan mulai terbuka menampilkan mata biru yang menghanyutkan siapapun.
“Dingin.. dingin..” lirih Nich yang membuat Marcela tanpa sadar memeluk tubuh Nich yang menggigil kedinginan.
“Nich kamu berapa lama hanyut?” gumam Marcela.
Beberapa jam berlalu, Nich dan Marcela masih berada di posisi yang sama, keduanya sudah hanyut dalam arus mimpi. Marcela membuka matanya yang menampilkan wajah damai Nich, tanpa sadar kedua sudut bibirnya terangkat, menampilkan bulan sabit di wajah Marcela.
Perlahan Marcela melepaskan pelukannya dan mulai menyiapkan makan untuk mereka berdua, sup ikan akan menjadi makanan yang pas untuk menghangatkan tubuh Nich yang kedinginan.
“Siang Marcela..” Nich menyapa dengan wajah yang lebih baik dari sebelumnya.
“Siang Nich, bagaimana keadaan kamu? Masih kedinginan? Aku sudah buatkan sup hangat.”
Maecela meletakan sup ikan yang masih mengepulkan asapnya di depan Nich. Mengambil mangkuk kosong untuk mereka berdua. Nich mengambil tempat duduk di hadapan Marcela, menatap lapar ke arah sup ikan yang sudah dibuat oleh Marcela.
“Makasih Marcela.”
“Sama-sama, ini gak pedes kok.” Marcela tersenyum tipis.
Mereka memakan makanan mereka dalam diam, tanpa ada niatan untuk memulai percakapan. Nich meletakan mangkuk kosongnya dan membereskan bekas makan mereka.
“Di letakan dimana ini?” Nich mengangkat mangkuk bekasnya.
“Oh di atas meja samping tungku, nanti aku ambil air dulu buat membilas mangkuk kotornya.”
“Jadi Nich gimana kamu bisa sampai sini?” tanya Marcela saat Nich sudah mengambil tempat duduk di depannya.
“Em.. itu..” Nich menggaruk pundaknya yang tak gatal, bingung mau menjelaskan darimana.
“Jadi.. sebenernya aku udah beberapa kali terdampar dan mencoba untuk menolong beberapa pack yang menolong aku, tapi kondisi aku tidak memungkinkan untuk menolong mereka lebih lama, jadi aku memutuskan untuk berlayar menyusuri sungai yang pasti akan bermuara di laut dekat hutan terlarang. Dan ternyata kamu sudah lebih dulu ada di sini.”
“Kayak gitu ternyata, kamu keren bisa bertahan saat berlayar, bukannya kamu gak bisa bertahan sama air yang terlalu banyak, jadi kenapa kamu bisa bertahan?”
Nich menghela nafas sebelum mengubah wujudnya menjadi burung pionix menunjukan beberapa luka di bagian sayap dan tubuh burung pionixnya.
“Aku bisa bertahan tapi burung pionixnya yang harus siap mendapatkan luka sebanyak ini.”