BR#9 Masalah Nich

1004 Words
“Jadi kita berangkat saat tengah malam?” tanya Marcela memastikan sekali lagi yang diangguki oleh Nancy dengan semangat. “Kita masih harus mencari 3 anggota yang lain dan yang terpenting mengembalikan ingatan Rose, kunci utama pergerakan kita adalah ingatan Rose.” “Hm.. ya sudah kita perlu bersiap, tapi keadaan Nich bagaimana? Emang dia udah sanggup untuk berangkat pergi bersama kita nanti?” Nancy mengalihkan pandangannya ke arah Nich yang sedang merubah wujudnya menjadi burung pionix dengan bulu yang bewarna biru dan merah yang berkilau, terutama saat terkena terpaan sinar mentari seperti sekarang. Nich mengepakkan sayapnya dan mulai mencoba untuk terbang dengan ketinggian yang rendah, masih terlalu berbahaya untuk keluar dari hutan terlarang. “Dia akan baik-baik saja, aku akan mencoba untuk mengobati luka-luka yang masih ada, jadi kita bisa benar-benar berangkat nanti malam.” Jelas Nancy yang diangguki oleh Marcela. “Oke.. aku persiapkan bekal kita nanti malam, kamu mau bantu atau ada yang lain?” “Kayaknya mau nyari tanaman obat buat Nich, kasian lukanya masih ada yang belum tertutup dengan sempurna.”                 Marcela mengangguk dan melangkah pergi ke dalam rumah, menyiapkan perlengkapan untuk nanti mereka berangkat. Tapi tidak bisa dipungkiri ada rasa tidak rela melihat keberadaan Nancy di sini, terutama fokus Nich yang sudah tertuju pada Nancy, Nancy dan Nancy. “Kamu kenapa?” Nich tiba-tiba sudah berada di depan Marcela, mengambil alih beberapa makanan yang akan mereka bawa nanti. “Hah? Aku emang kenapa?” ucap Marcela dengan nada yang dibuat santai, tapi kenyataanya suaranya menjadi aneh. “Ya belakangan ini kamu keliatan kayak gak fokus, ditanya apa jawab apa.” Nich tersenyum tipis ke arah Marcela. “Gak kenapa-napa kok, mungkin agak cape beberapa hari ini. Kan awalnya kita mau berangkat lusa, makanya aku coba bikin rakit buat kita sama perlengkapannya juga.”                 Nich mengangguk dan mulai mencari topik untuk perbincangan mereka, tanpa sadar ada perasaan  nyaman yang mulai hadir diantara mereka, tapi mungkin hanya sebatas teman tidak lebih. “Cel, kamu kalau ketawa lucu kayak kelelawar kebalik.” Selak Nich saat Marcel tertawa dengan guyonan receh mereka. “Dih... dih... apaan kek kelelawar, nanti mirip Joan sama Ken dong. Aku itu lucunya kayak peri-peri yang rambutnya putih dan pakai mahkota kecil..” seru Nich dengan semangat Tanpa sadar makanan yang berada di lengan Marcela terlempar membuat Nich dengan reflek menarik tubuh Marcela kedalam dekapannya. Marcela langsung sigap melingkarkan lengannya di bahu Nich membuat mereka berpelukan, tatapan mereka beradu, dan nafas Nich terasa jelas berembus di depan wajah Marcela. Prak...                 Sebuah keranjang terjatuh di depan pintu, membuat mereka dengan reflek memisahkan diri. Nich langsung menatap ke arah pintu yang sekarang hanya terdapat keranjang yang dibawa Nancy tadi, panik itu yang sekarang dirasakan oleh Nich. Pasti sekarang Nancy berfikir aneh-aneh dan itu jelas-jelas kesalahannya. Tanpa banyak bicara Nich langsung keluar menyisakan Marcela yang tersenyum miris, hanya sesaat perasaannya berada di awan tadi.                 Di tempat lain, Nancy langsung berlari tidak tentu arah di dalam hutan, ternyata perasaan itu sudah mulai pudar. Jelas! 3 tahun mereka berpisah dan beberapa bulan Nich dan Marcela bersama, tentu ada perasaan! Bodoh! Masih mengharapkan lelaki itu! “Harusnya bukan aku yang ke sini!” lirih Nancy yang sekarang terduduk di salah satu pohon besar.                 Nancy menyenderkan tubuhnya ke pohon besar, dedaunan pohon itu seolah mendukung dengan menutup rapat celah, kekuatan baru yang tanpa sadar muncul dari tubuh Nancy. “Ini perasaan aja atau..” salah satu dahan pohon menyentuh pundak Nancy membuat Nancy sedikit memberikan jarak, menatap dahan-dahan yang seolah ingin memeluknya. “Stop!” jerit tertahan Nancy. “Aku bilang stop ya stop!” lagi, Nancy menjerit saat dahan itu masih mencoba menyentuhnya.                 Kali ini berhasil, dahan-dahan itu mulai behenti dan kembali pada tempatnya semula membuat Nancy menghela nafas. Ada yang aneh, apa karena perasaannya atau karena mereka tau apa yang sekarang ia rasakan? Sudahlah.. ia harus tetap menenangkan diri sebelum salah mengambil langkah jika tetap memasakan diri dalam keadaan emosi. “Kalian tau ya apa yang aku rasakan? Kalau ini karena kekuatanku, wow sekali bukan..” Nancy mulai berceloteh, setidaknya ada tempat untuk mengelurkan keluh kesalnya sekarang, biasanya Rose tapi itu dulu sebelum kejadian naas itu terjadi. “Kalian tau, sekarang kita ada di keadaan genting yang entah kapan bisa berakhir, kadang aku menyesal bisa masuk ke golden guide, berpisah dengan pack dan harus menanggung banyak permasalahan yang entah kapan akan berakhir.”                 Nancy menghela nafas menarik salah satu dahan yang mencoba memeluknya, menggenggamnya seolah itu ada jemari. “Aku rindu saat bisa bercada tawa dengan bebas tanpa peduli bagaimana esok akan terjadi, tapi itu akan sulit dan aku harus menerima tetapan moonlight...” Nancy tersenyum, lebih tepatnya tersenyum miris untuk keadaannya, “Hal yang membuat aku bersemangat di golden guide adalah dia, laki-laki yang berbeda dari packku, pack penyihir, emang itu seekor burung tapi itu tapi itu bukan wujud aslinya, mungkin selingan dari rasa  bosen dengan wujudnya seperti manusia.” “Sepertinya dia mulai mendapatkan pengganti, sebenernya aku tau Marcela menyimpan perasaan ke Nich sebelum kejadian itu, tapi sayangnya aku sama Nich sudah ada hubungan jauh sebelum dia punya perasaan, dan sekarang? Udah berapa bulan mereka bareng dan entah apa aja yang udah mereka lakukan selama ini, gak ada yang tau kan?! “Beberapa kali aku udah ngungkit apa dia ada perasaan atau engga sama Nich, ternyata dia terlalu naif untuk mengakuinya. Kalau dia bilang mungkin...” “Mungkin apa?”                 Sebuah suara mengintrupsi ucapan Nancy membuat Nancy mau tidak mau mendongkak untuk melihat sosok Nich yang sekarang ada di hadapannya. “Kamu salah sangka Nancy.. aku sama Micela..” “Udah Nich aku cape kalau misalnya harus ada di situasi kayak gini, jadi lebih baik kita saling rehat sejenak.” Nancy memilih untuk berdiri dan melangkah menjauh dari Nich, masih untuk memberikan waktu untuk berfikir jernih sebelum nanti mereka bertiga harus berangkat tengah malam. Nich langsung menahan lengan Nancy dan menariknya dalam dekapan, sedangkan Nancy langsung memberontakan dalam dekakapan Nich membuat Nich harus mengeratkan pelukan mereka. “Nich.. lepasih heh! Lepas gak!” teriak Nancy dengan keras. “ Gak akan aku lepas sebelum kamu denger dulu penjelasan aku.” Desis Nich tak mau kalah. Nich menyerah, memberontakan hanya akan menghabiskan tenaganya, “apa yang bakal kamu jelasin hm?” “Tadi itu ada kecelakaan, makanan Marcela jatuh dan dia hampir jatuh kalau aku gak menariknya, dan Marcela reflek mengalungkan lengannya, jadi.. maaf” Nich mensejajarkan wajahnya menatap manik mata Nancy yang selalu bisa membuatnya damai dan nyaman.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD