BR#10 Seorang Nancy

1018 Words
“Hm... ya Nich, sekarang bisa kamu lepasin? Aku gak bisa nafas....” Nancy masih mencoba melepas dekapan Nich yang terlalu erat, lama-lama dia bisa mati dengan keadaan bodoh karena kehabisan nafas. “Eh.. hehe, maaf sayang..” Nich melonggarkan pelukannya tapi tidak melepaskannya.                 Nich mengambil salah satu lengan Nancy menautkan lengan mereka, selalu terasa pas saat jemari mereka bertautan seperti ini. Nich menatap tautan mereka dan mengangkatnya dengan tinggi seolah ingin berkata dia adalah laki-laki yang beruntung mendapatkan wanita seperti Nancy. “Kita harus bersiap atau kamu mau beristirahat di sini?”tanya Nich dengan suara lembutnya. “Aku istirahat di sini aja Nich, eh.. aku punya kekuatan baru..” seru Nancy dengan semangat.                 Nancy mulai memfokuskan dirinya dan menatap jajaran pepohonan yang mulai berayun mengikuti ucapan yang keluar dari mulutnya. “Bantu aku melepaskan diri..” perlahan dahan-dahan yang semula berada di atas mereka mulai merambat ke tubuh Nich mengangkat tubuh Nich untuk memisahkan dirinya dengan Nancy. “Liat? Ternyata ini bakat yang selama ini aku cari, harusnya aku datang lebih awal ke tempat ini.”                 Nancy berjalan ke arah Nich yang menatap ke arahnya dengan pandangan tak percaya, bayangkan selama berbelas tahun Nancy mencari kekuatan yang katanya akan sangat membantu, dan hari ini Nich menyaksikan langsung kekuatan yang selama ini bersembunyi dalam diri Nancy. “Luar biasa..” Nich langsung mengangkat tubuh Nancy ke udara membawa tubuhnya berputar-putar dalam pelukan Nich. “Nich.. aku pusing.. hei... pusing..” gerutu Nancy dengan kesal.                 Nich langsung menghentikannya, menurunkan tubuh Nancy dan membawanya dalam dekapan, kepala Nich diletakan di atas kepala Nancy dengan senyum yang enggan untuk surut. “Kamu mau istirahatkan? Mau aku buatkan tempatnya atau gimana?” “Aku bikin dari pepohonan di sini aja, kamu sendiri mau gimana?” “Aku juga di sini, gak usah peduliin aku, aku bisa sendiri kok.” “Apaan sih, aku bisa bikin buat kita, so banget sih!” gerutu Nancy yang mendelikan matanya.                 Nancy mulai memfokuskan dirinya dengan pepohonan yang ada di sekitarnya, membuat pepohonan mulai berayun mengikuti ucapan Nancy. Perlahan dahan-dahan dari pohon mulai menyatukan dirinya, membuat sebuah ayunan untuk Nich dan Nancy tempati. “Tuh udah jadi, lumayan kan buat kita?” Nancy langsung berjalan ke arah dahan yang terlihat kokoh, merebahkan dirinya dan mulai memejamkan mata, mulai menyelam ke dalam lautan mimpi.                 Nich hanya bisa menggelengkan kepala, kebiasaan Nancy yang suka bodo amat dengan keadaan membuat Nich hanya bisa gemas sendiri melihatnya, dan lagi ayunan yang sudah dibuat tadi gak bisa disebut kecil, itu malahan seukuran dengan ranjang yang biasa ada kerajaan pack-pack, sangat besar untuk mereka berdua. Lagi dan lagi Nich hanya bisa terpesona dan mulai berjalan kearah Nancy, memeluk tubuh Nancy dari belakang, menyusul Nancy ke alam mimpi.                 Di lain tempat Marcela merapihkan kekeacauan yang sempat terjadi tadi, menghela nafas untuk mengenyahkan perasaan yang sudah seharusnya tidak ada saat ini. Marcela membawa makanan yang akan menjadi pembekalan mereka ke dalam kain yang sudah ia siapkan, tersenyum miris untuk keadaan dirinya, sudahlah.. lupakan! “Fokus untuk golden guide Cela! Fokus!!” geram Marcela pada dirinya.                 Marcela menghirup udara sebanyak-banyaknya dan mengembuskannya dengan perlahan, menatap kembali perbekalan mereka sebelum melangkah ke arah kamar yang selama ini ia tempati. Ia harus menyendiri sebelum bertindak konyol untuk keadaan genting ini, bagaimanapun Nancy sudah berjasa untuk dirinya, jadi jangan pernah untuk bersikap egois! Jangan! “Ingat Cela, selama ini yang mau menjadi partnermu untuk tugas hanya Nancy, sedangkan yang lain akan fokus dengan dirinya, jadi... jangan membuat kekacauan!” gumam Marcela pada dirinya sebelum ia memejamkan mata dan menyelami alam mimpinya.                 Mentari mulai meninggalkan peraduannya, menyisakan cahaya yang lembut yang muncul di celah-celah dedaunan. Nancy membuka matanya dan menatap kesekelilingnya, suara serangga malam mulai terdengar saling bersahutan, sedangkan mentari menemani mereka yang sedang bersiap menyiapkan kedatangan malam. “Nich bangun, bentar lagi malam, kita harus pergi ke rumah kayu untuk bersiap.”                 Nancy menggerakan lengan Nich yang berada di perutnya, mencoba untuk membangunkan lelaki jelemaan burung pionix, tapi siapa yang bisa membangunkan burung pionix ini jika tidur? Hanya alam bawah sadar mereka membuat Nancy harus berfikir keras apa yang harus ia lakukan sekarang. “Nich bangun!!” Teriak Nancy tepat di telinga Nich membuat Nich yang sedang tertidur langsung terusik dan perlahan membuka matanya. “Masih jam berapa Nancy? Tidur lagi aja..” jawab Nich dengan suara yang tidak jelas. Nancy menghela nafas panjang, “Ya udah, itu kamu kan! Aku mau duluan!”                 Buru-buru Nancy mengangkat lengan Nich yang masih bertengger manis di perutnya, bangkit dari tidurnya dan berjalan menuju rumah kayu tanpa Nich. “Kebiasaan gak pernah sabar..” Nich tau-tau sudah ada di samping Nancy sembari menautkan jemari mereka selama perjalanan. “Bukan gak sabaran Nich! Burung pionix gak tau diri! Gak tau diuntung ya! Kita masih harus nyiapain beberapa perlengkapan dan luka kamu masih harus di tutupin! Jadi jangan berleha-leha di keadaan kayak gini” tegas Nancy tanpa mau dibantah. “Emang kamu udah nyari obat buat aku?” ucap Nich dengan seringai di wajahnya. Nancy langsung mendelikan matanya, melepaskan tautan lengan mereka, “jangan so aku perhatian sama kamu, ini demi golden guide!” “Kalau masalah obat, tinggal nyari dedaunan yang biasa dipakai buat nutup luka, gampang kan?” “Iya iya gampang.” Di rumah kayu...                 Marcela perlahan membuka matanya, tapi yang dia rasakan hanyalah sengatan perih di kepalanya, dan barang-barang di depannya seolah bergerak dan memiliki bayang-bayang. “Aw... sakit..” “Marcela kamu gak papa?” sepasang tangan sekarang sudah menangkap badan Marcela yang terhuyung saat berdiri. “Badan kamu gak panas kok, kamu pusing? Mau aku buatin teh? Atau apa?” Marcela menggeleng, “Gak papa kok Nancy, aku cuman pusing doang, paling di istirahatin juga bisa bikin sembuh kok.” “Gak.. kamu itu orangnya gak bisa cuman diistirahatin harus ada yang masuk, aku buatin teh herbal dulu. Jangan tidur.” “Ais.. Nancy... Nancy, masih aja kamu peduli.”                 Tidak berselang lama, Nancy datang dengan membawa secangkir teh yang masih mengepulkan asap tipis, bau rempah tercium semerbak di dalam ruangan. Perlahan Nancy mengankat tubuh Marcela untuk bisa duduk tegap, menyusun beberapa bantal sebagai penyangganya. “Minum dulu udah itu kamu istirahat, aku keluar dulu buat siap-siap.” “Makasih Nancy..” lirih Marcela yang diangguki oleh Nancy. “Istirahat ya..” ucap Nancy sebelum melangkah keluar dari kamar Marcela. “Heh burung pionix! Sana tutupin lukanya sama tumbukan dedaunan yang udah aku buat, bukan malah ke sini, dasar gila!!” seru Nancy saat melihat Nich yang sedang berjalan ke arahnya. “Marah-marah mulu aja, untung sayang.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD