Pagi Amara disambut dengan keributan dua kakaknya yang entah sedang melakukan apa. Dapur apartemennya begitu berisik dengan obrolan mereka berdua, hingga membuat Amara terganggu.
Amara bangun dari tidur nyaman nya, mendudukkan diri sebentar sebelum ia beranjak dari kasur yang selalu membuatnya nyaman. Setelah dirasa cukup barulah ia beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
"Baru bangun, Dek?" tanya Angga begitu melihat adik bungsunya turun.
"Pada berisik banget sih? Lagi ngapain?"
Tanpa menjawab pertanyaan dari sang kakak, Amara justru balik bertanya saat melihat kedua kakaknya berada di dapur. Entah apa yang baru saja mereka berdua lakukan sehingga membuat dapur minimalis Amara terlihat sedikit berantakan.
"Lagi eksperimen aja bikin sesuatu yang wow!" jawan Bima santai.
"Ini apaan? Kayaknya enak deh."
Amara melihat satu hidangan yang cukup menarik yang baru saja di tata oleh Bima. Kakaknya yang satu itu memang paling ahli dalam masak memasak, karena saat sekolah menengah atas Bima justru mengambil jurusan tata boga. Hobinya makan, dan ia suka berkreasi di dapur. Namun, saat memasuki Perguruan tinggi Bima dengan sadar memilih manajemen bisnis untuk membantu Kemal nantinya. Bagaimanapun orang tua angkatnya mempunyai perusahaan besar, dan ia wajib membantu. Walaupun mereka tidak pernah memaksa Bima untuk menekuni dunia bisnis seperti Kemal. Bima hanya merasa perlu sedikit balas budi pada keluarga berhati mulia itu.
"Ini namanya asakan atau angeun lada dan masih banyak lagi namanya. Cobain deh rasanya sedap!" promosi Bima.
"Enak, rempahnya berasa banget."
Kuah merah dengan rasa rempah yang melimpah membuat perut begitu meronta meminta diisi. Amara dengan semangat menyendok nasi, menyiramnya dengan kuah dan isi dari angeun lada itu. Bahan yang digunakan adalah jeroan kerbau yang Bima bawa dari Indonesia. Begitupun dengan bumbu yang sudah ia buat sebelumya.
Bima memang sudah menyiapkan itu semua untuk makan bersama Amara. Memberikan sedikit hiburan untuk adik angkatnya itu, dan tidak menyangka ada Angga di sana. Sampai detik ini hanya Bima dan Kemal yang mengetahui perbuatan Amara, sehingga Bima seperti memiliki tugas untuk menghibur Amara, karena tidak mungkin Kemal yang melakukan itu semua.
"Makan yang banyak, Dek. Ini Kakak buatnya spesial loh," ucap Bima.
"Selow, aku pasti makan banyak."
"Lupakan timbangan, hidup melar!"
Dengan semangat Angga memprovokasi Amara untuk makan dengan banyak. Menurutnya tubuh sang adik terlalu kurus dan tidak bagus jika di lihat. Karena menurut Angga adiknya itu menjaga pola makam demi menjaga timbangannya agar tidak selalu bergerak ke arah kanan.
Cuaca yang cukup dingin membuat masakan yang dibuat oleh Bima mampu menghangatkan tubuh, karena masakan itu memang harus dimakan dalam keadaan panas, jika dalam keadaan dingin maka akan membentuk seperti kristal hasil dari lemak, dan juga akan membuat mual jika dimakan dalam keadaan dingin.
Amara mengacungkan kedua jempolnya mengapresiasi masakan Bima yang memang tidak pernah gagal. Bahkan gadis itu kembali menyendok nasi karena merasa kurang. Perpaduan banyaknya rempah khas Indonesia membuat lidahnya tidak mau berhenti.
"Ini Mara kekenyangan gimana ceritanya?" keluh Amara yang merasakan perutnya penuh setelah menghabiskan dua piring nasi porsi sedang dengan dua mangkuk sayur lada.
"Makannya gak bismillah sih, mangkanya sampe kaya orang kelaparan."
Melihat bagaimana adiknya makan begitu lahap membuat Angga heran. Amara seperti orang kelaparan saat makan tadi, membuatnya dan Bima menggelengkan pelan kepala.
"Enak aja, yang mimpin doa siapa?" balas Amara dengan pertanyaan.
"Kuliah gak hari ini?" tanya Bima pada Amara.
"Ada kelas jam sepuluh nanti."
"Kirain gak ada kelas, mau Kakak ajak jalan-jalan nanti siang."
"Kakak emang ada acara apa kesini?" tanya Amara pada keduanya.
"Kakak ada pertemuan jam sepuluh juga," jawab Bima yang memang mendapatkan tugas dari Kemal.
"Kakak juga sama, tapi abis makan siang."
"Berangkat bareng aja," saran Bima.
"Gue aja yang nganterin," sela Angga.
"Mara bisa sendiri kali. Ntar yang ada heboh kalo di anterin Kakak."
Tidak jauh berbeda seperti Indonesia, teman-temannya di sini pun sama selalu kalap saat melihat wajah tampan Angga maupun Bima.
Kedua kakaknya itu akhirnya mengalah, membiarkan Amara pergi seorang diri menuju kampusnya. Setelah sarapan pagi dengan menu berat yang membuat perut terasa penuh, mereka bersiap untuk melakukan kegiatannya masing-masing.
Mereka keluar secara bersamaan dari unit milik Amara. Berjalan saling bersisian dengan Amara yang berada di tengah layaknya seorang putri raja dengan dua pengawal tampannya. Memberikan sapaan pada security yang berada di lobby. Sifat ceria, ramah dan baik hati Amara yang selalu ia tunjukkan pada semua orang membuatnya mudah dikenal, terutama di lingkungan apartemennya.
Mereka berpisah di lobby apartemen, Angga dan Bima masuk ke dalam mobilnya masing-masing. Sedangkan Amara meneruskan langkahnya menuju kampus yang memang hanya berjarak 500 meter dari tempat tinggalnya. Amara lebih suka berjalan kaki dibandingkan ia harus menggunakan mobil yang sudah disiapkan oleh kakaknya.
Dalam ramainya jalan yang ia lewati menuju kampus, Amara lagi dan lagi melihat bayangan laki-laki seperti Getta, berjalan menuju sebuah kantor yang berada si seberang kampusnya. Laki-laki yang berjalan di antara pejalan kaki lainnya dengan menggunakan pakaian rapi membawa tas laptop. Jika di Indonesia wajahnya mungkin akan terlihat jelas karena postur tinggi besarnya. Namun, di negara itu semua hampir sama.
Amara hanya menghela napas pelan untuk menghilangkan halusinasinya. Tersenyum pahit akan rasa rindu yang tak berujung dan entah kapan akan tersampaikan. Siksaan batin yang sesungguhnya sedang Amara rasakan atas rasa rindu itu. Kali ini Amara membenarkan perkataan ibu-ibu yang sering di taman komplek rumahnya, jika diet tercepat untuk seorang wanita adalah tekanan batin, bukan dengan cara mengurangi porsi makan ataupun berolahraga yang teratur. Cukup dengan memiliki masalah yang membuat batin merana, maka berat badan akan menyusut drastis, bahkan cenderung kurus.
Hal itu yang selama tiga tahun terakhir Amara rasakan. Tekanan batin dari rasa rindu dan bersalah membuat tubuhnya tidak memiliki perkembangan apapun. Walaupun ia rajin berolahraga dan makan cukup banyak. Sedahsyat itu memang akibat dari rasa yang selalu menyesakkan d**a.
"Fokus, Amara. Satu tahun lagi," ujarnya menyemangati diri.
Gadis cantik itu meneruskan langkah dengan santai. Headphone yang sedari tadi menggantung di leher kini ia naikkan menuju telinga. Mendengarkan lagu dari grup band Indonesia yang berjudul Kisah milik Second Civil. Lagu yang seolah begitu menggambarkan keadaannya yang sekarang semua hanya menjadi sebuah kisah.
***
Sudah satu bulan terakhir bayangan Amara hadir dalam keseharian Getta. Bahkan tadi malam ia bermimpi pergi berlibur bersama sang mantan kekasih ke sebuah taman bermain dengan bahagianya.
Getta jadi ingat perkataan selirnya jika bermimpi bertemu bahkan sampai bermain bersama mantan, itu tandanya sang mantan sedang merindukannya. Bahkan yang lebih parah sang mantan masih mencintai dan berharap kembali padanya, dan hal itu membuat Getta tersenyum miring, mengingat bagaimana Amara begitu mencintai Kemal. Amara bahkan merencanakan sesuatu untuk menghancurkan pernikahan Kemal dan Amira yang notabene saudara kembarnya sendiri.
"Selir gue lagi ngapain ya?" tanya Getta yang kini merindukan selirnya.
Getta masih bisa bebas chatting bahkan bertelpon ria dengan selirnya yang bernama Oncom. Sedangkan dengan Gita, wanita yang ia cintai sudah tidak bisa melakukan itu semua, karena Gita benar-benar membatasi komunikasi mereka dengan alasan menjaga perasaan suaminya. Hal yang membuat Getta dan lima Anak Onta lainnya kesal bukan main. Padahal mereka sudah meminta izin pada Hanif untuk tetap berkomunikasi dengan wanitanya itu, tapi Gita tetap tidak mau.
Gita hanya mengizinkan mereka mengirim pesan pada sebuah email, karena dengan pesan itu maka Hanif mengetahui jenis percakapan mereka. Gita menyingkronkan emailnya dengan email Hanif. Bukan Hanif yang pencemburu, hanya saja Gita yang terlalu pengertian dan begitu menjaga perasaan suaminya itu. Tanpa pernah ia menjaga perasaan keenam Anak Onta yang sampai detik ini masih berharap bahwa pernikahan yang Gita lakukan, walaupun sudah empat tahun lamanya hanyalah sebuah mimpi buruk mereka.
Mengeluarkan benda pipih yang sedari tadi berada di dalam kantong celananya untuk menelepon Oncom. Berjalan menuju jendela dan melakukan percakapan via jaringan di sana adalah hal favorit bagi Getta, karena ia bisa melihat aktivitas di luar sana.
"Assalamu'alaikum Selirnya, Abang. Udah bangun belum?" tanyanya dengan lembut yang diiringi senyum karena membayangkan wajah Oncom.
"Waalaikumsalam. Masih di alam mimpi," jawab Oncom dengan nada khas bangun tidur.
Padahal di tanah air saat ini pasti sudah hampir pukul sembilan lewat, tapi selirnya itu belum bangun di jam sesiang ini. Getta hanya menggelengkan kepala membayangkan itu, karena pasti Oncom bergadang tadi malam entah dalam kegiatan apa.
"Udah siang loh. Kenapa begadang sih?"
"Nonton bola. Oncom masih ngantuk tolong," keluh Oncom membuat Getta semakin terkekeh.
"Padahal Abang kangen loh. Oncom jahat ih."
Mereka memang memutuskan untuk membahasakan Abang pada Oncom, karena Oncom juga berkata lebih nyaman dan lebih merasa disayang oleh para Anak Onta dengan sebutan itu.
"Ya udah tidur lagi. Nanti malem Abang telepon ya. Awas kalau gak diangkat."
Tidak lagi terdengar balasan dari Oncom. Getta tahu pasti selirnya itu sudah kembali terlelap, Getta memutuskan panggilannya. Menarik napas terlebih dahulu sebelum ia kembali memulai aktivitas dengan tumpukan dokumen yang sudah disiapkan oleh asistennya. Getta kembali menarik napas saat handphonenya berdering dan tertera nama seseorang yang selalu membuatnya kesal.