Kakak Posesif

1223 Words
Amara bergegas menuju apartemen, pikirannya sudah ke mana-mana saat mencium wangi parfum milik orang yang dirindukan nya. Hatinya kesal dan marah dalam waktu bersamaan akan semua itu. Amara tidak suka dengan hal yang selalu menyiksa hatinya yang kadang selalu dipenuhi dengan halusinasi dari bayangan Bian. "Lupakan Amara, lupakan. Dia sudah melupakanmu. Ayo bangkit!" Mencoba menyemangati dirinya dengan berbicara di depan cermin yang ada di dalam kamar mandi pada bayangannya sendiri. Amara tidak pernah mau terbebani dengan semua penyesalan atas semua dosanya. Namun, rasanya mengapa sangat sulit dan sekarang justru semakin menyiksa. Amara membasuh wajah agar pikirannya kembali jernih. Gadis cantik itu harus segera mengeksekusi bahan yang tadi di beli, cacing dalam perutnya sudah berdemo minta diisi. Keluar dari kamar mandi dengan wajah segar, mengeluarkan semua bahan dari kantong belanjaan untuk ia tata dalam kulkas. Malam ini Amara ingin makan makanan pedas untuk sedikit menghilangkan beban dalam pikirannya. Setelah semua bahan tertata rapi kini gadis cantik itu bergeser menuju kompor untuk memasak sebungkus ramen dengan dua butir telur. "Siapa sih malem-malem begini bertamu?" tanyanya dengan menggerutu kesal saat mendengar ketukan berulang pada pintu depan. Padahal jam baru menunjukkan pukul delapan lewat sepuluh menit waktu setempat. Namun, bagi Amara waktu itu sudah cukup malam setelah ia memutuskan untuk hidup mandiri di negeri orang. Mematikan kompor yang masih memasak air, berjalan untuk membukakan pintu dan melihat siapa yang telah berani mengganggu aktivitasnya. "Surprise!" "Kakak!" Amara langsung memeluk laki-laki tampan yang berdiri dengan senyum jahilnya. Tidak menyangka ia akan mendapatkan kunjungan tanpa pemberitahuan dari kakak kandungnya itu. "Lagi ngapain sih?" tanya Angga dengan mengusap puncak kepalanya dengan sayang. "Mau masak ramen." "Kok makan ramen?" decak Angga kesal. Amara sering sekali memakan masakan instan yang terbuat dari tepung itu. Salah satu hal yang dulu membuat Angga tidak mengizinkan Amara untuk lepas dari pengawasan keluarganya. Apalagi tingkat kepedasan makanan itu sangat tinggi menurut Angga yang tidak suka makanan pedas. "Lagi puyeng sama tugas, mangkanya butuh ramen buat ngurangin beban," jawab Amara jujur. "Gak bagus, Dek. Perut kamu panas nantinya." "Cuma sekali, Kak." "Sekali sehari maksudnya?" "Sebulan tau." "Lebih gak percaya sih Kakak mah." "Apa sih? Harus percaya dong." "Belom dimasakkan?" "Baru mau masak aer tadi." "Ya udah bagus. Kakak bawa makanan soalnya." "Aye aye!" Angga tersenyum melihat sikap ceria adik cantiknya. Dengan segera Amara membongkar isi koper kecil Angga yang ternyata makanan untuknya semua. Kembali bersorak layaknya anak kecil yang membuatnya selalu dianggap seperti itu karena tingkah lakunya. Rendang, kentang balado, teri kacang dan masih banyak lainnya tertata dengan rapi pada sealware yang ada di dalam koper Andra. Dengan segera Amara membawa semua makanan tersebut menuju kulkas. Mengambil rendang untuk ia panaskan terlebih dahulu. Untung Amara selalu memasak nasi walaupun hanya satu gelas setiap harinya. "Kakak mau ikutan makan gak?" tanya Amara dengan tangan mengambil piring. "Kakak udah makan tadi. Makan yang banyak, Dek. Kamu kurusan perasaan Kakak mah." Angga memperhatikan lekuk tubuh adiknya yang sama sekali tidak ada perubahan dari dua tahun yang lalu. Padahal, sebelumnya bentuk tubuh Amara begitu proposional yang seimbang dengan tinggi badannya. Bahkan semenjak memutuskan untuk hidup mandiri Amara tidak pernah lagi memperhatikan wajahnya. Dulu, wajah itu selalu berseri dengan perawatan terbaik. Saat ini wajah itu justru terlihat pucat, bahkan tak jarang bibirnya sering kering karena tidak pernah menggunakan apapun. Berat badan Amara memang tidak lagi naik seiring dengan penyesalan yang ada. Tubuhnya seperti ikut larut dalam kesepian dan kesendirian walaupun ia makan cukup banyak, membuat Amara heran sendiri. Terakhir kali ia menimbang berat badannya satu bulan yang lalu, timbangan itu menunjuk di angka 43, sama seperti saat ia pertama kali melangkah pergi meninggalkan Indonesia. Seberat itu beban yang harus ditanggung Amara sehingga respon tubuhnya tidak menghiraukan asupan gizi yang selalu ia penuhi. Angga bingung apa sebenarnya yang terjadi pada adik cantiknya itu. Amara tidak pernah cerita apapun padanya, dan hal itu membuat Angga sedih karena merasa dirinya gagal. Disaat bentuk tubuh Amira semakin seksi walaupun menggunakan pakaian longgar, berbanding terbalik dengan Amara yang justru terlihat semakin kurus. "Timbangannya masih sama, Kak. Mara 'kan jaga pola makan biar gak gendut," jawab Amara penuh kebohongan. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah tekanan batin dari rasa salah dan rindu adalah faktor utama yang membuat tubuhnya terlihat semakin kurus. Sampai detik ini Kemal dan Bima menepati janjinya untuk tidak memberitahu siapapun termasuk Angga, tentang apa yang pernah ia lakukan pada Amira dulu. Hal yang selalu membuat Amara malu dan menghindari semua orang yang menyayanginya. "Jangan terlalu kurus, keliatan kayak tinggal tulang tau gak. Ini mukanya juga kenapa gak dirawat sih?" Angga merupakan sosok kakak terbaik yang ada di dunia ini. Sosok yang selalu memperhatikan adik-adiknya dengan detail bahkan untuk urusan perawatan wajah. Angga tidak pernah mau melihat adiknya terlihat pucat yang akan menurunkan rasa percaya dirinya. "Ini normal, Kak. Tapi tenang, malam ini Mara pasti makan banyak karena masakan racun ini." "Hush! Ngomongnya asal aja. Mana ada Mamah ngasih racun sama anaknya sendiri," tegur Angga yang belum paham maksud Amara. Kali ini Amara yang bingung, ada apa dengan kakaknya? Mengapa kakaknya tidak paham dengan maksud Amara? Apakah ada yang mengganggu pikirannya sehingga Angga tidak bisa fokus? "Kakak kayaknya butuh istirahat deh," saran Amara. "Emang. Kakak cape banget pengen tidur." "Ya udah tidur sana." Tanpa menjawab lagi Angga berjalan menuju kamar yang biasa ia tempati jika berkunjung. Namun, rencananya gagal saat mendengar ketukan pintu dari luar. Angga melirik Amara yang baru saja memasukkan nasi beserta lauk pada mulutnya. Sedangkan Amara mencoba menebak siapa lagi yang berani bertamu malam hari seperti ini, apalagi saat sang kakak ada bersamanya. "Kakak aja yang buka," cegah Angga saat Amara hendak bangun. Amara hanya menyetujui, tetap menyuapkan sendok berisi makanan pada mulutnya. Mengintip dari tempatnya makan pada siapa yang datang. Amara sedikit heran saat melihat Angga tidak membiarkan orang itu masuk. Amara menyimpan sendoknya, mengelap bibirnya menggunakan tisu dan berjalan untuk menghampiri Angga. "Siapa, Kak?" tanyanya. "Orang gila," jawab Angga asal. "Princess tolongin Kakak dong. Gak boleh masuk nih sama si Kadal." Itu suara Bima, Amara tertawa saat mendengar aduan Bima yang seperti anak kecil. Bima memang selalu menyempatkan diri untuk berkunjung ke apartemen Amara saat dirinya mendapatkan tugas di negara tersebut. Bima tidak pernah mengungkap apalagi menghakiminya sekalipun tentang perbuatan Amara dulu, membuat Amara lega. "Kak Bima!" Amara menyingkirkan Angga untuk memeluk Bima. Entah mengapa Amara selalu dihantui rasa takut jika Bima mengatakan apa yang telah ia perbuat hingga ia memilih pergi meninggalkan Indonesia. Padahal Bima sudah berjanji tidak akan mengatakan semuanya dan selama ini Bima menepati itu semua. "Gimana kabarnya, Dek?" tanya Bima dengan membalas pelukan Amara. "Kebiasaan asal peluk aja." Angga menarik Amara dari pelukan Bima. Walaupun ia tahu bahwa Bima hanya menganggap Amara sebagai adiknya, tapi tetap saja mereka tidak halal untuk bersentuhan. Seposesif itu Angga terhadap adiknya. Amara sangat berbeda dengan Amira yang benar-benar menjaga jarak dengan lawan jenis hingga sekarang, walaupun Bima sudah menjadi saudaranya. "Yang penting gak sama cowok lain," balas Amara cuek. "Jangan didengerin, Dek. Dia mah sirik mulu hidupnya efek kelamaan jomblo," timpal Bima. Bima merangkul bahu Amara untuk masuk, melewati Angga yang menggerutu kesal dengan kelakuan adik dan sahabatnya. Jomblo teriak jomblo, itulah kata-kata yang diucapkan dalam hatinya. Sebenarnya Amara sedikit heran pada kedua kakaknya itu, mengapa mereka berdua berada di apartemennya. Mereka berdua seperti sudah membuat janji sebelumnya. Tidak mau memikirkan itu semua Amara lebih memilih kembali menikmati makanannya. Membiarkan dua orang kakaknya untuk berdebat semau mereka, karena perutnya sudah cukup perih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD