Sangat Dekat

1269 Words
Langit di Australia begitu cerah sore ini, menemani perjalanan Amara yang baru keluar dari kafe setelah ia menyelesaikan tugas kuliahnya. Otaknya butuh kopi pada saat mengerjakan tugas seperti itu. Duduk seorang diri di kafe merupakan hal yang menjadi kebiasaan untuk Amara setiap harinya. Selain untuk mengerjakan tugas Amara juga lebih sering merenung di sana. Kursi yang berada dipojokan samping jendela merupakan kursi yang sudah di akuisisi olehnya, karena setiap pulang kuliah setiap harinya ia akan duduk di sana dengan ditemani beberapa menu. Amara tidak pernah tahu mengapa ia sangat menyukai kafe tersebut. Kafe sederhana yang begitu nyaman untuk menyendiri. Amara seolah dekat dengan orang yang dirindukan nya jika sedang berada di kafe itu. Temannya yang bernama Axely baru saja pulang meninggalkan dirinya yang kembali larut dalam kesedihan dari sebuah penyesalan. Sebenarnya Amara tidak boleh dibiarkan sendirian, karena seketika bayangan Bian akan muncul dalam otaknya jika ia hanya sendiri. Bian yang seolah berada di dekatnya membuat Amara terkadang tanpa sadar menepuk dadanya beberapa kali untuk mengurangi rasa sesak. Bayangan Bian yang seperti nyata begitu mengganggu pikirannya. Serindu itukah Amara pada sosok yang dulu ia manfaatkan? Hidupnya memang penuh penyesalan dari sebuah obsesi yang menghancurkan. Amara tidak pernah menyangka efek yang harus ia tanggung dari mempermainkan sebuah hubungan akan sedahsyat ini, di mana ia akan terkurung dalam rindu yang tak bertepi. Hari-hari yang dijalani olehnya begitu pilu, kisah cinta yang berakhir menyedihkan karena tidak sampai pada tujuan, membuatnya harus menanggung segala jenis rasa yang sulit untuk dijelaskan. Setelah merenung selama dua jam lamanya di kafe favoritnya, Amara pergi untuk menuju apartemennya. Berjalan kaki dengan manusia lainnya untuk menuju tempat tujuan. Amara lebih nyaman berjalan dibandingkan harus menaiki mobil pribadi ataupun angkutan umum lainnya. Selain untuk berolahraga, berjalan kaki di antara kerumunan manusia lainnya membuat bebannya sedikit terlupakan. "Hay Amara. Bisakah nanti malam kita berkencan?" Jackson, teman kampus Amara yang berusaha mendekatinya selama lima bulan terakhir. Laki-laki pribumi yang cukup sopan dan tampan, tapi tidak bisa menggerakkan hati Amara. Jackson laki-laki yang cukup cerdas yang sering membantunya dalam mengerjakan tugas. "Sorry, Jack. Aku tidak bisa, disini aku untuk belajar bukan untuk berkencan. Ku harap kau mengerti," balas Amara dengan senyum cerahnya. "Baiklah, aku mengerti. Tapi bisa kah kita jalan bersama hingga apartemen?" Mereka memang tinggal di apartemen yang sama dengan lantai yang berbeda. Jackson di lantai 15 sedangkan Amara di lantai 14. Setiap hari Jackson akan menunggu Amara untuk berangkat ke kampus yang sama, yang sering kali ditolak oleh gadis cantik itu. "Silahkan." Jackson tersenyum karena permintaannya diterima, mereka berjalan secara bersisian dengan diiringi obrolan ringan sepanjang jalan hingga menuju apartemen. Mereka berpisah begitu Amara sampai di lantai unitnya tinggal, dan Jackson meneruskan lift hingga lantai tujuannya. *** Sepi kembali dirasakan oleh gadis cantik itu saat membuka pintu apartemennya, melakukan kegiatan sehari-hari yang sebenarnya sangat membosankan membuatnya terkadang mengeluh. Andai saja ia tidak ingat akan dosa yang pernah ia lakukan, sudah pasti ia tidak akan mau menyiksa diri dengan berada jauh dari keluarganya seperti saat ini. Harinya selalu suram, jiwanya selalu gelisah menahan rindu yang tiada bertepi. Setiap malam do'anya tetap sama untuk orang yang sama. Semoga ia dipertemukan dengan sosok yang selalu dirindukan nya walaupun hanya dalam mimpi. Betapa ia tersiksa atas beban rindu yang harus ditanggungnya selama ini. Setelah berganti baju gadis ceria yang kini berubah menjadi pemurung itu bergegas menuju dapur minimalis nya. Ya, semenjak ia memutuskan untuk melanjutkan kembali pendidikannya demi menghilang dari hadapan orang-orang yang telah ia lukai, Amara benar-benar belajar untuk hidup mandiri. Bahkan dapur yang dulu area paling ia tidak sukai kini menjadi tempat menyalurkan kesepian di atas kerinduannya. Sungguh, efek patah hati begitu dahsyat. Amara yang dulu paling anti memasuki area dapur karena takut tangannya kotor terkena warna kunyit, sekarang justru ia memasak terlebih dahulu sebelum makan. Mencoba memasak berbagai jenis menu makanan dengan bermodalkan tutorial dari sebuah aplikasi video. Makanan daerah sampai internasional ia praktekan setiap harinya. Amara tahu bahkan yakin bahwa kemampuan memasaknya tidak akan pernah setara dengan keterampilan tangan ajaib Amira, yang selalu berhasil menciptakan rasa memukau dalam setiap masakannya. Menurutnya itu hal yang wajar, mengingat ia baru sekitar satu tahun memulai semua itu. Sedangkan Amira sudah hobi memasak sejak ia berumur lima tahun. Amara gadis penyuka bunga, tangannya akan berhasil menanam berbagai jenis bunga yang akan mekar dengan indahnya. Jadi wajar jika rasa masakannya selalu standar dan tidak akan pernah bisa menyaingi bahkan hanya untuk sekedar sama dengan masakan saudari kembarnya itu. Malam ini Amara berencana untuk merilekskan pikirannya dengan berjalan-jalan mengelilingi supermarket. Amara tidak memerlukan teman untuk sekedar berbelanja, karena sendiri merupakan hal terbaik untuknya saat ini. Seperti anak kost yang harus mengirit dalam segala hal, Amara membuat daftar belanjaan menggunakan note di handphonenya. Bukan karena takut uangnya akan habis, karena uang pribadi penghasilan toko bunganya pun masih cukup tebal untuk biaya hidupnya dua tahun ke depan. Amara melakukan itu semua agar ia tidak berlama-lama di dalam supermarket yang akan membuat matanya panas. Bagaimanapun Amara akan berjalan sendiri di tengah banyaknya pasangan manusia yang saling bergandengan tangan. Bukan juga tentang cemburu ataupun iri, hanya merasa tidak nyaman saja untuk semua itu. Menggunakan kaos berlengan pendek berwarna putih, celana kulot setengah betis berwarna navy, flatshoes dengan warna yang sama dengan celananya, slingbag hitam yang hanya cukup untuk menampung handphone dan beberapa kartunya, Amara keluar untuk menuju supermarket yang berada sekitar lima ratus meter dari apartemennya. Kawasan yang selalu ramai membuat Amara tidak pernah takut untuk berjalan sendiri menuju supermarket itu walaupun pada malam hari. Amara sengaja memilih apartemen dan kampus yang berada di tengah kota, hal itu agar dirinya selalu aman dalam keramaian. Begitu sampai Amara langsung mengambil troli, berjalan menuju rak tempat sayuran segar dan akan berkeliling pada tempat lainnya, membeli semua bahan yang sudah ia catatan di dalam handphonenya. Mengambil brokoli, wortel, bucis dan beberapa jenis sayuran lainnya yang ia masukkan ke dalam troli. Amara tersenyum samar saat mendengar dari belakang tubuhnya pasangan yang sedang memilih buah-buahan dengan si wanita yang begitu manja, dan si lelaki yang begitu sabar. Mengingat kembali saat ia berada di Jakarta dan berbelanja dengan Bian untuk belajar masak. Samar terdengar suara laki-laki itu seperti tidak asing di telinganya, juga parfum yang sepertinya sedikit familiar di indera penciuman nya. Namun, Amara tidak mau terus berhalusinasi dan terkurung dalam buai harumnya pria yang sudah memiliki pasangan. Tanpa melihat ke arah belakang Amara langsung mendorong troli nya dengan mata yang terus menatap ke arah sayuran. *** Di tempat yang sama dengan rak yang berseberangan, tepatnya di belakang tubuh wanita yang dirindukan nya, Getta tengah memilih beberapa jenis buah untuk isi dalam kulkasnya yang sudah cukup kosong. "Sayang aku mau buah itu," tunjuk Tania pada buah Pir hijau. Setelah mengatakan buah yang diinginkannya Tania berjalan menuju rak makanan ringan untuk memenuhi meja televisinya di apartemen. Memanfaatkan Getta yang meminta tolong untuk ditemani olehnya dengan cara mengambil banyak jenis camilan yang akan dibayar oleh Getta. Semua itu merupakan jenis bayaran untuknya yang telah menemani Getta berbelanja. Sepupu tampannya itu tidak mau menjadi pusat perhatian dan mendapatkan tatapan lapar dari kaum hawa, dan membayar Tania sebagai bodyguard merupakan jalan terbaik untuk Getta. "Bocah gak waras," gerutu Getta dalam hati akan kelakuan Tania. Namun, walaupun begitu Getta tetap menuruti keinginan sepupu pengeretannya itu. Sekilas Getta mencium harum lembut parfum seorang wanita yang mengingatkannya pada masa lalu. Parfum itu berasal dari wanita yang sedari tadi berada di belakangnya. Getta sempat terdiam, dan saat ia menoleh ke belakang wanita itu sudah pergi meninggalkannya. Sedekat itu jarak mereka, hanya saja waktu belum mau mempertemukan keduanya untuk saling tatap. Seandainya rambut Amara tidak menghalangi wajah cantiknya, juga Tania yang tidak menghalangi jarak pandang Getta, sudah pasti mereka akan saling tatap saat saat Getta berbalik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD