Siang itu, setelah pulang dari Rosetta Hotel, Emma melangkah gontai menuju rumah Marissa. Kakinya terasa berat, seolah setiap langkah menyeret segumpal beban di dadanya. Ia butuh seseorang untuk menenangkan badai kecil yang terus berputar di kepalanya.
Ironis. Beberapa hari lalu, ia menuduh Armand berselingkuh. Kini, justru ia sendiri yang berada di posisi itu. Emma menarik napas panjang, mencoba menahan air mata yang nyaris tumpah.
Marissa menyambut kedatangannya dengan senyum ceria seperti biasa. "Aku kirain hari ini kamu enggak ke sini?" katanya sambil meletakkan cangkir teh di meja taman. "Apa kata dokter? Enggak ada masalah, kan?"
Pertanyaan itu membuat kening Emma berkerut. "Masalah?" tanyanya bingung.
"Loh, katanya kamu mau periksa perutmu yang sakit ke dokter?" Marissa mengingatkan.
Seketika Emma teringat kebohongan kecilnya pagi tadi, alasan palsu untuk pergi ke Rosetta Hotel. "Oh... iya. Ternyata cuma kram PMS," jawabnya cepat, menutup kebohongan dengan kebohongan baru.
Marissa tersenyum lega. "Syukurlah," ucapnya sambil membawa keranjang cucian ke ruang laundry.
"Kamu... lagi sibuk, ya?" tanya Emma, menyusul di belakang.
"Enggak. Udah selesai, kok." Marissa menyalakan mesin cuci, lalu menatap sahabatnya. "Ada yang mau kamu omongin?"
Emma mengangguk pelan. Mereka lalu kembali ke taman. Udara sore terasa hangat, tapi hati Emma tetap dingin.
"Ada apa, Em?" tanya Marissa lembut, mencondongkan tubuhnya ke depan.
Dan cerita itu pun mengalir deras dari bibir Emma - tentang tas bekal yang tertinggal, tentang kunjungannya ke kantor Fandi, hingga penemuan kotak nasi goreng misterius yang mirip dengan buatannya sendiri. Marissa mendengarkan dengan tenang, hanya sesekali mengangguk, seolah takut memotong arus emosi yang sedang memuncak.
"Aku enggak nyangka Mas Fandi bisa mengkhianatiku," suara Emma parau. Ia menunduk, menyembunyikan air mata yang mulai menggenang.
Marissa menarik napas panjang. Ia mencoba menenangkan dengan senyum lembut. "Kamu jangan berprasangka dulu, Em. Siapa tahu, yang kasih nasi goreng itu cuma bermaksud baik. Mungkin cuma iseng ngasih, atau kebetulan masakannya mirip sama punyamu."
"Tapi nasi goreng itu sama persis, Ris! Sama persis!" Emma menatapnya dengan mata lelah, memohon agar temannya mengerti. "Itu kebetulan yang disengaja."
Marissa menggeleng pelan. "Nasi goreng sosis itu kan makanan umum, Em. Banyak banget orang yang biasa masak kayak gitu. Aku aja sering bikinin buat Sava. Jangan buru-buru mikir yang jelek."
"Tapi akhir-akhir ini gelagat Mas Fandi aneh, Ris. Dia berubah jadi lebih manis, lebih perhatian, dan tiba-tiba setuju soal program kehamilan." Emma menelan ludah, suaranya gemetar. "Dulu dia enggak pernah seantusias itu. Dan sekarang, dia sering ketinggalan bawa bekalnya. Aku pikir lupa karena mikirin kerjaan. Tapi sekarang aku tahu, dia lupa karena bekalku enggak lagi penting..." Akhirnya air matanya jatuh menetes.
Marissa diam. Ia tahu tak ada kalimat yang benar-benar bisa menenangkan seseorang yang hatinya sedang retak. Ia hanya menggenggam tangan Emma, memberi kehangatan yang sunyi.
"Em, aku tahu kamu tersakiti. Tapi kamu enggak bisa hidup dengan prasangka. Kalau kamu yakin ada yang salah, kamu harus ngomong langsung sama Fandi. Dengar sendiri penjelasannya."
Emma hanya mengangguk lemah. Perlahan ia bangkit, menyeka air matanya. "Aku pulang dulu, ya."
Marissa menatap kepergian Emma dengan rasa khawatir yang tak bisa dijelaskan.
---
Malam itu, jam dinding terasa berdetak lebih lambat dari biasanya. Ruang tamu dipenuhi cahaya redup dari televisi yang menyala tanpa suara. Emma duduk diam di sofa, tangan terlipat di pangkuan. Tatapannya kosong, tapi dadanya bergemuruh oleh ratusan pikiran yang saling bertubrukan.
Pukul delapan lewat dua puluh. Bunyi kunci berputar di pintu depan memecah keheningan. Fandi masuk, wajahnya tampak lelah. Ia menaruh tas di meja dan melepas sepatunya, seperti biasa. Tapi malam ini, tidak ada senyum sambutan, tidak ada aroma teh hangat seperti biasanya.
"Hai," sapanya mencoba mencairkan suasana. Ia meneguk teh di meja, lalu berkomentar ringan, "Tumben dingin."
"Itu tehku," sahut Emma dingin, masih menatap televisi tanpa benar-benar melihat.
Kening Fandi berkerut. "Ada apa, Em?" suaranya mulai berhati-hati, membaca gelagat yang tidak biasa.
Emma menoleh pelan, menatap wajah suaminya dengan tajam. "Aku tadi ke kantormu," ucapnya tenang, tapi nadanya menyimpan bara. "Ngantarin bekalmu yang ketinggalan."
"Oh, iya, maaf. Tadi terburu-buru banget," sahut Fandi ringan.
"Aku juga lihat di meja kamu ada paper bag warna merah muda," lanjut Emma, menahan napas, memperhatikan setiap perubahan kecil di wajah suaminya. "Aku lihat isinya. Nasi goreng... sama persis kayak yang aku buat pagi ini."
Fandi menatapnya bingung. "Maksud kamu?"
Emma menatapnya tajam. "Kamu enggak ngerti maksudku?"
Fandi menggeleng, benar-benar kebingungan. "Enggak. Memangnya kenapa?"
"Kamu enggak merasa bersalah?" suara Emma meninggi, bergetar menahan emosi.
"Bersalah karena apa, Em? Aku enggak ngerti!" Fandi ikut naik nada suaranya, merasa dituduh tanpa sebab.
"Siapa yang ngasih nasi goreng itu, Mas?!" seru Emma akhirnya, matanya berkaca-kaca, suaranya pecah.
Fandi terpaku, menatap istrinya seolah baru mengenalnya. "Kamu menuduh aku selingkuh?" tanyanya pelan, hampir tak percaya.
Emma tidak menjawab. Ia hanya menatap dengan mata merah, napasnya tersengal.
Fandi menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan emosi. "Itu dari Anin. Teman kantorku. Dia sering bawain makanan ke semua tim. Kadang buat aku juga. Cuma itu."
"Anin?" Emma menyipit. "Aku enggak pernah dengar nama itu."
"Anindya," jelas Fandi, suaranya mulai lelah. "Dia baru tiga bulan di timku. Aku bantu dia adaptasi, itu aja. Enggak lebih."
Emma menatapnya lama, seolah mencoba membaca isi hatinya lewat mata itu. Tapi yang ia lihat hanyalah kelelahan.
"Demi Tuhan, Em, aku enggak punya hubungan apa-apa sama dia," lanjut Fandi dengan nada frustrasi. "Kamu boleh tanya siapa pun di kantor."
Tapi Emma tak menjawab. Ia hanya duduk diam, bibirnya gemetar. Bukan karena percaya, tapi karena tak tahu lagi harus berkata apa. Dalam hatinya, perasaan curiga itu telah tumbuh menjadi duri yang tak mudah dicabut.
Malam semakin larut. Fandi tertidur di kamar, tapi Emma masih duduk di ruang tamu, menatap kosong ke arah jendela yang tertutup tirai. Di luar, hujan mulai turun pelan, menorehkan jejak di kaca.
Ia memeluk dirinya sendiri. Dalam kesunyian itu, ia tahu satu hal - kepercayaan yang retak tak bisa diperbaiki hanya dengan kata-kata. Ia harus tahu kebenarannya, seberapa pun menyakitkannya nanti.
***
Pagi itu, rumah terasa terlalu rapi. Meja makan bersih, piring sudah tertata, bahkan kopi Fandi masih mengepul ketika Emma keluar dari kamar. Emma sedikit terkejut, tapi ia menyembunyikannya.
Sudah lama ia tak melihat suaminya duduk di meja begitu pagi, menatapnya seolah ingin mengulang sesuatu yang dulu sempat hilang.
"Selamat pagi," ujar Fandi pelan, tersenyum. Ia mencoba menyentuh bahu Emma.
Emma mengangguk, ia mencoba menghindar sentuhan Fandi dengan pura-pura mengambil gelas tanpa menatapnya, meneguk air putih, lalu beranjak ke dapur, meninggalkan kesunyian menggantung.
Sejak pertengkaran kemarin malam, Emma tak lagi banyak bicara. Ia tak lagi bertanya atau melontarkan tuduhan. Tapi diamnya justru lebih menyakitkan. Ia menutup rapat apa pun yang berkecamuk di dalam dadanya, menyembunyikan luka seolah tak terjadi apa-apa. Ia tahu perubahan sikap Fandi hanyalah penebus rasa bersalah. Dan itu semakin menguatkan dugaannya.
Setelah Fandi berangkat kerja Emma duduk di ruang tengah, memandangi layar ponsel. Ia menatap foto profil Fandi di media sosial - senyum yang sama, kemeja yang sama, tapi entah kenapa terasa asing.
Ia menelusuri satu per satu unggahannya. Sebagian besar foto kerja, acara kantor, rapat, atau proyek. Tapi ada satu hal yang membuat jantungnya berdebar lebih cepat.
Nama itu. "Anindya Rahma."
Ia melihat nama itu muncul beberapa kali dalam foto-foto tim mereka. Ia juga menemukan beberapa kali komentarnya di foto-foto itu. Meski hanya berupa emoji atau kalimat singkat yang mungkin tak berarti bagi orang lain. Tapi bagi Emma, setiap kata dari perempuan itu seperti titik kecil di peta yang perlahan membentuk arah.
Ia mengetuk nama itu dengan jarinya. Halaman akun Anindya terbuka - perempuan muda dengan senyum hangat. Tatapannya bersinar percaya diri, khas profesional muda yang sedang meniti karier.
Emma menarik napas dalam-dalam. Ia teringat kembali cara Fandi menatap layar ponselnya akhir-akhir ini - cepat, seolah takut ketahuan, tapi sering tersenyum sendiri.
Ia ingin percaya pada suaminya, sungguh. Tapi ia melihat mata Fandi sudah berubah - tatapannya tak lagi sama seperti dulu.
"Aku kepengin kita baik-baik saja," ucapnya tadi malam, sambil memeluknya. Pelukan yang kini tak lagi hangat. Tak lagi ia dambakan.