Tetanggaku, Sahabatku
Langit Jakarta selalu punya caranya sendiri dalam menyambut pagi. Sebelum matahari benar-benar menyengat, udara membawa aroma campuran yang ganjil: embun yang tersisa di pucuk daun, harum tanah basah, dan samar-samar bau asap kendaraan yang mulai merayap dari jalan raya.
Namun, semua itu seolah terhenti di gerbang sebuah perumahan cluster yang tenang. Di dalam rumahnya, di dapur bernuansa putih bersih, aroma roti panggang dan mentega menguar, berebut ruang dengan harum kopi. Marissa berdiri membelakangi jendela, dibingkai cahaya matahari pagi yang masih lembut. Tangannya bergerak sempurna; menuang s**u tanpa tumpah setetes pun, menata telur mata sapi dan sosis di atas piring porselen, serta mengoleskan selai di atas roti yang baru melompat dari pemanggang. Ia lalu menatanya di atas nampan kayu putih gading dengan rapi, bersih, tanpa cela.
Di ruang makan dengan kursi-kursi putih, sudah menunggu keluarga kecilnya; Savannah, putri semata wayangnya, dan Armand, suaminya. Di tengah meja kayu putih gading itu, rangkaian mawar merah yang dipetik Marissa dari tamannya pagi tadi sudah tertata cantik di dalam vas kristal. Kelopaknya yang masih lembap oleh embun tampak kontras di antara piring-piring porselen.
"Papa, lihat! Aku mewarnai awannya pakai warna ungu, biar kayak sunset," celoteh Savannah di meja makan. Ia sudah rapi dengan seragam sekolah. Tangan mungilnya sibuk mencoret-coret buku gambar.
Armand, yang tengah merapikan dasi di depan cermin ruang makan, menoleh sambil tertawa kecil. "Bagus sekali, Sayang. Anak Papa memang kreatif," pujinya.
Marissa datang membawa nampan, meletakkan sarapan dengan senyum yang terukir pas—tidak kurang, tidak lebih. "Ayo dimakan, nanti keburu dingin," ucapnya lembut.
Bagi siapa pun yang melihat, pemandangan itu adalah sebuah kesempurnaan. Sebuah keluarga kecil yang harmonis dan bahagia. Namun, bagi Marissa, ini adalah sebuah bingkai kesempurnaan yang harus ia jaga agar tidak retak. Dan ia tidak akan membiarkan apa pun, sekecil debu sekalipun, merusak kesempurnaan ini. Ia tidak suka ada orang lain yang ikut dalam dunia kecilnya. Ia tak butuh orang asing. Ia tak butuh siapa pun untuk 'membantu' menjaganya.
Kehangatan di ruang makan berlalu saat mobil jemputan sekolah putrinya datang, disusul oleh suara mobil Armand meninggalkan halaman.
Seketika keheningan datang.
Tapi ini bukan sepi yang menyiksa, melainkan jeda sesaat untuk menikmati 'me time' bersama Emma, tetangga depan rumah sekaligus teman terdekatnya.
Suara derit halus dari pagar samping memecah keheningan. Disusul langkah kaki ringan yang nyaris tak terdengar di atas jalan setapak taman.
"Pagi, Ris!" sapa Emma dari ambang pintu. Ia membawa sepiring donat dengan taburan gula salju. "Kopinya udah siap?"
"Baru mau bikin," sahut Marissa tersenyum. Tangan lentiknya dengan tenang menyalakan mesin kopi otomatis.
Emma menyandarkan punggungnya di kursi makan, menghirup aroma kopi yang memenuhi ruangan. Aroma yang menjadi salah satu alasan ia menunda kopi pagi di rumahnya sendiri. Karena dengan mesin kopi seharga motor matik terbaru itu, kopi buatan Marissa jauh lebih nikmat, bahkan dari kafe mana pun yang pernah ia coba.
"Kopi bikinan kamu emang juara. Kayaknya aku ke sini tiap hari cuma buat numpang ngopi deh," seloroh Emma sambil tertawa kecil.
Marissa menoleh, memberikan senyum manisnya yang polos. "Boleh dong, Em. Aku malah seneng kalau ada temen ngopi."
Emma mengusap pinggiran cangkir porselen bermotif klasik di tangannya, matanya tak lepas dari mesin kopi hitam mengilap itu. "Kapan ya aku bisa punya juga?" Gumamnya.
"Ini juga hadiah dari bosnya Mas Armand, Em," sahut Marissa pelan. "Katanya supaya aku betah di rumah dan nggak perlu jajan kopi di luar lagi."
"Masak hadiah terus? Kemaren kulkas SMEG juga hadiah."
"Kalau itu Mas Armand beli. Hadiah ulang tahunku," jawab Marissa, tenang.
Emma menghela napas. "Ternyata benar ya, di balik istri sempurna, ada dompet suami yang sempurna," selorohnya.
Marissa tertawa kecil. "Kamu berlebihan banget. Yuk, ke taman."
Mereka duduk di kursi rotan, menghadap deretan mawar yang tumbuh subur. Emma menatap cangkir kopinya, lalu beralih ke sekuntum mawar merah milik Marissa yang mekar sempurna.
"Bungamu udah mekar. Punya aku kok masih kuncup, ya? Padahal tanamnya barengan," gumam Emma. Suaranya datar, tapi matanya menyipit, meneliti kelopak mawar itu.
"Mungkin kurang cahaya matahari?" Marissa memiringkan wajah.
Emma mendongak, menatap langit sebentar, lalu tersenyum getir. "Mungkin. Atau mungkin tangan kamu aja yang 'dingin'. Semuanya jadi nurut sama kamu. Tanaman, Armand, Savannah..." Emma menghela napas sedikit lebih panjang. "Hidupmu memang sempurna, Ris."
"Itu cuma perasaan kamu aja. Kamu enggak tahu aja pusingnya aku kalau Savannah lagi ngambek atau urusan rumah tangga yang enggak ada habisnya?" Jawabnya, merendah.
Emma menarik napas pendek. Kalimat Marissa barusan justru terdengar seperti ejekan di telinganya, seolah Marissa sedang mengeluhkan berkah yang tak ia miliki.
"Kamu mungkin pusing karena Savannah rewel, tapi setidaknya rumahmu bernyawa." Emma menunduk, menatap cangkir kopinya.
Melihat ekspresi wajah Emma berubah, Marissa merasa bersalah. "Jangan ngomong gitu... mungkin sekarang belum waktunya aja buat kamu," jawabnya hati-hati.
Emma menarik napasnya. Pandangannya kosong. "Andaikan aku seberuntung kamu, mungkin hidupku enggak akan sesepi ini... Sekarang Mas Fandi dinas luar kota lagi... Rumahku sepinya udah kayak kuburan."
Marissa menepuk tangan Emma, mencoba memberikan simpati yang tulus. "Sabar ya, Em. Itu juga kan demi karier Fandi juga."
Emma hanya tersenyum tipis, tapi matanya tidak ikut tersenyum. Ia tahu Marissa tulus, tapi ia juga tahu, jauh di lubuk hatinya rasa iri itu tak pernah bisa ia tutupi.
***
Malam harinya, kesunyian benar-benar menjadi musuh Emma. Setelah panggilan video singkat dengan Fandi yang selalu berakhir dingin, Emma berjalan menuju jendela, menyibak sedikit tirai tipisnya. Seperti rutinitas yang tak pernah ia lewati: Mengintip rumah Marissa.
Ia melihat biasan cahaya dari chandelier kristal di ruang tamu Marissa. Cahayanya hangat dan elegan, membiaskan pola-pola indah ke langit-langit, jenis pendaran yang tidak akan pernah dihasilkan oleh lampu LED standar di rumah Emma.
Bagi Emma, rumah itu adalah sebuah anomali. Di luar, bangunannya tampak identik dengan rumah-rumah lain di cluster ini, tapi isinya bagaikan rumah sultan. Bukan hanya mewah, tapi sangat berkelas-jenis kemewahan yang biasa ia temukan di halaman Pinterest.
Namun, bukan sekadar interior mahal itu yang membuatnya setiap malam membuka tirai. Di sana, ia menyaksikan sebuah pertunjukan teater tanpa suara. Lewat bingkai jendela yang lebar, ia bisa melihat kehangatan keluarga itu. Saling berbincang santai, bercanda dan tertawa bersama. Sebuah potret kehangatan yang tampak begitu sempurna.
Emma menghela napas, mengusap-usap perutnya. Di balik rasa kagum, ada sebait doa dan setumpuk tanya yang mulai mengendap di dasar hatinya. Sampai kapan ia harus menjadi penonton kebahagiaan orang lain?
***
Pagi berikutnya, Emma muncul kembali dengan sekantong pupuk. Kali ini, ia tampak lebih bersemangat, meski lingkaran hitam di bawah matanya tak bisa disembunyikan.
"Mawar ini benar-benar butuh perhatian ekstra ya. Sama kayak anak-anak," ucap Emma saat mereka kembali berada di taman.
Marissa mengangguk. "Betul. Tapi kalau telaten, hasilnya sepadan." Ia berhenti sejenak, menatap ragu. "Ngomong-ngomong... kamu jadi ikut program kehamilan bulan ini?" Tanyanya hati-hati.
Pertanyaan itu seperti silet yang mengiris luka lama. Tangan Emma yang sedang menabur pupuk terhenti. Ia menarik napas panjang, mencoba mengontrol suaranya agar tak bergetar.
"Fandi belum bisa, Ris. Waktunya susah sekali disamakan dengan jadwal dokter."
"Sabar ya, Em. Mungkin bisa coba konsultasi dulu sendiri? Siapa tahu ada saran lain dari dokter," saran Marissa, tulus, tapi di telinga Emma, itu bagaikan sebuah ejekan halus dari orang yang sudah memiliki segalanya.
Emma mengalihkan pembicaraan dengan cepat. "Eh, bulan depan jadi kan kita jadi staycation ke Bandung? Sekalian ajak Sava?"
"Aduh, kayaknya harus ditunda dulu, Em. Armand terlanjur janji mau ajak Sava ke Taman Safari bulan depan. Dia udah lama banget kepingin lihat harimau." Marissa tak bisa menyembunyikan rasa bersalahnya.
Hening sejenak. Angin pagi yang biasanya sejuk mendadak terasa gerah bagi Emma.
"Oh... enggak apa-apa kok," jawab Emma. Ia memaksakan tawa kecil yang terdengar sumbang.
"Kamu ikut aja sama kita, Em. Sava pasti senang kalau ada Tante Emma."
Emma menggeleng pelan. Kali ini suaranya terdengar dingin. "Enggak, Ris. Makasih. Aku kayaknya ada acara lain."
Marissa mengernyit, merasakan ada tembok yang tiba-tiba berdiri tegak di antara mereka. "Oh, ya sudah kalau gitu. Mungkin minggu depannya lagi?"
Emma hanya mengangguk tanpa benar-benar menatap mata Marissa. Pikirannya sudah melayang jauh. Ia muak menjadi "penonton". Ia muak menjadi sekadar figuran di dalam drama kehidupan Marissa yang sempurna.
Di tengah taman mawar yang indah itu, sebuah benih lain mulai tertanam. Bukan benih bunga, melainkan benih iri dan kecemburuan yang kini mulai mengakar, merambat masuk dalam persahabatan mereka.