Lubang Hitam

1088 Words
Pagi kembali merekah di rumah Marissa. Cahaya matahari menembus lembut tirai jendela, menebar semburat hangat ke ruang makan yang dipenuhi gelak tawa Savannah yang membuat ruangan itu terasa hidup. ​Di tengah keriuhan kecil itu, Marissa tampak berada dalam dunianya sendiri. Ia duduk tegak, tangannya bergerak tenang memegang pisau dan garpu. Matanya tertuju sepenuhnya pada piring Savannah. Dengan gerakan yang sangat terukur, ia memotong sosis menjadi bagian-bagian kecil yang identik, lalu menyusunnya kembali di samping telur mata sapi dengan simetris, sebelum piring itu digeser tepat ke hadapan putrinya. ​Setiap kali Savannah menyuap, mata Marissa tidak pernah lepas dari wajah gadis kecil itu. Begitu setetes saus tomat mengotori sudut bibir Savannah, dengan sigap ia menyekanya dengan serbet kain putih hingga tak bersih. Dan saat piring Savannah bergeser beberapa milimeter dari placemat, tangan Marissa akan segera mengembalikan piring itu ke tempatnya semula. Bagi Marissa, Savannah adalah pusat dunia yang harus ia jaga; memastikannya selalu dalam keadaan bersih, rapi, dan tanpa noda. Gadis kecil berusia enam tahun itu duduk di kursinya dengan wajah berbinar. Kakinya yang mungil menggoyang-goyang di udara, tak sampai menyentuh lantai. "Mama, Papa, nanti di Taman Safari Sava mau lihat singa menguap!" serunya penuh semangat. "Kata Bianca, kalau singanya ngantuk dan nganga, giginya gede banget, loh! Terus Sava mau kasih makan jerapah juga! Bu Guru bilang, karena lehernya panjang, makannya susah kalau di bawah. Oh iya! Sava udah cerita ke Bianca sama Kevin, kalau kita mau ke sana! Mereka jadi kepengin ikut juga!" Ia tertawa lepas, mulutnya masih penuh potongan sosis, membuat ucapannya terdengar lucu dan menggemaskan. "Iya, Sayang," ucap Armand lembut. "Tapi singanya kita lihat dari jauh aja, ya. Kalau terlalu dekat, bisa bahaya." "Pasti seru banget! Nanti Tante Emma ikut juga, kan, Ma? Tante Emma pasti suka lihat monyet-monyet nakal di sana." Senyum Marissa sedikit meredup. Ia melirik ke arah Armand, mencari cara menjawab tanpa menurunkan semangat Sava. "Tante Emma enggak bisa ikut, Sayang. Katanya dia punya rencana lain." "Yaaah, kok enggak ikut?" Wajah Savannah langsung berubah kecewa, bibirnya mengerucut. "Coba Sava bujuk Tante Emma lagi? Sava kan paling jago kalau soal merayu. Papa saja sering jadi korban, kan?" goda Armand, membuat gadis kecil itu akhirnya tertawa lagi. Tawa itu mengisi ruangan, hangat dan ringan, sebelum akhirnya sirna bersama suara klakson dari luar pagar-tanda jemputan sekolah telah tiba. Begitu Savannah berangkat dan suasana kembali hening, Armand menyesap kopinya, pandangannya menerawang ke arah rumah di seberang. "Fandi sudah pulang?" tanyanya tiba-tiba. "Emma bilang mau pulang hari ini. Tapi enggak tahu juga, sih. Kenapa?" Armand menghela napas panjang. "Enggak... cuma kasihan aja sama Emma. Ditinggal terus sama Fandi. Kalau terus begini, kapan mereka punya anak?" Nada suaranya sarat keprihatinan, namun bagi siapa pun yang mendengarnya dari luar, itu terdengar seperti penghakiman yang halus. "Makanya kemarin aku sempat singgung soal program kehamilan. Tapi Emma bilang belum bisa, soalnya jadwal Fandi padat banget," tambah Marissa. Armand meletakkan cangkirnya, wajahnya tampak lebih serius. "Itu dia. Emma kan sudah tiga puluh lima. Kalau terlalu lama ditunda, peluangnya makin kecil. Fandi seharusnya lebih peka. Pekerjaan enggak ada habisnya, Ris. Kadang, kalau terlalu sibuk mengejar karier, orang lupa waktu enggak bisa diulang." Marissa menatap suaminya lekat. "Aku juga sering mikirin Emma. Sekarang dia makin sensitif. Kemarin pas aku ajak ke Taman Safari, dia langsung nolak. Mukanya berubah, seolah-olah aku sedang menyakitinya." Armand hendak menjawab, tapi sebuah bayangan muncul di ambang pintu dapur. Emma berdiri di sana, memegang piring berisi bolu ketan hitam yang masih mengepulkan aroma harum. Bolu itu tampak begitu pekat, warnanya seperti lubang hitam yang siap menelan cahaya di ruangan itu, kontras piring porselen putih yang ia bawa. "Pagi semua!" sapanya riang. Senyumnya terlalu lebar, matanya terlalu terbuka. "Aku bikin bolu, nih. Cobain, mumpung masih hangat." Armand dan Marissa tersentak kecil. Ada kecanggungan yang mendadak beku di udara. Mereka bertanya-tanya dalam hati: Sudah berapa lama Emma berdiri di sana? "Makasih, Em. Wah, ini pasti buat nyambut Mas Fandi, ya?" Marissa mencoba mencairkan suasana. "Belum pulang," jawab Emma pendek dengan senyum yang tidak sampai ke mata. "Katanya siang ini baru sampai. Aku balik dulu ya, cuma mau antar ini aja." Emma menghilang cepat, kembali ke rumahnya. "Kelihatannya enak, Ris," ucap Armand, menghirup aroma yang menggoda. "Kita potong sekarang, ya." Marissa mengambil pisau dan mulai membelah bolu itu. Namun, saat pisau porselennya membelah bagian tengah, gerakan tangannya mendadak kaku. Di balik kulit ketan hitam yang pekat, tampak lingkaran putih krim yang mencolok. ​Kontras itu mendadak menyerang indranya. Matanya menatap nanar, kepalanya seolah berputar, terseret ke dalam lingkaran gelap itu. Marissa mendadak pusing, pisau di tangannya terlepas, berdenting di piring. ​"Kenapa sayang?" Suara Armand menyentak kesadarannya. ​"Eh... enggak apa-apa, Mas. Aku cuma... kaget saja, ternyata ada krim kejunya di tengah. Warnanya kontras sekali, ya?" sahut Marissa cepat, mencoba menutupi rasa tidak nyamannya. Ia segera meletakkan potongan itu ke piring Armand. ​ Setelah Armand pergi, Marissa kembali menatap potongan bolu itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Rasanya seperti ada sesuatu yang menariknya masuk ke dalam lubang gelap itu. Sementara itu di rumahnya, Emma menyandarkan punggungnya di balik pintu yang tertutup. Napasnya memburu. Kalimat Armand tentang "usia tiga puluh lima" dan "peluang makin kecil" masih terngiang di telinganya seperti dengung lebah yang menyakitkan. Ponselnya bergetar. Pesan dari Fandi: "Maaf Sayang, terpaksa tunda pulang hari ini. Masalah teknis. Besok aku pasti sampai." Emma melempar ponselnya ke sofa. Tangisnya pecah tanpa suara. Ia merasa seperti pecundang di tengah kehidupan Marissa yang berkilau. Ia menatap ke arah cermin, melihat wajahnya sendiri yang tampak kusam, lalu menatap rumah di seberang dari balik tirai. Ia segera menghapus air matanya, dan kembali ke rumah Marissa. Ia butuh pelarian. "Mas Fandi batal pulang hari ini," lapor Emma. "Oh... masih sibuk, ya?" ucap Marissa dengan nada iba yang justru membuat Emma merasa ingin berteriak. Emma mengangguk cepat. "It's okay. Cuma beda sehari," ujarnya, santai. "Ngomong-ngomong kamu udah coba bolu ketan hitamku?" Tanyanya menunjuk kue itu di meja. Marissa mengangguk. "Udah tadi bareng Mas Armand. Enak banget ada krim kejunya. Kata Mas Armand lebih enak dari buatanku. Biasanya aku bikin polos aja." "Aku coba resep baru." Emma ikut tersenyum kecil, pujian itu seperti sebuah kemenangan kecil baginya. "Oh ya, katanya kamu mau ke Bali? Second honeymoon? Kapan?" tanya Marissa tiba-tiba. Emma tercekat. Kebohongan yang pernah ia ucapkan sambil lalu itu kini menuntut jawaban. "Fandi bilang sih... bulan depan," jawabnya lirih, menambahkan satu kebohongan lagi. Marissa menepuk tangan Emma dengan tulus. "Wah, akhirnya! Aku ikut senang banget. Yuk ke taman." Perhatian tulus Marissa bagai siksaan bagi Emma. Di tengah aroma mawar dan manisnya ketan hitam, Emma merasakan sesuatu di hatinya merambat kian kuat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD