Harapan Yang Rapuh

989 Words
Suasana makan malam di rumah Emma terasa hening—nyaris seperti ruang kosong yang hanya diisi suara gesekan sendok dan piring. Di hadapannya, Fandi makan dengan tenang, wajahnya tampak lelah setelah kepulangannya sore tadi. Rambutnya masih basah, baru selesai mandi, tapi guratan stres pekerjaan belum juga hilang. Setiap geraknya berat, seolah seluruh beban dunia menumpuk di pundaknya. Emma, yang sudah terbiasa dengan sikap dingin itu, tak pernah benar-benar menyerah. Ada bagian kecil dalam dirinya yang masih berharap—mungkin malam ini berbeda. Mungkin Fandi mau lebih banyak bicara, berbagi cerita, atau sekadar tertawa kecil seperti dulu. “Gimana kerjaan kamu, Mas? Lancar?” tanyanya lembut, sambil menuangkan air ke gelas Fandi. Fandi hanya mengangguk pendek. “Memangnya kemarin masalah teknis apa sih, sampai enggak jadi pulang?” Fandi menghela napas panjang, seperti baru saja mendaki bukit terjal. “Jangan bahas kerjaan dulu, Em. Aku capek banget.” Suaranya datar, nyaris tanpa emosi. Jawaban itu menampar hati Emma. Ia tahu Fandi lelah, tapi rasa kecewa tetap merambat pelan. Ia hanya ingin sedikit cerita, sedikit kehangatan—tapi yang ia terima kembali hanyalah tembok dingin. Hening merayap lagi. Emma menunduk menatap piringnya, lalu melirik Fandi. Ia teringat pertanyaan Marissa tentang Bali—kebohongan kecil yang pernah ia ucapkan. Mungkin ini saatnya mengubahnya jadi kenyataan. Mungkin liburan bisa menyembuhkan jarak di antara mereka. “Hm, aku punya ide, Mas...” ucapnya pelan, mencoba tersenyum. “Gimana kalau bulan depan kita ke Bali? Sekalian second honeymoon. Aku rasa kamu juga butuh istirahat.” Fandi menghentikan suapannya. Garpu di tangannya menggantung di udara. Tatapannya lelah, datar. “Bali? Mendadak banget, Em. Kamu tahu kan aku susah dapat libur. Apalagi kalau dadakan begini. Jadwalku padat. Kalau mau, harus diatur jauh-jauh hari.” Senyum Emma perlahan luntur. “Tapi kan kita bisa rencanain dari sekarang. Aku cuma pengin waktu berdua aja... kita udah lama enggak—” “Emma!” potong Fandi, nada suaranya meninggi, tajam seperti pisau. “Bukan masalah mau atau enggak mau, tapi aku benar-benar enggak bisa. Bulan depan ada proyek besar yang harus aku handle.” Ia kembali menyuap makanannya, seolah percakapan itu tak pernah terjadi. Dada Emma sesak. Kata-kata yang sempat ia susun di kepala lenyap begitu saja. Ia menunduk, menatap nasi yang kini hambar, menahan air mata yang hampir pecah. Setelah membereskan meja makan, Emma masuk kamar lebih dulu. Ia membersihkan diri, mengenakan daster lembut, merapikan rambut, lalu berbaring. Aroma lotion samar memenuhi kamar. Ia menatap pintu, menunggu Fandi. Jam di nakas menunjukkan hampir pukul sebelas. Pintu kamar akhirnya terbuka. Emma menoleh cepat, mencoba tersenyum. Tapi Fandi hanya melangkah gontai, menjatuhkan tubuh di ranjang tanpa sepatah kata. Ia memunggunginya, menutup mata. Tak lama, dengkuran halus mulai terdengar. Emma terdiam. Punggung itu—yang dulu begitu hangat saat merangkulnya—kini menjadi dinding dingin yang tak bisa ditembus. Ia menggigit bibir, menahan tangis, tapi akhirnya air mata itu jatuh juga, membasahi bantal. Dulu, Emma bangga dengan Fandi yang ambisius. Tapi setelah hampir sembilan tahun menikah, yang tersisa hanya sepi. Fandi memang sukses, kini menjadi produser acara televisi, tapi kesuksesan itu bagai bumerang—mengambil semua waktu dan perhatiannya. Tak sanggup menahan sesak, Emma bangkit. Ia melangkah ke dapur, membuka laci kecil, mengeluarkan sebungkus rokok. Api menyala, asap tipis mengepul. Ia mengisap dalam-dalam, lalu menghembuskan napas panjang—seolah mengeluarkan semua luka. Dari ruang tamu, ia menyingkap sedikit tirai jendela. Rumah di seberang tampak terang. Armand terlihat sedang menelpon, tertawa lepas. Tawa itu tembus hingga ke tempat Emma berdiri. Senyum kecil muncul di bibirnya, namun segera sirna, berganti sesak yang menyesak di d**a. Kamu memang beruntung, Ris, batinnya getir. Emma menatap rokok di tangannya, menghembuskan asap terakhir, lalu menutup tirai. --- Pagi itu Emma berusaha memulai hari dengan semangat baru. Ia bangun lebih awal, menyiapkan nasi goreng spesial—menu favorit Fandi. Potongan ayam kesukaan suaminya ia tambahkan, berharap pagi ini lebih hangat dari semalam. “Mas, kamu pulang jam berapa nanti? Sore atau malam?” tanyanya dengan suara yang dibuat ceria. “Mungkin agak sore,” jawab Fandi, tersenyum tipis. “Oh, oke. Kamu mau dimasakin apa buat makan malam?” “Apa aja,” jawabnya ringan. Hati Emma sedikit lega. Ia memberanikan diri lagi. “Mas... mumpung kamu belum terlalu sibuk, gimana kalau kita mulai program kehamilan lagi? Ke dokter, mungkin?” suaranya lembut, penuh harap. Senyum Fandi memudar. “Serahin aja sama yang di atas, Em. Anak itu titipan. Kalau belum dikasih, berarti Tuhan belum percaya sama kita.” Emma tercekat. “Tapi kita juga harus berusaha, Mas…” “Selama ini kita udah berusaha.” Tatapannya kembali dingin. “Tapi belum cukup, Mas! Kita aja jarang... ya, kamu terlalu sibuk kerja!” Fandi menatap tajam. “Oh, jadi sekarang kamu nyalahin aku? Kamu enggak sadar kesalahanmu juga?” Emma menatapnya bingung. “Kesalahanku?” Fandi menyipitkan mata. “Aku tahu kamu belum berhenti merokok. Kamu pikir aku enggak lihat bungkusnya di dapur?” Wajah Emma memanas, antara malu dan marah. “Itu cuma sesekali... kalau lagi stres. Udah jarang kok...” Fandi tersenyum sinis—senyum yang lebih tajam dari bentakan. Air mata menggenang di mata Emma. Ia ingin membela diri, tapi lidahnya kelu. Keheningan menggantung. Fandi menghabiskan nasi gorengnya, meletakkan sendok dengan suara keras, lalu berdiri. Tanpa menoleh, ia mengambil kunci mobil dan keluar rumah, menutup pintu dengan benturan berat. Suara mobil perlahan menjauh. Emma masih duduk, menatap nasi goreng yang kini dingin dan kering. Air matanya jatuh, membasahi pipi. Di balik keheningan pagi itu, ia kembali merasa tak berarti—hampa, bagai bayangan. Di luar, matahari perlahan naik, menyinari halaman rumah yang basah oleh embun. Dari balik jendela, Emma memandangi pantulan dirinya di kaca—wajah yang dulu penuh harapan kini tampak letih dan asing. Ia tersenyum samar, senyum yang lebih mirip luka daripada kebahagiaan. Dalam hati kecilnya, ia masih berdoa agar suatu hari Fandi menoleh kembali, meski hanya sekejap, melihat bahwa di balik semua diam dan kesalahan kecilnya, ada cinta yang belum pernah benar-benar padam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD