Dari jendela ruang tamunya, mata Emma membelalak, melihat sebuah SUV mewah berdiri gagah di halaman rumah Marissa. Cat hitamnya yang mengilap memantulkan cahaya mentari pagi, menebarkan kilau bodinya yang begitu sempurna. Tampak sekali mobil itu baru keluar dari showroom.
Hati Emma langsung tercekat, perasaan iri menyelinap tanpa bisa dicegah. “Mobil baru lagi...” gumamnya lirih, seolah berbicara pada dirinya sendiri.
Tanpa pikir panjang, Emma bergegas menghampiri Fandi yang tengah merapikan rambutnya di depan cermin ruang tamu, bersiap ke kantor. “Mas, lihat deh! Mobil Armand baru lagi,” ucapnya, antusias, berpikir reaksi Fandi akan sama.
Tapi Fandi hanya menoleh sekilas, tak tertarik. “Terus kenapa? Kamu kepingin juga?” jawabnya dingin.
Emma tersentak. Ia sama sekali tak menyangka jawaban itu akan keluar dari mulut Fandi.
“Aku cuma ngasih tahu, Mas. Kamu enggak perlu merasa tersinggung,” balasnya kesal. Matanya melirik sekilas ke arah mobil mereka yang sudah berusia tujuh tahun. Catnya mulai kusam, interiornya sudah beberapa kali minta ganti, dan kini terasa kian usang dibanding kemewahan mobil di seberang sana.
Fandi berbalik, pandangannya menusuk Emma. “Aku bosan kamu selalu membanding-bandingkan aku dengan Armand!” Ucapnya dengan nada sinis, seolah meluapkan isi hatinya yang terpendam.
Emma terperangah. Ia sama sekali tak bermaksud menyinggungnya. “Bukannya membandingkan, Mas! Tapi kenyataannya memang begitu. Armand juga kerja keras, sukses, tapi selalu punya waktu buat keluarganya. Enggak kayak kamu!” Suara Emma meninggi. Ucapan sinis Fandi menyulut emosinya. Rasa kesal dan lelah menghadapi sikap Fandi membuat ia akhirnya meledak.
Wajah Fandi memerah. Rahangnya mengeras. “Kamu pikir aku senang kerja lembur, banting tulang sampai enggak punya waktu?!” suaranya bergemuruh, mengisi seluruh ruangan. “Itu bukan mauku, Em! Aku lakukan semua ini supaya kamu bisa hidup enak, supaya kita bisa bayar cicilan rumah, bayar listrik, bayar semua kebutuhan bulanan."
Kalimat-kalimat Fandi meluncur deras, tajam, bagai hujan panah yang menghujani Emma tanpa ampun.
Emma semakin terperangah. Ia menggigit bibirnya yang bergetar. Kedua matanya berkaca-kaca. “Aku bukannya kepingin mobil baru, Mas. Aku cuma...” suaranya tercekat. Ia menarik napas, lalu memuntahkan semua yang menyesakkan dadanya. “Justru karena kamu terlalu keras banting tulang, kamu lupa sama yang lain! Sama aku! Sama impian kita untuk punya anak!” Kata-kata itu pecah, bergetar, penuh luka yang selama ini ia pendam.
Hening. Untuk sesaat Fandi terdiam, napasnya memburu. Urat di pelipisnya menegang. Ia menghela napas kasar, meraih tas kerjanya dengan gerakan terburu, lalu melangkah cepat menuju pintu. Pintu berderit, kemudian tertutup dengan keras.
Emma berdiri mematung, dadanya bergemuruh. Suara mesin mobil Fandi terdengar di luar, meraung, lalu menjauh meninggalkan pekarangan rumah. Suaranya bagai palu godam, menghantam ruang kosong di dadanya. Emma menarik nafasnya yang kembali terasa sesak. Ia merasa lelah. Mengapa selalu begini? Mengapa selalu saja terulang pertengkaran yang dipicu hal-hal kecil yang tak berarti.
Mata Emma lalu tertumbuk pada bekal makan siang Fandi yang tadi ia siapkan dengan susah payah, masih tergeletak rapi di atas meja makan. Terabaikan, seperti dirinya.
Emma menjatuhkan diri ke kursi. Tatapannya kosong, menyapu meja yang berantakan. Gelas kopi yang kotor, piring dengan sisa sarapan, sendok yang tercecer. Semangatnya untuk membereskan rumah lenyap seketika.
Pandangan matanya lalu berkeliling, menangkap detail kecil yang selama ini ia hadapi sendirian: tumpukan pakaian kotor Fandi di sudut kamar, handuk basah tergeletak di lantai kamar mandi, bantal sofa terlempar sembarangan, ranjang yang masih berantakan. Pemandangan yang selama ini terbiasa ia hadapi, namun kini menimbulkan pertanyaan yang mengusik hatinya :
Untuk apa ia melakukan semua ini, jika ia tak pernah dihargai?
Padahal ia sudah mengorbankan banyak hal demi menjadi istri yang baik. Ia menuruti permintaan Fandi untuk berhenti bekerja agar mereka cepat memilki buah hati. Ia juga sengaja tak memakai asisten rumah tangga, agar kesepiannya sedikit terisi dengan pekerjaan rumah. Ia tak pernah menuntut dibelikan mobil mewah, pelesiran setiap bulan, atau meminta perhiasan mahal seperti Marissa. Ia hanya ingin dirinya terlihat dan pengabdiannya dihargai. Apakah itu berlebihan?
Emma kembali menarik nafasnya yang berat. Untuk kesekian kalinya ia merasa dirinya bukanlah seorang istri, melainkan pelengkap rumah ini.
Suara mesin mobil terdengar dari seberang. Dengan naluri yang sudah menjadi kebiasaan, Emma beranjak, berjalan ke jendela, menyibak tirai. Dan di sana, alam kembali mempermainkannya—pemandangan yang kontras tampak di depan matanya.
Armand keluar dengan setelan rapi, wajahnya segar. Dengan penuh kelembutan, ia mencium kening Marissa sebelum masuk ke mobil barnya. Marissa tersenyum ceria, matanya berbinar, melambaikan tangan dengan penuh cinta saat suaminya melesat pergi.
Pemandangan itu menghantam Emma. Ia merasakan hatinya semakin teriris pedih. Betapa sempurna hidup Marissa. Betapa bahagianya ia terlihat, memiliki suami seperti Armand. Sukses, tampan dan penuh perhatian.
Emma buru-buru menutup tirai, tapi terlambat. Marissa rupanya sempat melirik ke arahnya, lalu berjalan menyeberang. Emma panik sejenak. Ia mengatur napas, menghapus cepat air matanya, lalu membuka pintu dengan senyum dipaksakan.
“Mobil baru lagi, nih?” Emma mencoba terdengar riang, meski suaranya bergetar halus.
Marissa tersenyum tipis, seolah ingin meredakan kecanggungan. “Mobil kantor...” ucapnya singkat, sebuah alasan yang sudah terlalu sering Emma dengar.
Pandangan Marissa beralih ke dalam rumah yang belum ia bereskan. “Tumben berantakan, Em?” tanyanya lembut.
Emma buru-buru menyembunyikan bekal Fandi yang tertinggal, mencoba tersenyum santai. “Aku lagi malas aja. Fandi malah nyuruh cari ART, biar enggak kecapekan,” dustanya.
Marissa menatap wajah Emma lekat-lekat. “Kamu kelihatan capek. Mukamu pucat. Kamu sakit?”
“Iya, mungkin PMS. Menstruasi agak telat,” jawab Emma asal, mencoba menghindar.
Mata Marissa membulat, penuh dugaan. “Jangan-jangan kamu...”
“Hamil?” Emma cepat menyahut, tertawa hambar. “Enggak lah...”
“Coba cek aja pakai test pack. Siapa tahu?” desak Marissa penuh harap.
Emma terpaksa mengangguk. “Nanti aku beli.” Suaranya datar, hatinya mencelos. Ia sadar, ia baru saja menambah satu kebohongan lagi untuk menutupi kekosongan hidupnya.
"Kamu enggak mau pakai ART juga, Ris?” Tanya Emma untuk mengalihkan perhatian.
Marissa menggeleng. “Kamu kan, tahu aku enggak suka rumahku disentuh orang lain.” Senyumnya tipis, ada bayangan trauma lama yang Emma tahu betul. Tentang insiden Savannah hampir diculik dulu.
Keduanya terdiam sejenak, hingga suara Marissa terdengar lagi. “Ngomong-ngomong Mawar kamu bunganya mulai mekar. Pupuknya manjur juga ternyata.”
"O ya?" Mata Emma berbinar, senyumnya mengembang.
“Mau lihat sekarang?" Tanya Marissa, beranjak dari duduknya.
Emma mengangguk cepat. Dan untuk pertama kalinya di pagi itu, Emma merasakan secercah bahagia kecil. Sesuatu yang sederhana, tapi cukup untuk membuatnya bertahan satu hari lagi.
Saat langkah mereka menuju taman belakang, embun masih menempel di kelopak mawar yang baru mekar. Cahaya matahari menembus lembut di antara dedaunan, menciptakan bias hangat di wajah Emma. Dalam diam, ia menatap bunga itu lama, seolah menemukan secuil ketenangan di tengah hidup yang berantakan. Entah kenapa, melihat mawar itu tumbuh dari batang yang dulu hampir layu membuatnya berpikir—mungkin dirinya pun masih punya kesempatan yang sama, untuk tumbuh lagi, meski perlahan, meski sendirian.