Siang itu sepulang dari rumah sakit, Emma melangkah ringan menuju rumah Marissa. Senyumnya merekah lebar. Di tangannya, ia membawa sekotak kue basah—sebuah niat kecil untuk berbagi kebahagiaan yang sedang meluap.
"Hai, Ris!" sapanya ceria begitu melangkah masuk. Ia mendapati Marissa tengah sibuk di balik konter dapur marmernya, berdiri di depan Bertazzoni putih gading yang megah. Kenop-kenop kuningannya yang mengilap memantulkan cahaya pagi, tampak kontras dengan permukaan kompor yang selalu dijaga Marissa agar tetap tanpa noda.
Marissa menoleh, jemarinya yang lentik dengan tangkas membalik pisang goreng di atas penggorengan tanpa menimbulkan cipratan minyak sedikit pun. Ia tertawa kecil. "Aku kira kamu lagi sibuk nemenin yayang cuti?" godanya.
Emma terkekeh, meletakkan kotak kuenya di atas meja kayu putih gading yang bersih. "Pulang dari rumah sakit dia langsung tidur. Makanya aku ke sini." Suara Emma diliputi nada riang yang tak bisa disembunyikan.
Marissa mematikan kompor dengan satu putaran halus pada kenop Bertazzoni-nya. Matanya menatap Emma lembut. "Jadi, gimana konsultasinya?"
"Alhamdulillah lancar. Tadi udah sekalian tes lab, tinggal nunggu hasilnya. Kalau bagus, aku langsung daftar program." Sorot mata Emma berbinar penuh harap.
Marissa tersenyum hangat, lalu menepuk bahu sahabatnya itu dengan gerakan yang menenangkan. "Aku yakin kamu pasti berhasil, Em." Ia kemudian menata pisang goreng wijen renyah itu di atas piring porselen putih, memastikan tiap potongnya berjajar rapi. "Yuk, ke taman."
Ditemani pisang goreng dan teh hangat yang uapnya menari-nari di udara, keduanya duduk di kursi rotan putih di taman belakang. Mawar-mawar Marissa yang tumbuh dalam barisan simetris tampak bermekaran sempurna. Aroma tanah lembap yang disiram sore tadi berpadu dengan harum teh melati, menciptakan suasana yang begitu damai—keheningan yang sangat indah, seolah waktu sengaja berhenti untuk merayakan harapan Emma.
"Tumben, Fandi libur di hari kerja?" tanya Marissa sambil menyesap tehnya.
Emma mengunyah pelan gorengannya. "Dia sengaja cuti buat ke dokter."
"Oh... akhirnya." Marissa tersenyum lega. "Terus, bulan depan jadi ke Bali?"
Pertanyaan itu membuat Emma tercekat. Wajahnya memanas. Kenapa dia selalu mengingat itu? Gerutunya dalam hati. Kini ia merasa kebohongan itu bagai beban yang harus ditanggungnya. Cepat-cepat ia menutupi.
"Katanya masih ngurus cuti di kantor. Mudah-mudahan jadi." Ia lalu balik bertanya, "Kamu enggak mau liburan panjang juga? Katanya mau ngajak liburan Sava lihat Bunga Sakura di Jepang?"
Marissa menggeleng. "Belum tahu. Mas Armand kalau cuti panjang susah, kerjaannya banyak."
Emma mengangguk pelan, lalu melirik. "Enak ya, suamimu. Kerja di firma hukum besar, gajinya pasti besar." Nada suaranya mengandung kekaguman bercampur iri yang sulit ia sembunyikan.
Marissa tersenyum tipis. "Mas Armand kan masih pengacara junior. Gajinya biasa aja."
Emma mengangkat alisnya. "Masak sih? Tapi kok... mobilnya...?" Kalimatnya menggantung, rasa canggung menyergap.
Marissa tersenyum maklum. "Bosnya Mas Armand baik banget. Mobil itu dari kantor. Rumah juga. Bahkan kalau kita liburan, sering dibiayai."
Emma melotot tak percaya. "Sampai liburan ke luar negeri juga?"
Marissa mengangguk santai, seakan itu hal yang wajar.
Fasilitas buat semua karyawan atau cuma Armand?" suara Emma penasaran.
"Kayaknya cuma Mas Armand aja."
"Oh ya?" Emma tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Matanya menyipit. "Kok, bisa? Kamu nggak merasa... aneh gitu, Ris?"
Marissa tersenyum tipis, lalu menyesap tehnya perlahan. Di balik ekspresinya yang tenang, ia bisa merasakan tatapan menyelidik Emma.
Sebenarnya, ia sama sekali tidak terkejut dengan pertanyaan itu. Karena jauh di sudut pikirannya yang paling gelap, ia pun sering bertanya-tanya. Namun, setiap kali keraguan itu mengetuk, ia segera mengunci pintunya rapat-rapat.
Kenapa harus cari alasan untuk tidak percaya? Batinnya berbisik.
Baginya, kehidupannya saat ini adalah sebuah wadah kaca yang sangat indah. Mungkin rapuh, tapi justru itu ia ingin menjaganya sekuat tenaga. Armand dan Sava adalah dunianya. Ia tak punya siapa pun di dunia kecuali keluarga kecilnya. Keluarga sempurna yang dulu hanya ada dalam angan-angannya. Ia tak ingin siapa pun atau apa pun menghancurkannya.
Ia tidak butuh mencari tahu apa yang ada di balik kemurahan hati Pak Wisnu. Ia tidak butuh kebenaran jika itu berarti harus merusak ketenangan yang sudah ia bangun dengan susah payah.
Ia lebih memilih untuk tidak tahu apa-apa. Selama Armand berkata semua baik-baik saja, maka dunianya akan tetap baik-baik saja. Ia akan menjaga mimpinya ini, meski ia harus berpura-pura buta terhadap hal-hal yang tidak masuk akal di sekitarnya.
"Mungkin memang rezeki Mas Armand, Em. Dia kan tipe orang yang kalau dikasih tanggung jawab, kerjanya totalitas banget," jawab Marissa lembut, suaranya tetap ringan, sama sekali tidak menunjukkan pergolakan batin yang baru saja terjadi.
Sambil tersenyum kaku, Emma menggeleng. "Oh.. beruntung banget suamimu punya bos sebaik itu..." Ucapnya.
Dalam hati, benih keraguan di hati Emma mulai tumbuh. Ia tak percaya ada bos sebaik itu- memberikan rumah, mobil, bahkan liburan ke luar negeri. Firasatnya berteriak, pasti ada sesuatu di balik itu semua.
"Pak Wisnu itu memang baik banget. Dia anggap kami kayak keluarga. Sering kasih bonus besar, katanya buat biaya sekolah Sava," lanjut Marissa riang, wajahnya berseri.
Emma terdiam. Dari balik senyumnya, pikirannya berputar. Untuk pertama kali, ia merasa kehidupan yang tampak sempurna itu menyimpan celah. Dan anehnya, di balik rasa iri dan cemburu yang kerap menghantuinya, kini ada kepuasan ganjil yang merayap di d**a Emma-seperti rasa manis yang pahit. Ternyata, hidup Marissa tak sesempurna yang ia lihat. Kebahagiaan Marissa mungkin hanyalah sebuah istana pasir di atas pondasi kebaikan Pak Wisnu.
***
Malam itu, ketika semua lampu rumah sudah dimatikan dan keheningan mulai merambat, Emma berbaring di ranjangnya. Fandi tidur pulas di sampingnya, napasnya teratur, seolah dunia di luar sana sama sekali tak mengusiknya.
Emma menatap langit-langit kamar, matanya enggan terpejam. Bayangan wajah Marissa terus menari-nari dalam pikirannya. Ekspresinya yang polos saat menceritakan kebaikan bos Armand, mengusik hatinya. Masa iya ada atasan sebaik itu? pikirnya berulang kali. Mobil, rumah, liburan, bahkan biaya sekolah. Semua serba ditanggung. Terlalu indah untuk bisa dipercaya.
Ia menghela napas panjang, menggigit bibir bawahnya. Apa mungkin Marissa hanya terlalu lugu untuk menyadari sesuatu? Atau... jangan-jangan dia memang menutup mata? Emma memejamkan mata, tapi hatinya berdebar tak tenang. Nalurinya berbisik ada sesuatu yang salah.
Tiba-tiba terlintas sosok Armand yang ia lihat semalam-gelisah, mondar-mandir di depan rumah. Apa itu ada hubungannya? Semakin ia mencoba mengabaikan, semakin kencang bayangan itu mendesak masuk ke pikirannya.
Ia menutup wajah dengan bantal, berharap bisa menenggelamkan semua pikiran yang berisik itu. Namun malam tetap panjang, dan pertanyaan-pertanyaan itu terus menghantui hingga kantuk akhirnya menyeretnya ke alam mimpi yang tak tenang.
Di luar jendela, bulan separuh menggantung sendu di langit. Cahayanya menembus tirai tipis, jatuh di wajah Emma yang tertidur gelisah. Di kejauhan, terdengar samar deru mesin mobil dari arah rumah Marissa, lalu hening kembali. Malam seolah menyimpan rahasia yang belum siap diungkapkan-dan entah kenapa, di relung hatinya yang paling dalam, Emma tahu, malam itu adalah awal dari sesuatu yang akan mengubah segalanya.