Gelang Kecurigaan

1003 Words
Malam itu, saat bersantai di ruang keluarga, Emma tak bisa menahan diri untuk bercerita pada Fandi-sebuah fakta baru tentang keluarga seberang yang ia temukan siang tadi. "Mas, tahu enggak..." ujarnya pelan tapi penuh semangat, menoleh pada Fandi yang tengah serius menonton berita-satu-satunya acara televisi yang sanggup membuatnya betah. "Ternyata rumah Marissa itu katanya pemberian dari kantornya Armand. Jadi... bukan milik mereka." Emma menunggu reaksi Fandi. Fandi langsung menoleh. Alisnya bertaut. "Pemberian? Rumah dinas maksudnya?" Emma mengangguk, sorot matanya berbinar. "Iya! Dan mobilnya juga... bahkan biaya sekolah Sava yang mahal itu dibayarin!" tambahnya antusias. Dahi Fandi berkerut dalam. "Bukannya Armand itu masih advokat junior?" Emma mengangguk pelan, senang melihat Fandi mulai menunjukkan minat. Ia sempat berharap naluri jurnalis lama suaminya akan muncul kembali-naluri yang dulu membuat mereka berdua rela begadang di ruang redaksi hingga dini hari. Dunia yang telah mengajarkan satu hal padanya: tidak ada kebenaran yang benar-benar utuh, tidak ada kesempurnaan yang benar-benar sempurna. Dan meski ia telah lama meninggalkan pekerjaan itu, instingnya tak pernah padam. Namun ternyata, hanya sebentar saja. Fandi kembali menatap layar televisi tanpa minat lebih lanjut. Emma menatapnya, lalu menarik napas panjang. "Mas, mau kentang goreng, enggak?" tanyanya akhirnya, berusaha menutupi rasa kecewa. "Boleh," jawab Fandi tanpa menoleh. Emma beranjak ke dapur, menyalakan kompor, dan mulai menggoreng kentang. Di tengah kesibukannya, suara mesin mobil terdengar dari luar rumah. Ia melirik sekilas ke arah jendela-Armand baru pulang. Namun beberapa menit berlalu, mesin mobil itu masih menyala. Ada sesuatu yang membuat Emma resah. Ia menurunkan api kompor, lalu mengendap ke arah pintu dapur, membukanya sedikit, dan mengintip keluar. Armand tampak duduk di dalam mobil, menelepon seseorang. Wajahnya berseri-seri, bahkan sempat tertawa kecil-ekspresi yang belum pernah dilihat Emma sebelumnya. Beberapa malam lalu, ia juga melihat hal serupa: Armand menelepon seseorang dengan wajah tegang, berbicara cepat seperti orang yang sedang berdebat. Dan malam ini, ia tertawa. Mencurigakan. Tiba-tiba pintu rumah seberang terbuka. Marissa keluar, melangkah ke arah mobil. Armand terlonjak kaget, buru-buru mematikan ponsel, lalu mesin mobilnya. Gerakannya terlalu cepat, terlalu gugup-seolah sedang menyembunyikan sesuatu. "Emma!" Suara Fandi membuatnya terperanjat. Ia berbalik. Fandi berdiri di belakangnya, wajahnya kesal. "Kentang goreng kamu udah gosong." Emma hampir menjatuhkan sutil di tangannya. Ia buru-buru kembali ke dapur. Benar saja-kentangnya sudah gosong sebagian. Untung Fandi sudah mematikan kompor. "Maaf..." gumamnya gugup. "Mau aku gorengin lagi?" Fandi menggeleng, lalu mengambil piring. "Enggak apa-apa. Aku makan yang ini aja," ujarnya singkat sebelum kembali ke ruang tamu. Emma menarik napas lega, tapi pikirannya tidak ikut tenang. Apa yang baru dilihatnya terlalu mencurigakan untuk diabaikan. Armand jelas menyembunyikan sesuatu. Dan Emma tahu, ia tak akan berhenti sampai menemukan jawabannya. *** Keesokan paginya, Emma menyambut hari dengan senyum yang hampir ia lupakan rasanya. Tubuhnya terasa ringan, hatinya hangat. Setelah sekian lama dingin, Fandi akhirnya kembali menyentuhnya semalam. Kehangatan itu membuat Emma seolah hidup lagi. Setelah membereskan rumah dan memastikan Armand sudah berangkat kerja, ia melangkah ringan menuju rumah seberang. "Pagi, Ris!" sapanya ceria dari pintu dapur. Aroma manis menyambutnya. Marissa menoleh dengan wajah cerah. "Aku lagi bikin singkong Thailand. Cobain, deh," ujarnya, mengulurkan mangkuk kecil. Emma menyuapkan sesuap. Rasa gurih dan manis berpadu lembut di lidah. "Enak banget! Singkongnya kok bisa legit gini, beli di mana?" "Dikirimin mertuaku kemarin." Emma menghela napas kecil. "Enak, ya, punya mertua baik." Ada nada getir yang tak sengaja keluar. Marissa hanya tersenyum canggung. Ia tahu hubungan Emma dengan mertuanya tidak terlalu hangat. Namun tiba-tiba mata Emma membulat. "Itu... baru, ya?" serunya pelan, menatap pergelangan tangan Marissa. Marissa mengangkat tangannya. "Maksudmu gelang ini?" Emma mengangguk. Pandangannya terpaku pada gelang rantai emas bertabur berlian yang melingkar di pergelangan tangan sahabatnya. "Hadiah?" suaranya bergetar tanpa sadar. Marissa tersenyum tipis. "Dari Mas Armand. Katanya dapat bonus bulanan dari kantor." Bonus lagi? Kata itu membuat d**a Emma terasa sesak. Ia meraih tangan Marissa, menyentuh gelang itu. Dingin logamnya, keras permatanya, dan kilaunya terasa terlalu berlebihan. "Ini... asli?" Marissa mengangguk ringan, seolah hal itu bukan sesuatu yang besar. Emma buru-buru membuka ponselnya, memotret gelang itu, lalu melakukan pencarian gambar. Beberapa detik kemudian, hasilnya muncul di layar: gelang identik, dengan harga lebih dari dua ratus juta. "Ya Tuhan..." gumamnya lirih. "Kenapa?" tanya Marissa, penasaran. Emma memperlihatkan layar ponselnya. Marissa hanya tertawa kecil. "Aku udah bilang, Mas Armand sering dapat bonus dari Pak Wisnu." Lagi-lagi alasan bonus. Emma menatap wajah sahabatnya dengan campuran tak percaya dan kecurigaan yang semakin dalam. Tidak mungkin seorang advokat junior mendapat bonus sebesar itu. Rasanya tak masuk akal. Suasana mendadak hening. Hanya suara burung pagi yang terdengar dari taman. "Yuk, ke taman," ajak Marissa, memecah keheningan. Emma mengangguk. Mereka duduk di kursi taman. Sinar matahari pagi jatuh lembut di wajah Marissa, memantulkan kilau dari gelang di tangannya. Senyum Marissa begitu tenang, seolah dunia tak pernah memberinya luka. Tapi bagi Emma, ketenangan itu tampak seperti tirai tipis yang menutupi sesuatu. "Ris..." suara Emma akhirnya pelan, tapi tegas. "Kamu enggak pernah curiga sama Armand?" Marissa menoleh, heran. "Curiga apa?" "Ya... semua ini. Rumah, mobil, sekolah Sava, bahkan gelang itu. Apa kamu enggak merasa aneh?" Marissa tersenyum samar. "Kamu enggak percaya?" Emma menggeleng. "Aku enggak percaya ada bos sebaik itu tanpa alasan." "Tapi aku percaya. Karena Mas Armand bilang begitu." Jawaban itu ringan, nyaris polos. Emma terdiam. Kepolosan itu terasa janggal, seolah terlalu dipaksakan. Ia menatap wajah sahabatnya lama-lama, mencoba membaca sesuatu di balik tenangnya tatapan itu. Matanya beralih ke gelang berlian di tangan Marissa. Cahaya pagi membuat bebatuannya berkilau seperti menertawakan logika. Hatinya berbisik pelan: kesempurnaan ini terlalu nyata. Dua ratus juta untuk bonus bulanan junior? Firma hukum mana yang membagi keuntungan sebesar itu kalau bukan sedang mencuci uang atau menyembunyikan skandal besar? Pandangannya kini jatuh pada cangkir kopi di meja taman-masih hangat di permukaan, tapi hitam di dasarnya. Emma menatap kopi hitam di dasarnya, menyadari bahwa seperti kopi itu, rahasia Armand mungkin pahit dan pekat, tinggal menunggu waktu sampai ampasnya naik ke permukaan. Emma menarik napas panjang, merasakan sesuatu mengendap di d**a. Entah kenapa, ia yakin ada sesuatu yang disembunyikan di balik senyum lembut Marissa dan kilau gelang berlian itu. Sesuatu yang ia yakini, kelak, cepat atau lambat akan terkuak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD