Ketahuan

1298 Words
Pagi itu, setelah Fandi berangkat ke kantor, Emma bergegas membereskan rumah. Hatinya diselimuti semangat yang jarang ia rasakan. Hari ini, akhirnya ia akan memulai program kehamilan yang sudah lama dinantikannya—sebuah harapan kecil yang terus ia pupuk di tengah kekosongan rumahnya yang sunyi. Namun belum sempat pekerjaannya selesai, suara pintu rumah tetangga yang dibuka membuatnya berhenti. Nalurinya spontan mendorong langkahnya menuju ruang tamu. Ia menyingkap sedikit tirai jendela, mengintip keluar dengan rasa penasaran yang tak tertahankan. Di halaman rumah seberang, Armand baru saja keluar, disusul oleh Marissa yang mengantarnya sampai pagar. Mata Emma memandangi Armand dengan saksama. Biasanya ia tak begitu peduli pada penampilan pria itu yang selalu tampak rapi dan berkelas. Tapi pagi ini, ada sesuatu yang lain—sesuatu yang mengusik perhatiannya. Setelan jasnya tampak begitu sempurna, seperti baru disetrika oleh tangan profesional. Sepatu kulitnya berkilau tanpa cela, dan tas kerja yang disandangnya… Emma menelan ludah pelan. Ia mengenali logo kecil di sudutnya—merek mewah yang harganya bisa menyamai satu bulan gaji Fandi. “Cuma pengacara junior…” gumamnya lirih, mengulang ucapan Marissa beberapa waktu lalu. Tapi dari tampilan itu, jelas Armand bukan sembarang pengacara. Sesuatu tak beres, pikir Emma. Begitu mobil Armand meninggalkan rumah, Emma kembali pada pekerjaannya, tapi pikirannya terus berputar. Rasa curiga yang awalnya samar kini berubah menjadi keyakinan samar—bahwa di balik wajah manis rumah tangga tetangganya itu, ada rahasia besar yang tersembunyi. Selesai membereskan rumah, Emma berganti pakaian dan bersiap menuju rumah sakit. Ia sudah memesan taksi, tinggal menunggu di depan rumah. Ia juga sudah mengirim pesan singkat ke Marissa, memberitahu bahwa mereka tak bisa ‘me time’ seperti biasa. Tak lama, taksinya datang. Dalam perjalanan, ia menatap jendela, memperhatikan jalanan Jakarta yang mulai padat oleh kendaraan. Pikirannya masih sibuk menimbang-nimbang tentang Armand dan Marissa—tentang hal-hal kecil yang kini terasa janggal. Tapi mendadak matanya menangkap sesuatu yang membuat napasnya tercekat. Di kejauhan, ia melihat mobil SUV hitam milik Armand berbelok masuk ke gerbang sebuah hotel mewah: Rosetta Hotel. “Rosetta?” bibirnya bergetar, matanya menyipit. “Ngapain ke hotel sepagi ini?” Tanpa banyak pikir, Emma meminta sopir menurunkannya di depan hotel itu. Ia menutupi rambutnya dengan syal, mengenakan masker, lalu menyelinap masuk ke lobi hotel. Dari kursi sudut dekat pot tanaman, Emma mengawasi lobi dengan hati berdebar. Armand berdiri di dekat lift, memegang ponsel, sesekali melihat ke arah jam tangannya. Gerak-geriknya tampak gelisah. Beberapa menit kemudian, seorang perempuan muda melangkah masuk. Cantik, berpakaian rapi tapi agak mencolok—dan yang membuat Emma tercekat, perempuan itu langsung menghampiri Armand dengan senyum akrab. Mereka sempat berbicara singkat, lalu masuk ke dalam lift bersama. Mata Emma membulat. “Siapa dia?” bisiknya pelan. Jantungnya berdetak cepat. Sebuah prasangka muncul, begitu kuat hingga menyesakkan d**a. “Jangan-jangan… Armand selingkuh?” Ia ingin mengejar, ingin memastikan, tapi waktu tak mengizinkan. Jadwal konsultasinya tinggal tiga puluh menit lagi. Akhirnya, dengan langkah berat, ia meninggalkan hotel itu, membawa pulang lebih banyak tanya daripada jawaban. *** Usai dari rumah sakit, Emma tidak langsung pulang. Bayangan Armand dan perempuan itu terus berputar di kepalanya. Tanpa berpikir panjang, ia berjalan cepat ke rumah Marissa. Begitu pintu dibuka, aroma ayam goreng langsung menyambutnya. Marissa tersenyum cerah dari dapur, tampak begitu alami, seperti biasa. “Hai, Em! Baru pulang? Yuk, makan siang bareng,” ajaknya ceria. Emma menggeleng pelan. “Aku belum lapar,” jawabnya dengan senyum tipis. “Sava udah pulang sekolah? Kok sepi banget?” “Udah, tapi tidur siang. Capek katanya,” sahut Marissa sambil mengambil sebotol jus dari kulkasnya. “Nih, minum yang sehat. Calon bumil harus dijaga,” katanya dengan nada lembut. Emma menerimanya, bibirnya tersenyum tapi hatinya gundah. Wajah Marissa tampak begitu tulus—terlalu tulus hingga membuat Emma ragu apakah benar ada rahasia yang disembunyikannya. Namun naluri dan rasa penasaran mengalahkan logikanya. “Ke taman, yuk,” ajaknya. Di taman itu, angin berembus lembut, bunga mawar mekar di sekeliling mereka, menciptakan suasana tenang yang ironis. “Gimana hasilnya?” tanya Marissa penuh semangat. “Udah mulai programnya?” Emma mengangguk sambil menaruh botol jus di meja. “Lancar. Doain aja ya, semoga berhasil.” Marissa tersenyum tulus. “Akhirnya… mudah-mudahan berhasil, Em.” Beberapa detik keheningan berlalu. Emma menatap wajah Marissa yang tenang, lalu memberanikan diri membuka topik yang sejak tadi mengganjal. “Tadi pagi, aku lihat mobil Armand masuk ke Rosetta Hotel,” ucapnya hati-hati, seolah sedang menakar reaksi. “Ada meeting, ya?” Marissa menatapnya, kening berkerut. “Rosetta Hotel?” Emma mengangguk pelan. “Yang deket City Mall.” Marissa tampak berpikir. “Kayaknya aku pernah dengar... tapi lupa.” Matanya mencari-cari jawaban yang tak kunjung ia temukan. “Kamu yakin itu Armand?” “Yakin,” jawab Emma menganggukkan kepala. “Meeting sama klien, ya?” Marissa terdiam sesaat, lalu tiba-tiba tersenyum. “Iya, mungkin. Kadang dia suka ada urusan kerja di luar kantor.” Emma hanya mengangguk, pura-pura menerima penjelasan itu. Tapi di dalam hatinya, justru keyakinan lain yang tumbuh— Marissa baru saja berbohong. Dan kini, Emma yakin satu hal: mereka berdua menyembunyikan sesuatu. *** Malamnya, rumah terasa sunyi. Emma duduk di ruang tamu, menonton televisi sambil menunggu Fandi pulang. Tapi pikirannya melayang ke banyak hal: tentang Rosetta Hotel, tentang senyum Marissa yang tiba-tiba gugup, dan tentang Armand yang kini terasa semakin misterius. Bel rumah tiba-tiba berbunyi. Emma menoleh cepat. Ia tak mendengar suara mobil Fandi di depan rumah, membuat rasa herannya muncul. Ia berjalan ke pintu, membuka kunci, dan saat daun pintu terbuka, matanya langsung membelalak. “Armand?” suaranya nyaris tak terdengar. Pria itu berdiri di depan pintu dengan ekspresi datar, hanya senyum kecil di ujung bibirnya. “Maaf, boleh aku masuk sebentar?” Emma terdiam. Ia sempat melirik ke arah rumah Armand—gelap, sunyi. Hatinya berdegup keras. Kenapa dia datang diam-diam? “Silakan…” jawabnya pelan. Armand melangkah masuk. Gerak-geriknya tenang, tapi ada sesuatu dalam sorot matanya yang membuat Emma merasa terpojok. Ia duduk di sofa, lalu menatapnya lekat. “Ada yang mau aku omongin,” ucapnya datar. Emma menelan ludah, duduk di hadapannya. “Apa?” Armand menarik napas panjang, lalu berkata dengan suara yang lembut tapi tegas, “Aku tahu selama ini kamu memata-matai aku.” Darah Emma seakan berhenti mengalir. “Aku cuma—” “Dan aku juga tahu kamu ngikutin aku di hotel pagi ini,” lanjutnya, kali ini dengan tatapan menusuk. Wajah Emma memucat. Tangannya gemetar, napasnya tercekat. Ia ingin bicara, tapi lidahnya kelu. Armand bersandar santai di sofa, seolah menikmati kepanikan yang dirasakannya sebelum akhirnya pria itu mulai menjelaskan semuanya dengan suara tenang—penjelasan yang membuat Emma ingin menghilang ke dalam lantai saat itu juga. Begitu Armand melangkah keluar dan pintu tertutup perlahan, Emma bersandar pada daun pintu yang dingin. Jemarinya masih gemetar, dan dadanya terasa sesak oleh campuran malu dan bersalah. Ia telah salah sangka. Tuduhan perselingkuhan yang ia susun di kepala sejak dari Rosetta Hotel tadi pagi hancur berantakan, berganti dengan kenyataan bahwa Armand justru sedang menyiapkan kejutan besar untuk Marissa—sebuah pesta ulang tahun sekaligus perayaan hari jadi pernikahan mereka bulan depan. Dan yang lebih membuatnya merasa kecil, Armand malah memintanya membantu rencana itu secara diam-diam. Emma mengembuskan napas lega bercampur getir. Ada kekaguman yang mendadak tumbuh di hatinya, menutupi rasa malu yang tadi sempat menghimpit. Ia tak menyangka, ternyata Armand memiliki sisi romantis yang begitu manis di balik pembawaannya yang kaku. Marissa memang sangat beruntung, pikirnya sambil menatap ruang tamunya yang sunyi. Begitu beruntung hingga terkadang Emma merasa seperti sedang berdiri di depan cermin kusam yang memantulkan kehidupan orang lain—hidup yang ia impikan, tapi tak pernah benar-benar dimilikinya. “Terlalu sempurna…” lirihnya pada kegelapan ruang tamu. Sebuah bisikan ragu sempat melintas di hatinya, namun segera ia tepiskan. Tidak, ia tidak boleh lagi berprasangka buruk pada Armand. Ia sudah cukup membuat kesalahan besar hari ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD