1. Hidangan Anniversary yang Mendingin
Jam dinding berbandul di sudut ruang tengah berdenting lambat. Dua belas kali. Di rumah seluas ini, suara sekecil apa pun punya ruang untuk berekspansi, lalu raib ditelan karpet tebal dan dinding-dinding sepi.
Arunaya belum beranjak dari ujung meja makan kayu mahoni itu. Punggungnya tegak, kedua tangannya terlipat rapat di pangkuan yang dingin. Di hadapannya, lelehan lilin beraroma cendana sudah berjam-jam mengeras, menyisakan gumpalan putih yang tak lagi cantik. Steak wagyu di atas piring keramik itu kini dikelilingi lemak saus jamur yang membeku. Sup asparagusnya tak lagi mengepul, permukaannya mengerut kaku, persis seperti harapan Aru malam ini.
Ia sengaja belajar membuat saus jamur itu berminggu-minggu yang lalu dari seorang koki kenalannya, hanya karena ia tahu Jevas tidak suka saus yang terlalu kental. Ia memastikan tingkat kematangan dagingnya sesuai. Namun kini, semua usaha itu teronggok memprihatinkan di bawah cahaya lampu gantung.
Hari ini, 24 Oktober. Tiga tahun usia pernikahan mereka.
Tiga tahun yang terasa seperti berjalan tanpa alas kaki di atas hamparan es. Aru tidak menunggu kado bersampul pita, apalagi perayaan kejutan. Tuntutan hidup bersama Shankara Jevas telah mengikis ekspektasinya hingga ke titik terendah. Pagi tadi, saat Jevas bersiap ke kantor tanpa mengucapkan sepatah kata pun selain rutinitas, Aru hanya mengirim satu pesan singkat ke ponsel suaminya: ‘Mas, malam ini makan di rumah, ya? Aku masak’
Pesan itu bercentang biru dua menit setelah dikirim. Tanpa balasan. Dan Aru masih bersikeras menunggunya pulang.
**
Cahaya lampu mobil menyorot sekilas menembus celah gorden jendela depan, disusul sayup-sayup deru mesin yang sangat ia kenal. Spontan, Aru berdiri. Otot kakinya sedikit kram karena terlalu lama duduk diam. Ia menunduk, merapikan gaun champagne berbahan sutra yang kini terasa kedodoran. Dulu, gaun ini memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna. Sekarang, kain mahal itu hanya menggantung longgar di kerangkanya yang kian hari kian menyusut.
Tepat saat ia tiba di lorong depan, daun pintu setinggi tiga meter itu terbuka. Angin malam menyusup masuk, membawa aroma maskulin bercampur tembakau dan udara dingin dari luar.
Jevas melangkah masuk. Jas hitamnya tampak kusut di lipatan siku, dasinya sudah dilonggarkan paksa. Pria itu melepas sepatu, menyapu pandangan ke seisi ruangan, sebelum matanya berhenti sejenak pada sosok istrinya. Mungkin tak sampai dua detik. Sorotnya kosong, lelah, dan tanpa minat, seolah Aru tak lebih dari sekadar perabotan tambahan yang tak sengaja ia lewati di lorong rumahnya sendiri.
"Malam, Mas," sapa Aru pelan. Tenggorokannya perih, baru menyadari bahwa ia belum berbicara sepatah kata pun sejak sore tadi. Ia mengulurkan tangan yang sedikit gemetar untuk mengambil tas kerja suaminya.
Jevas menyerahkan tas kulit itu tanpa menatap mata Aru. Kakinya terus melangkah, sepatunya menimbulkan bunyi ketukan beraturan di lantai marmer menuju tangga.
"Belum tidur?"
Suaranya datar. Bariton yang tenang. Tak ada nada kesal atau marah, dan entah mengapa, bagi Aru ketiadaan emosi itu jauh lebih menyakitkan daripada bentakan. Itu adalah suara seseorang yang tidak peduli.
Aru menelan ludah, menekan rasa pahit di pangkal lidah, lalu mengikutinya dua langkah di belakang. "Aku... masak buat kita. Mas udah makan?"
Jevas menghentikan langkahnya di anak tangga pertama. Ia menoleh, melirik meja makan di ruang tengah yang dipenuhi piring-piring tak tersentuh. Garis rahangnya mengeras sesaat, matanya menyipit. Bukan karena rasa bersalah, melainkan heran. Seolah apa yang Aru lakukan adalah hal paling merepotkan dan sia-sia yang pernah ia lihat.
"Sudah," jawab Jevas ringan, memutus kontak mata. "Tadi sore Leo minta piza, ngerayain dia masuk tim inti bola di sekolahnya. Aku makan di sana, sama Hana."
Dada Aru serasa dipukul telak. Leo dan Hana.
Tentu saja. Keponakan dan kakak iparnya itu selalu menempati takhta tertinggi yang tak boleh diusik siapa pun. Keluarga mendiang adik Jevas adalah tanggung jawab utamanya, prioritas yang membuat Aru selalu berada di urutan kesekian. Sementara dirinya, istri sahnya, menunggu lima jam di hari jadi pernikahan mereka, hanya untuk mendengar suaminya kenyang karena merayakan hal sepele bersama orang lain.
Aru memaksakan sudut bibirnya naik. Otot wajahnya terasa kebas saat ia membentuk senyum yang sudah ia latih di depan cermin ratusan kali. "Oh, syukur lah. Selamat buat Leo."
Jevas tidak merespons. Ia kembali melangkahkan kaki menaiki tangga. "Kau belum makan? kalau belum, makan sendiri. Aku mau tidur.”
"Mas."
Suara Aru tertahan di tenggorokan, tapi cukup untuk membuat langkah pria itu terhenti di bordes.
"Apa lagi?" keluh Jevas pelan, tanpa menoleh.
Tangan Aru meremas saku gaunnya yang dalam. Di sana, ada sebuah kotak beludru kecil berisi jam tangan mekanik. Ia tidak menggunakan kartu kredit yang diberikan Jevas untuk membelinya. Aru diam-diam menjual dua set perhiasan lamanya sendiri demi mendapatkan jam itu, ingin memberi sesuatu yang murni darinya. Sesuatu yang ia harap bisa membuat Jevas tersenyum, meski hanya sedetik.
"Selamat ulang tahun pernikahan kita yang ketiga," bisik Aru.
Kalimat itu meluncur begitu saja, rapuh, seolah bisa hancur jika diucapkan lebih keras.
Jevas mematung. Dari bawah, Aru bisa melihat punggung lebar pria itu menegang sesaat. Keheningan merentang di antara mereka, tegang dan menyiksa. Jantung Aru berdetak memburu. Ia hanya butuh satu kata. Satu anggukan. Atau sebuah *terima kasih* formal yang biasa Jevas ucapkan pada kliennya.
Namun, Jevas hanya menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan kasar.
"Hm."
Hanya itu. Satu gumaman pendek, sebelum pria itu melanjutkan langkahnya dan menghilang di balik pintu kayu kamar utama yang tertutup rapat.
Lutut Aru mendadak kehilangan fungsinya. Ia sempoyongan ke belakang, tangannya kalap mencari pegangan dan berakhir mencengkeram erat tepi meja konsol di dekat tangga. Bersamaan dengan lenyapnya sosok Jevas, rasa sakit kronis itu menyerang lagi. Nyeri tajam menusuk dari perut kanan atasnya, memelintir organ dalamnya seperti diperas oleh kawat berduri.
Keringat dingin seketika membasahi pelipisnya. Wajah Aru memucat pasi.
"Ugh..." Aru membekap mulutnya dengan kedua tangan, menahan erangan yang nyaris lolos. Ia tidak boleh bersuara. Jevas benci keributan. Jevas benci perempuan yang merepotkan dan lemah.
Dengan sisa tenaga yang menguap ditarik rasa sakit, Aru menyeret langkah kakinya yang berat menuju kamar mandi tamu di sebelah dapur. Ia menyelinap masuk, mengunci pintu dengan tangan bergetar, lalu merosot jatuh di lantai ubin yang dingin di depan wastafel.
Rasa mual yang bergulung-gulung itu tak bisa lagi ditahan. Ia bangkit bertumpu pada pinggiran keramik, dan meledaklah semua yang ia tahan sedari tadi.
Alih-alih makan, ia membiarkan perutnya kosong seharian demi makan malam bersama Jevas. Tapi penantiannya nihil.
Darah. Lagi. Warnanya lebih gelap dari muntahan dua hari yang lalu.
Napas Aru putus-putus, dadanya naik turun dengan kasar. Ia segera memutar keran air sekencang mungkin, membiarkan alirannya menenggelamkan suara batuknya yang serak dan parau. Ia menatap nanar pusaran air kemerahan yang perlahan menghilang di lubang pembuangan, membersihkan bukti bahwa perlahan-lahan tubuhnya sedang membusuk dari dalam.
Aru mendongak, menatap cermin di atas wastafel. Sosok yang menatap balik padanya tampak seperti mayat hidup. Lingkaran hitam pekat di bawah mata yang sudah ia tutupi concealer tebal tetap terlihat jelas. Tulang pipinya mencekung tajam, menyorotkan penderitaan yang ia simpan rapat-rapat sendirian.
Dari laci tersembunyi di bawah kabinet wastafel, tangannya yang masih gemetar merogoh ke belakang tumpukan pembersih lantai, mengeluarkan botol obat tanpa label resep pereda nyeri dosis tinggi. Ia menuang dua butir ke telapak tangan dan menelannya sekaligus tanpa bantuan air. Rasa pahit obat itu tersangkut di tenggorokan, tapi itu tak ada apa-apanya dibandingkan rasa asin air mata yang mulai menggenang di pelupuknya.
Setelah berkumur dan memastikan tak ada sebersit pun warna merah tersisa di sudut bibirnya, Aru merapikan gaunnya dan keluar. Ia harus membereskan meja makan. Jevas sangat tidak suka melihat pemandangan berantakan saat turun untuk membuat kopi besok pagi.
Aru berjalan menaiki tangga perlahan untuk mengambil taplak meja di lemari atas, namun langkahnya mati tepat di tengah anak tangga. Samar-samar, ia mendengar suara percakapan dari celah pintu kamar utama yang rupanya tak tertutup rapat.
Aru mendongak perlahan. Dari posisinya, ia bisa melihat pantulan Jevas di cermin lemari pakaian. Pria itu sedang duduk di tepi ranjang, ponsel menempel di telinga. Wajah datar dan lelah yang tadi menyambutnya di lantai bawah kini sirna, digantikan oleh senyum hangat dan sorot mata yang begitu lembut, ekspresi yang sudah bertahun-tahun tak pernah Aru dapatkan.
"Iya, Paman janji..." Suara Jevas mengalun pelan, namun cukup jelas untuk mengiris udara malam yang sunyi. "Besok pagi Paman jemput kalian. Oh ya, tolong bilang ke ibumu, jangan lupa minum vitaminnya malam ini. Paman tidak mau dia sampai sakit."
Aru terpaku. Jari-jarinya mencengkeram erat pinggiran kayu pegangan tangga hingga buku-bukunya memutih. Tangan sebelahnya masih menekan perut yang berdenyut ngilu, sementara telinganya dipaksa menelan realita yang menyayat hati.
Suaminya sedang menasihati keponakannya. Suaminya mengkhawatirkan kesehatan adik iparnya. Jevas takut Hana sakit. Jevas memastikan Hana tidak lupa meminum vitaminnya.
Sementara tepat di bawah kakinya tadi, istrinya sendiri baru saja memuntahkan darah, menahan sakit sendirian, dan menelan obat penahan sakit berdosis keras dalam kegelapan.
Satu tetes air mata akhirnya lolos.
Ia tampak sangat menyedihkan.