6

1564 Words
Denyar kegelapan terasa memuakkan. Armel bisa merasakannya. Makhluk-makhluk pendengki yang terjebak di sarang dan menunggu kesempatan merangkak ke luar. Hutan elok telah hilang; pohon-pohonnya berbatang besar dengan daun bertekstur kasar, bunga-bunga berwarna ungu tengah meneteskan getah beracun, sementara makhluk lain menatap di antara semak—tidak berani ke luar dari kawasan yang dilindungi sihir Raja Oberon. “Sejak kapan mereka mulai berani menampakkan diri?” Armel memperhatikan dari kejauhan, tangan menggenggam gagang pedang—menanti datanganya kesempatan meneteskan darah. “Aku tidak suka melihatnya.” “Tidak seorang pun menyukainya,” sahut sesosok peri bernama Faye. Dia berambut gelap, telinganya seperti milik manusia tapi kedua matanya mirip mata kucing. “Baginda Oberon mewanti-wanti agar Anda tidak menurunkan kewaspadaan.” Tidak ada satu pun di antara mereka berniat masuk ke dalam kawasan Jurang Kegelapan.  Tidak satu pun di antara mereka senang ditugaskan di sana. Armel ingin segera mengakhiri masa tugas. Dia terlalu sering menghabiskan waktu bersama Ivan dan pekerjaannya daripada mengurusi Ophelia. seharusnya Ivan mendengarkan saran Armel mengenai merekrut petugas baru. Tidak, Ivan menolak dengan asumsi bahwa makhluk di Jurang Kegelapan masih bisa diatasi oleh mereka. Lantas Armel pun menyarankan meminta bantuan Arcana agar berkolaborasi dengan Karmelion. Sekali lagi Ivan menganggap Arcana terlalu sulit. Sulit dalam artian mencari jalan tengah agar kedua negeri, Karmelion dan Arcana, tidak baku hantam atas dasar jasa menutup Jurang Kegelapan. “Anda kelihatan tidak sehat,” Faye mencetuskan komentar mengenai penampilan Armel. Seperti kucing yang mengendus mangsa, menggoda Armel merupakan salah satu kebahagiaan terbesar Faye.  “Aku sangat sehat.” Armel mempertimbangkan memenggal Faye, tetapi segera teringat Titania. Apabila dia berani membuat Titania marah, maka kesempatan Armel bertemu istri akan lenyap. “Bagaimana kabar Aislinn?” Kedua telinga Faye bergerak naik turun saat mendengar nama Aislinn. “Beliau masih terlihat menawan seperti biasanya,” sahut Faye. “Mengapa Anda tidak mencoba datang ke sana?” “Apa Aislinn akan menemuiku?” Faye tidak senang ketika Armel mengabaikan pertanyaan dan justru melontarkan pertanyaan baru. “Anda seharusnya mempertimbangkan diri mengembalikan Putri ke tanah peri.” “Putriku tidak akan pergi ke sana.” Entah mengapa Armel pun tidak begitu yakin. *** Aku menerima beberapa ajakan minum teh. Berhubung tidak ingin terlibat dalam pembicaraan apa pun, maka terpaksa (dengan sangat) aku menolak. Lagi pula, mereka, nona-nona besar, pasti penasaran dengan perubahanku; tidak mengejar Alfred di pesta mana pun (sebab dia melarangku muncul), membalas surat bahkan sekadar basa-basi, dan menutup diri.  Oke, tidak tepat bila disebut “menutup diri”. Aku hanya ingin menikmati kekayaan. Itu saja. Bagi orang yang terlahir dalam gelimang harta; kesenangan duniawi seperti makanan lezat, kasur empuk, pakaian, dan perhiasan; kemungkinan besar tidak terlalu menarik. Oleh karena mereka terbiasa dengan hal-hal semacam itu. Berbeda denganku yang pernah hidup di bawah naungan kemiskinan. Dulu melihat iklan hamburger di televisi saja rasanya cukup puas. Setelahnya aku akan berandai bisa datang ke restoran dan menikmati sepotong daging panggang yang nikmat. Namun, hidup itu tidak semanis madu. Sekalipun punya uang, aku harus berhemat. Membeli bensin, modul, biaya fotokopi dan jangan lupa berlembar kertas kerangka penelitian yang harus diserahkan kepada dosen pembimbing.  Ironis. Terima kasih kehidupan kedua! Kini aku bisa bersenang-senang dan meninggalkan skripsi.  Contohnya, hari ini aku menyempatkan diri berkunjung ke salah satu toko buku ternama. Rencananya aku ingin membalas pemberian Fiona. (Tidak pantas hanya menerima tapi tidak mau memberi. Tidak sopan.) Ditemani Donna dan seorang kesatria bernama Kant, kami berkeliling ke bagian fiksi.  Berbekal pengetahuan dari Prince Lover, aku mengetahui beberapa fakta terkait Fiona. 1. Dia suka membaca. 2. Fiksi romantis merupakan kegemaran Fiona. Dua informasi bermanfaat yang bisa aku gunakan. Ohohoho, jangan remehkan kemampuan pembaca dunia modern. “Lady, apakah ada yang Anda cari?” Aku mengetuk dagu menggunakan jari telunjuk, tatapan terfokus ke jajaran buku bersampul kulit. Di samping kananku, Donna. Di samping kiri, Kant membawa setumpuk buku puisi dan novel.  Niat: Mencari hadiah untuk Fiona. Fakta di lapangan: Mencari kesenangan demi diri sendiri. Tidak masalah. Ayahku kaya! Beres. Dulu aku hanya bisa menikmati bacaan yang tersedia di perpustakaan kampus atau persewaan. Yah kalau ingin lebih murah dan gampang sih menggunakan applikasi baca online di ponsel. Ada banyak jenis bacaan yang sku sukai; novel, fanfic, puisi, dan oh kadang aku baca novel dengan rating plus. Betapa menyenangkan masa itu (setelah bertarung dengan metode penelitian dan diskusi bersama dosen pembimbing) menghibur diri dengan tokoh-tokoh fiktif. Omong-omong, harga buku yang aku incar setara dengan uang makan selama tiga hari. Sekarang aku tidak perlu mempertimbangkan harga. Prinsip hidupku yang baru: Aku lihat. Aku suka. Aku mau. Dapat! Seperti lagu Ariana Grande. Yeiy! “Donna, sepertinya cukup.”  Malam ini aku ingin menghabiskan waktu dengan membaca. Sempurna. Donna dan Kant bergegas menuju kasir sementara aku menunggu di kereta. Beberapa kali aku menangkap basah beberapa orang tengah mencuri pandang ke arahku. Mungkin mereka memastikan sosok berambut merah muda yang berada di toko buku itu benar-benar Ophelia Valentine. Asli. Ingin menangisi reputasi, tetapi percuma. Bagaimana ditanam, begitulah dituai. Sekarang aku harus menerima buah pahit masa lalu.  Usai menyelesaikan pembayaran, kami bertolak pulang.  Semuanya baik-baik saja. Namun, kepercayaan diriku runtuh saat melihat kereta istana terpakir di pelataran kediaman Valentine. Tolong jangan seperti apa yang otak bagian realistis nyatakan. Tolong jangan!  Kereta yang kutumpangi perlahan melambat.  Berhenti berderap. *** Hanya karena saran ayahnya, Alfred bersedia menyempatkan diri mengunjungi Ophelia. “Pertimbangkan hubungan baik antara aku dan Duke Valentine,” katanya memperingatkan. “Dia satu-satunya yang berhasil membujuk Raja Oberon menyegel rekahan Jurang Kegelapan.”  Alfred tidak bisa membantah. Di sinilah dia terjebak: Ruang tamu kediaman Valentine. Cangkir teh dan makanan manis terhidang di meja, sama sekali belum tersentuh. Beberapa kali Alfred bermaksud pamit, beralasan bahwa sepertinya Lady Valentine sibuk dan sebaiknya tidak diganggu. Tentu saja alasan sopan demi menghindar dari kewajiban anak kepada ayah. Dia ingin menolak tanpa perlu mengulangi permintaan ayahnya terkait hubungan baik antara Duke Valentine dan keluarga kerajaan. Namun, harapan Alfred tidak terwujud sebab Ophelia masuk dan memberi salam: “Semoga matahari selalu memberkati Anda dengan kemilaunya.” Alfred mengamati Ophelia. Gadis itu mengenakan gaun bermotif hijau dengan pita putih melingkar di pinggang. Rambut merah muda di kepang menyamping, memamerkan leher dan anakan rambut. “Aku senang melihatmu,” katanya tanpa bermaksud meninggalkan kursi. “Kau terlihat sangat sehat.” Roland berkata bahwa Ophelia melakukan korespondensi dengan sejumlah bangsawan, tetapi Putri Valentine ini bahkan tidak menjawab surat kiriman Alfred. Tiba-tiba saja dia merasa ada sengatan menyakitkan di d**a.  “Kenapa kau tidak membalas suratku?” *** Dulu aku pasti senang mendapat kunjungan dari Alfred, tetapi sekarang rasanya tidak seindah masa lalu. Jantungku memilih berfungsi secara normal; tidak ada acara dag-dig-dug-duar, berdetak dalam ritme sehat, dan tampaknya tenang-tenang saja. Bahkan memberi salam pun nada bicaraku wajar dan tidak ada sentuhan centil. Sungguh aneh.  Adapun yang menjengkelkan ialah, Alfred tidak menyarankanku untuk duduk dulu baru bicara. Dia hanya mengomentari kesehatanku dan aku jamin itu pasti sekadar basa-basi pelicin ala pejabat berdasi. Oke, ini rumahku. Aku bisa duduk tanpa menunggu instruksi siapa pun.  Akan tetapi, Alfred berkata, “Kenapa kau tidak membalas suratku?” Aku mengerjap, mulutku membentuk huruf O dan tampaknya sirkuit dalam otakku bermasalah.  Surat? Suraaat? Sejak kapan kau mengirimiku surat? “Yang Mulia, saya tidak mengerti.” “Baiklah,” kata Alfred sembari bersedekap. “Bukankah ini kebiasaan lamamu? Pura-pura sakit? Memanfaatkan koneksi Duke Valentine dan ayahku kemudian memaksaku menemuimu? Selamat, kauberhasil. Sekarang kau boleh mendatangi acara pesta mana pun baik yang diselenggarakan oleh pihak istana maupun luar.” Rasanya aku tidak keberatan menghantam kepala pewaris Karmelion. Sekop? Ah mungkin palu. Sistem saraf di otak Alfred perlu dibenahi agar bisa berfungsi secara normal.  “Saya benar-benar tidak memiliki niatan apa pun terhadap Anda,” kataku menjelaskan. Batal acara duduk. Sungguh indah nian pagi ini. Kemarin Kiel dan sekarang Alfred. Tidak bisakah mereka berdua membiarkan diriku hidup dalam damai? “Saya mohon maaf atas keegoisan di masa lalu. Kali ini saya pastikan tidak akan mengganggu Anda. Atas nama besar Valentine, saya harap Anda berkenan memaafkan.” “Ophelia, apa yang kaurencanakan?” Kini Alfred bangkit, menatap langsung ke dalam mataku. “Aku tidak mengerti.” Aku yang tidak mengerti! Haloooooo!  “Saya hanya ingin menikmati hidup seperti gadis normal,” kataku, mantap. “Kau pikir aku sebodoh itu?” Demi bulan dan bintang, aku ingin menangis.  “Tidak,” jawabku. Perlahan aku meletakkan tangan di d**a, tepat di jantungku. “Sekarang saya menyadari ada banyak hal menyenangkan selain mengharap perhatian dari Anda. Seiring berjalan waktu saya pun sadar bahwa memaksakan perasaan kepada orang lain tidaklah benar. Selain itu, saya lelah menjadi satu-satunya pihak yang mendamba tanpa bisa memikirkan hal lain. Mencintai secara sepihak itu terlalu menyedihkan. Saya ingin menerima cinta dari mana pun selain Anda. Tentu saja cinta yang saya maksud bukanlah cinta antara wanita kepada lelaki, melainkan cinta kasih kepada sahabat, keluarga, dan orang-orang yang selama ini saya abaikan.” Sentuhan terakhir: Senyum. Tampilkan bukti bahwa aku bukanlah Ophelia sang pengemis cinta.  “Terima kasih atas segalanya, Yang Mulia.” Alfred tidak membalas. Dia diam seribu bahasa. ***  Selesai diedit dan direvisi pada 16 Mei 2021. ***  Halo, teman-teman. :”) Rose of May yang versi ini telah melalui tahap editing versi seadanya. Hiks. (0_0) Karena saya melakukannya tanpa bantuan editor profesiona, huhuhu. Semoga saja teman-teman bisa menikmati Ophelia tanpa kening mengernyit karena typo. Hahaha huweeee. Maaf dulu ada typo nama Armel. Hiks. Beginilah susahnya konsisten. But, terima kasih atas perhaatian dan dukungan yang kalian berikan. Saya sayaaaang kalian, teman-teman. Salam hangat, G.C
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD