“Apa kau serius?”
“Yang Mulia, mana mungkin saya berani mempermainkan Anda?” Tidak ada keinginan mengemis cinta seperti dahulu. Cukup sudah. “Anda tidak perlu mencemaskan kemungkinan saya akan mempermalukan Anda seperti di masa lalu.”
Pada akhirnya cintaku ditakdirkan kandas.
Sekarang, setelah pikiranku tercerahkan, mengejar Alfred bukanlah kebutuhan pokok dalam hidup. Dia hanya salah satu dari sekian manusia yang tidak bisa melihat diriku dari sisi baik. Di matanya Ophelia merupakan anak manja yang mengekor ke mana pun dia pergi. Namun, anak manja yang diberkati ingatan inkarnasi ini—yakni aku Ophelia versi modern—memilih kekayaan daripada putra mahkota. Hidup pengangguran kaya raya!
“Bukankah ini yang selama ini Anda inginkan?”
Ayo jujurlah kepadaku. Tidak perlu sopan santun. Lebih cepat, lebih baik. Aku tidak ingin diidentikkan dengan gadis-pengejar-cinta-tanpa-harapan.
Alfred memijat pangkal hidung, dahinya berkerut hingga kedua alis menaut. “Kau? Tidak lagi mengejarku?”
Aku mengangguk. Tangan kanan terangkat, tangan kiri menempel di d**a. Saatnya melakukan sumpah pramuka. “Saya berjanji tidak akan mengganggu Anda.”
Tambahan: Aku bahkan mendukung perjodohan antara Alfred dan Fiona. Cepatlah kalian bersatu dan biarkan aku bermalas dalam gelimang kekayaan!
“Ophelia,” dendangnya, sebenarnya panggilan Alfred lebih menyerupai peringatan daripada rayuan. “Ophelia. Semoga kau berkata jujur.”
Tentu saja aku jujur! Dasar Pangeran psikopat! “Apa Anda akan segera pulang?”
“Kau mengusirku?”
“Oh mana mungkin saya berani?” Kedua tanganku menutup mulut. “Anda, kan, orang penting di Karmelion. Anda pasti sibuk dan seharusnya tidak berlama-lama di sini.” Dengan penuh percaya diri aku menjentikkan jari dan mencetuskan ide: “Bagaimana kalau Anda sebaiknya segera pulang dan menyelesaikan tugas? Sepertinya saya tidak pantas mendapat perhatian sebesar ini. Anda bisa menyebabkan saya terkena migrain karena terpapar pesona yang memancar dari Anda.”
Sekadar bualan belaka. Tidak ada niatan serius.
“Migrain? Apa itu? Ophelia, aku tidak mengerti.”
Aku berdeham. “Tugas,” kataku. (Sungguh sok sekali diriku ini? Hahaha.) “Pajak. Laporan perbatasan. Keuangan. Pertanian. Nah sebaiknya Anda memastikan kesejahteraan petani dan pekerja kelas bawah. Saya dengar panen di dekat perbatasan Arcana tidak baik.” Telunjukku menyentuh pipi. “Serangan tikus merajalela. Oh sebaiknya Anda jangan bergantung kepada sihir. Lebih baik Anda lepaskan burung hantu dan ular. Saya jamin masalah tikus akan terselesaikan.”
“Kau memikirkan hal seperti itu?” Sialan! Kenapa Alfred duduk? Maksudku aku ingin dia pulang. PULANG. “Aku tidak menyangka.”
Hei, hei, hei! “Anda tidak ingin pulang—maksud saya, apa Anda tidak berencana menyelesaikan tugas ... eh, maksud saya istana membutuhkan Anda.”
Kacau. Kacau. Kacau!
Seulas senyum tersungging di bibir Alfred. “Wow. Ophelia, biasanya kau menahanku.”
Halo, Ophelia. Ya, aku dirimu di masa ini ingin mengungkapkan keluhan. Bagaimana bisa kau berikan hatimu kepada lelaki semacam ini? “Oh ... saya hanya tidak ingin merepotkan Anda.”
Pergi sana!
“Burung hantu? Tikus? Tampaknya kau mempelajari sesuatu selain ‘mengejar diriku’?”
Memangnya dirimu sepenting itu? “Saya membaca, Yang Mulia.”
Air muka Alfred jelas menyepelekan pengakuanku.
“Ada banyak bacaan yang menarik, Yang Mulia.” Dia bahkan tidak tahu betapa nikmatnya membaca fanfic. Sayang sekali. “Misal mengenai kehidupan sebelum manusia bergantung pada sihir. Apakah Anda tidak terlalu meremehkan pemangsa alami tikus? Burung hantu dan ular merupakan salah satu predator alami tikus. Oh Anda tidak perlu memanfaatkan jasa penyihir sebaiknya digunakan untuk kepentingan lain. Menurut saya, lebih baik membiarkan rantai makanan dalam ekosistemnya tidak dimanipulasi.”
Kali ini tatapan menyepelekan di mata Alfred perlahan pudar. Oke, aku mendapatkan perhatian.
Perhatian tidak penting.
“Memanipulasi alam merupakan tindakan tidak bijak,” kataku melanjutkan, berhati-hati dalam memilih kalimat. “Bukankah beberapa peramu meminta suplai burung hantu dan ular? Nah bisa jadi inilah salah satu penyebab ketidakseimbangan yang membuat populasi tikus meledak.”
Alfred, kenapa kau diam saja?
***
Setelah meninggalkan kediaman Valentine, Alfred mendapatkan pencerahan. Ironis, menurutnya, bahwa saran Ophelia sangat masuk akal. Di luar dugaan, gadis itu bisa berpikir logis dan sangat membantu. Alfred akan mengurangi suplai burung hantu dan ular untuk peramu.
“Mungkinkah seseorang bisa berubah dalam semalam?”
Roland, yang sedari tadi menemani Alfred menyelesaikan laporan, terperangah mendengar pertanyaan Alfred. “Yang Mulia?”
“Bagaimana bisa dia berpikir seperti itu?”
“Saya mungkin perlu mengganti teh.”
Roland berasumsi teh dingin bisa membuat seseorang berhalusinasi.
“Mungkin aku perlu memastikannya,” Alfred menyimpulkan. “Roland, kirim undangan ke Ophelia. Pastikan dia besok datang ke istana.”
Akan tetapi, undangan itu tidak pernah sampai ke tangan Opheli.
***
Demi kenyamanan dan kedamaian hidup, aku berharap tidak perlu menemui Alfred, Fiona, maupun Kiel. Mereka bertiga bisa mendelegasikan kemerdekaan atau apa pun. Terserah. Aku tidak peduli. Semoga mereka menganggapku tidak ada. Lebih baik begitu.
Ayolah, aku hanya ingin menikmati hidup. Tanpa Alfred. Tanpa cinta. Tanpa rasa sakit bertepuk sebelah tangan.
Dulu aku mencintai Alfred dengan segenap jiwa dan raga. Mencintai tanpa memedulikan diri sendiri. Cinta buta. Namun, seperti Pangeran Cilik yang tidak lagi mampu menyayangi mawarnya; aku pun sampai pada titik jenuh. Tidak selamanya kebahagiaanku berputar di sekitar Alfred. Dia tidak lagi jadi yang utama. Tidak lagi. Bahkan perhatian darinya terasa biasa-biasa saja.
Anehnya aku tidak merasa sakit hati.
***
Anak-anak kegelapan mencoba merangkak ke luar dari Jurang Kegelapan. Terberkati putra dan putri nestapa, puja mereka kepada Sang Kegelapan. Setiap kali mencoba menyentuh tabir pelindung, tubuh mereka tersambar kobaran api lantas luruh menjadi abu. Lalu bagi mereka yang berhasil menembus tabir pelindung, kesatria manusia maupun kaum pemburu langsung menebas dan lenyap sudah wujud kegelapan.
Akan tetapi, mereka—para kegelapan—pantang menyerah.
Dahulu mereka pernah berhasil ke luar dari rekahan. Berkat para manusia tamak yang mengorbankan darah dan daging saudara mereka, menyajikan hidangan kepada Sang Kegelapan. Sayang Sang Kegelapan tidak ingin tunduk kepada siapa pun selain kepada Ingol; bapak kejahatan, tipu daya, serta kebiadaban.
Kegelapan tidak bisa diperbudak.
Kegelapan tidak bisa dijinakkan.
Begitulah keyakinan yang mereka percayai.
***
Selesai diedit dan direvisi pada 17 Mei 2021.
***
Halo, teman-teman.
:”) Semoga bab ini cukup memuaskan. Jangan lupa pakai masker saat keluar rumah. Cuci tangan ketika hendak makan. Coba konsumsi citamin C saat dibutuhkan dan perbanyak air putih agar terhindar dari dehidrasi. Pokoknya jaga tubuh dan kesehatan. Oke? I love you. Kiss. Kiss. Hug. Saya kirim peluk online dari sini.
Salam hangat,
G.C