8

1167 Words
Beberapa novel yang kubeli bersama Donna kebanyakan membahas cinta. Tidak di Karmelion maupun tempat asalku, cinta selalu menjadi komoditi utama. Tampaknya semua orang begitu membutuhkan romansa dalam hidup, walau sekali, hingga pasar “cinta-takdir-tak-terelakkan” menjamur di toko buku. Dalam novel mendapatkan cinta tampak mudah. Begitu saja. Namun, praktik di lapangan berkata lain: Sulit.  Berdasarkan pengalaman pribadi. Aku pernah naksir seseorang. Cinta monyet. Segalanya terasa indah hingga kenyataan menghantam tepat di kepala. Dia, yang aku taksir, ternyata naksir teman dekatku. Luar biasa. Pada saat itu rasanya amat menyakitkan. Namun, hidup tetap berjalan meskipun hatiku hancur berkeping-keping. Belum kering luka di hati, aku mendapat serangan lain: Alasan dia memilih temanku karena dia cantik sementara aku buruk rupa. Selesai. Setelah masa-menyedihkan-patah-hati-ditambah-luka-batin aku mulai memikirkan bentuk wajahku. Alisku tidak rapi, wajahku jerawatan, hidungku tidak mancung, bentuk gigiku tidak bagus, kulitku kusam; tiba-tiba saja hal yang tidak penting jadi terlalu penting. Usaha mempercantik diri (yang berakhir gagal) hanya sampai masa SMA. Begitu memasuki perkuliahan IPK menggusur kedudukan “prioritas mempercantik diri”. Uang kuliah, biaya fotokopi, modul, dan tugas menyedot pundi-pundi keuangan. Merek-merek kecantikan yang akhirnya bisa terbeli hanyalah sebatas pembersih wajah dan pelembap.  Akan tetapi, segalanya berubah. Kini aku tidak perlu memikirkan trend kecantikan ataupun model pakaian. Armel bisa mewujudkan apa pun yang aku butuhkan. Tinggal sebutkan, maka itulah yang terjadi. Dia adalah jin pengabul permintaan. Aku Aladin, dan ayahku jin-super-keren! Hidupku sangat menyenangkan. Seperti saat ini. Aku sibuk membaca berlembar-lembar cerita romantis antara pelayan dan sang duke. Pelayan wanita ini dulunya bekerja untuk putri mahkota, tetapi karena perangai putri mahkota sangat mengerikan (sepertinya antagonis perempuan sering digambarkan sebagai wanita-cantik-tukang-pukul), pelayan itu pun melarikan diri dan diselamatkan duke. Lantas percintaan antara keduanya pun amat, uhuk, panas. (Untung yang ada di perpustakaan hanya diriku seorang.) Setelah selesai membaca, aku berhati-hati menyembunyikan novel tersebut di rak yang tidak mungkin dicari Armel. Bahaya.  “Memuaskan,” kataku kepada buku yang berjejer. Perlahan, aku merapikan kerutan di gaun merah. Renda putih yang menghias pinggang menampakkan bentuk bunga dan kupu-kupu yang disulam menggunakan benang perak. “Saatnya pergi. Sampai jumpa, buku-buku tersayang.” Armel masih belum pulang. Mungkin dia menghabiskan waktu bertarung dengan makhluk-makhluk dari Jurang Kegelapan.  Koridor terasa lengang. Angin berembus pelan. Hawa hangat musim semi amat menyejukkan. Seluruh bunga tengah mekar sempurna, beberapa ekor kupu-kupu hinggap di salah satu tangkai bunga lili putih. Awalnya aku bermaksud menikmati pemandangan sepuasnya, tetapi perhatianku teralihkan.  Lebih tepatnya, aku memikirkan sesuatu. Fiona mengirimiku undangan minum teh. Gadis itu benar-benar baik hati atau memang tidak mengerti kata berhati-hati, yang mana pun, aku merasa tidak enak. Membayangkan bertemu Kiel mampu menyedot semangat hidupku. Lelaki itu jelas mempertimbangkan jasa pembunuh bayaran. Lalu, bila aku menolak tawaran Fiona, maka pamor prestasiku dalam kancah “gadis tengil” akan meroket. Eng, in, eng!  Memang indah bisa melarikan diri dari masalah. Namun, lebih baik memperbaiki keadaan sebelum seseorang menawarkan diri sebagai “relawan pembunuh Ophelia si Lady Tengil”. *** Demi memastikan keselamatan dan mencegah ancaman “rencana hidup berfoya-foya”, aku sengaja berdandan secara sewajarnya. Dulu aku menyukai pakaian yang didominasi berlian dan mutiara, tetapi sekarang aku lebih menyukai gaya busana minim perhiasan. (Ayolah aku mengerti Armel kaya raya. Namun, kebiasaan pamer itu tidaklah baik.) Oleh karena itu, dengan bantuan Donna aku memilih gaun krem dengan tambahan payet dan renda bernuansa putih. Rambutku dikepang menyamping dan diikat menggunakan pita sutra berwarna putih. Hanya ada jepit rambut berbentuk mawar putih terselip di rambutku. Sebagai pelengkap terakhir, aku memilih sepasang sepatu bernuansa cokelat berhias permata hitam. (Sayang kalau sudah membeli sesuatu dan tidak dipakai. Oh tentu saja aku mengerti, dahulu aku amat tamak dalam berbelanja hanya demi bersolek di hadapan Alfred. Namun, segalanya berubah. Sekarang aku bersolek demi diriku sendiri. Hei, semua gadis boleh berdandan demi dirinya sendiri. Mereka tidak harus tampak cantik demi siapa pun. Oke?) Ditemani Donna dan Kant, kami bergegas menuju kediaman Noyes. Dalam hati aku mencoba menenangkan diri: “Ayo, Ophelia. Jangan menggigit Kiel. Meskipun dia pantas mendapatkannya.” Lebih baik bila tidak berjumpa Kiel. Jantungku amat lemah menghadapi lelaki pendendam. (Iya, aku mengerti. Itu salahku. Kiel bersikap tidak sopan karena aku yang memulai. Kalian tahu, ‘kan? Menganiaya Fiona, mempermalukan Alfred, dan bersikap kurang ajar. Haha, ayo tambahkan daftar kejahatanku. Aku kuat kok. Aku tidak akan menangis. O-oke, aku cengeng.) Sesampainya di kediaman Noyes, Kant membantuku ke luar dari kereta. Kedatangan kami disambut Fiona. Sebagai protagonis, dia terlihat cantik dalam balutan pakaian bernuansa biru. Sejujurnya memakai baju apa pun Fiona akan tampak cantik.  “Ophelia, senang kau bersedia menerima undanganku.” “Aku tidak mungkin melewatkan tawaranmu.” Ha ha. Bohong. Biar aku artikan: Mana berani aku menolak undangan tokoh utama?  “Kau baik sekali.” Fiona mengamit tanganku. “Oh pelayan dan penjagamu boleh menemui kenalan. Mungkin kalian berteman dengan pekerja di sini?” “Kami akan menunggu Lady Ophelia,” kata Donna. “Anda tidak perlu mencemaskan kami.” “Hati-hati,” kataku. Hei, kalian jangan sampai lengah. Aku tidak yakin ada yang berani melukai pekerja Valentine, tapi ada baiknya sedia payung sebelum hujan. Kant, lindungi Donna dan pastikan tidak ada satu pun yang berani mengganggu temanku. “Ophelia, ayo kita temui mereka.” Kediaman Noyes tidak jauh berbeda dengan desain bangunan yang ditempati kebanyakan bangsawan Karmelion; langit-langit berukir uliran daun, vas dan tanaman eksotik, lalu hamparan karpet. Sesekali kami berpapasan dengan pekerja ketika melewati koridor.  “Ophelia, hari ini kita mengadakan acara minum teh di rumah kaca.” Ibu Fiona menyukai bunga. Dia bahkan membangun satu rumah kaca yang konon memiliki berbagai koleksi bunga dari bermacam kerajaan. Aku sih tidak peduli jenis tanaman yang tumbuh di sana selama tidak berbahaya. Bisa saja, ‘kan, Kiel meracuniku? Oh terbekatilah pikiranku. Ke luar dari bangunan utama, Fiona mengajakku melewati taman dan langsung masuk ke rumah kaca.  “Maaf menunggu,” kata Fiona. “Kalian pasti tidak sabar.” As. Ta. Ga! Demi tunjangan kehidupan mewahku! Kenapa ada Kiel dan Alfred?  “Tidak terlalu lama,” kata Kiel. Seperti biasa, lelaki itu bersidekap seakan tidak ingin menampilkan keramahan apa pun.  “Semoga kau tidak keberatan menemuiku, Ophelia.” O ... ow. Ucapan Alfred terasa tidak natural dan terlalu dipaksakan. Namun, tunggu sebentar! Kenapa dia ada di sini? Maksudku kenapa kedua pria ini duduk santai? Sepertinya pernyataanku waktu itu tidak digubris Alfred hingga dia perlu menjustifikasi keberadaanku di sini. Mungkin, Alfred takut aku menyakiti Fiona. (Ulala, bisa jadi.) Mungkin, Alfred mengira aku akan memanipulasi Fiona. (Emmm, kalau aku lulusan psikologi atau apalah, mungkin aku bisa belajar memahami mental seseorang dan sayangnya aku bukan mahasiswa psikologi. Tetot!) Mungkin, Alfred kesurupan. (Bisa jadi setan lokal berhasil menembus dimensi dan melakukan perjalanan lintas waktu sembari bertukar ilmu.) “Mari, duduklah di sini.” Di luar, aku terlihat tenang dan keren. Di dalam, hancur berantakan. Inilah saat yang tepat untuk berkata, “Senang bertemu kalian.” Semoga Alfred dan Kiel bisa dijinakkan. Semoga saja.  ***  Selesai diedit dan direvisi pada 17 Mei 2021. ***  Halo, apa kabar? Jangan lupa jaga kesehatan dan pakai masker saat keluar rumah. Oke? Salam hangat, G.C
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD