9

1143 Words
Acara minum teh biasanya diselenggarakan dengan tujuan tertentu. Sekadar ramah tamah, menghabiskan waktu bersama teman dekat, bahkan niatan khusus; yang mana pun pada dasarnya sama saja. Percayalah kebanyakan orang yang menghadiri acara minum teh biasanya berakhir di acara bergunjing. Misal Lady A mendapat informasi mengenai mode baju tertentu dan merasa perlu menunjukkan keahliannya dalam berbusana, lalu Lady B akan mengutarakan pendapat mengenai pakaian bagus, dan berakhir dengan Lady C menyuarakan gosip baru perihal dirinya yang memesan busana dari desainer ternama. Seperti itu. Gosip dan ocehan receh bisa kuhadapi. Tidak masalah. Aku merupakan master di bidang “pasang muka tertarik padahal sebenarnya tidak mengerti”. Jurus ini biasa aku gunakan dalam perkuliahan ketika menghadapi dosen pemarah. Prinsip utama: Dengarkan saja lama-lama nanti pasti mengerti dengan sendirinya. Namun, siasat lama andalanku tidak mempan bila dihadapkan kepada Kiel dan Alfred. Aduh!  Fiona, kenapa kau mengundang Alfred? “Kebetulan Alfred berencana mengunjungi Kiel,” Fiona menjelaskan. Padahal lebih bijaksana bila dia memberitahu kedatangan Alfred sebelum mengajakku. Sudah pasti aku tidak sudi! “Maka aku pikir tidak ada buruknya mengadakan acara minum teh bersama.” Alfred. Bahkan Fiona memanggil nama tanpa embel-embel “Yang Mulia”. Sungguh menyedihkan diriku sebelum pencerahan, mengejar lelaki yang jelas tidak ingin membalas perasaanku. Oke, masa lalu. Sekarang akan dengan senang hati aku menjadi penggembira hubungan Fiona dan Alfred. Hei, anggap aku tidak ada. Kalian bahkan bisa bercengkerama seakan dunia milik berdua sementara aku cuma salah satu penyewa—tidak penting. Gampang. Abaikan saja. Abaikan. Terima kasih. “Oh,” responsku.  Padahal aku mengantisipasi kehadiran nona besar dan berencana memperbaiki reputasi. (Semoga saja masih bisa terselamatkan. Halo, Reputasi. Bertahanlah. Aku berusaha menyelamatkan nama baik dan kumohon jangan mati.) Namun, ternyata tamu undangan terdiri dari pangeran psikopat dan kakak amoral. Bukan ini yang aku inginkan.  “Tidak sesuai keinginanmu?”  Kiel tanpa basa-basi, langsung menyerang ke pusat kelemahan. Saat seperti ini lebih baik jangan menjawab. Sialan! Aku terpaksa duduk di antara Fiona dan Alfred sehingga mau tidak mau kami, aku dan Kiel, berhadapan. Satu-satunya yang bisa aku lakukan hanyalah pamer senyum cemerlang penuh pengertian. Jenis senyum yang biasa ditampilkan model iklan pasta gigi. (Hei lihat, aku tidak peduli. Tidak peduli. Yuhuuuu, aku tidak peduli.) “Kiel,” Fiona membantah, “kasihan Ophelia.” Kalau kau kasihan seharusnya jangan undang aku di acara minum teh sakral antara dirimu dan calon suamimu.  “Aku tidak melakukan apa pun,” Kiel membela diri, tangannya bersidekap seolah aku ini naga penunggu hutan keramat. “Berhenti memelototiku, Fiona.” “Ophelia,” Fiona mencoba membesarkan hatiku. Oh sungguh protagonis impian. Baik hati, sabar, dan pengertian. “Tolong jangan diambil hati.” Halo, aku tidak peduli. Dia, Kiel, boleh membenciku sebanyak apa pun. Silakan. “Aku tidak menyangka Sir Noyes bersedia meluangkan waktu menemani adiknya.” (Haha, rasakan. Pengalaman menghadapi dosen pembimbing jauh lebih mengerikan daripada sindiranmu, Tuan sok tahu.) “Tenang saja,” kataku sembari mengaduk teh yang telah kucampur gula. “Aku sama sekali tidak memiliki niatan buruk. Mana mungkin aku berani menyakiti temanku.” Kita bisa saling hajar. Tidak masalah. Aku berencana menjambak Kiel. “Ophelia, kau berubah.” Ucapan Alfred terdengar sarkatis. Omong-omong, aku tidak sempat memperhatikan kereta kencana saat mendekati kediaman Noyes. Seharusnya aku tahu kehadiran karakter maut yang satu ini! “Oh itu pasti hanya perasaanmu, Yang Mulia.” Perlahan aku meminum teh (yang semoga tidak beracun).  “Kau bahkan tidak membalas surat undanganku.” Hampir saja aku menyemburkan teh ke wajah Kiel. “Undangan? Yang Mulia, saya tidak mengerti.” “Kau tidak mengerti?” “Yang Mulia, saya benar-benar tidak mengerti.” Alfred tidak membalas, tatapannya tertuju kepadaku. Dulu aku pasti senang diperhatikan olehnya, tetapi kini rasanya tidak menyenangkan. Sesal, sakit hati, bahkan kekecewaan telah lenyap. Lelaki ini bukan lagi yang utama bagiku. Dulu Alfred merupakan sumber kebahagiaan bagiku, tetapi setelah datangnya pemahaman—bahwa dia tidak mencintaiku dan aku bukanlah tokoh utama di kehidupan ini—perlahan keinginan memiliki Alfred berangsur lenyap.  “Kiel berencana mengikuti Perburuan,” Fiona memecah kecanggungan. Dia memotong kue menggunakan garpu. “Alfred pasti akan memenangi Perburuan, bukan begitu?” “Entahlah,” kata Alfred. Akhirnya dia melihat Kiel. “Apa kau bisa mengalahkanku?” “Selama ini aku selalu mengalah,” Kiel membalas. Sesekali ia mengaduk teh tanpa ada niatan lekas minum. “Kali ini aku berencana menang demi Fiona.” Perburuan. Kemungkinan besar hanya ada acara pamer kekuatan. Nona-nona akan memberi saputangan kepada lelaki pujaannya dengan harapan orang tersebut memenangi Perburuan dan menyerahkan buruannya kepada nona tersebut. Tiba-tiba aku teringat kenangan tidak menyenangkan. Saputanganku selalu ditolak Alfred. Padahal aku bersusah payah datang ke Perburuan. Demi dirinya! DIRINYA! Kali ini berbeda. Aku tidak akan datang. “Ophelia, apa kau akan hadir?” Aku menggeleng. “Pada hari itu aku berencana menghabiskan waktu bersama Ayah.” Ekor mataku menangkap perubahan ekspresi di wajah Alfred. Inilah keputusan paling aman bagiku. Sebenarnya aku tidak memiliki rencana apa pun bersama Armel. Namun, sedari awal aku tidak tertarik mengejar Alfred. Bahkan datang ke acara minum teh ini pun terasa menyebalkan.  “Sayang sekali,” kata Fiona, kecewa. “Padahal aku ingin mengajakmu menonton Perburuan.” Fiona, hewan-hewan yang ditangkap Alfred dan kakakmu itu tidak ada apa-apanya dibanding makhluk yang Armel bunuh. Ibarat membandingkan cacing dengan ular. Sejelas itu.  “Kau tidak akan datang?” “Yang Mulia,” kataku menjawab keraguan Alfred. “Saya tidak berminat menonton Perburuan.” Mana mungkin aku bicara, “Yang Mulia, bukankah Anda melarang saya mengikuti acara apa pun yang dihadiri pihak kerajaan?” Pasti Alfred akan naik pitam dan melontarkan caci maki kepadaku. (Aku ingin menangis. Kembalikan kesempatan hidup damai dalam kekayaan!) “Aku ingin kau datang,” Alfred menuntut. Sontak Kiel terbatuk, kemungkinan dia tersedak kue. (Semoga dia sakit perut karena memelototiku. Rasakan!) “Apa?” “Ophelia boleh hadir?” Fiona terperanjak, senang. “Wah pasti menyenangkan.” “Yang Mulia....” “Ophelia, kau harus ikut.” Pangeran psikopat! Jenis lelaki seperti ini tidak perlu dikejar. Sejenak aku mempertimbangkan kebohongan demi menghindar dari Alfred, tetapi ide bagus tercetus di kepala. “Saya akan meminta Ayah ikut Perburuan.” Sontak Kiel dan Fiona berseru, “Duke Valentine?”  “Ayah pasti senang memperlihatkan keahliannya,” kataku, bangga. “Bukankah Marquis Noyes pun selalu mengikuti Perburuan bersama Sir Noyes? Pasti menyenangkan bila melihat Ayah kembali memamerkan keahliannya.” Apabila Armel ikut serta dalam Perburuan, aku bisa menghindari Alfred, Kiel, dan Fiona. Ide bagus. Cemerlang. Luar biasa! *** Bukan ini yang Alfred harapkan. Dia sengaja datang ke kediaman Noyes setelah mendengar kabar kehadiran Ophelia. Setelah penolakan beberapa kali yang Ophelia lakukan, Alfred merasa perlu memastikan sesuatu.  Perubahan dalam diri Ophelia membuat Alfred kewalahan. Gadis yang dulu selalu mengutamakan kehadiran Alfred, kini memilih menghindar. [Pasti ini siasat Ophelia agar aku mengejarnya!] Tanpa Alfred sadari, ada sesuatu yang hilang dalam dirinya. Sayangnya dia tidak mengerti. ***  Selesai diedit dan direvisi pada 17 Mei 2021.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD