17.9

1273 Words
PADA DASARNYA, Theressa itu tidak beda jauh dengan Vanessa. Itulah kenapa gadis itu bisa akrab dengan adik Abernathy, dan membuatnya semakin tambah ingin dekat melihat gadis itu tidak terpengaruh sama sekali dengan daya tarik dari Vincent. Jujur saja, itu seperti sebuah anomali yang sangat tidak biasa. Vanessa nyaris berteriak girang saat pertama kali melihat interkasi di antara Vincent dan Theressa, dan dia melihat gadis itu hanya menatapnya kesal dan mungkin benci. Gila, kan? Seumur hidupnya, dia hanya pernah melihat reaksi berupa gugup, salah tingkah, dan wajah yang memerah kalau melihat Vincent di depan mereka. Lalu satu detik kemudian, saat melihat kalau pria target mereka punya adik perempuan, dia akan menjadi target berikutnya dalam perkara memincut hati Vincent. Bodoh, memangnya apa yang bisa mereka lakukan jika Vanessa bilang tidak? Tidak ada. Vincent akan mengikuti apa saja yang dia mau. Jadi, tidak heran kan, kalau Vanessa langsung tertarik pada sosok Theressa. Gadis yang memang sudah menjadi temannya itu tiba – tiba menjadi punya arti yang lebih besar di hatinya. Theressa mungkin tidak tahu ini, tapi Vanessa sudah merencanakan masa depan mereka berdua yang akan terus menjadi sahabat dekat. Lantas, jika memang dia similar dengan Vanessa, itu berarti Theressa juga sama keras kepalanya. Dan dia juga punya misi yang sama di dunia ini, yaitu untuk membuat dua Abenarthy bersaudara kewalahan. Begitu pesanan mereka datang, choco mint ice cream adalah rasa pertama yang di sediakan oleh penjual. Theressa tersenyum lebar dan tanpa rasa bersalah ke arah Vincent. Pria itu mengerang kesal dan menengadah ke atas, seperti bertanya pada langit kenapa dia harus terjebak bersama dua gadis yang hanya ingin menyiksa dia. Mendadak, Vincent merindukan masa di mana dia tidak mengenal siapa itu Theressa. Dia mendelik ke arah kotak es krim yang ada di atas meja, lalu mendeli kepada yang punya juga. Theressa menyendok es krimnya, dan melahap es itu di depan wajah Vincent yang duduk di depannya. Vanessa yang duduk di samping pria itu menahan tawa. “Kenapa harus begitu sih? Aku juga tidak akan memaksa kamu untuk memakan es krim ini,” kata Theressa dengan kening mengerut. Vanessa menahan tawa dan menyendok es krim Vanilla miliknya. Dia tidak peduli dengan komentar orang yang selalu menyalahkan rasa es krim favoritnya. Memang kenapa kalau suka rasa yang biasa dan normal? Ada yang salah? “Vinny benci juga wanginya,” jelas Vanessa pendek. “Wangi es krim ini?” Vanessa mengangguk. “Aromatik mint. Dia benci itu.” “Oh,” Theressa mengiyakan. “Itu menjadi masuk akal sekarang.” “Iya, dan kau sudah merusak penciuman aku,” ketus Vincent. Dia menjauh beberapa jarak dari depan meja, menjauhkan dia dari Theressa yang memutar dua bola matanya. “Kenapa juga sih harus rasa itu? Aku heran kenapa orang bisa suka dengan choco mint ice cream.” “Kenapa tidak? Ini rasanya enak!” seru Theressa tidak terima. Dia mendorong tempat es krimnya ke depan, membuat pria di depannya mengeluh kesal. “Coba saja dulu.” “Dia pernah mencobanya, dan muntah sebanyak dua ember.” “Jangan ngaco. Mana bisa manusia muntah dua ember.” Vincent bersungut panjang. Dia mendelik lagi pada Theressa yang berseringai miring. “Dengar, kau jauh – jauh saja, oke?” “Apa yang tidak kau suka dari mint?” “Segalanya.” Theressa mengumbang pelan. “Aneh. Padahal ini sangat enak.” “Akan aku katakan sekali lagi, aku tidak mengerti bagaimana orang bisa menikmati rasa mint. Rasanya seperti makan pasta gigi, kau tahu itu?” “Masuk akal.” “Tentu saja masuk akal,” Vincent berterima kasih saat es krim pilihannya datang. Theressa mengintip dan menaikkan satu alis. “Apa?” “Stroberi? Kau pilihan es krim favoritmu adalah stroberi?” “Ada yang salah? Ini lebih manusiawi dan lebih enak dari pada choco mint ice cream.” Theressa terkekeh. Dia menunjuk Vanessa, “Dia suka Vanilla,” lalu dia menunjuk Vincent. “Dia suka Stroberi,” lalu dia termangu. “Biar aku tebak. Kakak kalian yang paling tua itu suka Cokelat?” Mata Vanessa membesar. “Benar. Wah . . . dari mana kau tahu?” Tatapan Theressa sangat datar hingga Vincent tidak bisa menahan tawa yang keluar dari mulutnya. Dia memukul ringan kening Vanessa sebab dia sudah menanyakan satu hal yang bodoh. Gadis itu membalas dengan pukulan di belakang kepala. “Baiklah, berhenti sebelum kalian merubah tempat ini menjadi tempat pertandingan WWE.” Theressa melerai sebelum perkelahian antara dua kakak beradik itu berlanjut sengit. “Dia memang selalu cari gara – gara di mana saja,” kata Vincent sembari menggeleng. “Eh, maaf, ya, bukankah kau yang tadi lebih dulu memukul kening aku?” protes Vanessa sengit. Dia melempar sendok es krim yang dia pegang. “Dan kau pantas menerima yang lebih dari itu.” “Kenapa?” “Karena kau selalu membuat hidup aku tersiksa. Dengar, setelah aku masuk sekolah menengah atas, aku harap kau tidak lagi ikut campur dengan siapa aku bermain dan berteman. Kau dengar itu?” Vanessa menunjuk satu jari. Dia meraih sendok yang baru dan mulai makan lagi. “Siapa bilang boleh begitu?” “Aku yang bilang.” “Tidak.” “Kenapa tidak?” sahut Theressa. “Jangan keterlaluan. Masa iya Vanessa akan terus di perlakukan seperti anak kecil.” “Sshh . . . anak baru jangan ikut campur.” “Anak baru? Siapa yang anak baru?” “Tentu saja kau. Siapa lagi?” Vincent mendengus. Pada dasarnya, dia memang merasa kalau Theressa ini pendatang baru. Mau ternyata dia sudah kenal lama dengan Vanessa pun, dia baru bertemu dengannya tidak lama lalu. Malah sebenarnya baru kemarin. Dia melirik Theressa yang mendengus dan menyibak surainya lagi ke belakang. Surai itu terhempas dan bermekaran di sekitar wajah Theressa yang imut. Tunggu dulu. Apa? Imut? Vincent memukul keningnya sendiri seperti yang dia lakukan pada Vanessa tadi. Dia membuka botol minum yang ada di atas meja dan menegaknya sampai habis setengah. Pria itu tidak tahu harus melakukan apa selain melotot ke arah air mineral yang dia pegang. Kenapa juga dia bisa berpikir begitu? Imut? Siapa yang berkata begitu pada teman adiknya? Vincent menelan ludah dan berusaha untuk terlihat baik – baik saja. “Dengar, aku suka kau peduli pada Vanessa, tapi jangan ikut campur dengan aku dan dia.” “Dia boleh ikut campur,” sahut Vanessa. “Theressa sahabatku.” “Kau baru kenal dia kemarin.” “Sudah kubilang kita kenal sudah lama,” Vanessa protes. Dia mengedipkan satu mata pada Theressa yang terkekeh kecil. “Jadi, dia bisa saja ikut campur. Lagi pula, dia benar. Berhenti memperlakukan aku seperti aku ini anak kecil. Aku bisa mengurus diriku sendiri.” “Oh, ya? Kalau begitu, kalian bisa pulang sendiri nanti?” “Wah, kau sangat murahan,” komentar Theressa. Dia menghabiskan sendok terakhir es krim di depannya dan tepuk tangan dramatis. “Setelah apa yang Vanessa katakan, itu yang bisa kau konklusikan? Mengancam kita pulang sendiri jalan kaki?” Vincent berdecak. “Intinya, aku sudah tahu tipe apa yang anak – anak yang sekolah di sana. percayalah, kau akan mau bantuan dari aku.” “Tunggu. Kau sekolah di?” Vincent mengangguk sengak. “Selamat, kau harus bertemu denganku selama sisa semester sekolah.” Theressa meringis. “Ugh, aku pikir aku tidak harus bertemu dengan kamu lagi setelah ini.” Entah kenapa pernyataan itu membuat Vincent sedikit sakit hati. Dia biasanya tidak pernah merasa tersinggung, tapi dari jawaban Theressa, dia merasa seperti baru saja ditusuk oleh ribuan jarum. Vincent menyembunyikan rasa tersinggung itu dengan senyum tipis dan kepala yang meneleng ke samping. “Siapa bilang? Aku akan ikut setiap Vanessa menjadi sukarelawan di tempat kerjamu itu.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD