VINCENT ABERNATHY akhirnya bisa kabur dari segerombolan ibu – ibu yang sibuk mengambil foto dari segala hal. Mulai dari hiasan bunga, kursi yang dipenuhi pengunjung, foto anak mereka yang sedang di panggil namanya, sampai foto pintu masuk pun mereka ambil, yang sedang dihias oleh ornamen dan spanduk bertulisan happy graduation.
Sungguh, memangnya harus berapa banyak foto yang mereka ambil saat ini, sih? Vincent menggerutu saat ada seorang wali murid yang tak sengaja menabraknya lalu pergi begitu saja tanpa mengatakan maaf. Dia bersorak heboh dan mendekat ke arah seorang gadis yang Vincent tebak adalah anak perempuannya, lalu mereka melompat girang tanpa peduli dengan sekitar. Wali murid itu lalu sibuk mengambil ratusan foto di ponselnya seolah momen ini tidak akan pernah terekam dengan benar.
Vincent berjalan lagi ke arah pintu keluar. Pria itu mematai dua pintu yang dihias dengan ornamen tersebut seperti seorang predator yang siap menyerang mangsanya. Dia berjalan cepat seperti sedang melewati berbagai macam rintangan di medang perang. Dua kakinya yang panjang melangkah pasti, melewati seorang pria yang sibuk menerka makanan di depannya, seorang ibu yang menangis bangga padahal ini hanya graduasi sekolah menengah pertama saja, dan seorang gadis dengan wajah seperti dia tidak ingin ada di sini.
Dia membuang napas lega dan panjang saat berhasil menerima oksigen penuh lagi di luar. Suasana di luar gedung aula pun masih terbilang sangat ramai. Koridor sekolah penuh, dan di halaman depan banyak mobil yang keluar dan masuk dari parkiran.
Vincent berdiri di tengah taman sekolah, sesekali mendongak agar bisa melihat jika adiknya sudah keluar dari dalam gedung sekolah atau belum.
Pria itu mengekhalasi saat dia tidak melihat Vanessa sama sekali.
Dia duduk di salah satu bangku taman, melihat bekas makanan dan minuman yang tidak terpakai. Pria itu berdecak tak suka dan memutar dua bola matanya melihat hal tersebut.
Dengan enggan, dia mengumpulkan sampah itu dan membuangnya di tempat sampah yang secara jelas tersedia di taman sekolah.
Setelah dia selesai, pria itu duduk lagi. Tak lama, dia sudah mencoba melakukan hal lain lagi dengan menyibukkan dirinya. Tangannya tak bisa diam. Karena jika dia diam, maka dia akan mengingat inkuiri yang di beriakn oleh pria di sampingnya kala itu.
Kenapa juga dia bisa bertanya begitu? Apa yang membuatnya berpikir kalau Vincent dan Theressa itu adalah pasangan?
Vincent tidak sempat bertanya sebab dia terlalu terkejut untuk mengeluarkan jawaban. Mungkin pria itu menganggap dia tidak sopan, atau mungkin menganggap dia gila, namun dia tidak berkomentar perkara Vincent yang tidak merespon pertanyaan ramah darinya.
Apanya yang ramah dari pertanyaan begitu?
Apa urusan dia memangnya hubungan antara Vincent dan Theressa?
Pria itu berdecak dan menginjak rumput secara barbarik. Namun sebuah suara membuatnya berhenti.
“Apa salah rumput sampai dia harus menerima rasa fruastasi darimu?” sahut seorang gadis yang belakangan menjadi sangat familiar di telianga Vincent. Pria itu mendongak dan melihat Theressa berdiri tidak jauh di depannya.
Topi toga yang dia kenakan sudah dia buka, membuat surai yang Vincent suka itu beterbangan secara liar.
Theressa bergerak maju dan duduk di sebelah Vincent. “Rumput yang malang. Kenapa kau tega sekali menyalahkan dia yang tidak bersalah?”
“Entah lah. Mungkin aku belajar dari gadis yang memarkir sepeda di parkiran mobil tanpa rasa bersalah,” kata Vincent sarkas.
Seringai yang tumbuh di bibir Theressa membuat pria itu mendesah kesal. Sudah jelas gadis ini sedang bermain dengan dia. Tak lama, Vincent memicingkan mata pada Theressa dan menunjuk satu jari padanya.
“Kau . . .” Vincent menuduh. “Tidak ada parkiran sepeda ya di sekolah ini?”
“Nope,” Theressa menggeleng santai. “Itu hal yang sudah aku protes berkali – kali, tapi tidak pernah di dengarkan. Jadi, aku parkir saja sepedaku di tempat yang ada.”
“Hey, tapi itu sangat berbahaya. Bagaimana jika kau tertabrak di parkiran?”
“Kau pikir aku tidak bisa mengemudikan sepeda dengan benar?”
Vincent mengangkat dua bahunya. “Lain kali, jangan seperti itu. Parkir sepedamu di pohon dalam halaman sekolah atau sebagainya. Kau bisa mengikat kunci sepedanya di dahan mereka.”
“Iya, iya, mom,” Theressa menyibak surainya ke belakang.
“Kenapa semua orang senang sekali memanggil aku seperti itu, sih?” protes Vincent. “Apa aku terlihat sepetri ibu – ibu tua?”
“Tidak. Tapi kau terdengar seperti nenek – nenek kesepian.”
“Aku akan mencekik kau.”
“See? Hanya seorang nenek tua yang kesepian yang selalu mengancam orang begitu,” kata Theressa datar.
“Kau tidak masuk akal!”
Theressa hanya tertawa melihat pria di sampingnya berteriak frustasi. Lalu mereka terdiam. Sejemang, rasa hening itu tidak terasa canggung atau aneh. Hanya sesuatu yang normal dan biasa. Tapi tak lama, Theressa mulai bergerak gugup lagi, dan Vincent mencoba mencari topil pembicaraan.
“Jadi, kau akan satu sekolah dengan Vanessa lagi?” tanya Vincent payah.
“Iya. Aku merasa senang. Setidaknya, aku sudah kenal satu orang dan tidak benar – benar kehilangan arah di hari pertama.”
Vincent terkekeh. “Kau dan Vanessa akan kehilangan arah bersama.”
“Itu lebih baik dari pada sendiri.”
Pria itu menatap gadis kecil di sampingya lekat. Bagus. Kenapa juga hatinya mulai bertingkah lagi? Dia melengos dan pura – pura mencari figur Vanessa lagi di depan pintu.
“Percuma. Adiknya sedang sibuk berfoto ria dengan kelab sekolahnya. Dia bilang akan selesai sekitar sepuluh menit lagi,” kata Theressa. Gadis itu memutar topi toga di tangannya dan bermain pelan.
“And you,” Vincent mematai gadis itu. “Apa yang kau lakukan di sini?”
“Menunggu Vanessa.”
“Karena?”
“Aku dengar akan ada perayaan di tempat es krim favoritnya?” Theressa mengedikkan bahu. Dia menyibak surainya lagi ke belakang, sudah jelas mulai jengkel dengan rambut yang terbang kacau itu.
Vincent mencibir. “Sejak kapan dia mengundang orang begini? Kalian lupa ya kalau aku yang menyetir?”
“Aku hanya menerima undangan dari seorang teman. Lagi pula, Vanessa bilang kakaknya yang akan bayar.”
Dua bola mata Vincent membesar, membuat Theressa tettawa lepas. “You should’ve seen your face. “
“Diam kau.”
“Oh, dan kau harus tahu kalau aku sangat suka es krim,” kata Theressa. “Semua orang menjuluki aku the ice cream man. Dan aku tidak sarapan hari ini walau pun motto hidupku adalah sarapan itu makanan paling penting dalam sehari.”
“Terserah kalian.”
“Apa menurutmu aku bisa meminta—“
“Ada rasa yang terlarang,” potong Vincent sebelum Theressa bisa selesai. “Choco mint ice cream. Kau tidak boleh memesan rasa es krim itu.”
Alis gadis yang masih kesusahan dengan surainya itu menyatu. Dia merenyuk ke arah Vincent yang menatapnya sengak. “Kenapa tidak?”
“Itu rasa yang terlarang.”
“Iya, tapi kenapa terlarang segala? Ini hanya rasa es krim.”
“Aku benci rasa itu.”
Theressa menganga. “Hanya karena kau benci rasa itu, bukan berarti orang lain tidak bias membelinya. Wah, kau benar – benar gila, ya?”
“Jaga bicaramu, aku lebih tua.”
“Tua, setua apa?” cibir Theressa. “Kau tahu apa yang akan aku katakan tadi?”
“Apa?”
“Aku ingin memesan choco mint ice cream.”
Vincent meringis. Dia terlihat seperti orang jijik. “Jangan. Kalau kau mau ikut acara kita, maka aku harus mengikuti aturan yang ada.”
“Tidak. Aku mau rasa itu.”
“Rasa itu terlarang!”
“Mana ada rasa yang terlarang?”
“Rasa apa yang terlarang?” sahut suara baru. Mereka berdua menoleh dan mendapai Vanessa sedang mengangkat dua alisnya tinggi ke arah Theressa dan Vincent. Gadis itu memegang topi toga di satu tangan, dan satu tangan lagi memegang buket bunga yang masif.
“Dari amna buket bunga itu?” tanya Vincent segera. Dia mengabaikan suara cibiran dari Theressa.
“Dari seorang guru yang dekat denganmu. By the way, rasa apa yang terlarang?”
“Banyak rasa yang terlarang.” Theressa bersungut.
“Memang iya, sih,” kata Vanessa. “Mengencani mantan temanmu, mencintai orang yang salah, seperti misalnya mengencani teman saudara kalian.” Vanessa bergidik ngeri. Theressa terkekeh dan menggeleng. Sementara entah kenapa, kalimat terakhir itu menganggu Vincent.
Pria itu tersadar saat Vanessa melambaikan dua tangan di depan wajahnya. “Kita bisa pergi sekarang? Oh, ya, dan Theressa akan ikut dengan kita.”
Vincent mendelik ke arah gadis yang tersenyum sengak itu. Pria itu menggerutu dan berkata, “Kalau sampai ada rasa choco mint ice cream, aku akan membiarkan kalian pulang jalan kaki.”