ADA KALANYA AKU selalu meminta bantuan kepada dua kakak lelaki yang aku miliki. Bagaimana tidak? Memiliki dua kakak lelaki yang selalu siap melakukan apa saja untukmu rasanya seperti memiliki dua pengurus alias dua pembantu yang siap kapan saja. Heh, aku bukannya tidak tahu diri, tapi siapa suruh mereka begitu baik dan patuh pada satu-satunya adik perempuan mereka? Lagi pula, aku tidak pernah dengan sengaja menyuruh mereka ini itu kok . . . yah, tidak pernah lebih dari lima kali dalam sehari.
Memang pada dasarnya, eksistensi mereka berdua itu sangat berguna bagi aku yang banyak tidak bisa melakukan apa – apa. Banyak sekali hal yang selalu membuat aku susah, dan menjadi beban bagi Vinny dan Vanno. Jangan salahkan aku. Seperti yang aku bilang, mereka sendiri yang selalu siap untuk menolong aku kapan saja.
Dan yah, beberapa kali . . . atau baiklah, sering sekali aku memanfaatkan perkara itu sebagai keuntungan tersendiri. Memangnya kalian tidak akan melakukan itu jika tidak berada di posisi aku? Vanno itu orang yang sangat baik. Dia pria yang banyak bisa melakukan apa saja. Dia mahir dalam segala bidang. Sudah begitu, pria itu sangat jenius. Sedangkan Vinny lebih seperti partner in crime, yang bisa melakukan apa saja bersama aku kapan pun aku mau.
Mutlak, tentu saja aku selalu meminta bantuan kepada mereka berdua. Satu, hidup aku menjadi lebih mudah. Dua, aku tidak perlu melakukan segala hal sendirian. Itu keuntungan yang cukup menarik, kan?
Aku tidak pernah bilang kalau aku merasa presensi mereka tidak ada untungnya sama sekali. Walau jelas, terkadang tingkah mereka yang selalu kelewat posesif dan protektif terhadap aku adalah sesuatu yang membuat hidup aku susah, tapi setidaknya dua laki – laki ini ada gunanya juga.
Akibatnya aku menjadi ketergantungan pada dua kakak lelaki aku itu. Valentino dan Vincent. Ya ampun, rasanya aku ingin kabur ke dalam pelukan mereka saja. Besar sekali kemungkinan mereka akan menyelesaikan urusan ini hanya dalam kurun waktu yang tidak panjang. Aku bisa membayangkan Vinno menemukan siapa pun ini yang mengerjai aku, atau Vinny yang mampu membuat siapa pun orang itu maju dengan sendirinya, terlalu takut untuk tidak mengaku di hadapan atlit kebanggaan Ravenhall High.
Tapi memangnya aku akan melakukan itu semua? Memangnya aku bisa melakukan itu? Memberitahu dua kakak lelaki aku semua ini? Aku bergidik ngeri. Jika aku memberitahu mereka, bisa jadi mereka membakar semua sekolah ini beserta penghuninya hanya untuk menemukan siapa yang sedang bermain api dengan aku.
Harus aku akui, Vinno dan Vinny itu yah . . . cukup sadis. Sudah bukan rahasia umum mereka berdua itu ganas jika menyangkut keselematan aku. Itu juga salah satu alasan kenapa aku sampai sekarang masih tidak memiliki pacar. Mau bagaimana? Dekat dengan aku dalam jarak lima kaki saja, banyak lelaki yang akan keder karena tatapan tajam dari dua kakak lelaki aku. Bukannya aku mengatakan mereka payah atau semacamnya, tapi . . . mungkin aku tidak pantas untuk mendapat resiko sebesar itu. Terlebih Valentino dan Vincent Abernathy memiliki reputasi besar di sekolah.
Vanessa . . . Vanessa . . . Vanessa . . .
Apa kau tidak menginginkan aku seperti aku menginginkan diri kamu?
Tapi ya ampun, kenapa juga dia harus membawa nama Tiberius? Tiberius Florakis? Musuh bebuyutan aku? Memangnya dia pikir, aku milik Tiberius? Enak saja! Aku bukan milik siapa pun, aku adalah milik diri aku sendiri. Mau Vinny, Vinno, Theressa, Ayah atau Ibu, tidak ada yang berhak memiliki satu individu sesama lain. Ini tingkah obsesif. Tingkah orang gila yang tak memiliki daya akal sehat.
Yah . . . mana ada juga orang waras yang memberikan surat seperti ini di pagi hari?
“Apa ini orang yang sama?” tanyaku lirih. Aku berharap tidak ada yang mendengar pertanyaan retorikal itu, namun ternyata Tiberius masih berada di jarak yang sangat dekat denganku. Lelaki itu merebut suratnya dengan kasar, lalu membaca isinya cepat. Mulutnya mencibir, matanya siap membunuh siapa saja yang masuk ke dalam pandangan pupil membara itu.
“Orang gila.”
“Apa menurutmu itu orang yang sama?” tanyaku lagi, tak peduli jika aku sedang bertanya dengan Tiberius Florakis sekali pun. Orang yang mengirimkan aku surat, bisa jadi orang juga mengirimkan aku kotak berisikan tikus tidak bersalah penuh darah itu, bukan?
“Bisa jadi,” Tiberius mengusap wajahnya. “Tidak, ini sudah jelas adalah perbuatan orang yang sama. Aku yakin ini pasti kerjaan Lucas Willow kemarin itu.”
Aku tidak menjawab, tidak juga menyinggah pernyataan sebesar itu. Tidak bisa dipungkiri, Lucas Willow memang mencurigakan. Saat aku mendapat hadiah aneh dari loker berupa kotak yang isinya teror, mendadak lelaki itu muncul di kelas aku tidak berapa lama kemudian. Dia merasa kenal denganku, memaksa aku ikut dengannya, menarik pergelangan tangan aku dengan kasar, lalu mengatakan kalau rumahnya adalah jalan pulangku. Aku bergidik ngeri lagi. Jika saat itu tidak ada Tiberius, entah apa yang akan terjadi.
Jika Lucas mengatakan kalau dia bukan pelakunya, lalu mengapa dia sangat defensif waktu itu? Dia terlihat sangat tidak suka pada Tiberius—yah, walaupun memang banyak ‘sih yang tidak suka dengan lelaki itu—dan dia juga berperilaku seperti aku ini miliknya . . . bukan milik Tiberius.
Ya ampun . . . apa memang benar ini kerjaan Lucas Willow?
“Jika memang benar ini dia, aku harus menemukannya.” Kata aku pelan. Aku melirik dari ujung mataku setiap orang yang berdiri di lorong kelas, mata mereka tertuju padaku dan Tiberius yang berdiri di depan loker seperti orang mencurigakan. Tidak butuh waktu banyak bagi aku untuk mengetahui bahwa aku telah menjadi bahan tontonan orang lagi.
Namun begitu cepat, aku melihat kepala mereka menoleh ke arah lain atau mendadak tunduk, menolak melihat ke arah aku berdiri. Ketika aku kembali fokus ke surat dan melihat Tiberius, ternyata lelaki itu sedang melototi setiap murid yang berdiri di lorong kelas, matanya tajam.
“Jika kau terus melakukan itu, maka suatu hari bola matamu akan copot dari kelopaknya.” Komentar aku pedas. Aku memang tidak tahu diri.
“Siapa suruh orang tidak bisa mengurus urusan mereka masing-masing?” sindir Tiberius kencang. Aku meringis. Tiberius memang terkadang adalah orang yang pasif agresif. Dia memberikan aku surat yang tadi dia rebut dengan cepat, lalu menarik napas. “Apa kau baik-baik saja?”
“Tidak . . .” Jawabku tak yakin.
“Kenapa?”
“Tiberius Florakis baru saja menanyakan keadaan aku.”
“Aku serius.”
“Tentu saja aku tidak apa-apa,” jawabku kali ini serius. “Ini hanya surat. Kejutan yang pertama kali lebih mengerikan,” aku merinding membayangkan tikus mati penuh darah itu. “Lagi pula, sekarang aku tidak akan tinggal diam. Aku akan mencari Lucas Willow atau siapa pun itu pelakunya.”
“Jangan gegabah.”
“Aku tidak akan gegabah, tenang saja.”
“Aku akan menemukan Lucas Willow.”
Aku tersentak. Cukup lama bagi aku untuk bisa tersadar kalau Tiberius baru saja mengatakan dia akan menemukan Lucas Willow. Untuk apa? Untuk aku? Tapi . . . kenapa? Lucas Willow bukan urusan dia, dan sepanjang yang aku tahu, aku dan Tiberius saling membenci satu sama lain, bukan?
“Apa kau mengasihani diriku?”
“Bukan itu,” Tiberius berkata dengan gaya tak acuh. “Aku tidak suka kompetisi.”
“Hah?” mulutku melebar. “Kompetisi apa?”
“Merebut perhatianmu lebih banyak,” balas Tiberius. Aku memerah di tempat, lidahku membeku tak dapat membentuk kata demi kata. “Membuatmu sengsara.”
Sial. Seharusnya aku tahu Tiberius itu tidak memiliki niat baik. Pada akhirnya, dia akan membuat aku menjadi target rundungan seperti sedia kala. Tapi biarlah. Aku bisa menangani Tiberius. Tapi jika sudah seperti ini? Mengirim aku teror berisi tikus yang sudah tidak bernyawa dan surat yang terdengar sangat obsesif? Aku tidak yakin aku bisa menangani masalah ini sendiri.
“Baiklah,” ucapku sama dengan gaya tak acuh. Aku tidak boleh memperlihatkan kalau aku memang sangat butuh bantuan darinya. “Apa kau yakin kalau Lucas Willow . . . ?”
“Siapa lagi yang ada di benakmu tentang pengirim semua ini?”
Yah . . . sejujurnya semula aku pikir ini ulahmu, Tiberius. Tapi, masa aku mengatakan itu? Jadi aku hanya mengangkat bahu, pura-pura tak tahu. “Hanya ada Lucas Willow.”
“Nah,” Tiberius menggosok jemarinya. “Mari kita buru Lucas Willow.”
“Bagaimana caranya kita menemukan dia? Ravenhall High sekolah yang besar. Murid disini ada ratusan lebih.”
“Apa kau lupa?”
“Apa?”
“Aku anak pemilik saham terbesar di sekolah, ingat Nessa?”
Tiberius menyeringai aku yang mematung di depan loker. Entah mengapa detak jantungku terus berdetak tidak karuan. Nessa. Ya ampun, kenapa aku begitu lemah? Kenapa mendadak lutut aku sendiri lemas ketika mendengar Tiberius memanggil aku dengan sebutan seperti itu? Nessa . . . Nessa . . . Nessa . . . nama panggilan yang cukup . . . cantik.
***
Sorenya saat sekolah sudah usai, rupanya Tiberius ingin beraksi hari itu juga. Tidak butuh waktu yang lama bagiku untuk mendapat pesan singkat dari Tiberius yang entah begaimana caranya bisa mendapat nomor ponsel pribadi milik aku. Lalu aku mengingat kalimat terakhir yang dia katakan, “Aku anak pemilik saham terbesar di sekolah, ingat?” dan aku tersadar. Dia bisa mendapat nomor ponsel pribadi milik siapa pun di sekolah ini. Dan . . . Nessa. Ya ampun, Vanessa sadar! Kau sering mendapat banyak nama panggilan, Vanny, V, Van, Vanes, banyak sekali! Kenapa Nessa harus berbeda dari yang lain?
Aku mengikuti jalan lorong sekolah yang panjang ke arah kantor administrasi. Tiberius memberikan instruksi unuk menunggu hingga lorong dan koridor sekolah sudah sepi, anak-anak sudah pulang dari sekolah, dan semua kelas kosong. Aku melihat kalau gerbang depan sudah mulai tertutup setengah dan Tiberius meyakinkan aku kalau kami tidak akan terlambat keluar dari area sekolah sebelum gerbang itu ditutup.
Dengan langkah pasti, aku berjalan. Tapi rasanya seperti seorang pencuri yang mengenda-endap di bagian yang terlarang. Aku mengatakan pada diriku sendiri untuk rileks. Jika ada sesuatu yang terjadi, aku yakin Tiberius bisa mengeluarkan kami dari situasi yang dapat membuat kami mendapat masalah dengan pihak sekolah. Bagaimana pun juga, dia anak pemilik saham terbesar di sekolah, ‘kan?
“Kenapa kau lama sekali?” gerutu Tiberius saat aku sudah sampai di depan kantor administrasi sekolah. Dia mengenakan tudung baju hangat hitam miliknya, tubuh bersandar di dinding sebelah pintu masuk.
Aku membuang napas. “Kau bilang aku harus menunggu agar keadaan menjadi sepi dan kosong.”
“Aku perhatikan keadaan sudah menjadi sepi sedari tadi.”
“Aku—“
“Oke cukup,” dia mengangkat satu jari. “Let’s get this over with.”
Aku mencibir ke arahnya penuh dengki. Lelaki itu membuka kantor administrasi dengan mudah, menggunakan bobby pin yang entah dia dapat dari mana. Mataku melebar. Aku tidak mengira kami akan menerobos masuk secara paksa ke dalam kantor administrasi sekolah! Aku pikir kami hanya akan mengendap masuk saat kantornya sedang kosong, bukan membuka kunci secara paksa seperti ini.
Tiberius melihat aku yang menganga dan memutar kedua bola matanya. “Tenang, ini bukan tindakan krminal.”
“Seperti ini bukan tindakan kriminal bagimu?” bisik aku kencang, tapi langkah kaki aku tetap mengikuti tubuhnya yang tinggi masuk. Aku melihat beberapa meja kosong, kertas berserakan, gelas bekas kopi masih di atas meja, kursi yang tidak dirapihkan lagi, bau rokok tercium sengat.
“Kita melakukan ini untuk sesuatu yang baik, bukan?”
“Yah tapi . . . aku merasa seperti pencuri.”
“Pencuri atau bukan, kita akan menemukan siapa Lucas Willow.”
“Baiklah . . .”
Aku mengikuti Tiberius ke arah loker yang panjang. Loker tersebut berisikan dokumen-dokumen penting sekolah, file identitas murid, dan segala macam kertas yang aku tak pedulikan. Target kami adalah file identitas murid itu dan tidak butuh waktu banyak bagi kami untuk segera melihat isinya.
Satu demi satu file identitas itu kami sisir, mulai dari alfabet pertama sampai ke bawah. Kami mencari nama Lucas Willow di setiap kelas. Mulai dari kelas yang paling bawah sampai yang sudah senior. Akhirnya, keberuntungan kami terjadi saat kami sampai di tahun ajaran aku dan Tiberius.
Lucas Willow. Lelaki itu pindahan dari kota kecil yang tak dikenal. Dia baru masuk ke sekolah ini sekitar tiga minggu yang lalu—dan menjelaskan kenapa tidak ada di antara kami berdua yang mengenal siapa lelaki itu saat kami bertemu dengannya beberapa hari yang lalu. Dia pindah karena alasan orangtua yang harus pindah kerja. Tidak ada yang banyak bisa kami ambil dari file tersebut. Tiberius mengambil foto dokumen itu dan segera menaruhnya lagi di dalam loker.
Saat kami akan bergegas ke luar, aku mendengar bunyi itu. Bunyi akhir kami. Sirene yang mendadakan kalau gerbang sekolah Ravenhall High sudah ditutup. Aku menelan ludah. Jika gerbang sekolah sudah ditutup, apa itu artinya aku dan Tiberius . . .? Tidak! Masa aku harus tinggal di sekolah bersamanya? Aku ingin keluar dari sini. Sial. Tiberius bilang aku dan dia tidak akan ketinggalan sebelum gerbang sekolah ditutup? Kenapa gerbangnya sekarang sudah ditutup? Aku mau pulang!
Aku melirik Tiberius yang mematung di depan pintu kantor administrasi. Dia juga terlihat sama terkejutnya. Aku menggelengkan kepalaku, menolak percaya dengan kenyataan pahit ini. Kami hanya bisa mendengar sirene itu dengan wajah lirih. Saat sirene tersebut sudah berhenti, yang berarti menandakan kalau gerbang sekolah sudah tertutup rapat, dikunci oleh pengurus sekolah, kami membuang napas panjang. Tidak mungkin kami pergi ke pengurus sekolah dan meminta agar gerbang kembali dibuka. Bisa-bisa dia akan bertanya mengapa kami masih berada di area sekolah saat hari sudah mulai gelap begini.
Tiberius menoleh padaku, bibirnya tersenyum sebelah, seringai menyebalkan terukir di wajah tampan itu.
“Well, Nessa . . . sepertinya kau dan aku harus bermalam bersama.”