BERMALAM BERSAMA? Ya ampun, tolong siapa saja, bawa aku bahkan ke alam bawah tanah sekali pun! Bagaimana caranya aku akan menghabiskan malam bersama Tiberius Florakis? Lelaki yang selalu membuat hidupku seperti berada di neraka dunia? Orang yang tidak pernah berhenti mengganggu aku barang sehari atau dua hari? Lelaki yang membuat aku sebagait target rundungan tanpa alasan yang jelas?
Bukannya aku takut dia akan melakukan apa – apa padaku. Jujur, walau aku tahu Tiberius Florakis adalah pria yang bisa melakukan apa saja, aku yakin dia bukan pria yang seperti itu. Itulah sebabnya aku sudi menerima bantuan darinya, bahkan saat di depan orang seperti Lucas Willow. Karena aku tahu, kalau Tibeirus dan orang seperti pria bernama Lucas itu adalah dua magnet yang berbeda kutub. Tibeirus mungkin laki – laki yang selalu membuat hidup aku seperti berada di neraka. Dia mungkin orang yang tidak pernah berhenti mengganggu hidup aku barang satu detik saja di sekolah ini. Satu detik saja tidak pernah apalagi satu hari. Dia mungkin pria yang membuat aku menjadi target rundungan tanpa alasan yang jelas. Tapi dia bukan pria tidak bermoral seperti Lucas Willow.
Tapi tetap saja. Menghabiskan satu malam bersama dengan pria ini? Tiberius Florakis si anak pemilik saham terbesar di sekolah? Aku bisa gila.
Tidak. Aku bisa kehilangan akal saat ini juga.
Aku bahkan tidak bisa menghabiskan waktu satu detik saja tanpa berubah menjadi wanita gila di sampingnya saat siang hari. Apa kabarnya harus menghabiskan waktu satu malam bersama dengan dia di malam hari? Berdua saja pula? Di dalam ruangan begini?
Ah, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi dengan kita besok hari.
Apa yang akan Chloe lakukan jika dia membuka pintu dan melihat kita sudah menghancurkan tempat ini? Aku tidak akan terkejut jika Tiberius mencoba untuk melakukan sesuatu padaku di tengah malam saat aku sedang lengah dan tidak sadar.
Baiklah. Bagus. Oke.
Aku rasa aku tidak akan tidur nyenyak malam ini. Tidak jika ada seorang makhluk mengerikan seperti Tiberius di jarak yang sangat dekat.
No, actually, scratch that.
Aku rasa aku tidak akan tidur sama sekali.
Aku rasanya ingin menangis saat melihat Tiberius menyeringai aku dengan wajah yang tak dapat aku jelaskan. Pria itu melirik jam tangan, mengedikkan bahu, dan berdiri menunggu aku yang masih sibuk untuk mencoba proses pengertian apa yang sedang terjadi saat ini.
Tiberius dan aku terkunci di dalam sekolah. Gerbang sekolah sudah tertutup rapat. Hari sudah menjadi gelap. Tiberius dan aku terkunci di dalam sekolah. Aku ulang, di dalam sekolah!
“Well, Nessa . . . sepertinya kau dan aku harus bermalam bersama.”
Aku ingin berteriak sejadinya. Dia pikir dia siapa berbicara seperti itu? Ugh, aku lebih baik bermalam di ruangan penuh tikus dari pada harus bersama dengan dia. Tunggu dulu. Ugh. Kenapa aku harus menyebutkan tikus? Pikiranku malah kembali lagi pada tikus malang tak bersalah penuh darah di perutnya. Aku menelan rasa ingin muntah jauh-jauh ke dalam mulut.
Tiberius masih berdiri di sebelahku, wajahnya masih elusif, tak bisa aku jelaskan. Dia merogoh kantung celana dan mengeluarkan ponsel miliknya. Lelaki itu mengirim pesan pada seseorang, lalu menoleh padaku. “Jika aku tidak ingin keluargamu cemas, aku rasa kau harus mengirim sebuah pesan atau semacamnya.”
Aku hampir saja menepuk jidat. Buru-buru aku ikut mengeluarkan ponsel dari dalam ransel sekolah. Orang pertama yang aku pikirkan adalah Theressa. Gadis itu harus bisa aku ajak kerja sama karena terakhir kali kami melakukan sesuatu yang bodoh seperti kabur dari rumah saat malam hari hanya untuk jalan-jalan di kota gelap seperti anak badung, kami berdua dengan bodohnya saling mengatakan kalau kami menginap di rumah satu sama lain. Tapi karena tidak bersiap kalau keluarga kami masing-masing akan mengecek, tanpa sandiwara yang sudah disiapkan akhirnya kami kelabakan dan rencana bodoh itu ketahuan.
Nama Theressa langsung aku dapatkan tanpa perlu mencari lama. Aku menghubunginya detik itu juga.
“Apa?” begitu sapaan Theressa padaku dari seberang sambungan telepon. Aku terkekeh geli.
“Begitu kau menyapa sahabatmu?”
“Kita baru bertemu hari ini, aku tidak menyangka kau begitu sayang padaku hingga bisa secepat ini rindu.”
“Iya . . . iya . . . aku sayang padamu.” Dari ujung mataku, aku melihat Tiberius melirik aku dengan bibir tertutup rapat. Dia melengos saat melihat aku menatapnya. “Theressa dengar, aku ingin kau melakukan sesuatu.”
Theressa membuang napas panjang. “Apa lagi kali ini?” tanyanya seperti aku sudah sering membuat dia susah. Well . . . memang sering ‘sih, tapi kan dia sahabatku. Dibuat susah sudah ada di dalam job description-nya.
“Aku mungkin baru saja melakukan sesuatu yang bodoh,” ucapku pelan. Tiberius mendengus di sampingku. “Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang, tapi yang jelas aku terkunci di dalam sekolah—“
“Apa?”
“—dan aku butuh kau untuk menjadi alasan kenapa aku tidak bisa pulang.”
“Ulangi lagi.”
“Aku butuh kau untuk menjadi alasan kenapa aku tidak bisa pulang.”
“Bukan yang itu.”
“Aku baru saja melakukan sesuatu yang bodoh.”
“Yang satu lagi!”
“Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang?”
“V, aku akan membunuhmu.”
Aku tersenyum tipis sambil menahan tawa yang akan meledak. “Theressa, please just don’t ask questions right now. I promise you, as soon as we meet, I will tell you everything. Oh ya . . . dan jangan lupa bawakan aku baju bersih besok, ya!”
“Vanessa, tunggu—“
Tapi aku sudah menutup sambungan telepon terlebih dahulu. Jika aku harus menceritakan segalanya pada Theressa sekarang, kami tidak akan berhenti berbicara untuk waktu yang panjang. Sedangkan satu lirikan ke arah Tiberius, lelaki itu sudah tidak sabar lagi. Aku akan menceritakan segalanya pada sahabatku itu besok. Lagi pula, tidak ada gunanya juga mengeluh saat ini. Aku mengirim satu pesan pada Ayah dan Ibu yang mengatakan kalau aku akan menginap di rumah Theressa malam ini. Tidak perlu ada alasan yang penting. Aku memang selalu menginap di rumah Theressa kapan pun aku mau, begitu juga sebaliknya.
Semoga saja mereka berdua tidak memilih malam ini sebagai malam di mana mereka memilih untuk mengecek keadaan. Terlebih Vincent . . . ah, aku akan memikirkan itu nanti. Lagi pula, dia percaya penuh pada Theressa.
“Sudah selesai menghubungi semua sanak saudara?” tanya Tiberius ketus. Dia melipat dua tangan di depan d**a, wajahnya datar dan terlihat bosan.
“Sudah,” aku menjawab dengan senyum palsu, mengolok lelaki di hadapanku. “Apa yang akan kita lakukan sekarang?”
“Kita?”
“Well . . . jika kau mau bermalam sendirian, silahkan.” Aku mengangkat bahu pura-pura tak acuh. Sesungguhnya, aku juga ingin bersama dengan dia. Tapi, memangnya aku akan mengakui hal itu begitu saja? Tidak, tentu saja!
Aku keluar dari kantor administrasi dengan percaya diri setinggi mungkin, menolak memperlihatkan pada Tiberius kalau sebenarnya aku agak takut berkeliaran di koridor malam sekolah yang terlihat mengerikan. Berbagai film horor dan thriller dengan konsep sekolah yang pernah aku tonton berputar di dalam otak. Aku bergidik ngeri. Tidak, itu film Vanessa! Ayo, jadi gadis kuat dan terus melangkah.
Aku mendengar suara langkah kaki di belakang aku, dan tahu saat itu juga kalau Tiberius sedang mengekor di belakang. Napasnya menderu, lalu aku mendengar dia berdecak kesal. Aku menyembunyikan senyum. Dia menyamakan langkah kakiknya dengan langkah kaki aku sendiri dan kami akhirnya berjalan berduaan di bawah sinar bulan dari balik jendela sekolah.
Tiberius terus mengikuti aku hingga kami akhirnya sampai di depan vending machine. Aku berdiri di depan mesin makanan itu sambil menunggu Tiberius. Lelaki itu hanya mengernyitkan dahinya padaku, tak mengerti maksudnya.
“Uang.” Ucapku datar.
“Apa?”
“Uang,” aku merentangkan telapak tanganku menghadap ke atas, meminta pada Tiberius. “Mana uang?”
“Aku?”
“Iya, anak pemilik saham terbesar di Ravenhall High,” aku mendengus kesal. “Kau! Kau yang sudah membuat kita terjebak di sini, dan kau yang akan membayar makan malam kita,” ucapku sambil menunjuk vending machine. “Sekarang, mana uangnya.”
Tiberius menatap aku tak percaya. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali, sebelum akhirnya mengeluarkan dompet dari dalam tas seperti sedang terhipnotis. Aku hampir saja tersenyum penuh kemenangan. Dia memberikan aku beberapa lembar kertas uang, dan aku memilih setiap makanan ringan yang aku inginkan, berikut beberapa minuman bersoda di vending machine sebelahnya.
Lelaki di sebelahku tidak banyak bicara. Dia hanya diam melihatku bersusah payang membawa makanan yang sudah aku dapatkan, bahkan menaruh beberapa dari mereka ke dalam tas ranselku saking banyaknya. Ketika aku sudah selesai, aku hanya mengangkat bahuku pada Tiberius, menyeringai dia, dan mengangguk penuh arti.
“Terima kasih, anak pemilik saham terbesar di sekolah ini. Berkat kau, aku menjadi orang kaya raya dengan makanan ringan yang banyak.”
Jika penerangan di koridor ini lebih terang lagi, aku mungkin akan yakin kalau Tiberius baru saja tersenyum walau tipis sekali. Aku menelengkan kepalaku, mencoba untuk melihat jelas. Namun ukiran senyum itu hilang seketika—jika itu memang senyum yang baru saja dia perlihatkan.
“Dasar, adik perempuan Abernathy bersaudara.”
“Dasar, pembuat onar.”
“Dasar, menyebalkan.”
“Dasar, mengerikan.”
“Kau pikir aku mengerikan?”
Aku tidak menyangkan pertanyaan itu. Lagi, jika ada penerangan jelas, aku mungkin berpikir Tiberius terlihat sedikit tersinggung sekarang. Mendadak aku merasa tidak enak jadi aku hanya mengedikkan bahu. Tiberius mendengus, lalu dia berjalan meninggalkan aku di koridor. Aku langsung mengekor di belakangnya.
“Mau ke mana kau?”
“Jika kita akan terjebak di sini, setidaknya kita harus mencari tempat untuk tidur.”
“Tidur?” aku bertanya pelan.
Tiberius berhenti, lalu dia menoleh padaku. Dia tersenyum miring padaku. “Nessa, kau dan aku akan tidur bersama di ruang rawa sekolah.”
AKU INGIN PULANG SEKARANG!!!!!