11

1218 Words
TIDAK PERNAH TERBAYANGKAN oleh aku sendiri kalau aku akan bermalam bersama dengan musuh bebuyutan aku, anak pemilik saham terbesar di Ravenhall High, Tiberius Florakis si pembuat onar. Aku pikir aku tidak akan pernah melihatnya kecuali saat jam sekolah. Tapi sekarang? Aku harus menghabiskan malam bersamanya. Di dalam ruang rawat sekolah pula! Ini sebuah katastrofe. Sebuah malapetaka yang terjadi di dalam hidup aku. Pre – destinasi macam apa pula ini? Dari segala macam resultansi di hari ini, akhir seperti ini yang aku terima? Aku tidak bisa habis pikir. Bermalam dengan Tiberius Florakis itu sama saja seperti membiarkan seekor singa buas menatap kamu dalam gelap. Kau tidak bisa melihatnya, sementara dia sudah sangat mahir dalam situasi seperti itu. Panggil aku hiperbola, sebab sungguh, aku yakin Tiberius tidak akan melakukan apa – apa, tapi tetap saja. Pria ini seperti sebuah bom yang siap meledak kapan saja. Dan parahnya, aku tidak bisa melihat detonasi bom tersebut. Aku tidak bisa tahu sudah ke detik berapa bom itu menyala, dan kapan bom itu akan meledak. Baiklah. Bagus. Sekarang aku malah tambah kesal dan paranoid. Aku tatap presensi pria itu di tempatnya. Bagaimana bisa dia telihat sangat santai? Apa hanya aku yang merasa kalau situasi ini sangat, sangat, sangat absurd? Aku mencibir dengki. Sepertinya dia berpikir kalau presensi aku tidak mengintimidasinya sama sekali. Dia itu bukan orang yang tega berbuat jahat pada gadis aku tahu. Tiberius pasti memiliki ego yang tidak akan membiarkannya macam-macam padaku, tapi ‘kan tetap saja! Dia ini selalu membuat hidupku berantakan dari saat kami menginjak sekolah menengah pertama. Rasanya aku akan dimakan hidup-hidup saat aku sudah terlelap. Jadi apa yang aku lakukan? Minum minuman soda dan makan cokelat sepuasnya. Kapan lagi aku makan makanan sepuasnya begini dan ditraktir oleh anak pemilik saham terbesar bernama Tiberius Florakis? Sudah untung aku tidak memaksa agar dia membelikan semua makanan yang ada di dalam vending machine. Tiberius tidak beranjak dari tempatnya. Dia duduk di meja kerja Chloe, sibuk memainkan ponsel entah melakukan apa. Aku duduk di tempat tidur ruang rawat, sinar dari senter yang kami temukan di dalam laci meja kerja Chloe berfungsi sebagai lampu agar aku bisa melihat saat makan. Tanpa sadar aku memperhatikan Tiberius. Tampan memang. Tapi sayang, kelakuan yang seperti itu membuat aku tak dapat fokus pada paras wajahnya yang sempurna. Bagaimana bisa kau memusatkan perhatian pada orang yang selalu membuat hidupmu seperti di neraka? “Foto saja . . . akan lebih permanen dibandingkan kau melihatku terus menerus seperti itu.” Celetuk Tiberius sambil mengibas rambutnya dengan sombong, matanya menatapku penuh arti. Aku bisa melihat dari bayangan lampu senter yang cukup minim kalau dia sedang merasa di atas angin sekarang. Untung saja pencahayaan di sini minim sekarang. Setidaknya jika aku memerah dan pipiku merona karena sudah ketangkap basah begitu, Tiberius tidak akan melihatnya. Aku berdeham kencang. “Tidak. Jangan ngaco.” “Aku bisa melihat dengan jelas, Nessa.” “Berhenti memanggilku seperti itu.” “Apa, Nessa?” Tiberius menelengkan kepalanya. “Tapi ‘kan itu namamu?” “Ya . . . panggil saja aku Vanessa. Vanny . . . atau V . . .” Aku bersikeras. “Atau apa sajalah.” “Kalau begitu jangan panggil aku dengan sebutan yang sama.” “Apa?” “Kau tahu apa.” “Ty?” tanyaku heran. “Hmh . . . .” “Tapi Ty bagus. Kau tahu ‘kan namamu itu susah dan panjang, dan akan lebih bagus kalau disingkat begitu. Lagi pula, memangnya ada masalah apa dengan sebutan Ty?” “Aku tidak suka.” “Well . . . baguslah. Aku akan tetap memanggilmu Ty kalau begitu.” “Baiklah, Nessa.” “Kau benar-benar tidak bisa diajak bicara.” “Kau ingin aku berhenti memanggilmu Nessa, tapi kau tidak mau berhenti memanggil aku Ty.” Lelaki itu menggeleng. “Dunia tidak bekerja seperti itu, manis.” “Jangan panggil aku begitu!” “Jangan tersipu, sayang.” Aku membuang tangan di udara, sangat frustrasi. Mengabaikannya, aku kembali pada cokelatku. Setelah aku puas dengan makan dan minum seperti orang kesetanan, aku akhirnya rebahan, sibuk dengan ponsel sendiri. Tetapi setelah beberapa lama, perasaan terkutuk itu muncul. Aku menelan ludah. Aku melirik Ty. Dia melirik aku kembali. “Apa?” “Aku . . . ingin ke kamar mandi.” “Lalu?” Ty mengedikkan bahunya. “Temani aku!” “Kau sudah gila?” “Please . . .?” aku memohon, tangan mengerat. Aku sekarang sudah duduk tak lagi rebahan, wajahku mulai terasa dingin dan berkeringat. Tiberius mendesah kesal. Dia akhirnya berdiri, membuka pintu, dan berjalan sendiri tanpa aba-aba. Dengan cepat aku mengikutinya, berterima kasih di dalam hati karena Ty mau menemani aku. Senter yang aku pegang menerangi jalan kami di koridor. Aku menggigit bibir, merasa ngeri karena lorong sekolah yang sepi. Tiberius Florakis tetap berjalan dengan bahu yang tegak, tak merasa takut atau semacamnya. Aku menggeleng, lalu merapatkan langkah kaki di belakangnya. Masa bodoh jika aku sedang mencari perlindungan pada musuh aku sendiri. Yang jelas, aku tidak ingin berada di lorong sekolah yang mengerikan ini sendirian. Vanessa . . . Vanessa . . . Vanessa . . . Apa kau tidak menginginkan aku seperti aku menginginkan dirimu? Baiklah. Aku harus berhenti memikirkan kata demi kata ini. Sudah cukup mereka menghantui aku di setiap detiknya. Apalagi di depan Tiberius begini? Vanessa . . . Vanessa . . . Vanessa . . . Tunggu aku . . . ! Sial, kenapa aku harus memikirkan surat itu? Aku berusaha melupakannya. Tapi rasanya ada yang mengikuti setiap langkah aku dari belakang. Seperti ada yang mengamatiku dari belakang. Punggungku terasa panas, entah karena menahan rasa ingin ke kamar mandi atau memang benar ada yang melihatku dari belakang. Tiberius tak merasakan apa pun sama sekali. Dia tetap berjalan. Tentu saja dia tidak bereaksi sama sekali. Segalanya hanya ada di dalam kepala aku. Ini semua tidak nyata. Ayo, Vanessa. Sadar. Kau tidak boleh terlihat payah di depan Tiberius. Kau bisa melakuan ini! Dengan sekuat tenaga aku mencoba untuk melupakan kata demi kata yang membuat aku merasa seperti ingin menangis. Kenapa juga susah sekali bagi aku untuk melupakan surat itu? Kenapa rumit bagi aku untuk melupakan kata demi kata yang sejujurnya, tidak terdengar begitu menakutkan? Ah, lupakan itu. Siapa yang mau aku bohongi? Segalanya terdengar mengerikan. Seperti sebuah tulisan obsesif yang akan menghantui aku kapan saja. Lupakan itu Vanessa! Teriak aku pada diri sendiri. Lupakan surat itu dan bertingkah seperti gadis normal biasa. Ingat, Tibeirus ada di sini. Sebencinya kau terhadap pria itu, tapi kau tidak bisa memungkiri kalau beberapa hari ini dia sangat membantu, kan? Aku membuang napas panjang. Ya, pada dasarnya, beberapa hari ini presensi Tiberius memang sangat membantu. Dan tidak bisa dipungkiri juga kalau saat ini, eksistensi pria itu juga membuat aku bisa bernapas lebih lega. Itu sebuah pernyataan yang sangat luar biasa, tapi memang benar adanya. Dan aku tidak bisa membohongi diri sendiri. Aku memasuki salah satu bilik kamar mandi setelah memastikan kalau Tiberius memang menunggu di luar pintu. Dia bersiul, menandakan kalau dirinya masih ada di depan. Buru-buru aku menuntaskan kegiatan yangaku inginkan. Setelah selesai, aku keluar dari bilik kamar mandi. Ketika aku akan mencuci tangan, mataku bertabrakan pada sesuatu di balik kaca. Aku melihat bukan hanya aku yang berada di dalam kamar mandi ini. Dan akhirnya aku berteriak, dan berteriak, dan berteriak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD