12

2035 Words
TIDAK BUTUH WAKTU BANYAK bagi seorang Tiberius Florakis untuk menerjang masuk ke dalam kamar mandi wanita. Dia menerjang masuk bagaikan pahlawan kesiangan. Baiklah, mungkin titel itu sangat menghina baginya yang memang seorang pahlawan di mata aku sendiri saat ini, tapi aku tidak bisa menghentikan diri aku sendiri untuk memberikan titel yang sedikir buruk bagi pria itu. Aku melihat dia mendobrak pintu dengan kuat, hingga sisi – sisi pintu terlepas dari bautnya. Hentakan itu membuat suara yang keras di dalam ruangan, menggema ke seluruh ruang dan mungkin keluar gedung. Jika ini siang hari dan ada banyak orang di sekolah, sudah jelas tidakan Tiberius tadi akan menarik banyak perhatian orang di luar sana. Tapi sayangnya, ini malam hari. Hanya ada aku dan Tiberius di dalam gedung gelap ini. Dan satu sosok mengerikan yang tidak pada tempatnya. Suara aku tercekat saat Tiberius sudah berhasil masuk ke dalam kamar mandi dengan wajah yang elusif. Aku tidak bisa memberikan eksplanasi perkara mimik wajah itu. Dia terlihat cemas, dan khawatir? Tapi pada saat yang sama, dia juga terlihat marah dan murka. Itu mimik wajah yang sangat familiar di wajah Tiberius Florakis. Dia masuk ke dalam kamar mandi dengan langkah yang berat dan napas yang menderu keras. Seharusnya itu bukan tindakan yang mulia, dan aku tidak akan membiarkan dia melakukan hal seperti itu. Tapi sekarang? Lebih baik dia menghancurkan setiap pintu yang ada di sekolah ini dari pada aku harus diserang oleh orang yang tidak aku kenal. Napasku berhenti ketika tubuhku sudah terpojok di kamar mandi wanita. Tubuhku terkunci di antara tubuh orang ini dan wastafel sekolah. Tenggorokanku rasanya kering dan sakit akibat berteriak sekencang mungkin. Orang itu tidak terlihat takut sama sekali. Malah, matanya terlihat seperti sedang menyeringai aku dari balik masker. Iya, orang ini mengenakan pakaian serba hitam. Mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki. Jaket kupluk berwarna hitam, celana jeans panjang yang hitam dan ketat. Masker hitam yang hampir menutupi seluruh bagian muka. Bahkan, orang ini juga mengenakan sarung tangan kulit berwarna gelap. Aku harus menyipitkan mataku agar bisa melihat dengan jelas kalau memang yang berdiri di hadapanku ini adalah manusia, bukan hantu jadi-jadian. Aku mendongak ke atas, melihat sinar bulan yang tak masuk sama sekali. Senterku sudah jatuh entah sejak kapan, cahayanya tak menerangi tempat kami berdiri. Saat itulah Tiberius berteriak keras, suaranya menggema dari lorong sekolah di luar sana. Aku terbelalak, teringat kalau aku tidak sedang sendiri. Dengan sekuat tenaga aku berusaha mendorong orang itu sambil meneriakkan nama Tiberius, namun orang tersebut menangkap tubuhku, memutarnya, dan meletakkan sesuatu yang memantulkan cahaya di leherku. Ketika Tiberius sudah berhasil masuk dengan mendorong paksa pintu kamar mandi wanita, dia tidak langsung bertindak. Langkahnya terhenti, wajah tak dapat aku jelaskan. Cemas, marah, frustrasi, semua bercampur menjadi satu. Aku menelan ludah, mengetahui masalah mengapa dia tidak segera maju dan melumpuhkan siapa pun itu yang sedang memegang aku di dalam dekapannya. Pisau. Itu benda yang sedang diacungkan tinggi-tinggi ke leherku. Dari pantulan cahaya, aku bisa mengetahui kalau dia sedang memegang senjata tajam. Aku meringis, menangisi nasib yang sanga tidak beruntung. Orang yang memegangku terkekeh geli. Entah mengapa, suaranya terdengar cukup familiar. Aku mengerjapkan mataku, mencoba mengatur penglihatan agar bisa beradaptasi dengan gelap. Tiberius menggeleng. Dari pencahayaan yang sangat minim, aku melihat keringat membasahi keningnya. Dia berdecak tak terkesan sama sekali dengan keadaan yang sekarang. “Apa yang kau lakukan?” Orang yang memegangku menelengkan kepalanya. Satu tangan masih siap melukai aku kalau-kalau Tiberius Florakis memutuskan untuk maju dan melumpuhkannya. “Aku sedang bersama dengan kekasihku.” Aku ingin muntah. Kekasih? Kekasih apanya? Jangan bercanda! Aku bahkan tidak pernah memegang tangan lelaki! Yah, kecuali Tiberius. Tapi itu ‘kan saat kami sedang perang dan aku tidak sengaja bersentuhan tangan dengannya? Siapa dia mendadak mengatakan kalau aku ini kekasihnya? Memangnya dia sanggup berhadapan dengan Vinno dan Vinny? Aku mendesah sama tak terkesannya dengan keadaan ini. “Kekasih apanya?” “Kekasihmu, Vanessa” Namaku terdengar aneh dari mulutnya. Seperti nama itu penuh racun dan benci dan menjijikan. Tidak seperti saat Ty memanggil aku Nessa . . . tunggu dulu. Kenapa aku harus memikirkan hal seperti itu sekarang? Tidak. Fokus Vanessa! “Aku tidak pernah punya kekasih. Kecuali kau Akin Akinozu, maka tak apa, aku rela menjadi kekasihmu kapan saja.” “Siapa itu?” tanya Ty dan orang yang sedang menyandera aku bersamaan. “Aktor tampan? Tinggi? Jenggot yang seksi? Mata yang manis?” Aku mengibaskan tanganku. “Sudahlah, tak penting. Yang penting adalah, kenapa kau mengaku-aku menjadi kekasihku?” “Karena aku memang kekasihmu,” ucap orang itu semanis mungkin. Aku tambah ingin muntah. “Kau lupa?” “Hah?” aku terdiam. Otak terus menimba memori agar bisa mengingat kekasih siapa yang tak pernah aku anggap. Namun nihil. Aku hampir tak punya teman lelaki akibat kelakukan dua kakak lelakiku sendiri. Mana mungkin aku bisa memiliki pacar? Aku lirik dari kaca wastafel kamar mandi wanita keadaan yang sedang terjadi sekarang. Aku sedang diapit di antara lengan dan sikut orang ini, pisau kecil yang bersinar memantul di kaca. Tiberius sebenarnya tak terlalu jauh dari kami, tapi jika orang ini macam-macam, aku rasa kecepatan seorang Florakis pun tak akan bisa mengalahkan kecepatan dia melukai aku dengan senjata tajam itu. “Bagaimana bisa kau lupa Vanessa?” tanya orang tersebut dengan nada sedih dan frustrasi. Well . . . aku sama frustrasinya! Aku juga ingin ingat jika aku memiliki kekasih. Tapi apa daya? Sejak kapan aku bisa memiliki pacar? Teman laki-laki saja aku sudah sangat bersyukur. “Tenang dulu . . .” ucapku saat aku sendiri sudah mulai bisa berpikir jernih. Mungkin jika kami memainkan permainan orang ini untuk mengulur waktu, aku dan Tiberius bisa keluar dari masalah ini. “Bisa kau bicara pelan-pelan?” Aku merasakan pegangan tangannya melemah. “Ini aku . . .” “Maaf, kau sedang menahan aku dengan pisau di leher . . . aku tidak bisa berpikir jernih.” Aku berbohong, mencoba agar orang tersebut luluh. Benar saja, pegangan dia semakin melemah lagi. Aku menelan ludah, berdoa semoga tak ada yang terluka dalam kejadian ini. “Bisa beritahu aku siapa namamu?” “Aku . . . bagaimana bisa kau tidak mengingat namaku,Vanessa?” “Maaf . . . maafkan aku.” Ucapku cepat, tak ingin dia berubah pikiran dan mencoba untuk melukai aku lagi. “Hari ini aku sedang sangat stres. Banyak sekali pekerjaan sekolah, ditambah kegiatan ekstrakurikuler. Apa kau bisa memberitahu namamu saja?” “Ini aku . . .” Katanya lagi seperti rekaman rusak. “Aku tahu . . . tapi, kau sedang mengenakan pakaian serba hitam begitu. Terlebih di sini sangat gelap, apa kau tidak lihat? Aku tidak bisa melihat wajahmu. Dan parahnya, aku sangat buruk dalam mengenali suara orang.” Kataku semanis yang aku bisa. Aslinya? Aku sudah ingin mengeluarkan semua sisi makanan yang aku makan tadi. Cokelat, minuman soda, makanan ringan, bahkan makanan yang aku makan saat jam istirahat sekolah. “Ah . . . benar juga,” orang itu berdecak. Setelah beberapa lama yang membuat adrenalin naik dan hati berdegup kencang, orang tersebut mengatur posisi tubuhnya agar bisa meraih masker yang dia kenakan, tetapi masih memegang aku agar aku tak dapat melakukan apa pun. Pisau yang dia pegang pun masih di tempat, mengancam leherku seperti aku ini hewan ternak yang siap dihabisi kapan saja. Aku merasakan gerakan dia saat membuka masker, dan seperti juga membuka kupluk jaket yang dia kenakan. Tiberius berdecak, lalu mencibir. Aku mendengar dia mengumpat secara halus di hadapan kami. Tatapan matanya mendadak menjadi tambah tajam, penuh determinasi. Dia siapa menyerang kapan saja, bagaimana pun caranya. Tapi satu masalahnya. Orang ini bisa melukai aku kapan saja. Hanya ada satu rintangan di antara Tiberius Florakis dan orang ini. Kepalaku ingin sekali menoleh dnan melihat siapa orang yang telah masu ke dalam kaamr mandi wanita ini, namun aku tak dapat bergerak sama sekali. Aku takut jika kepalanya bergerak bahkan hanya satu inci, pisau menyala itu akan melukai setiap nadi yang ada di leher aku. Tapi tak masalah, karena sedetik kemudian Tiberius menggeram kesal. “Kau?” suara beratnya menggema di dalam kamar mandi wanita yang kosong dan gelap. Aku bergidik. “Aku,” orang ini tertawa. “Senang bertemu denganmu lagi.” Lagi? Lagi katanya? Tiberius kenal dengannya? Orang yang sedang memegangku ini mengenal Ty? Lelaki itu mengatupkan rahangnya begitu kuat aku takut jika dagunya akan patah. Aku mengepalkan tanganku, begitu penasaran siapa gerangan yang sedang memegang aku dengan pisau ini. Ty kembali membuka mulut. “Lucas Willow.” Sial, sial, sial, sial! Lucas Willow? Lelaki itu lagi? Bagaimana caranya dia bisa menemukan kami di sekolah saat jam begini? Di dalam kamar mandi wanita pula? Aku semakin lemas saja rasanya. Mengingat kejadian beberapa hari yang lalu, aku tahu Lucas Willow tidak main-main. Entah mengapa dia sangat terobsesi dengan aku dan keinginannya untuk membawa aku ke suatu tempat. Aku mulai panik. Tiberius menggeleng ke arahku, memberikan sinyal untuk jangan menyerah. Dia mengangkat alisnya agar aku tenang, mencoba memberikan tatapan meyakinkan kalau dia bisa mengeluarkan aku dan dirinya sendiri dari situasi ini. Aku menarik napas dalam, mengeluarkannya dari mulut. “Sedang apa kau di sini?” tanyaku dengan suara setenang mungkin.” “Menjemputmu, tentu saja.” Aku terbungkam. Itu kalimat sama yang dia katakan padaku saat mencoba membawa aku dari dalam kelas beberapa hari yang lalu, sebelum Ty datang dan menyelamatkan aku dari orang ini. Ty juga mengerti perkataan itu, karena matanya menyala, menjadi mengerikan di bawah remangnya ruangan ini. “Vanessa tak butuh dijemput,” sahut Tiberius yang meskipun wajahnya sudah siap membunuh, tapi cara bicaranya masih tenang dan penuh konsentrasi. “Aku yang akan mengantarnya pulang.” “Tapi ‘kan rumahnya adalah bersamaku?” Oke, masa bodoh jika aku harus tenang. Mendengar kalimat itu, rasanya setiap komposur tubuh yang aku miliki hancur seketika. Mataku berair, bibirku bergetar hebat. Aku rasanya akan pingsan di dalam pelukan orang jahat ini. Lucas Willow mengeratkan tangannya ketika Ty mencoba mengambil langkah maju saat melihat diriku yang mulai tak bisa tenang. “Jangan mencoba sesuatu yang aneh,” dia menggerakkan tangannya untuk memperlihatkan kalau dia sedang memegang senjata tajam yang bisa melukai aku kapan saja. “Aku tidak akan ragu.” “Tapi ‘kan Vanessa kekasihmu?” Ty mengerutkan keningnya. “Kau akan melukai kekasihmu sendiri?” “Apa pun akan aku lakukan agar dia bisa pulang bersamaku.” Ty berdecak, berkacak-pinggang. Dia menggeleng tak percaya, senyum simpul terukir di wajahnya. Aku melihat humor gelap bermain di parasnya yang tampan, lalu dia melirik aku dan Lucas Willow bergantian. “Baiklah sudah cukup bermainnya.” Suara dia berubah menjadi bahaya, gelap, berat, dan penuh otoritas. Aku merinding, berada di bawah tatapan mata Tiberius Florakis. Dia membersihkan debu tak terlihat di bahunya, masih tersenyum simpul. Aku melihat pergerakan itu dengan seksama. Apa yang akan dia lakukan? Menyerang Lucas Willow? Tapi aku ‘kan sedang disandera oleh lelaki ini? “Nessa?” panggilnya, namun kepala lelaki itu menunduk, tak melihat aku. “Nessa?” geram Lucas WIllow. “Manis. Aku ingin muntah.” Aku juga ingin muntah karenamu, Lucas! “Ada apa, Ty?” pegangan lelaki itu semakin mengerat, membuat aku tersentak ke belakang ketika dia mendengar nama panggilanku untuk Tiberius. Tapi dia tak mengatakan apa-apa, hanya mencibir penuh dengki. “Aku tahu kau suka Ji Chang Wook.” Katanya pelan. Aku mengerutkan keningku. Pertanyaan macam apa itu di saat situasi seperti ini? “Lalu?” “Ingat drama Korea K2?” “Tentu saja,” jawabku cepat, tak perlu berpikir sama sekali. Itu adalah salah satu drama Korea kesukaanku. “Aku mengingat setiap halnya.” “Hmh . . . ingat permainan antara Anna dan Jae Ha?” Aku terdiam. Pikiranku kembali menyapu setiap adegan yang terjadi di dalam drama Korea itu. Lalu aku tersadar. Tiberius ingin aku melakukan hal yang sama saat Anna berada di dalam sandera, dan lelaki yang mencintainya itu harus menyelamatkannya. Dengan sekuat tenaga, aku mencoba untuk mengatur komposur tubuhku agar siap. Tiberius akhirnya mendongak, senyum miring terukir di wajahnya. Aku mengangguk pelan. Aku melakukan apa yang Anna lakukan. Sekuat tenaga, aku mendorong lengan yang mengapit leherku, dan menunduk, berlutut ke bawah. Lucas Willow terkejut, tak mengira aku akan melakukan hal itu. Di saat yang bersamaan, Tiberius Florakis menderu ke arahnya, matanya siapa menghabisi siapa pun. “Mati kau.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD